بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم
Toleransi tanpa ketegasan adalah ketidakberdayaan.Sedangkan ketegasan tanpa ilmu adalah keberingasan. Tanpa berpijak pada prinsip yang kukuh dan jelas sejak dini, anak-anak akan kehilangan kebebasan yang membuatnya percaya diri.
Betapa banyak bangsa yang berhasil maju materi luar biasa, tetapi jiwa mereka kering dan hidup mereka hampa. Meskipun Jepang mencapai kemajuan dan kemakmuran luar biasa, tetapi pada saat yang sama, banyak orang memperbaiki kekosongan makna dalam hidup mereka.
Inikah yang akan kita siapkan untuk anak-anak kita? Ataukah kita siapkan mereka untuk menjadi pewaris bumi yang mampu memakmurkan dengan ilmu-Nya dan memperoleh kalimat Allah di muka bumi dengan iman dan kesungguhan untuk berdakwah?
Ataukah tidak dua-duanya. Kalimat Allah tidak tegak, kemakmuran tidak bisa.Sementara kita berbicara tentang memakmurkan bumi, maknanya berbicara sesempit dan sedangkal kemakmuran keuangan.
Namun, bukan di sini tempat untuk berbincang. Kita bertemu sebentar di ruang ini untuk berbincang tentang apa yang harus kita berikan untuk anak-anak kita, agar tidak meninggalkan di belakang kita generasi lemah yang akan kita khawatiri keadaannya.
Sungguh, kita harus ajarkan kepada anak-anak kita sikap toleransi terhadap mereka yang tidak seiman. Namun, kebebasan tanpa ilmu adalah kelemahan dan rasa rendah diri. Kita harus menegakkan kembali, padahal yang terjadi adalah menyangkut keyakinan kita kepada Allah di belakang kita. Kita tetap menegakkan, padahal yang terjadi menangguhkan kita pada akidah yang lurus dan iman yang bersih.
Tidak akan pernah lahir yang bermartabat, kecuali kita percaya agama ini yang paling benar. Sangat sulit saya bayangkan seseorang mengimani Tuhan, sementara ia tidak benar-benar percaya benar bahwa ia imani benar-benar Tuhan. Padahal, tanpa meyakini agama yang ia peluk adalah yang paling benar, apa pun agama yang ia yakini, sebenarnya ia sedang bertoleransi terhadap pemeluk agama lain. Bukan. Ia tidak risau dengan apa yang terjadi di sekitarnya karena memang imannya rapuh dan jiwanya gersang.
Jika kita setuju, masing-masing yakin agamanya benar, sungguh ini adalah jalan menuju tidak ada keimanan bagi Tuhan. Jika tidak, hanya ada dua pilihan; iman kita yang sakit atau kita yang sakit jiwa.
Sebab, tidak mungkin jiwa yang sehat meyakini sesuatu sebagai kebenaran dan pada saat yang sama mempercayai apa yang ditentangnya sebagai kebenaran juga. Jika sikap beragama yang demikian dianut oleh kebanyakan orang, akan kita jumpai masyarakat yang sakit. Ada agama, tetapi ia tidak memberikan apa pun bagi kehidupan, cara pandang, kejujuran, kesungguhan kerja, dan seterusnya. Agama berubah menjadi gaya hidup yang disukai, atau malah menjadi upacara yang hanya dibutuhkan manusia, kawin dan mati.Pada tingkat yang lebih parah, agama hanya menjadi upacara pengantar penguburan jenazah.
Jiwa yang sehat juga memiliki kedewasaan beragama akan dapat menghargai kepercayaan orang lain. Tidak ada halangan untuk mendukung santun terhadap tetangganya yang ka fi r. Syaratnya, ia sendiri orang beriman yang benar-benar meyakini kebenaran agamanya. Tanpa itu, sebenarnya yang terjadi bukankah itu yang perlu dilakukan pada agama. Dan inilah mimpi buruk bagi peradaban suatu bangsa. Penyebab karakter bangsa hanya terbangun dengan kuat yang memiliki pijakan nilai yang kukuh, hidup dan jelas.
Tak ada pilihan bagi kita dalam diskusi yang diterbitkan sebelumnya dengan menanamkan iman yang kuat di dada anak-anak kita sejak dini. Tidak akan lahir generasi yang kuat, bermartabat dan mampu menghargai orang lain yang tidak seiman, kecuali kita besarkan mereka dengan membiasakan berkata yang benar (qaulan sadiida). Apakah Allah telah memperingatkan kepadamu dalam surah-Nya?
“Dan semakinlah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka tinggalkan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) -nya. Oleh sebab itu, berusahalah mereka bertakwa kepada Allah, dan memintalah mereka menentang perkataan yang benar. ”(QS. An-Nisaa ‘: 9)
Ayat ini menyatakan bahwa generasi yang baru akan dilahirkan mengingat kita yang lebih besar di atas pijakan takwa dan berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida).
