“Kami ridha dan rela pembagian Yang Maha Kuasa atas kami ilmu, dan bagi musuh-musuh kami, harta. Karena harta dalam waktu dekat akan binasa, sementara ilmu akan terus kekal dan senantiasa ada. Orang-orang bodoh (yang enggan dan malas menuntut ilmu) lama-kelamaan akan “mati”, meskipun belum datang kematian untuk mereka. Sekalipun belum dikubur, jasad mereka seakan telah menjadi kuburan yang hina. Mereka seperti orang yang mati, namun berjalan-jalan di alam dunia.
Pada hakikatnya, keberadaan mereka di muka bumi, adalah suatu ketiadaan. Sementara orang-orang berilmu, sekalipun ajal menjemput, mereka akan selalu hidup di tengah umat manusia. Mereka akan terus hidup kekal setelah kematiannya, bahkan setelah tulang-berulang mereka hancur seketika di dalam kubur.” Begitulah sedikit penggalan kalimat yang ditulis al-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim-nya.
Ilmu itu bagaikan motor penggerak pemikiran dan aktifitas manusia. Tanpanya, hendak dikemanakan arah pikiran manusia nantinya dan apa jadinya amal yang hendak dijelmakan olehnya? Tanpanya, bagaimana insan adabi dapat tercipta? Bagaimana bisa setiap insan berjalan di jalan yang benar menuju Tuhannya? Tanpanya, turunlah derajat serta martabat manusia dihadapan Tuhan dan manusia lainnya. Dan tanpanya, hilanglah klasifikasi yang semestinya membedakannya antara umat manusia dengan hewan.
Ilmu Sebagai Asas Peradaban
Ilm is Islam, tegas Franz Rosenthal dalam karyanya, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam. Pada dasarnya, Islam memang agama ilmu, dan peradabannya adalah peradaban yang juga menjunjung tinggi semangat keilmuan. Artinya, ilmu adalah barang berharga dalam Islam, dan Islam memberikan ruang khusus bagi ilmu, aktivitas, dan para pengembannya.
Dalam buku Budaya Ilmu-nya, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan, “Ilmu adalah teras sistem nilai agama Islam dan menduduki tempat yang amat tinggi dalam pandangan alam, syariah, akhlak dan tamadun Islam.”
Islam menempatkan ilmu sebagai kewajiban, tolak ukur kemuliaan manusia serta kebangkitan negara dan agama.
Sebab, tanpa adanya ilmu, Apa artinya kehidupan insan serta kewujudan peradaban Islam di mata dunia?
Ilmu yang sudah mentradisi adalah asas dari setiap kejayaan, kekuatan, serta kebahagiaan setiap umat dan bangsa. Sirnanya keelokan budaya ilmu, juga menjadi pertanda lenyapnya cahaya setiap manusia dan peradaban mereka, bahkan sampai kepada taraf kebergantungan kepada peradaban lain, yang lebih kokoh tradisi keilmuannya.
Sudah semestinya kita sama sama insaf, bahwa jumlah tenaga manusia, tentara, dan kekuatan lainnya, bukanlah kekuatan hakiki setiap bangsa. Yakinlah bahwa itu semua tidak bisa memberikan arah dan makna pembangunan yang menyeluruh bagi setiap negara. Sebab, tengoklah sejarah! Mereka yang sebatas kuat militer dan sebagainya, namun lemah budaya ilmunya harus rela memeluk dan menganut nilai-nilai bahkan ciri tamaddun lain yang ditaklukinya. (Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, 1997: 10-11).
Mungkin akhir-akhir ini, sebagian dari kita sedang dalam jurang kehinaan akibat kebodohan yang dipendamnya. Firman Yang Maha Kuasa, “Wa qur Rabbi zidni ilman,” telah diabaikannya. Mereka telah lupa bahwa harta yang mereka pendam seumur hidupnya, jabatan yang mereka pertahankan terlalu lama, popularitas yang mereka banggakan dan pamerkan di dunia nyata dan maya, tidak membuat peradaban ini menjadi bahan pembicaraan karena keagungannya. Atau minimal, disegani, diwaspadai, dan ditakuti oleh lawan-lawannya.
Kini, terbang entah kemana rasa kebanggaan serta kemuliaan budaya ilmu dalam benak mereka. Mulai dari budaya membaca, menulis, bertanya, sampai berdiskusi, telah berubah menjadi sekedar kata-kata tanpa tau makna dan arah tujuannya. Layaknya pedang yang tumpul, yang pudar ketinggian nilai serta fungsi utamanya.
