Pernahkah kita menyadari betapa hinanya diri kita dihadapan Allah ? Pernahkan kita merasa bahwa Iman kita jauh dibawah Iman Para Sahabat? Ataukah sering kali kita merasa tidak sanggup untuk menghadapi ajal kematian ? Pernahkah sekalipun kita menundukan kepala kita dan termenung sejenak, melihat dosa-dosa yang telah kita kerjakan. Akankah kita membiarkan diri kita tenggelam dalam lubangan dosa. Begitu banyak kisah yang telah lalu tentang keadaan orang-orang yang penuh dengan kemaksiatan dan kejahiliaan, Allah mengangkat derajatnya karena segera bertaubat, tawakkal dan kembali kepada Allah.
Mengapa kita harus bertawakkal kepada Allah , apa mamfaatnya ketika kita tawakkal kepada Allah . Sebelum berbicara jauh, terlebih dahulu kita harus memahami tentang pengertian tawakkal. Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah.
Sebagaiman perkataan Ibnu Qoyim al-Jauziyah Rahimahullah Berkata: “Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)
Dikisahkan bahwa ada seseorang yang baru datang dari luar kota menemui Rasulullah. Beliau menanyakan apakah ontanya sudah diikat (di parkir secara benar dan dikunci). Orang itu menjawab: Tidak ya Rasulullah, saya tawakkal saja kepada Allah . Rasul lalu menegurnya; (jangan begitu), ikat dulu untamu secara benar, baru engkau bertawakkal kepada Allah . Dari hadis itu dapat difahami bahwa kepercayaan kepada Allah sebagai Yang Maha Kuasa, Maha Pengatur dan Maha Penentu tidak mengurangi professionalitas dan rasionalitas usaha.
Banyak orang yang salah memahami tawakal dalam kehidupan sehari hari, mereka mengharapkan sesuatu tanpa ada usaha sedikitpun mendapatkan apa yang diinginkannya itu. Ini adalah sikap tawakal yang salah kaprah. Bertawakal itu diujung usaha. Kita harus berusaha semaksimal mungkin kemudian baru bertawakal dan berserah diri pada Allah .
Sebagiaman kisah Nabi Musa dan pengikutnya ketika dikejar Firaun tidaklah berdiam diri begitu saja, mereka berlari menyelamatkan diri bersama Musa. Namun, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diaraih tiba-tiba mereka dihadapkan pada situasi yang sulit. Didepan mereka laut menghadang, sementara dibelakang mereka Firaun dengan balatentaranya siap untuk menangkap dan menyiksa mereka. Mereka tidak tahu lagi apa yang akan diperbuat, mereka bertawakal dan berserah diri pada Allah .
Kemudian Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke permukaan laut. Tiba-tiba laut itu terbelah, dan dihadapan mereka terbentang jalan yang luas untuk melarikan diri. Demikianlah Allah menolong orang yang berserah diri pada-Nya. Merekapun lari menyelamatkan diri melalui lorong yang terbentuk ditengah laut itu. Setelah sampai diseberang, Musa pun kembali memukulkan tongkatnya ke permukaan laut. Maka tiba-tiba laut itupun bertaut kembali menenggelamkan Firaun bersama para pengikutnya.
Terkadang sesorang pasrah akan keadaan yang dihadapinya, namun mereka tidak sadar bahwasanya bahwa usaha mereka belum maksimal. Sebagaimana dengan sebuah kesuksesan dan keberhasilan, mesti memiliki usaha dan kerja keras. Adapun hasilnya kita serahkan semuanya kepada Allah . Karena tugas kita memang adalah hanya berusaha dan bekerja keras adapun selebihnya kita serahkan semuanya kepada Allah .
Maka tawakkal kepada Allah sangat menentukan bagiamana keadaan kita baik didunia maupun diakhirat, sebagiaman firman-Nya didalam Al-Qur’an:
Artinya: …“Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya Sungguh Allah telah Mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. (QS. At Thalaaq: 2-3).
Cukuplah ayat diatas menjelaskan kepada kita semua, bahwa kunci segala permasalahan yang kita hadapi adalah ketakwaan kepada Allah , dan yakinlah Allah akan memberikan jalan keluar dari segala permasalaan dalam hidup kita. Intinya adalah kita harus berusaha semaksimal munkin berusaha dan bekerja keras dan selebihnya kita serahkan semuanya kepada Allah .
