Yang diinginkan dan yang diberikan
Seorang manusia boleh saja merasa bangga dengan apa yang diperolehnya dengan susah payah, gelar sarjana dengan nilai cumlaude , kendaraan mewah, rumah besar lengkap dengan seluruh keberhasilannya, hamparan kebun dan sawah yang berhektar-hektar, dll. Semua itu sah-sah saja dimiliki oleh setiap orang. Lalu bagaimana menyambut dengan hidayah yang bisa kita peroleh sekarang, apakah mau selamat datang juga kita nantikan?Apakah ia adalah harapan yang secara sengaja dan sadar kita tempatkan dalam umpan-umpan do’a kita? Kalau begitu, maka bersyukurlah kepada Allah ta’alakarena telah mengabulkan do’amu. Jika tidak, bisa jadi itu jawaban Allah dari do’a di masa lalu yang pernah kita panjatkan pada-Nya, bisa jadi juga itu adalah pengabulan terhadap do’a orang tua kita dan kaum muslimin untuk kita. Kalaupun kita rasa juga bukan, maka lebih pantas lagi kita bersyukur untuk-Nya, karena dia telah memberikan peluang berharga dan langka bagi kita untuk pindah dari kegelapan masa lalu menuju cahaya-Nya yang terang benderang. Benarlah, bahwa Allah ta’ala lebih dari tau dan paham dengan apa yang pantas dan baik untuk kita dibandingkan diri kita sendiri.
Belajar dari hujan
Kita ambil pelajaran dari hujan. Hujan Yang Sekarang Penyanyi dinantikan kedatangannya Oleh Seluruh mahluk Allah ta’ala , khususnya Manusia.BMKG telah merilis rilis prediksinya tentang hujan, demikian juga dengan sebagian besar orang telah menantikan hujan di bulan-bulan tertentu yang seharusnya dikeluarkan, sementara memperbolehkan salah dan kadangkala benar-benar berhasil. Ringkasnya, namanya juga prediksi otomatis hanya mengkaji dan menganalisa tanda-tanda atau gejalanya saja yang hasil akhirnya tiadalah bisa ditentukan sepenuhnya karena hujan adalah rahasia Allah ta’ala . Itu tentang hujan, bagaimana dengan hidayah?
Hidayah sama dengan hujan dia adalah hak prerogatif Allah untuk diberikan kepada Hamba yang dikehendaki-Nya. Kata Rasulullah “ Barang siapa yang Allah tuntut meminta pertolongan, niscaya akan diberikan pengertian akan agama ini” (HR. Bukhari dan Muslim) ¹. Jika hujan dapat diprediksi keluar dengan lawan yang sudah diputuskan, awan hitam, diterbitkan juga dengan kilat dan petir, dan tanda-tanda lainnya, maka hidayah dapat diprediksi menang untuk seseorang yang memiliki kompilasi dia sudah mau ke mesjid sholat berjama’ah, sudah bisa dibaca baca buku atau majalah islami, ikut pengajian, dll. Tapi demikianlah prediksi sepenuhnya belum tentu dipastikan benar, semuanya tergantung kehendak Allah ta’ala . Seandainya hidayah itu bukan kehendak Allah ta’ala maka sudah dipastikan paman Rasulullah Abu Tholib telah masuk Islam, jika dari tanda-tandanya tidak ada yang kurang darinya. Dia adalah paman tercinta Rasulullah, pembelaan dia terhadap Rasulullah dan dakwahnya sama sekali tidak mempertanyakan kesungguhannya, bahkan dalam buku shiroh difilmkan sebagai salah satu yang sangat getol dalam mendukung pembelaan terhadap Rasulullah di masa-masa beratnya intimidasi kaum musyrikin Makkah terhadap sang Rasul yang baru saja dimulai merintis dakwahya. Tapi, akhirnya sang paman tercinta wafat dalam keadaan kafir. Demikianlah rahasia Allah ta’ala.