Terjun ke dunia politik tidak salah, namun kurang tepat manakala minus konsumsi intelektualitasnya. Bukankah begitu yang dahulu dicontohkan M Natsir, Buya Hamka, Agus Salim, KH. Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan para pejuang kita lainnya, melalui kalam dan tinta emas mereka?
“Ada pahlawan di medan perang, dengan pedang di tangan dan ada pula pahlawan di garis belakang merenung kitab. Keduanya penting dan keduanya isi-mengisi. Apa yang diperjuangkan di garis muka, kalau tidak ada di belakang yang mengisi ruhani?” tegas Hamka dalam kitab tafsirnya.
Mungkinkah budaya ilmu telah musnah, terbakar hangus sampai hilang dari memori umat manusia, Muslim khususnya? Benarkah telah hilang nilai serta kemuliaan aktivitas tersebut dalam hati dan pikiran mereka? Apakah Tepat jika dikatakan bahwa telah hilang semua gambaran itu, hancur berkeping-keping tanpa sisa? Bisakah dibenarkan pikiran mereka, bahwa ketiadaan budaya ilmu, tidak akan membuat peradaban ini jatuh tersungkur dalam lubang kehinaan dan kebodohan, layaknya hewan ternak di kandangnya? Nyatakah ini semua?
Kalau begitu faktanya, bagaimana peradaban ini bisa naik ke pentas dunia? Dan kalau itu sungguh nyata, bagaimana peradaban ini (Islam) bisa mengulang kembali sejarah kegemilangan serta keemasannya?
Tradisi Ilmu Dalam Islam
Dahulu, kehadiran sang pembawa rahmat bagi alam semesta dan seluruh manusia, merupakan kehadiran budaya ilmu di tengah masyarakat. Ia Menanamkan jiwa haus ilmu dan gila menulis apa-apa yang keluar dari lisannya. Hal itu dapat kita lihat melalui komunitas Ashabus al-Suffah, yang menjadi tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam yang mengkaji kandungan wahyu dan hadits-hadits nya. Bahkan sampai melahirkan berbagai disiplin ilmu yang terus berkembang pesat oleh mereka yang disebut sebagai “khairul qurun”. Maka, berdasarkan teks wahyu yang didukung oleh tradisi intelektual, Islam menjelma menjadi peradaban yang hebat (Hamid Fahmi Zakasyi, Worldview Islam Asas Peradaban, 2011: 25-26).
Melalui tradisi intelektual, Rasul berhasil menciptakan generasi gemilang yang tangguh ke alam dunia. Kata Abul Hasan Ali an-Nadwi, generasi itu mencirikan Iman, kepercayaan, amal, akhlaq, pendidikan, kesucian jiwa, ketinggian budi pekerti, kesederhanaan, maupun kesempurnaannya. Mereka itulah generasi ideal yang siap ditempatkan dimana saja, siap melanjutkan panji Islam dan risalah kenabian, serta siap menjadi teladan bagi umat Muhammad di era selanjutnya.
Begitu juga dengan kegemilangan di masa Khulafaur Rasyidin abad ke 7 hingga Turki ‘Utsmani abad ke-19. Itu tidak akan pernah lepas dari faktor kegemilangan ilmu pengetahuan yang terus membekas, khususnya di masa Abbasiyah. “Apa yang tersirat dari kegemilangan kekuasaan politik Islam sejak masa Khulafa al-Rasyidun abad ke 7 M hingga kekhalifahan Turki Utsmani abad 19, adalah kegemilangan ilmu pengetahuan,” (2011: 58).
Menegaskan Kalam di atas, Maryam Jameelah mengatakan, “Bahkan musuh-musuh kita pun tidak bisa menyangkal kenyataan historis bahwa selama lebih dari 500 tahun (mulai abad ke-8 sampai abad ke-13) orang-orang Islam memimpin dunia dalam bidang sains, kedokteran, matematika, perdagangan, dan industri.
