Jika kita mengamati kondisi dakwah di zaman ini, kita akan menemukan sebagian dai, tokoh agama atau para masyaikh yang berupaya menyambung hubungan baik antara tokoh kelompok asy’ary (pengikut Abul Hasan Al-Asy’Ari rahimahullah) dan kelompok Hanabilah (pengikut imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah).
Hal ini bukanlah hal yang baru dari mereka. Sebab, sebelumnya telah ada beberapa ulama yang mendahului mereka mencoba melakukan hal itu. Sebutlah salah satunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Ialah salah seorang ulama besar yang menjadi teladan dari kalangan Hanabilah dalam hal ini. Beliau sangat giat berupaya mempersatukan umat, khusunya antara Asy’ari dan Hanabilah. Dalam Majmu’ah Fatawanya beliau berkata:
وَالنَّاسُ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ كَانَ بَيْنَ الْحَنْبَلِيَّةِ وَالْأَشْعَرِيَّةِ وَحْشَةٌ وَمُنَافَرَةٌ. وَأَنَا كُنْت مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ تَأْلِيفًا لِقُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ وَطَلَبًا لِاتِّفَاقِ كَلِمَتِهِمْ وَاتِّبَاعًا لِمَا أُمِرْنَا بِهِ مِنْ الِاعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللَّهِ وَأَزَلْت عَامَّةَ مَا كَانَ فِي النُّفُوسِ مِنْ الْوَحْشَةِ وَبَيَّنْت لَهُمْ أَنَّ الْأَشْعَرِيَّ كَانَ مِنْ أَجَلِّ الْمُتَكَلِّمِينَ الْمُنْتَسِبِينَ إلَى الْإِمَامِ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ وَنَحْوِهِ الْمُنْتَصِرِينَ لِطَرِيقِهِ كَمَا يَذْكُرُ الْأَشْعَرِيُّ ذَلِكَ فِي كُتُبِهِ.
“Orang-orang mengetahui bahwa terjadi perseteruan sengit antara Hanbilah dan Asy’ariyah. Saya adalah salah satu yang sangat berperan menyatukan hati kaum muslimin dan berupaya menyatukan kalimat mereka, serta agar mereka mematuhi perintah Allah untuk berpegang pada tali agamaNya. Saya juga berupaya menghilangkan kebencian yang ada dalam jiwa mereka, serta menjelaskan kepada mereka bahwa Asy’ariyah itu termasuk ahli kalam yg paling dekat penisbatannya kepada Imam Ahmad dan semisalnya, serta sangat membela metode beliau sebagaimana yang diakui oleh Al-Asy’ari sendiri dalam buku-bukunya.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ah fatawa, juz 2 , hal 147, tahqiq Farid Abdul Aziz al-Jundi dan Asyraf Jalal asy-Syarqawi, Daar al-Hadits-Mesir, t.cet, thn 1435 H).
Sebenarnya, antar kedua kubu dahulu pernah terjadi ittifaq kalimah (kesepakatan kalimat/persatuan) sebagaimana yang diupayakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah itu. Hal itu diakui sendiri oleh kedua belah pihak. Sebagai contoh, Imam Ibnu Asakir rahimahullah menyebutkannya dalam Tabyiin Kadzbi al-Muftari mewakili kubu Asy’ari dan Ibnu Taimiyah rahimahullah mewakili kubu Hanabilah dalam Majmu’ah Fatawanya. Walaupun ketika menyebutkannya, antar kedua kubu sama-sama memberi isyarat dan mengarahkan pembaca bahwa kubu mereka yang benar.
