Manusia sebagai makhluk sosial, tentunya membutuhkan orang lain. Walaupun sebagaian orang tidak begitu berminat dalam berinteraksi sosial, namun tetap saja dia membutuhkan orang lain. Misalnya ada orang mengerjakan sesuatu yang berat dan susah untuk dikerjakan maka dia butuh orang lain untuk membantunya, dan ini hanya dari segi pekerjaan begitu banyak lagi aspek-aspek yang sangat kental dengan kebersamaan dan hubungan sosial. Dalam berhubungan dengan orang lain juga seringkali kita merasakan permasalahan dalam berbagai tingkatan. Entah itu teman biasa, teman akrab, atau orang yang lebih dekat dengan kita (orang yang kita cintai).
Kadangkala kita berperilaku baik terhadap orang lain dengan harapan mereka pun akan berperilaku baik terhadap kita. Hal ini sangat sulit terjadi, karena kita semua manusia yang tidak mungkin segala perilakunya dapat diprediksikan. Manusia akan melakukan sesuatu karena dilandasi motif tertentu. Adakalanya kita melakukan perbuatan baik atas dasar loyalitas, namun teman kita memandang semua perilaku berdasarkan prinsip ekonomi; dimana kalau kita masih bisa ‘dimamfaatkan’ akan tetap menjalin persahabatan, namun apabila kita dirasa ‘tidak begitu bermamfaat’, dengan mudahnya mereka say goodbye (seperti orang-orang oportunis yang suka ‘memfaatkan orang lain).
Sebuah ukhwah dan pertemanan adalah saling mengisi kekosongan, menghargai segala perbedaan, dan saling melengkapi. Pada umumnya memang tidak semua teman itu baik, Bisa saja seseorang dia mengaku bahwa dia adalah teman kita tapi dia hanya memanfaatkan kita untuk dirinya sendiri saja, menusuk kita dari belakan, menjelek-jelekan kita tetapi bersikap pura-pura baik di depan kita (munafik). Memang terkadan kita sangat kesal terhadap teman kita yang bersifat seperti itu tetapi kita tidak boleh membalasnya kita harus bisa merubah dia menjadi yang lebih baik jika memang kita mengaku sebagai temannya. Seburuk apapun teman kita, kita harus tetap menerimanya karena bagaimanapun dia adalah teman kita yang selalu bisa meluangkan waktunya untuk mengisi waktu-waktu kosong kita.
Jangan pernah kita sia-siakan teman kita yang sudah sangat berjasa bagi kita, tanpa teman kita hidup ini akan hampa dan tidak berarti. Beberapa sikap yang harus kita miliki dalam berteman, yaitu : a) Berteman tidak memebedakan suku, asal, ras, dan agama. b) Mengetahui hal baik dan buruk, jadi jika ada teman yang mengajak kepada keburukan bisa kita hindari. Teman atau sahabat adalah segalanya. Teman adalah orang ketiga dari orang tua dan guru di sekolah.
Terkadang di saat kita butuh seorang sahabat, ia selalu ada buat kita. Tidak semua sahabat kita itu saling ada buat sahabat-sahabatnya yang lain. Terkadang dengan kesibukan mereka masing-masing mereka tidak selalu ada buat kita, jadi kita harus saling mengerti satu sama lain.
Seorang sahabat adalah Kado yang anda berikan kepada diri anda sendiri. Sifat-sifat seorang sahabat :
*****
Jika Engkau berbuat baik kepadanya, ia akan melindungimu.
Jika Engkau rapatkan persahabatan dengannya, ia akan membalas baik persahabatanmu itu.
Jika Engkau Memerlukan Pertolongan daripadanya berupa uang dan sebagainya, ia akan membantumu.
Jika Engkau menhulurkan sesuatu kebaikan kepadanya, ia akan menerima dengan baik. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik darimu, ia akan menutupnya.
Jika Engkau meminta suatu bantuan daripadanya ia akan mengusahakannya.
Jika Engkau berdiam diri(karena malu hendak meminta), ia akan menanya kesusahanmu.
Jika Engkau berkata kepadanya, ia akan membenarkannya.
Jika Engkau merancang sesuatu, ia akan membantumu.
Jika Engkau berselisih faham, Niscaya ia lebih senang mengalah untuk kepentingan persahabatan Menjalin persahabatan dengan lawan jenis memang sah-sah saja.
