Hampir setiap waktu yang kita lalui, tak pernah terlepas dari sebuah permasalahan, yang silih berganti menghempas kehidupan kita, dengan begitu banyaknya keinginan dan cita-cita yang tinggi didalam benak kita, tak ingin rasanya menyia-nyiakan waktu yang kita miliki untuk tidak belajar, berusaha dan bekerja keras. Namun, dalam menjalani semua itu, ada saja hambatan yang menghalang-halangi laju perjalanan kita untuk mencapainya, sebuah kata bijak yang menjadi motivasi bagi kami “Kewajiban lebih banyak daripada waktu yang tersisa”.
Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan masalah? Sehingga hal tersebut begitu akrabnya dengan kehidupan kita. Pada intinya, yang dimaksud dengan masalah adalah kondisi tidak sesuainya antara harapan dan kenyataan. Misalnya ketika kita berharap kaya, tetapi ternyata miskin. Kita berharap lulus tepat waktu, tapi ternyata molor. Kita ingin menikah dengan si A, dengan waktu yang begitu lama diimpi-impikan, tapi ternyata ketika kita datang melamar ia menolak pinangan kita. Kita ingin mendapat nilai yang baik dan memuaskan, tapi ternyata remidi juga. Masih banyak harapan lain yang tidak sesuai dengan kenyataan yang kita rencanakan. Hal ini akan mengakibatkan kecewa, rasa marah, sedih, sakit hati, putus asa, merasa tidak mampu dan juga merasa tidak berguna.
Apabila kita merasakan salah satu atau beberapa hal diatas, berarti kita merasakan permasalahan dalam bidang tertentu dalam kehidupan kita. Permasalahan yang kita jumpai biasanya melalui dua cara. Yaitu dengan melihat jalan hidup kita sendiri atau melihat kehidupan orang lain. Setiap detik kita akan mendengar, menyaksi- kan, bahkan merasakan sendiri apa itu masalah.
Jikalau saat ini kita merasa tidak mengalaminya dan ingin masalah orang lain, gampang saja caranya. Buka saja koran dan nyalakan televisi. Disana akan kita temui orang yang mendapatkan masalah (dengan berbagai macam ragamnya) yang jumlahnya tak terhingga. Misalnya pengemis yang berada dimana-mana, anak-anak yang terputus sekolahnya, anak yang mengdurhakai orang tuanya atau bahkan para menteri yang koruptor, pembunuhan, nepotisme, pemerkosaan, perceraiaan; dan berbagai masalah lainnya.
Kehidupan memang penuh warna-warni. Adanya pergantian antara susah dan senang adalah ‘rutinitas’ sehingga kita tidak perlu menyikapinya secara berlebihan. Yah, kehidupan memang seperti itu. Segala sesuatunya milik Allah dan semuanya akan kembali kepangkuan-Nya. Setiap orang yang hidup didunia ini pasti pernah mengalami sebuah permasalahan dalam hidupnya. Begitulah kisah yang saya alami ketika duduk dibangku sekolah, hampir setiap harinya ditempa sebuah permasalahan, terlambat kesekolah, tidak ngerjain tugas dan bahkan sering bolos. Semua dihiasi dengan permasalahan.
Dengan mengalami masalah (hal-hal yang mengecewakan), akan membuat kita untuk lebih dewasa, kita akan lebih kuat dan lebih banyak belajar bersabar. Dengan masalah yang kita alami, sepanjang manusia masih hidup maka masalah pun akan tetap ada, terkecuali bumi telah kiamat maka permasalahan kita didunia telah selesai, dan kita beralih kepada permasalahan yang lebih besar yaitu kehidupan diakhirat, kita ditempatkan disyurga atau neraka, inilah masalah terbesar dalam hidup kita, dan membutuhkan usaha, kerja keras didunia untuk bisa selamat dari permasalahan tersebut.
Setiap masalah yang kita hadapi, semua memiliki makna dan merupakan jalan yang terbaik, dan sangat terkandung pada pribadi kita untuk memaknai masalah yang kita hadapi, (merubah kegagalan menjadi sebuah keberhasilan), dikarenakan orang yang gagal tersebut memaknai masalah yang menimpanya dengan hal yang positif, dengan sikap yang optimis, tidak mudah putus asa terhadap masalah yang menimpanya, dan bahkan menyalahkan (takdir), yang Allah telah gariskan kepadanya. Ketika manusia telah menggantungkan hidupnya dan menyerahkan seluruh urusan dan permasalahannya kepada Allah , maka yakinlah akan ada sesuatu yang lebih baik yang Allah rencanakan untuk kita.
Seringkali tidak dapat kita prediksikan, apa yang kita rencanakan, inginkan atau yang kita kehendaki (keberuntungan, kesenangan, kebahagian, dan juga kesuksesan) malah menjauh dari diri kita. Karena kita selalu memandang segala sesuatu dari sudut pandang diri sendiri (apa yang menjadi keinginan kita). Segala sesuatu yang kita rencanakan, kita kerjakan hanya berlandaskan nafsu kita saja. Bukan pada apa yang terbaik bagi kita saat itu. Padahal, sebagai manusia kita hanya bertindak sebagai pemain, sedangkan Allah lah yang menentukan segalanya.
Segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah sebagaimana dalam kehidupan kita yang telah tercatat apa yang akan terjadi sebelum kita lahir, sebagaiman dalam firman-Nya:
Artinya: “Dan kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, . Tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahui-Nya, tidak sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al An’aam: 59).
Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kepada diri kita, entah esok, lusa ataupun satu tahun yang akan datang, sehingga kita akan lebih bijaksana apabila kita selalu berikhtiar dan berdoa. Mengenai permasalahan hidup kita, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah .
Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Hendra Setiawan (Agar Selalu Ditolong Allah). Sebuah nasihat dari Aidh bin Abdullah Al-Qarni, yang sangat berharga untuk kita yang sering/sedang mengalami kesedihan. Berikut ini nasihatnya: ‘’Jangalah anda bersedih menghadapi kekeruhan hidup, karena memang demikianlah kehidupan diciptakan. Pada dasarnya memang melelahkan dan menyusahkan, sedang kesenangan yang ada sesekali saja. Begitu pula kegembiraan merupakan sesuatu yang jarang terjadi.
Seandainya dunia ini bukan tempat cobaan, tentulah tidak akan ada di dalam dunia ini berbagai macam penyakit dan permasalahan hidup. Seandainya kehidupan ini bukan rangkaian ujian, tentulah para Nabi dan orang-orang shalih tidak akan mendapat kesulitan dalam menjalani hidupnya. Apabila saat ini hidup anda terasa kering, jauh dari bahagia, hati tak pernah nyaman, gelisah prustasi dan sedih, mungkin saja karena selama ini Anda hanya mengejar gemerlapnya dunia yang menipu. Untuk itu beristigfarlah, memohon ampun kepada Allah .
“Kuasailah musuhnya dengan kebajikan. Itulah yang paling manis di antara kemenangan.” (Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu)
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Pendiri Madani Institute, Ceo Mujahid Dakwah Media, Aktivis Media Islam, Founder www.mujahiddakwah.com dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