Imam Ibnu Asakir rahimahullah berkata:
ولم تزل الحنابلة ببغداد في قديم الدهر على ممر الأوقات تعتضد بالأشعرية على أصحاب البدع لأنهم المتكلمون من أهل الإثبات فمن تكلم منهم في الرد على مبتدع فبلسان الأشعرية يتكلم ومن حقق منهم في الأصول في مسألة فنهم يتعلم فلم يزالوا كذلك حتى حدث الإختلاف في زمن ابي نصر القشيري ووزارة النظام
“Kelompok Hanabilah yang berada di kota Baghdad, sejak zaman dahulu dan seiring berjalannya waktu senantiasa meminta bantuan kepada Asy’ariyah dalam menghadapi Ahlu Bid’ah. Sebab mereka adalah Ahli Kalam dari kalangan ahli Itsbat. Siapapun dari mereka yang berbicara dalam membantah ahli bid’ah, maka ia akan berargumen dengan argumen Asy’ariyah. Siapa saja dari mereka yang mentahqiq masalah Ushul (Prinsip agama) maka dari kalangan Asy’ariyah mereka belajar. Hal itu terus berlangsung hingga terjadinya perseteruan antar mereka di zaman Abu Nashr al-Qusyairi dan pejabat Mentri.” (Ibnu Asakir, Tabyin Kadzbi al-Muftari, hal 326, Daar at-Taqwa-Suriah, cet I, thn 1440 H).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
ولما أظهرت كلام الأشعري -ورآه الحنابلة- قالوا هذا خير من كلام الشيخ الموقف وفرح المسلمون باتفاق الكلمة وأظهرت ما ذكره ابن عساكر في مناقبه أنه لم تزل الحنابلة والأشاعرة متفقين إلى زمن القشيري فإنه لم جرت تلك الفتنة ببغداد تفرقت الكلمة ومعلوم أن في جميع الطوائف من هو زائغ ومستقيمة
“Ketika aku memunculkan perkataan al-Asy’ari dan kelompok Hanabilah berpandangan yang sama dengannya, mereka berkata, “Ini lebih baik daripada perkataan Syaikh al-Muwaffaq”. Kaum muslimin bergembira dengan adanya ittifaq kalimah itu. Aku juga menyebutkan apa yang disebut oleh Ibnu Asakir dalam Manaqibnya, bahwa hakikatnya kelompok Hanabilah dan Asya’irah selalu dalam keadaan ittifaq kalimah (kesepakatan pendapat/persatuan) hingga sampai pada zaman al-Qusyairi. Ketika terjadi Fitnah itu di kota Baghdad, maka mereka berpecah. Pun telah menjadi suatu yang maklum bahwa pada setiap kelompok ada yang tergelincir pada kesalahan dan ada pula yang istiqamah di atas kebenaran.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ah fatawa, juz 2 , hal 148, tahqiq Farid Abdul Aziz al-Jundi dan Asyaraf Jalal asy-Syarqawi, Daar al-Hadits-Mesir, t.cet, thn 1435 H).
Fitnah al-Qusyairi ini disebutkan oleh beberapa ulama tarikh dalam kitab-kitab mereka. Seperti imam as-Subki rahimahullah dalam Thabaqaat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah dalam Dzail Thabaqaat al-Hanabilah, imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah dan beberapa ulama lainnya.
Sebagaimana disebutkan juga sebelumnya, bahwa sebagian dari ulama ketika menyebutkan kisah itu juga tidak lepas dari adanya kecendrungan mazhab mereka hingga memberi isyarat bahwa pada mazhab merekalah yang benar. Walau begitu, mereka sepakat dengan kisah terjadinya.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan:
وفي شوال وقعت الفتنة بين الحنابلة والأشعرية وذلك لان ابن القشيري قدم ببغداد فجلس يتكلم في المدرسة النظامية وأخذ يذم الحنابلة وينسبهم إلى تجسيم وساعده ابو سعد الصوفي ومال معه الشيخ ابو إسحاق الشيرازي وكتب إلى نظام الملك يشكو إليه الحنابلة ويساله المعونة وذهب جماعة إلى الشريف ابو جعفر بن أبي موسى شيخ الحنابلة وهو في مسجده فدافع عنه الآخرون وقتل رجل خياط من سوق الثلاثاء
“Pada bulan Syawwal terjadi fitnah antara kelompok Hanabilah dan kelompok Asya’irah. Hal itu karena Ibnu al-Qusyairi datang ke Baghdad dan berbicara di Madrasah an-Nizhamiyah dengan mencela kelompok Hanabilah dan menuduh mereka sebagai penganut paham Tajsim. Hal ini diikuti oleh Abu Sa’ad ash-Shufi dan Syaikh Abu Ishak Asy-Syairazi. Dia juga menulis surat pada pejabat kerajaan yang di dalam surat itu ia mengadukan kelompok Hanabilah dan meminta bantuan padanya. Maka berangkatlah beberapa orang kepada Syaikh asy-Syarif Abu Ja’far bin Abi Musa, seorang Syaikh (merupakan tokoh yang berpengaruh dari Mazhab) Hanabilah pada saat itu, sementara beliau berada di masjidnya. Lalu beberapa orang membela Syaikh asy-Syarif Abu Ja’far (hingga terjadi saling serang-pent) dan terbunuhnya seorang lelaki tukang jahit di pasar.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, juz 6, hal164, tahqiq Muhammad Samir Umar, Ibda’ Lil I’lam wa An-Nasyr- Kairo, cet 20, thn 1442 H).