*****
Di dunia ini, semua orang pasti butuh sahabat. Walaupun orang jahat yang paling jahat sekalipun, dia pasti juga butuh sahabat. Dalam perjalanan menuju sukses, kita perlu sahabat yang benar-benar tulus membantu serta membimbing kita. Melalui mereka, kita akan mendapat kekuatan dan tidak mudah bimbang ketika menghadapi halangan atas musibah, karena sahabat sentiasa berdiri di samping kita. Memberikan dukungan dan doa agar kita boleh melewati masa-masa sulit yang pasti akan terjadi dalam hidup kita.
Masalahnya apakah kita memiliki sahabat sejati, yang tetap berada di sisi kita saat kesulitan singgah? Pengalaman kita memperlihatkan banyak orang mengaku sahabat kita. Saat kita berada dipuncak kesuksessan dan banyak wang mereka selalu ada di sekeliling kita mendampingi kita seolah-olah bodyguard yang siap melindungi kita dari bencana. Akan tetapi ketika kita dirundung masalah yang berat dan keadaan kewangan kita buruk, mereka tidak menampakkan batang hidungnya dihubungi untuk dimintai pertolongan pun sering sulit. Saat seseorang merasakan perbedaan dari dalam diri sendiri kepada orang lain, begitulah orang akan merasa bahwa dirinya memiliki sahabat yang baik.
Dengan begitu semua orang akan menjadikan pengalaman yang dimilikinya dengan sahabatnya akan bersatu sehingga memiliki perubahan yang baik untuk kesuksesannya. Seorang sahabat memang mengerti dengan benar apa yang disebut pengaruh dari seseorang. Sehingga ketika kebiasaan sahabat itu baik perubahan yang akan terjadi kepada seseorang juga akan membaik. Seorang sahabat itu memang bisa menjadikan perubahan yang sangat baik kepada masa depan seseorang, sehingga menjadikan pengalaman yang akan diraih bisa menghasilkan sesuatu hal yang bisa dimiliki bersama sahabat. Sahabat adalah segalanya yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Jangan pernah meremehkan sahabat, karena mungkin bisa untuk merubah kehidupan diri sendiri.
Begitupula dalam Islam yang lebih dikenal dengan ukhwah islamiyah, sebuah tali persaudaraan yang akan mengokohkan kekuatan ummat Islam. Sebuah kisah seorang sahabat yang mulia, sebuah ukhwah yang tidak akan ter-ulang kembali pada kamu muslimin. Sebagimana ayat di dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Sesunggunya orang-orang mukmin itu, karnea itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al Hujuraat : 10).
Al kisah, Abdurrahman bin Auf. Dialah saudagar yang sukses, lebih sukses dari kesuksesan yang pernah ada. Dia merupakan orang kaya dengan kekayaan yang melimpah ruah. Dia adalah seorang Muslim yang bijaksana, yang tidak ingin bagian dari keuntungan agamanya hilang begitu saja, dan tidak sudi kekayaannya membuat dirinya tertinggal dari kafilah iman dan pahala surga. Untuk itu, ia mendermakan harta kekayaannya dengan kemurahan hati dan kesadaran nurani.
Kapan dan bagaimana proses keislaman orang besar ini? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing. Ia telah memasuki Islam pada permulaan dakwah, yakni sebelum Rasulullah memasuki Darul Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya yang beriman.
Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang lebih awal masuk Islam. Abu Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, termasuk kepada Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidullah, dan Sa’ad bin Abu Waqqash. Tidak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tiada keraguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah untuk menyampaikan baiat dan memikul bendera Islam.
Sejak menganut Islam hingga kembali kepada Allah dalam usia 75 tahun, ia selalu menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang Mukmin yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi memasukkannya ke dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga. Umar mengangkatnya sebagai anggota majelis syura yang terdiri dari enam orang, yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya. Kala itu Umar berpesan, “Rasulullah wafat dalam keadaan ridha kepada mereka.”
Cepatnya Abdurrahman masuk Islam itu telah menyebabkan dirinya terus mengalami penganiayaan dan penindasan dari kaum Quraish. Ketika Nabi memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Habasyah, Abdurrahman pun ikut berhijrah. Ia kemudian kembali lagi ke Mekkah, lalu hijrah untuk kedua kali ke Habasyah, dan selanjutnya hijrah ke Madinah. Ia ikut bertempur dalam Perang Badar, Uhud, dan peperangan lainnya.
