Sering kita mendengar istilah mencari jati diri, kehilangan jati diri, ataukah paduan suku kata lain yang bermakna hampir sama. Obrolan saya bersama teman-teman dua tahun lalu yang menceritakan tentang jati diri, salah seorang teman langsung berkata. Saya ini belum menemukan titik temu arti jati diri sesungguhnya, saya sering mendengarnya tetapi tidak paham betul apa itu sejatinya jati diri, diri yang mana, dan wujudnya seperti apa. Ditambah dengan penambahan kata mencari atau kehilangan, kian menimbulkan kerancuan pada pemikiran kami, lalu timbullah pertanyaan, benarkah jati diri itu dicari atau ditemukan? Dan jati diri yang seperti apa sehingga bisa dikatakan hilang?
Waktu itu sayapun bercerita, sejauh mana kita mengenal diri kita. Apakah selama ini kita menjalani kehidupan tanpa mengenal diri kita, tidak tahu apa tugas kita hidup, dan tidak tahu kemana tujuan kita. Betapa penting mengenal diri sendiri sebelum kita mengenal arti kehidupan yang lain. Sulit bagi orang yang tidak memahami dirinya untuk menggapai hidup dalam ketenangan dan kesejahteraan.
Bagaimana konsep jati diri kita, apakah sudah benar ataukah salah? Jika salah maka itu sangat berbahaya bagi diri kita. Maka dari itu penting untuk kita merenung sejenak sejauhmana kita mengenal diri kita sendiri. Begitu banyak konsep-konsep jati diri menurut para pakar pengembangan diri. Namun sebagai seorang muslim yang baik kita kembalikan pertanyaan, dan persoalan hidup ini kepada Al-Qur’an karena di sanalah kita akan menemukan konsep jati diri yang sebenarnya menurut Islam.
Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata jati diri adalah ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda, bisa pula berarti identitas, inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dari dalam atau spiritualitas.
Nah, berkaca dari pengertian ini terkadang seseorang kebingunan dalam memaknai kata jati diri selama ini. Kalimat mencari jati diri akan terkesan rancu bila dicermati. Bagaimana tidak rancu, bukankah jati diri itu ada dalam diri? Kenapa mesti dicari? Malah saya sempat berpikir bahwa sebenarnya jati diri tak pernah hilang. Bila orang berkata hilang, saya pikir tidak. Karena, biar bagaimanapun dalam diri seseorang pasti ada sesuatu yang berbeda dari orang lain dan itu pun tidak akan pernah bisa tercuri atau hilang. Biar lebih mudah kita bisa ambil contoh air, mau dicampur atau diberi pewarna apapun sifat zat cairnya akan tetap ada. Berubah seperti apa air akan tetap dikatakan air, walau dalam wujud comberan sekalipun.
Begitu pula dengan diri kita. Janganlah merasa pesimis tentang kelabilan yang dikira masih dalam pencarian jati diri. Diri ada bukan untuk dicari. Sebetulnya ia telah tertanam dalam diri, tinggal membongkarnya saja. Andaikata memang kesulitan, seseorang tersebut belum menyadari, ditambah dengan kesibukan melihat sekitar atau orang lain malah terlupalah sejatinya diri. Menganggap orang lain lebih hebat dan lebih cocok menjadi panutan lambat laun dengan ketertarikan tersebut akan menimbun ke’aku’annya. Terkuburlah sosok dia yang sebenarnya dan terganti oleh sosok baru atau cermin lain.
Maka tak heran ada beberapa orang yang begitu asing dengan dirinya sendiri dan muncullah kalimat ‘siapa aku?’ atau who am i? yang dikiranya dia sedang kehilangan jati diri, padahal tidak. Jati dirinya ada, cuma masih tertimbun oleh tumpukan obsesi dan tekanan ketidakpercayaan diri. Semisal, sering kita melihat seseorang berpenampilan layaknya idola yang mereka gemari. Mulai dari gaya rambut, pakaian yang dia kenakan, sampai gaya bicara pun persis. Dengan begitu, kita menjadi kesulitan melihat sosok dia yang sebenarnya. Tidak bisa dikatakan dia sedang kehilangan jati diri, terkontaminasi barangkali iya.
Untuk menonjolkan jati diri sejatinya membutuhkan sebuah proses yang lama. Kembali lagi ke pengertian yakni adanya identitas, inti, jiwa, semangat, dan daya gerak ternyata ada bukan berjalan dengan sendirinya. Terbentuknya jati diri yang kuat pastilah terlebih dahulu ditempa oleh berbagai pilihan serta problematika dalam perjalanan hidupnya.
