Belajar tentang sejarah Islam berarti belajar tentang sejarah yang akan disampaikan pada seluruh manusia tentang bagaimana manusia ini menghasilkan yang diperlukan Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan sungguh kami telah memulai pembuatan anak cucu Adam” (QS Al-Isra: 70)
Sekaligus, kita akan menemukan cara manusia memuliakan manusia yang lain dan menjadi makhluk yang akan memakmurkan bumi Allah, dibutuhkan yang diamanahkan diundang.
Islam Peradaban adalah peradaban yang penuh dengan kemasan. Peradaban yang sangat panjang, lebih dari seribu tahun, tentu saja semuanya bermuara dari sejarah manusia terbaik, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebelum kita memulai sejarah Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam , tentu akan sangat baik kompilasi kita mencoba untuk menyelesaikan, apa yang perlu dipelajari sejarah? Karena pada hari ini, kita hampir tidak dapat mengakses sejarah pada bagian yang harus kita ketahui dalam kehidupan kita. Di mata kita, sejarah menjadi pelajaran yang tidak menyenangkan. Sejarah menjadi pelajaran yang hanya mewakili angka-angka dan peristiwa yang menghabiskan. Dan bahkan yang lebih buruk lagi, kita tidak terlibat di dalam peristiwa sejarah itu. Kita beralasan sejarah itu sudah sekian abad yang lalu, sedangkan kita hidup di zaman yang menurut kita sangat berbeda dan dengan perbedaan berbeda pula.
Untuk membantu kita kemudian, harus memulai terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sejarah dan bagaimana cara kita belajar sejarah yang benar.
Sebelum kita mengunjungi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengizinkan para ulama, mari kita buka Al-Qur’an kita. Perlu kita ketahui bahwa Al-Qur’anul Karim terdiri dari lebih dari sepertiganya adalah kisah. Jawaban yang telah disampaikan oleh para ulama Al-Qur’an.
Bayangkan, Al Qur’an sepertinganya adalah kisah sejarah dan itu sebelum Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Apa hikmah besar di balik itu?
Sepertiga kisah sukses yang telah membentuk Rasulullah dan para sahabat menjadi orang yang dihadirkan Allah di muka bumi sebagai kuntum khairu ummah , sebagai generasi terbaik yang pernah dihadirkan Allah di muka bumi. Ini berarti, kisah memiliki peran yang sangat besar. Kisah yang diturunkan Allah SWT di setiap situasi yang berbeda-beda.
Contohnya saat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengalami masa yang sangat sulit, masa yang belum pernah dibayangkan dan belum pernah dialami sebelumnya. Rasul telah berdakwah kurang lebih selama 4 tahun. Di akhir tahun 4 kenabian atau di awal tahun 5 kenabian, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mulai memperbaiki berbagai macam variasi dakwah dari orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mulai intimidasi, baik kalimat-kalimat yang buruk, berbagai macam caci maki, gelar-gelar yang buruk, sampai intimidasi fisik. Ada di antara para sahabat yang menjadi korban. Mereka meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan, disiksa oleh pengadilan sendiri, disiksa oleh majikannya, dan disiksa oleh masyarakatnya. Maka mulailah yang menarik adalah Allah SWT tentu tidak membuka ini semua. Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim, dan di antara yang turun pada masa sulit itu adalah surat Al-Kahfi.
Jika kita membaca surat Al-Kahfi dari awal hingga akhir, maka kita akan menjumpai ada empat kisah yang keempat-kisahnya adalah kisah sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Di sinilah nanti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sebuah pelajaran besar dari sekian pelajaran besar lainnya. Dan di antara pelajaran besar yang diambil oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kisah-kisah dalam Al Kahfi adalah Nabi yang diperuntukkan bagi para sahabatnya yang harus kuat lagi untuk mempertahankan imannya di kota Mekah agar kita hijrah ke negeri Habasyah. Dalam kalimat Nabi yang sangat terkenal, “Hijrahlah kalian ke negeri Habasyah, di sana ada raja yang tidak seorang pun didzalimi di negeri itu.”
Maka dari sini kita akan belajar tentang saat sulit, kompilasi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membutuhkan solusi untuk menyelesaikan jiwanya atau pun bagi yang menimpa para sahabatnya, maka Allah menurunkankan petualangan. Maka sungguh sangat aneh jika hari ini, kisah tidak mendapatkan tempat yang cukup dalam kehidupan kita.
Mari kita lihat kalimat cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , Hasan ibnu Ali radhiyallahu’ anhu . Kata Hasan, “Kami diajari perang-perang (sejarah) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti kami diajari salah satu surat dalam Al-Qur’an.”
Jika Al-Qur’an merupakan panduan inti dan utama yang harus dibicarakan oleh seorang muslim, itu artinya sejarah yang paling disejajarkan dengan Al-Qur’anul Karim. Sayang sekali kompilasi hari ini kita mempertimbangkan sejarah adalah sebuah pelajaran yang sangat luar biasa. Sebagian besar dari kita tidak perlu berkepentingan karena kita tidak terlibat dalam sejarah itu. Maka di awal inilah kita harus tahu bagaimana dan apa yang kita maksudkan sejarah.
Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf mengawali kisah yang terperinci dan panjang dan indah dari kisah Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalam.
“Kami mengisahkan kepadamu wahai Muhammad kisah terbaik yang kami wahyukan dari Al-Qur’an ini.”
Kemudian surat Yusuf bertutur sangat panjang. Sarat makna. Penuh dengan pelajaran yang berharga. Dan kemudian ditutup dengan ayat yang terakhir, ayat 111. Allah berfirman, “Sungguh pada kisah-kisah mereka adalah pelajaran bagi orang-orang yang mau berfikir. Al-Qur’an ini bukan perkataan yang ada, tetapi ini untuk membenarkan, mengimani apa yang telah berlalu, untuk menjelaskan dengan lengkap segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang beriman. ”
Ketika Al-Qur’anul Karim sepertiganya adalah kisah, maka ini juga merupakan bentuk kisah. Selain memang Allah juga bertutur dalam akhir surat Yusuf ini tentang pentingnya mengambil pelajaran dari kisah-kisah sejarah. Tapi memang kisah sejarah ini, tidak mungkin bisa diambil oleh ulil albab, disampaikan yang disampaikan oleh ayat tersebut. Bagi orang-orang yang tidak mau berfikir dan tidak mau menggunakan akalnya, kisah hanya menjadi dongeng sebelum tidur. Dia tidak memiliki efek yang sama sekali untuk kehidupannya. Sementara kompilasi kita meihat di ayat ini, beberapa kali memiliki beberapa fungsi besar.
Pertama, itulah kisah menunjukkan keimanan. Jika kita mengisahkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , umpamanya kompilasi Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam dalam pemutarannya dengan mukjizatnya membelah bulan yang diabadikan dalam surat Al-Qamar. Ketika kita mengisahkan kisah ini, dan kisah ini benar-benar terjadi, maka kita telah mengimani apa yang telah berlalu.
Kemudian, kisah juga bekerja untuk menjelaskan segala sesuatu dengan detail. Ini sangat menarik. Kisah adalah nasihat yang sangat lembut dan nasihat yang sangat sopan. Jika kita ingin memberikan nasihat kepada orang lain dengan kalimat langsung bisa saja sebenarnya. Tapi mungkin tidak semua orang bisa menerima nasihat kita. Umpamanya, jika kita katakan kepada teman kita yang boros atau mubadzir, “Saya melihat Anda mubadzir, boros Anda. Dan boros mubadzir adalah sesuatu yang ditolak dalam Islam bahkan disebut di dalam Al-Qur’an sebagai pengikut setan. ”
Kita bisa saja menyampaikan itu, tetapi mungkin tidak semua orang bisa menerima langsung nasihat yang seperti itu. Alangkah luar biasa jika kita mencoba cara lain. Ceritakanlah sebuah kisah. Dia akan suka mendengarnya. Sampaikanlah kisah yang ujung dari kisah itu adalah pelajaran agar orang tidak boros dan tidak mubadzir. Maka nanti di ujungnya kita tinggal mengatakan, “Ambillah pelajaran dari kisah ini untuk kehidupan kamu.”
Ini pun menunjukkan fakta sejarah bisa menjelaskan segalanya. Apakah itu akhlak, ibadah, sistem, aturan, atau perundangan. Apakah itu tentang masalah sosial, keluarga, individu, bernegara, sejarah bacalah! Sejarah akan menjelaskan dengan sangat detail segala sesuatu.
Wa huda wa rahmah , merupakan fungsi sejarah selanjutnya, yaitu sebagai petunjuk . Petunjuk itu ada cara agar kita mudah untuk memahaminya. Jika kita ingin pergi ke suatu tempat nanti kita perlu petunjuk, mungkin dengan peta, mungkin hari ini dengan menggunakan GPS atau kemudian ada tulisan-tulisan di sepanjang jalan. Plang-plang sepanjang jalan itu sebagai petunjuk. Apa fungsinya? Fungsinya adalah agar kita mendapatkan petunjuk menuju apa yang sedang kita tuju. Jika tidak, tentu kita akan kesulitan mencari tempat yang kita tuju.
Maka begitulah sejarah. Sejarah akan menjadi petunjuk. Jika Anda punya masalah, kita punya masalah, maka mari bertanya pada sejarah, “Apa solusinya?” Jika kita sedang mencari inspirasi, maka mari kita bertanya pada sejarah. Kita akan kaya dengan inspirasi. Dan pada akhirnya, sejarah disebut Allah sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Rahmat berarti terima kasih sayang. Allah SWT akan menunjukkan terima kasih kepada kita dengan cara kita membaca sejarah. Saat kita membaca sejarah, kita akan menjumpai bagaimana hidup kita masih lebih baik membandingkan banyak orang lain di belahan muka bumi ini. Dengan demikian maka belajarlah sejarah. Memiliki sejarah yang kaya memiliki pelajaran yang sangat mahal.
***********
Sumber: Artikel ini merupakan transkripsi dari podcast “Siroh Nabawiyah” oleh Ustadz Budi Ashari, Lc.
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