Keuntungannya dalam perniagaan sangat besar hingga mencapai batas yang membuat dirinya sendiri merasa takjub dan heran, sehingga ia berkata, “Sungguh, aku melihat diriku ini seandainya mengangkat batu niscaya kutemukan emas dan perak di bawahnya.”
Perniagaan bagi Abdurrahman bin Auf bukanlah jenis perdagangan yang tercela maupun monopoli. Bahkan, ia sendiri bukanlah orang yang loba untuk mengumpulkan harta atas dorongan agar menjadi orang kaya. Sekali-kali bukan itu, melainkan suatu amal dan kewajiban yang keberhasilannya akan menambah kedekatan jiwa kepada Allah dan berkorban di jalan-Nya.
Abdurrahman bin Auf adalah seorang yang kuat emosi jiwanya di mana ia menemukan kepuasan emosinya itu dalam amal yang mulia di mana berada. Apabila ia tidak sedang shalat di masjid dan sedang tidak berjihad di peperangan, ia pasti sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, sehingga kafilah-kafilahnya di Mesir dan Syria membawa ke Madinah barang-barang muatan yang dapat memenuhi seluruh Jazirah Arab, baik pakaian maupun makanan.
Yang menunjukkan kepada kita bahwa ia seorang yang kuat emosi jiwanya adalah ketika kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Rasulullah pada waktu itu menerapkan aturan untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari Muhajirin warga Mekkah dan yang lain dari Anshar warga Madinah. Persaudaraan ini berjalan dengan sempurna hingga membuat hati terpesona. Orang-orang Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah membagi seluruh kekayaan miliknya menjadi dua dengan saudaranya dari kalangan Muhajirin, bahkan istri pun direlakan. Apabila ia beristri dua, ia pun rela menceraikan satu untuk diperistri saudaranya.
Ketika itu Rasulullah yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Marilah kita dengarkan shahabat yang mulia, Anas bin Malik menceritakan kepada kita apa yang terjadi: “sa’ad berkata kepada Abdurrahman, ‘Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak harta. Silakan pilih separuh hartaku dan ambillah. Aku juga mempunyai dua istri. Perhatikan yang lebih menarik hatimu dan aku akan menceraikannya, sehingga engkau dapat memperistri darinya.’Abdurrahman bin Auf menjawab, ‘Semoga Allah memberkahi dirimu dalam istri dan hartamu. Tunjukkanlah letak pasar kepadaku”.
Seorang sahabat yang memiliki jiwa yang sama besar, Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’ sebuah ukhwah yang tidak akan terulang kembali.. Abdurrahman pergi ke pasar. Ia berjual beli di sana dan mendapatkan keuntungan. Seseorang ketika ingin hidupnya bahagia harus bekerja keras, tidak bergantung pada orang lain.
Kehidupan Abdurrahman bin Auf di Madinah, baik semasa Rasulullah maupun sepeninggal beliau, selalu ditunaikan dengan sempurna untuk memenuhi hak agama ini dan beramal di dunia. Perniagaannya sukses dan menguntungkan. Seperti diungkapkan sendiri bahwa seandainya ia mengangkat baru dari tempatnya, ia pasti mendapatkan emas dan perak di bawahnya. Salah satu faktor yang membuat perniagaannya berhasil dan mendapatkan berkah adalah karena ia sangat selektif untuk berniaga yang halal dan benar-benar menjauhkan diri dari segala bentuk jual beli yang haram. Dan inilah ujian bagi orang-orang beriman dalam bermuamalah begitu pentingnya menjaga diri kita dari perbuatan dosa dari segala aktifitas dan kehidupan kita.
“Jangan berteman yang hanya mau menemanimu ketika kamu sehat atau kaya, karena tipe teman seperti itu sungguh berbahaya sekali bagi kamu dibelakang hari.” (Imam Ghozali rahimahullah).
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Pendiri Madani Institute, Ceo Mujahid Dakwah Media, Aktivis Media Islam, Founder www.mujahiddakwah.com dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