Salah satu inti dari pengertian diatas adalah mengenai jati diri adalah identitas. Kita sering mendengar kata identitas dan pemahaman kita tentang ini berbeda-beda, tapi intinya adalah sebagai tanda pengenal kita. Namun, secara umum jati diri sering dikenal dengan tiga pertanyaan: – Siapa Aku? – Untuk Apa Aku Ada? dan Mau Kemana Aku?
Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang simple namun, tidak semua orang mampu menjawabnya. Karena membutuhkan pemikiran yang sangat mendalam agar tidak salah dalam memahami dan mengenal diri ini. Karena sesungguhnya setelah kita mengenal diri kita maka kita akan mengetahui makna dan tujuan hidup kita di dunia. Mereka yang mengabaikan masalah jati diri adalah orang-orang yang tidak memiliki keberanian untuk memahami hidupnya.
Maka jadilah mereka orang-orang yang labil, ikut-ikutan, dan berjalan tanpa arah. Mereka berkata “Jalani saja hidup ini”. Maukah kalian menjalani kehidupan ini tanpa arah dan tujuan? Yang nantinya berakhir dengan kesedihan. Saya pribadi tidak mau. Saya ingin hidup bahagia, dan berakhir dengan senyuman indah. Maka kita harus tahu dan harus menemukan jati diri kita agar kita tahu arah tujuan hidup kita.
Sebagai seorang muslim maka seharusnya segala urusan kita diserahkan kepada Allah , begitu pula dengan diri kita. Tidak ada seorangpun yang lebih mengetahui diri kita ini selain Dzat yang telah menciptakan kita, yaitu Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Jika hanya Allah yang paling mengetahui tentang diri kita, mengapa kita harus mencari dan menemukan makna jati diri dari selain Dia? Mengapa hidup kita harus dikendalikan oleh berbagai konsep jati diri yang bukan bersumber dari Allah ?
Ini memang termasuk hal yang sangat penting, sebab hanya dari Allah saja kita akan menemukan segala jawaban yang paling tepat, dijamin kita tidak akan salah sehingga hidup kita ini akan lebih bermakna. Sebuah perjalanan akan dimulai jika kita memiliki tujuan, dan mengetahui arah atau jalan untuk sampai ketujuan itu. Orang yang mengetahui arah dan tujuan hidupnya maka kemungkinan besar akan tersesat dan sangat susah untuk kembali kejalan yang sesuai dengan pentunjuk dan tujuannya diciptakan.
“Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu.” (Ibnu Mas’ud radhyallahu anhu)
- Jati Diri Manusia Sesungguhnya
Kita mungkin tidak asing jikalau seorang pemuda mencari jati dirinya dan berkata. Siapa Aku? Pertama kali saya mendengar perkataan ini, sayapun merasa kebingunan, Siapa Saya? Ketika kujawab ‘Saya Akbar’ Pertanyaan ini bukan memperkenalkan nama, Ketika kujawab kembali ‘Saya Manusia’ Pertanyaan ini bukan mempertanyakan jenis. Lantas apa? (Berfikir) kita tidak usah lagi merasa bingun. Jikalau diantara kita masih juga mempertanyakan dan kurang memahami tentang hal ini, cukuplah tulisan dibawah ini menjadi referensi bagi kita.
Siapa Aku? Manusia adalah makhluk Allah yang terbuat dari tanah dan kemudian diberikan ruh oleh Allah . Kemudian manusia juga dilengkapi dengan sebuah potensi hati, akal dan juga jasad. Hati dan akal merupakan dua potensi yang menyebabkan manusia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya. Sebaimana hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Hal ini telah dijelaskan oleh Allah didalam Al-Qur’an, tentang siapa diri kita ini. Sebagaiman firman-Nya:
Artinya: “Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”.(QS. As-Sajadah: 7-9).
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah Aku telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku, ke dalamnya. Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (QS. Al Hijr: 28-29).