Meskipun asal-usul angka “nol” dan apa yang disebut “angka Arab” adalah dari India Hindu dan kertas, percetakan serta bubuk mesiu adalah penemuan-penemuan bangsa Cina, tetapi hanyalah orang-orang Islam yang menyadari potensialitas kegunaan benda-benda tersebut. Dalam praktek kedokteran, orang-orang Islam memang menerapkan pengetahuan bangsa Yunani sampai pada tingkat paling tinggi, akan tetapi adalah suatu penghinaan besar terhadap penyempurnaan mereka untuk menduga bahwa mereka semata-mata meminjam, memelihara dan mengedarkan kepada orang-orang lain pengetahuan orang-orang zaman dahulu dan sama sekali tidak memberi sumbangan-sumbangan dari mereka sendiri. Adalah orang Islam dan sama sekali bukan orang lain yang, melalui media kaya bahasa Arab, meletakkan dasar-dasar matematika, kimia, fisika, farmasi, dan kedokteran kontemporer sebagaimana yang kita kenal dewasa ini. orang-orang Eropa hanyalah membentuk superstruktur di atas dasar-dasar tersebut. Kedokteran Yunani adalah induk dari kedokteran modern. Hingga abad ke-17 Canon Ibnu Sina merupakan buku teks standar di semua sekolah kedokteran di Eropa.” (Maryam Jameelah, Di Tengah Kemelut Kebudayaan Islam Ditantang, 1985: 29-30).
Di masa itulah Peradaban Barat harus membayar hutangnya terhadap Islam supaya impas. Sebab di masa itulah, kebrutalan dan kehidupan barbar orang Barat sangatlah buas. Itulah yang kemudian Diguyur oleh umat Islam dengan Budaya ilmu yang sagat deras. Meskipun kata Tim Wallace Murphy dalam What Islam Did For Us-nya, jasa Islam dalam menaikkan derajat orang orang Barat dengan ilmu pengetahuan, tidak akan mampu terbayar lunas. Dan kata Muhammad Asad dalam Islam at the Crossroads-nya, jasa itu jauh lebih besar dari apa yang sudah diberikan oleh “renaissance” kepada Barat
Belajar Dari Mereka
Tidakkah kita malu dengan para ulama-ulama kita dahulu.
Mereka yang rela megorbankan harta, tenaga, dan waktu, demi ilmu. Mereka yang tidurnya sedikit, tapi mampu menghasilkan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus karya ilmiah berupa buku. Bukan kita yang sedikit-sedikit tidur, tanpa sedikitpun bisa mengimbangi para ulama dahulu. Mereka yang karyanya mampu melebihi usia yang diberikan oleh Sang Pemberi ilmu Mereka yang kapanpun dan dimanapun, selalu melakukan hal yang sangat subtansial, yakni aktivitas keilmuan tanpa jemu. Institusi pendidikan, rumah, sampai tempat perdagangan, mereka jadikan itu sebagai sarana pembelajaran dan pendidikan, tanpa peduli ruang dan waktu.
Selain itu, tidakkah kita malu dengan peradaban-peradaban lain di luar sana, yang tidak secara eksplisit menjelaskan keagungan budaya ilmu, namun bisa menjadi kiblat keilmuan bagi sebagian besar para akademisi.
Lihatlah peradaban Yahudi. Rendahnya kuantitas tidak menutup pintu keilmuan bagi mereka. Keseriusan serta pengorbanan mereka terhadap ilmu, menjadi titik balik mereka, dari kaum diaspora, menjadi kaum penunggang dunia Kemunculan Baruch Spinoza, ahli falsafah, Albert Einstein, dalam bidang sains, Karl Marx dalam bidang politik dan sosio-ekonomi, dan Sigmund Freud dalam bidang psikologi, menjadi bukti nyata akan besarnya pengaruh intelektualitas mereka. “Pemikiran dan fahaman dalam bidang agama, falsafah, perundangan, undang-undang, sains, sastera, institusi politik, idea akhlak, semuanya digerakkan oleh ombak pemikiran Yahudi,” Kata Prof. Wan dalam buku Budaya Ilmu-nya.
Lihatlah peradaban Barat. Disamping betapa sekuler dan materialis-nya, mereka masih sangat mendudukkan tradisi ilmu di tempat yang mulia. Nilai-nilai sekulerisme itulah yang menjadi bahan utama dalam mengolah tradisi ilmu menjadi sangat baik untuk dicerna. Kita bukan hendak menerima teori Galileo-Galilee, Charles Darwin, dan Marie Curie dan konco-koconya. Kita bukan hendak meniru cara pandang manusia Barat, juga cara berpikir mereka. Tapi kita hendak mencontoh bagaimana kesungguhan mereka dalam menciptakan satu teori yang pengaruhnya tersebar sampai ke hampir penjuru dunia. Atau dalam bahasa Asad:
“Kita harus punya kemauan untuk belajar dan untuk maju dan menajadi efisien seperti bangsa-bangsa Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi. Tetapi yang tidak boleh dikehendaki kaum Muslimin yalah melihat dengan mata Barat, berpikir dengan pikiran Barat; mereka tidak boleh, kalau mereka berhasrat untuk tetap Muslim, berkehendak untuk menukar peradaban spirituil Islam dengan eksperimen-eksperimen Barat yang materialistik. (Islam at the Crossroads, 1987: 80-81).