Salah satu makna qaulan sadiida adalah meminta kebenaran, tidak menutup-nutupi kebenaran. Berpijak pada dua hal inilah yang akan melahirkan anak-anak yang kukuh imannya, perangainya lembut dan sifatnya tegas. Ia toleran terhadap pemeluk agama yang ada sebagai contoh yang diberikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan karena kerdilnya jiwa, ciutnya nyali dan rusaknya iman. Ia mampu menjawab dengan percaya diri yang tinggi, iman yang bersih dan ilmu yang benar. Bukan karena keberingasan dan kerasnya hati.
Agar anak-anak kita mampu bertoleransi tanpa kehilangan, mereka perlu memiliki keyakinan, keyakinan dan ilmu yang mencukupi. Kita perlu ajukan kepada mereka bagaimana sikap tegas harus ditegakkan agar kelak mereka dapat menjamin dirinya (hifzh al-nafs), melindungi hartanya (hifzh al-maal) dan mengaktifkan agamanya (hifzh al-dien). Inilah trilogi tujuan syariah, dan memahami jihad adalah pintu awal untuk menegakkannya.
Kita perlu menanamkannya untuk memahami tentang jihad secara keseluruhan. Bukan membicarakan jihad yang benar dan jihad yang salah, sebab tidak ada jihad yang salah. Kalau kemudian ada yang salah memecahkan jihad maka lakukan tindakan yang keliru, ini sebenarnya berpangkal pada saat kita tidak mengerti jihad. Terlebih kompilasi hari ini, kita menjumpai banyak sekali istilah yang menggunakan kata jihad sebelum memecahkan istilah jihad yang benar-benar benar, semakin jauhlah kita dari pemahaman tentang jihad secara keseluruhan.
Hari ini, kita menjumpai ada jihad ekonomi, jihad intelektual, jihad pena, dan seribu dan istilah lain yang menggunakan awalan kata jihad. Jika siapa pun dapat menambahkan kata apa saja selain kata jihad, apakah kita dapat mengambil dari makna jihad? Tak ada. Karena kita berjalan dengan pikiran kita sendiri-sendiri, bukan dengan petunjuk yang Allah jamin tidak ada keraguan di dalamnya. Pada saat diskusi, ini menyebabkan sebagian dari kita mempertimbangkan agama tak lagi mencukupi untuk menjawab tantangan zaman dan menyelesaikan pembicaraan manusia.
Padahal, pada kitalah kelemahan itu ada. Salah satunya bersumber dari tidak utuhnya dimengerti.
Mengajarkan jihad sejak dini kepada anak-anak berarti menumbuhkan kepada mereka harga diri dan mempercayai diri sendiri sebagai orang yang beragama. Mereka belajar memiliki rasa tanggung jawab.
Pangkalnya sikap al-walaa ‘wa al-baraa’ yang kuat, ujungnya sikap yang bersungguh-sungguh dalam setiap amal saleh. Tidaklah kelak mereka menggerakkan pena —jika ia seorang penulis— kecuali untuk mengabarkan kebenaran dan menebar kebaikan. Pada setiap tetes tinta yang dituangkan dengan hati yang hidup dan misi yang kuat, insya Allah akan melahirkan kata-kata yang menggerakkan jiwa untuk melakukan kebaikan.
Yang demikian ini bukan karena ia melakukan jihad pena, tetapi karena kuatnya al-walaa ‘wa al-baraa’ yang meningkatkan rasa tanggung jawab kepada Allah, membuat ia tidak meminta tintanya tumpah sia-sia.
Tidak boleh hadir di dunia kecuali untuk menjadi anugerah bagi alam semesta. Ia memberi rasa tenteram untuk tetangganya, bukan ka fi r, bukan karena jihad percaya. Bukan. Namun, ia hadir memberi manfaat bagi masyarakat sekitar karena agama kita meminta ia untuk meneladani perilaku Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sewaktu-waktu, ia juga mampu memutuskan tegas terhadap orang kafir. Bukan karena benci. Bukan pula karena api permusuhan yang berkobar-kobar tanpa sebab, seharusnya karena menegakkan kebenaran. Ia datang untuk mengingatkan sambil berharap bisa mengantarkan hidayah. Bukan untuk meluapkan amarah yang membabi buta.
Demikianlah, tindakan atas dasar ilmu yang lurus perlu dibahas. Supaya bisa memilih, mana yang keliru, dan mana yang dibenarkan.
**********
Penulis: Rudy
(Kontributor Kiblat.Net)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































