Bulan Ramadhan adalah bulan mulia dimana Al-Quran diturunkan. Sangat disunnahkan untuk kita, umat Muslim, untuk memperbanyak membacanya. Namun jangan lupa bahwa Al-Quran adalah Kalamullah , bukan bacaan biasa. Maka ada adab-adab khusus yang perlu diperhatikan.
Sudah banyak ulama yang menerbitkan buku tentang adab-adab membaca Al-Quran, baik yang menerjemahkannya dalam satu buku tentang adab secara khusus atau yang menyelipkannya dalam judul umum. Di meminjam adalah kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Hujjatul Islam , Abu Hamid Muhammad al-Ghozali, atau yang kita kenal dengan Imam Ghozali.
Nah, berikut ini adalah 5 adab dzohir (dari 10 adab) bacaan Al-Quran yang penulis nukil-terjadwal lengkap dari kitab Ihya ‘karangan Imam Ghozali.
1. Keadaan Qori ‘ ; seseorang yang membaca Al-Quran mengambilnya dalam keadaan berwudhu, tingkah laku penuh adab, tenang, menghadap kiblat, menundukkan kepala, baik duduk sambil berdiri. Jika duduk maka dengan tata cara terbaik, yaitu tidak bersila, bersandar atau seperti duduknya orang penuh keangkuhan.
Sebaik-keadaan baik adalah membaca Al-Quran saat sholat, dalam keadaan berdiri, di masji
Ali bin Abi Thalib RA berkata; “ Barang siapa yang membaca Al-Quran dalam sholat maka dapatkah setiap huruf memberikan imbalan. Barang siapa membacanya saat sholat dalam keadaan duduk maka menerima lima puluh kebaikan. Barang siapa membacanya di luar sholat sedang ia dalam keadaan berwudhu maka menerima dua puluh lima kebaikan. Sedang yang membacanya dalam kondisi tidak berwudhu maka pantaslah. ”
2. Kuantitas bacaan . Dalam membaca Al-Quran setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda yang berbeda atau jumlah ayat yang dibaca. Ada yang mengkhatamkan Al-Quran dalam sehari semalam sebanyak satu kali. Ada yang dua kali, bahkan tiga kali. Ada pula yang mengkhatamkannya sekali lagi. Dan baik-baik ukuran adalah apa yang telah disampaikan Rasulullah ﷺ, ” Barang siapa yang membaca Al-Quran kurang dari tiga hari maka ia tidak memahami (apa yang dibaca) nya.”
Rasulullah ﷺ juga pernah menerima Abdulllah bin Umar untuk mengkhatamkan Al-Quran setiap tujuh hari. Begitu pula para sahabat banyak yang mengkhatamkannya setiap hari Jum’at, seperti Ustman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhum.
Maka ada empat tingkatan dalam mengkhatamkan Al-Quran. Pertama , mengkhatamkannya sehari semalam, dan hal ini dimakruhkan sebagian besar ulama. Kedua , mengkhatamkannya setiap bulan, setiap hari membaca satu juz. Hal ini dianggap terlalu sedikit, dianggap yang pertama dianggap terlalu banyak. Lalu yang ketiga dan keempat adalah yang ideal, yang ada di tengah dua tingkat yang telah memenangkan, yaitu dalam mengkritik satu kali atau dua kali.
3. Cara membagi bacaan Al-Quran . Sepertiga dari yang disebutkan dalam edisi tersebut diterbitkan oleh Al-Quran menjadi tujuh bagian (hizb / ahzab). Dikisahkan sebagai sahabat membagi Al-Quran dalam beberapa hizb. Diriwayatkan bahwa Utsman RA mengawali malam Jum’at dengan al-Baqoroh hingga al-Maidah. Malam sabtu dengan al-An’am hingga Hud. Malam Ahad dengan Yusuf hingga Maryam. Malam Senin dengan Taha hingga Tha sin mim, Musa dan Fir’aun. Malam Selasa dengan al-Ankabut hingga Shad. Malam Rabu dengan tanzil hingga ar-Rahman. Lalu mengkhatamkannya pada malam Kamis.
4. Tartil . Mentartilkan bacaan (membaca secara lengkap dengan memperhatikan bacaan hukum) merupakan hal yang disunnahkan dalam bacaan karena tujuan dari bacaan Al-Quran adalah merenungi persediaannya dan hal itu membutuhkan bacaan yang tartil. Ibnu Abbas pernah berkata,
“Sungguh aku membaca surat Al-Zalzalah dan al-Qori’ah dengan mentadabburinya lebih baik daripada membaca al-Baqoroh dan Ali Imron dengan cepat.”
Penting untuk dibaca dengan tartil termasuk hal yang disunnahkan oleh orang ‘ajami (tidak mengerti bahasa Arab). Karena hal itu lebih dekat dengan sikap pengagungan, penghormatan pada Kalamullah dan juga lebih berkesan di hati daripada membacanya dengan tergesa-gesa.
5. Menangis . Menangis saat membaca Al-Quran juga disunnahkan, sebagai mana sabda Rasulullah ﷺ, “ Bacalah Al-Quran dan menangislah. Jika kalian tidak menangis, maka menangislah dengan dibuat-buat. ”
Ibnu Abbas RA berkata, “Ketika membaca ayat sajdah pada surat subhana (al-Isra ‘), maka janganlah kalian tergesa-gesa untuk sujud sebelum menangis. Jika saya tidak bisa menangis maka dengan itu. Dan cara melepaskan diri untuk menangis adalah dengan menghadirkan rasa senang di gembira. Dengan rasa sedih menyambut tangisan akan hadir. “
Sementara cara menyampaikan rasa sedih adalah merenungi ayat-ayat yang berisi ancaman, adzab dan perjanjian (kita dengan Allah SWT). Kemudian merenungi melampaui lalainya kita menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan begitu pasti rasa sedih tidak hadir lalu akhirnya menangis. Jika dengan itu masih tidak muncul juga rasa sedih dan tangis, maka tangisi merasa sedih dan tangis yang telah hilang dari diri kita sendiri, karena sulit dipahami musibah terbesar.
*************
Penulis: Auliya El Haq
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah









































