Memburu hidayah
Meskipun hidayah itu adalah hak prerogatif Allah ta’ala bukan berarti kita bisa bermasa bodoh dengan keadaan kita sekarang. Mengapa Allah ta’alatelah menyetujui kita dalam al qur’an surah Asy Syam ayat 8-10:
Maka, Allah mengilhamkan bagi jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.
| ² Tafsir Juz ‘Amma, hal. 322-323, penerbit Darulfalah, 2007. |
Menanggapi ayat tersebut di atas Syaikh Al-Utsaimin dalam tafsirnya² mengatakan Allah ta’ala mengilhamkan bagi setiap jiwa jalan kefasikan dan ketakwaan. Kefasikan adalah kemaksiatan kepada Allah ta’ala sedangkan ketakwaan adalah ketaatan untuk Allah azza wajalla . Kata syaikh lebih lanjut tentang setiap bantuan kemaksiatan adalah orang fasik meliputi semua orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah ta’ala sedangkan ketakwaan adalah sesuatu yang cocok dengan fitrah manusia karena kefasikan itu keluar dari fitrah. Akan tetapi, syaikh mengatakan kadangkala Allah ta’ala memberi ilham bagi jiwa untuk menyimpang, hal itu sesuai dengan firman Allah ta’ala dalam surah Ash-Shaff ayat 5:
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka …”
Allah ta’ala tidak menzalimi seseorang, tetapi siapa pun yang berhak tahu dia tidak menghendaki kebenaran, maka Allah memalingkan kebahagiaan. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” kata syaikh yang diterima keberuntungan di ayat tesebut adalah keberuntungan dengan apa yang ia minta dan selamat dari apa yang ia bawa. Sementara itu, jiwa orang dalam ayat ini adalah mensucikan dirinya dengan mengikhlaskan segala macam kesyirikan dan kotoran kemaksiatan agar jiwa tetap dalam suci, bersih dan murni. “Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya”kata syaikh yang diminta oleh ayat ini adalah orang yang menghendaki dirinya masuk ke dalam kebinasaan dan kemaksiatan. Lebih lanjut syaikh mengungkapkan persyaratan ini kepada Allah azza wajalla agar disetujui manusia dalam ketaatan kepada-Nya. Hendaknya kita selalu memohon kepada Allah azza wajalla keteguhan, ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, meminta kata Allah ta’ala dalam surah Al Baqarah ayat 186:
“Dan meminta hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku meminta bantuan orang yang berdo’a permohonan ia memohon kepadaku-Ku, maka memintalah mereka itu memenuhi (semua permintaan) Ku dan meminta mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam janji. ”
Teguh di atas jalan hidayah
Setelah menghargai hidayah itu adalah anugerah Allah ta’ala kepada hamba-Nya yang layak dan dikehendaki-Nya , maka tugas kita sekarang adalah berusaha memantaskan diri untuk mendapatkan hidayah tersebut.Lalu setelah mendapatkan hidayah, apa yang harus kita lakukan? Sufyan bin Abdillah PERNAH bertanya ditunjukan kepada Rasulullah, besarbesaran Berkata “Wahai Rasulullah, Katakanlah Padaku Satu kalimat hearts islam Yang Aku Tidak PERNAH menanyakan tentangnya PADA Seorang pun selain Engkau.” Rasulullah bersabda “Katakanlah ‘aku beriman ditunjukan kepada Allah’, Lalu istiqomahlah (di differences ITU ). “(SDM. Muslim) ³. Allahta’ala juga mengirimkan kepada Rasulullah untuk senantiasa istiqomah seperti dalam firman-Nya di surah Hud ayat 112:
“ Maka tetaplah memanggil (Muhammad) yang dijanjikan yang telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia maha melihat apa yang kamu kerjakan. ”
Umar bin Khattab mengatakan istiqomah adalah jika meminta teguh di atas perintah dan larangan (Allah), dan tidak menyimpang meminta penyimpangannya dalam melata. Maksudnya adalah konsisten, komitmen, berkelanjutan dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah ta’ala .
Hidayah bagaikan sebuah perhiasan yang teramat berharga bagi seseorang karena dibutuhkan kemudahan menjaganya pun pasti juga sulit. KARENA can Jadi dia TIDAK Lagi mendatangi kitd di kesempatan yang lain Maka mempertahankannya Adalah keharusan Sambil Terus Berharap Allah ta’alaMenuntun kitd DENGAN Petunjuk-Nya yang lain di SETIAP Waktu. Dakwah dan tarbiyah adalah beberapa di antara jalan-jalan keistiqomahan yang dapat kita tempuh.
“Wahai yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu”
| ¹ Hadits ke-82 dalam Kitab Al Jami ‘karya ibnu hajar Al Asqalany yang dibacakan oleh Ust. Rapung Samuddin, Lc ²Tafsir Juz ‘Amma, hal. 322-323, penerbit Darulfalah, 2007 ³Syekh Musnid Al-Qathany, Meniti Jalan Hidayah, Penerbit Pustaka Al Bashirah, |
***********
Penulis: Ustadz Muhammad Akbar, S.Pd., M.Pd
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