Setelah menyimak ayat diatas maka kita tidak usah lagi mempertanyakan siapa diri kita sebenarnya, dan begitu banyak para remaja dan pemuda yang mati-matian mencari jati dirinya diberbagai macam-macam buku. Namun tidak mendapatkan hasil yang diingingkannya. Padahal pedoman Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita semua secara detail siapa diri kita sebenarnya. Tinggal kita sendiri yang belum membacanya dan memahami isin-Nya, serta menjadikan-Nya sebagai pedoman dalam kehidupan kita. Jika Anda ingin lebih mengetahui diri Anda maka kembalilah kepada Al-Qur’an. Silahkan baca dan tadabburi maknanya.
“Berapa ramai manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kapannya sedang di tenun.” (Imam As-Syafi’i rahimahullah)
- Untuk Apa Aku Ada?
Apa tujuan kita dicipatkan didunia ini, apakah bersenang-senang, berfoya-foya. Ataukah diciptkan untuk bermain-main begitu saja. Perlu kita ketahui, ada 2 tujuan dalam penciptaan manusia yang saling berkaitan yaitu dijadikan khalifah dimuka bumi ini dan untuk beribadah kepada Allah . Tidak ada tujuan lain selain kedua hal tadi. Semua aktivitas dan segala tindakan yang kita lakukan semuanya harus bertujuan dalam rangka kedua peran kita ini. Sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah .
Untuk itu, Allah telah memberi kita semua dengan berbagai potensi yaitu hati, akal, dan juga jasad yang cukup untuk memikul kedua tugas ini. Selama kita dapat memanfaatkan semua potensi yang kita punyai, kedua tugas ini pasti akan terlaksana dengan baik. Sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur’an:
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Ad-Dzaariyaat: 56).
Ayat diatas jelas menyebutkan tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah dan hanya menyembah Allah semata. Ayat ini mengisyaratkan pentingnya tauhid, karena tauhid adalah bentuk ibadah yang paling agung. Bahkan ibadah seseorang tidak akan diterimah sebelum bertauhid hanya kepada Allah semata.
Karena tujuan manusia diantaranya adalah beribadah, maka mengisyaratkan agar kita beramal dengan sebaik-baiknya, dan memperbanyak menuntut ilmu. Bahkan sangat dianjurkan untuk kita lebih dahulu menuntut ilmu lalu beramal. Karena tidaklah ilmu dicari dan dipelajari kecuali untuk diamalkan. Sebagimana pohon, tidaklah ditanam kecuali mendapatkan buahnya.
Tujuan selanjutnya tentang penciptaan manusia adalah menjadi khalifah dimuka bumi. Sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur’an:
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkanl Kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?” Dia berfirman: “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30).
Setiap diantara kita adalah pemimpin khalifah yang Allah utus didunia ini, sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat diatas. Pada hakikatnya setiap pemimpin memiliki tanggungjawab yang begitu besar dan akan dipertanggung-jawabkannya kelak. Begitu pula dengan diri kita, kita adalah pemimpin dalam diri kita. Maka setiap apa yang kita miliki maka sepantasnya kita memimpinya agar taat beribadah kepada Allah .
Pemimpin yang dikatakan berhasil adalah pemimpin yang mampu memimpin dirinya lebih dekat kepada Allah , karena begitu banyak pemimpin yang menganggap dirinya sebagai seorang pemimpin, namun jauh dari jalan Allah . Maka pilihlah pemimpin yang mampu memimpin kita lebih dekat kepada Allah, dan menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan maksiat.
Sudah jelas bukan, tentang tujuan kita ada didunia melaingkan untuk beribadah dan menjadi khalifah. Lantas bagimana diantara kita yang memiliki cita-cita atau tujuan ingin sukses, ingin cepat dapat kerja dll. Apakah boleh? Seorang hamba diperbolehkan untuk mencari kesenangan dunia, bahkan Allah melarang kita untuk bermalas-malasan. Namun, yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai kesibukan kita dengan kehidupan dunia justru melalaikan hakikat kita diciptkan oleh Allah didunia ini.
“Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan.” (Ibnu Mas’ud radhyallahu anhu)
- Akan Kemana Aku?
Kita bukan hanya berproses dari bayi menuju anak-anak. Bukan hanya anak-anak menuju remaja. Bukan hanya remaja menuju dewasa. Bukan pula hanya dewasa menuju tua. Seungguhnya, tujuan yang pasti bagi setiap manusia itu adalah kehidupan akhirat. Dan hanya ada dua pilihan saat kita pulang ke kampung akhirat, yaitu surga (Al Jannah) atau neraka (An–Naar).