Lihatlah peradaban Jepang yang dulunya hancur lebur tatkala kasus pemboman Hirashima-Nagasaki, namun bisa segera bangkit, bahkan melebihi Amerika dan kawan-kawannya. kepekaan pemimpin, institusi dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan maklumat dan kesungguhan mereka mengumpulkan dan menggunakan ilmu untuk faedah mereka, itulah faktor terbesarnya, sebagaimana yang dicetuskan oleh Prof. Ezra Vogel.
“Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Sesiapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi, mereka yang jahil akan menjadi papa dan hina.” Begitulah kalimat Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran pada tahun 1882, yang menjadi pegangan masyarakat Jepang untuk kembali bangkit dari keterpurukannya. (Lebuh jauh, Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, 1997: 16-30).
Penutup: Jangan Lupakan Budaya Ilmu!
Maka sudah saatnya budaya ilmu dihidupkan kembali. Yaitu dengan berusaha menjadi seorang pembelajar yang rela berkorban demi agama dan negeri. Sejatinya, seorang pembelajar itu pasti seorang yang mandiri dalam menuntut ilmunya. Ia sudah merasa bahwa dirinya butuh kepada ilmu. Kemanapun dan dimanapun ilmu itu berada, ia akan mengejarnya. Dan sejatinya, seorang pembelajar pasti sudah terkait dengan sifat senang berfikir kritis, diskusi, bertanya, menganalisis, dan berani berbuat demi kemuliaan peradabannya.
Umat ini membutuhkan para penuntut ilmu dan para pembelajar yang giat memberikan cahaya keilmuannya, tatkala kegelapan sedang melanda. Ketiadaan ilmu, seakan menyiratkan ketiadaan Islam. Kemunduran para pembelajar, seakan merefleksikan peredupan cahaya Islam secara masif dan hina. Kalau tradisi keilmuan terus diabaikan dan mengalami pembatasan, bagaimana peradaban ini mau memimpin dunia?
Ingatlah, “Masyarakat yang beradab juga masyarakat yang menghargai aktivitas keilmuan. Tentu menjadi tidak beradab, jika aktivitas keilmuan dikecilkan, sementara aktivitas hiburan terlalu diagung-agungkan. Tidak mungkin suatu bangsa akan maju jika tidak menjadikan tradisi ilmu sebagai bagian dari tradisinya,” tegas aba dalam 10 Kuliah Agama-nya.
Serta renungkanlah, bahwa “Salah satu faktor utama penyebab ketertinggalan umat Islam adalah kebodohan, sampai-sampai ada diantara mereka yang tidak dapat membedakan antara arak dan cuka. Alhasil, orang-orang bodoh itu pasrah saja menerima permasalahan yang disodorkan tanpa tahu cara menolaknya,” jelas Syaikh Syakib Arslan dalam kitabnya yang terkenal, Limadza Taakhkhara al-Mulimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhu.
Sekarang adalah pilihan kita, untuk menjadi yang biasa-biasa saja, atau hendak menjadi seorang pengukir sejarah? Hendak membangkitkan peradaban ini dengan lelah, atau tersungkur jatuh bersama peradaban ini dengan pasrah? Hendak bersusah payah dengan budaya ilmu demi bangkitnya peradaban Islam, atau bersenang-senang dengan kegemilangan materi duniawi, dan rela melihat peradabannya sendiri masuk ke dalam lubang kehinaan dan kebodohan?
Maka, mari sama-sama kita hidupkan budaya ilmu ditengah kemelutnya zaman. Saatnya kita bangkitkan tradisi ilmu secara perlahan, namun penuh dengan kepastian. Sepatutnya, kita mengulang kembali sejarang keemasan Islam yang kental dengan kegemilangan ilmu pengetahuan. Dan, sekaranglah saatnya kita letakkan peradaban Islam di puncak, dengan budaya ilmu.