Demikian pula cara orang beriman mengatasi berbagai masalah kehidupan, ketika mereka sakit merekapun berobat sesuai prosedur yang berlaku, kemudian bertawakal pada Allah . Mereka mencari rezeki dengan berniaga, bekerja, menjual jasa, dan lain sebagainya kemudian mereka berserah diri pada Allah . Mereka tidak berdiam diri berpangku tangan begitu saja untuk mendapatkan rezeki dari Allah .
Allah menjamin rezeki orang yang selalu berusaha dan bertawakal kepada-Nya sebagaimana yang dikisahkan oleh Umar bin Khattab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda : ‘‘Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang ”. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Maka tidak dibenarkan ketika seseorang ditimpa suatu penyakit kemudian berdiam diri pasrah dan bertawakal pada Allah tanpa ada usaha sedikitpun untuk berobat. Mengharapkan kekayaan atau kesuksesan namun hanya berdiam diri dirumah tanpa usaha sedikitpun. Maka itu adalah tawakkal yang salah kaprah.
Nah, bagaimana melati diri kita agar kita memiliki sikap yang tawakkal kepada Allah , Sikap tawakal tidak akan muncul begitu saja dalam diri seseorang. Sikap itu akan muncul dan tertanam dalam diri seseoang melalui latihan, pengalaman dan waktu yang lama. Sikap tawakal adalah masalah hati. Tidak mudah untuk bersikap ikhlas dan berserah diri pada Allah .
Hati manusia selalu dirongrong oleh rasa cemas, takut, was-was, bimbang, ragu yang selalu ditiupkan syetan kedalam hati manusia. Kita harus sanggup mengalahkan semua perasaan tersebut. Jika berbagai sifat dan perasaan tersebut masih bercokol dihati kita, sulit bagi kita untuk bertawakal pada Allah.
Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusuk dapat membantu menghilangkan berbagai rasa cemas, takut, bimbang, ragu seperti tersebut diatas. Ayat dan kalimat yang dibaca dalam shalat jika dipahami dan dimengerti maksudnya berisi motivasi dan nasehat yang dapat menghilangkan semua sifat tersebut. Namun jika shalat dilakukan secara asal-asalan tanpa mengerti makna dan maksud ayat yang dibaca, berbagai sifat buruk tersebut tidak akan bisa hilang.
Pengalaman sukses dan berbagai pertolongan yang didapat secara menakjubkan dari Allah akan menimbulkan keyakinan yang sempurna pada diri setiap orang. Ada tiga tahap ilmu yang didapat seseorang. Pertama; Ilmalyakin yaitu ilmu yang didapat berdasarkan pengetahuan yang didapat dari mendengar atau cerita dari orang lain. Kedua; adalah ainalyakin yaitu ilmu yang didapat dari melihat pengalaman atau kejadian luar biasa yang dialami seseorang. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Allah menolong orang yang bertawakal keluar dari kesulitan yang dialaminya. Yang ketiga adalah haqulyakin yaitu pengetahuan yang didapat dari pengalamannya sendiri, ia merasakan sendiri bagaimana dahsyatnya pertolongan Allah ketika ia bertawakal pada-Nya. Derajat ilmu tertinggi adalah haqulyakin ini.
Tawakkal kepada Allah adalah kunci setiap kesuksesan, terkadang kita pasrah dan putus asa terhadap setiap masalah yang kita hadapi. Setiap harinya kita banting tulan untuk bekerja untuk mencapai kesusesan atau keberhasilan. Namun, selalu hasil yang minim. Apakah setiap pekerjaan yang kita kerjakan seharinya pernah kita serahkan kepada Allah , agar diberikan kemudahan dan keberkahan didalamnya. Jangan pernah takut akan kurangnya rezeki dan jauhnya keberhasilan, karena tawakkal kepada Allah adalah solusi setiap masalah dalam hidup kita.
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Pendiri Madani Institute, Ceo Mujahid Dakwah Media, Aktivis Media Islam, Founder www.mujahiddakwah.com dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































