Ayasofya Camii!
825 tahun sebelumnya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Pasti akan dibebaskan Konstantinopel oleh kalian, sebaik-baik pemimpin adalah dia, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu”, pada 1453, bisyarah itu benar-benar terjadi
Tepat pada tanggal 29 Mei 1453 hari Selasa, Sultan Muhammad Al Fatih bersama ratusan ribu pasukannya memasuki gerbang utama Hagia Sophia atau Aya Sofya, gereja katedral yang megah, dan merupakan bangunan termewah pada masanya
Sang Sultan memandang Hagia Sophia yang megah, turun dari kudanya, melepas helm perangnya, lalu bersujud ke arah kiblat, mengambil segenggam tanah Konstantinopel lalu menaburkan keatas kepalanya. Simbol kerendahan hati, bahwa dia hanya manusia biasa, yang berasal dari tanah yang hina
Bendera kebesaran kekhalifahan Ottoman berkibar bangga, sang Sultan meneteskan air mata haru. Menoleh ke kanan sembari berucap “Masya Allah”, kemudian ia menoleh ke kiri sambil mengucapkan kalimat yang sama
Orang-orang di dalam gereja menangis menjerit. Ketakutan, jangan sampai sang sultan membunuh mereka semua. Seperti halnya saat Ratu Isabella di Granada membumihanguskan kaum muslimin di abad yang sama
Namun sang Sultan, hanya tersenyum. Di hadapan para orangtua, anak-anak, kaum wanita, dan pendeta gereja, ia berucap “Pergilah, kalian bebas. Yang milik kalian, tetap milik kalian, tapi khusus tempat ini, akan kujadikan sebagai masjid, tempat terindah dan paling mulia di dunia ini”
Setelah penaklukkan itu, tepat saat pagi hari ketika matahari terbit, Konstantinopel dibuka, perintah pertama Al-Fatih adalah fungsikan Hagia Sophia menjadi tempat shalat
Maka hari yang sama, saat matahari mulai kehilangan sinarnya, waktu Ashar, janji itu sempurna, adzan berkumandang di langit Konstantinopel. Isak tangis dan haru menjadi pelengkapnya. Panggilan kemenangan, azan yang dirindukan, bergema di tempat paling besar dan super mewah dimasanya
Bagi kaum Muslim, Hagia Sophia bukan hanya masjid, ia simbol kebenaran sabda Rasulullah Muhammad, ia adalah pengingat sekaligus penyemangat, “Kızıl Elma” dalam keyakinan Utsmani, pencapaian dan penghargaan tertinggi secara kolektif
Hingga pada tahun 1936, penguasa sekuler Turki, Mustafa Kemal at Turk mengubah fungsi Hagia Shopia menjadi museum. Entah apa di kepalanya saat itu. Yang jelas, ini adalah awal kehinaan kaum muslimin di kota berjuluk Islam bul atau Istan bul (Kota Islam). Azan bahasa Arab diganti bahasa Turki, hijab diganti dengan wig, semua yang berbau Islam, disekulerkan dan dihapuskan
Tahun 2020, 86 tahun berselang Erdogan dan pemerintahannya membatalkan keputusan itu, membuka jalan untuk Ayasofya kembali lagi menjadi Masjid, Allahuakbar! Tiap inci tanahnya merindukan kening kaum Muslim, tiap pilarnya berteriak menanti shalawat pada Rasulullah, dan kubahnya selalu menanti, kapan doa-doa dipanjatkan ke langit melewatinya. Ayasofya Camiisine Hoşgeldiniz!
Recep Tayyip Erdogan adalah politisi yang dijuluki sebagai “Muadzin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki”. Erdogan mampu mengembalikan masa keemasan Turki, setelah sebelumnya terjerat dalam gurita sekularisme dan otoritarianisme yang memarginalkan Islam dan menjerumuskan negeri yang indah ini ke dalam kegelapan.
Dengan kepiawaiannya berpolitik, Erdogan mampu meyakinkan rakyatnya bahwa dengan identitas Islam, Turki bisa mengembalikan kejayaan Kekhilafahan Utsmani, kekhilafahan yang tidak hanya kuat dalam segi pertahanan, tapi juga dalam perekonomian. Dengan keyakinan bahwa “Islam adalah Solusi” (Al-Islam huwa Al-Hall), Erdogan yang dibesarkan dalam lingkungan keislaman, mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan “the Sick Man in Europe” menjadi negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian.
Dengan kesantunannya, Erdogan mampu menumbangkan “berhala sekularisme Attaturk” tanpa kudeta apapun, tanpa menyakiti siapapun, tanpa sebutir peluru pun.
Kembalinya azan di Aya Sofya, menjadi alarm bagi Eropa dan Amerika, bahwa Islam saat ini sudah mulai menampakkan kekuatannya. Kekuatan dari seruan adzan. Di tempat yang pernah ditaklukkan, dan hari ini telah kembali dibebaskan, Allahu Akbar!
Kita patut berbangga, karena kita punya Pahlawan Islam yang bukan fiktif. Bisa kita teladani, dulu kita punya Sultan Mehmet, sekarang Presiden Turki itu membuat kita terkagum dengan diagnosa politiknya
Kita tunggu, adzan di hari Jumat mendatang, akankah ini menjadi hentakan serius bagi musuh-musuh Islam, ataukah justru hanya menjadi ceremonial biasa, tanpa ada jejak-jejak sejarah yang kembali diingatkan di masa sekarang.
***********
Penulis: Zulkifli Tri Darmawan, S.Si
(Mahasiswa Pascasarjana Unhas, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah







































