Kita akan memilih yang mana? Tentu saja, setiap orang yang beriman pasti berharap mendapatkan balasan surga dari Allah . Syaratnya ialah hidup kita harus sesuai dengan tujuan akan keberadaan kita, yaitu sebagai khalifah dan juga beribadah pada Allah . Sebagaimana firman-Nya:
Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Maka mereka akan mendapat surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala atas apa yang pernah mereka kerjakan. Dan Adapun orang-orang yang Fasik (kafir) Maka tempat kediaman mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah azab neraka yang dahulu kamu dustakan.” (QS. As-Sajadah: 19-20).
Kehidupan akhirat ditentukan dikehidupan dunia, orang yang berbahagia dikehidupan dunianya maka tidak ada jaminan bahwa dia akan bahagia diakhirat kelak. Akan tetapi bagi orang-orang yang beriman yang telah mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat maka mereka akan mendapatkan kebahagian yang hakiki.
Diantara tempat keduanya adalah sebuah pilihan, dan pilihan itu ada ditangan kita dan waktu kita memilih adalah saat ini juga. Jikalau kita ingin memilih Al-Jannah (syurga) maka persiapkan diri kita dengan bekal ketakwaan kepada Allah agar kita bisa dimasukkan kedalamnya. Namun, apbula kita memilih An-Naar (neraka) maka silahkan tidak ada larangan, silahkan berbuat maksiat seenaknya dan sepuasnya, jikalau cita-cita kita memang keneraka.
Cita-cita akan tercapai jikalau pengorbanan telah maksimal kita kerjakan, apatah lagi orang beriman yang mencita-citakan syurga. Mereka harus bekerja keras, beribadah dengan sebaik-baiknya, agar bisa dimasukkan kedalamnya. Adapun diantara kita yang belum tersadarkan sedikitpun untuk berubah, maka bertaubatlah sepat mungkin sebelum ajal menjemput. Jangan pernah mencita-citakan diri kita untuk masuk kedalam neraka, walaupun itu sekedar coba-coba.
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka syurga sebagai tempat tinggalnya, sebagai pahala bagi apa yang telah mereka kerjakan. Dan adapun bagi orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka ialah neraka jahannam. Setiap kali mereka ingin keluar dari neraka, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya dan dikatakan pada mereka rasakanlah siksa api neraka yang dulu kamu mendustakannya. Sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur’an:
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Kemudian sekali-kali tidak, kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak, jika kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). (QS. At-Takatsur: 1-8).
Inilah hakikat jati diri kita hidup didunia, mudah-mudahan, setelah kita bisa memahami siapa kita sebenarnya, mengapa kita ada di dunia ini dan mau kemana kita nantinya, pikiran kita tidak akan galau lagi karena bingung dengan arti dan cara menemukan jati diri dalam Islam. Kini sudah jelas, apa yang harus kita jalani dan bagaimana konsekuensinya ke depan. Kita mesti selalu ingat bagaimana kita diciptakan, kita diciptakan dari sesuatu yang hina dan keluar dari tempat ‘yang kita sendiri malu untuk menyebutkannya, tidak lain agar kita tidak sombong dan melupakan siapa kita. Karena sombong adalah sifat Iblis yang menyebabkannya terusir dari surga dan terlaknat selamanya.
Selain itu, kita juga harus selalu mengingat tujuan kita agar sekecil apapun perbuatan kita selalu mempunyai niat untuk tujuan ibadah, agar kita bisa mencegah diri sendiri dari berbagai perbuatan yang tidak bernilai apalagi perbuatan maksiat, dan tentu saja kita akan selalu berbuat baik. Maka niatkanlah setiap langkah dan detik dalam kehidupan kita untuk beribadah kepada Allah karena dengan niatlah segala sesuatunya itu akan bernilai disisi Allah .
“Kebahagiaanku jika mati sebelum baligh lalu aku dimasukkan kedalam syurga, tidak sebahagia jika aku hidup sampai tua dalam keadaan mengenal Allah yaitu yang paling bertaqwa, rajin mengerjaklan ibadah serta menerima apa apa yang telah di berikan Allah kepadaku.” (Ali bin Abi Tholib radhyallahu an’hu)
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Pendiri Madani Institute, Ceo Mujahid Dakwah Media, Aktivis Media Islam, Founder www.mujahiddakwah.com dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)












































