Epilog: Kekhasan Budaya Ilmu Dalam Islam
Berbeda dengan Barat dan yang lainnya, Islam mempunyai budaya ilmu yang khas. Sebab, sekarang ini ada beberapa kalangan berusaha menyuburkan budaya nafi atau penolakan ilmu bahkan sampai pada taraf pengingkaran terhadap ilmu. Menurut Prof. Wan, diantara bentuk pengingkarannya, menafsirkan ilmu tidak sesuai dengan cara pandang Islam, memperjuangkan ilmu untuk tujuan yang salah, mengkaburkan klasifikasi ilmu, tidak mengarahkan murid menjadi manusia yang baik dan bermanfaat, dan masih banyak lagi. Ia juga mempermasalahkan kepada kebanyakan orang yang pintar ilmu fardhu kifayah namun lupa dengan ilmu fardhu ain. Itulah bentuk salah satu ingkar ilmu.
Sebelum itu, kita mesti sama-sama insaf, bahwa ilmu dalam Islam, bukan sekedar informasi, meskipun ilmu harus meliputi informasi. Sebab kalau begitu, apakah kita akan mengatakan komputer berilmu karena bisa menyimpan berbagai informasi? Ilmu juga bukan sekedar kemahiran atau keahlian. Sebab monyet yang ahli memanjat pohon, tidak bisa kita katakan bahwa monyet itu berilmu tentang pohon itu.
Mengutip Prof al-Attas, ia mengatakan bahwa ilmu adalah makna yang tiba ke dalam diri si pencari ilmu itu. Tapi ilmu juga makna yang dicari oleh para pencarinya. Informasi tidak bermakna bagi komputer. Pohon tidak bermakna kepada monyet tadi. Tapi makna itu tidak akan diberikan manakala ia tidak berbuat sesuatu. Supaya ia dianggap layak mendapat ilmu, maka ia harus berusaha, berfikir belajar, berdiskusi, merenung, berdebat, dan sebagainya.
Dengan makna itulah kita bisa mengenal Tuhan, diri, sehingga tahu tujuan hidup dengan sebaik baiknya. Dengan begitu, akan lahir insan adabi, yang baik (pemikiran dan tindakannya) serta bermanfaat. Jadi, ilmu bukan sekedar informasi yang kita serap. Bukan sekedar menguasai bidang bidang tertentu saja. Insan adabi atau mereka yang siap menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab terhadap Tuhan, diri, dan orang lain, Inilah yang masih minus dalam peradaban barat, sebagaimana yang ditulis juga oleh sejarawan Amerika bernama Carrol Quiegley, dalam bukunya, Tragedy and Hope.
Maka inti budaya ilmu dalam Islam, adalah meluruskan worldview, mengenal Tuhan, dan menanamkan adab dalam diri setiap insan. Ilmu itu adalah maklumat yang bermakna. Mereka (orang-orang selain kita) boleh berbahasa asing, menulis banyak karya ilmiah, mencapai gelar yang tinggi, namun ingatlah, manakala mereka kekeringan adab, jauh dari mengenal Allah SWT, dan malas beribadah, hanya kesia-siaan yang timbul dan hanya akan menumbuhkan new barbarian ke muka buni. Kalau begitu jadinya, maka yang didapatinya bukanlah ilmu, melainkan sebatas informasi atau maklumat belaka yang kekeringan makna.
Intinya, budaya ilmu dalam Islam, adalah budaya ilmu yang berkaitan erat dengan penanaman adab, yang mendisiplinkan pikiran, hati, dan jasad seseorang. Konsep budaya ilmu ini, bukan sekedar menjadikan orang semangat mencari ilmu dan mendapat ijazah juga gelar lalu bisa bekerja. Tapi tujuan utama dari budaya ilmu yang ingin dibangun oleh agama kita adalah untuk memperbaiki manusianya, untuk menciptakan manusia yang beradab.
Namun, hal itu tidak akan terjadi manakala institusi tidak menerapkan tiga langkah ini: (1) Mendahulukan penanaman adab. (2) Mengutamakan ilmu fardhu ain. (3) Memilih ilmu fardhu kifayah yang tepat, sesuai dengan potensi masing-masing anak dan kebutuhan umat.
*************
Ahad, 16 Agustus 2020
At-Taqwa College Cilodong-Depok
Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)







































