Inilah awal perseteruan antara kubu Hanabilah dan Asya’irah yang termuat dalam sejarah, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama tarikh. Dari kisah ini kita dapat mengambil faidah diantaranya:
1. Berupaya kembali menyatukan kalimat dan menyambung silaturrahim antara kelompok Asya’irah dan kelompok Hanabilah bukanlah sesuatu yang tercela, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah. Hal ini tidak pula dikaitkan oleh para ulama sebagai perkara manhajiyah, yang mana pelakunya akan divonis sebagai orang yang bermanhaj menyimpang, bahkan divonis sebagai ahli bid’ah karena dekat dengan mereka. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang terkontaminasi virus “fitnah manhaj” pada satu atau dua dekade terakhir ini.
2. Menyebarkan fitnah Tajsim pada kelompok Hanabilah yang mengikuti jalan Ibnu Taimiyah al-Hanbali rahimahullah hanya akan menyulut api fitnah perpecahan dan akan terus memantik serta menjatuhkan korban, baik korban jiwa maupun harta sebagaimana yang terjadi pada kisah awal pertikaian Asya’irah dan Hanabilah. Ini merupakan sejarah yang akan terus berulang hingga hari ini jika para pengikut kelompok Asya’irah tidak berhenti dari perbuatan mereka menyebarkan tuduhan Tajsim secara dusta pada kelompok Hanabilah, semisal Ibnu Taimiyah rahimahullah dan pemgikutnya.
3. Hendaknya kita tidak mudah terprovokasi pada berita yang belum jelas kebenarannya, agar tidak menimbulkan kerusuhan pada sesama kaum muslimin.
4. Pada dasarnya Imam Abul Hasan al-Asy’ari sangat cinta kepada Hanabilah, buktinya beliau intisab kepada Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana beliau tulis dalam Al-Ibanah, dinukil pula oleh imam Ibnu Asakir rahimahullah dalam Tabyin Kadzbi al-Muftari:
فإن قال قائل قد انكرتم قول المعتزلة والقدرية والجهمية والحرورية والرافضة والمرجئة فعرفونا قولكم الذي به تقولون وديانتكم التي بها تدينون.
قيل له: قولنا الذي نقول به، وديانتنا التي ندين بها، التمسك بكتاب الله ربنا عز وجل، وبسنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وما روى عن السادة الصحابة والتابعين وأئمة الحديث، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل – نضر الله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته –
Jika seseorang bertanya, “Engkau telah mengingkari kelompok Mu’tazilah, Qadariyah, Jahmiyah, Khawarij, Rafidhah, Murjiah, maka perkenalkanlah pada kami tentang pendapatmu yang engkau ucapkan dan agama yang engkau anut.”
Katakan padanya, “Pendapat yang kami katakan dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh pada kitab Allah Azza wajalla dan Sunnah NabiNya Shallalllahu’alaihi wasallam berdasarkan riwayat dari para pembesar sahabat, para tabi’in dan para imam hadits. Kami berpegang teguh dengan apa yang diyakini oleh Imam Ahmad bin Hanbal semoga Allah mencahayakan wajahnya dan mengangkat derajatnya.” (Ibnu Asakir, Tabyin Kadzbi al-Muftari, hal 317, Daar at-Taqwa-Suriah, cet I, thn 1440 H).
5. Tidak hanya Imam Abul Hasan al-Asy’ari saja, Imam al-Baqillani rahimahullah yang juga merupakan tokoh sentral kedua setelah imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah juga dekat dengan Hanabilah, hingga beliau kadang menulis namanya Muhammad bin Thayyib al-Hanbali dalam jawaban-jawabannya terhadap pertanyaan yang diajukan kepada beliau, padahal beliau adalah sosok Asy’ari dalam aliran teologi dan tokoh atau pengikut dalam Mazhab Malik dalam mazhab fikih. Silahkan lihat dalam Kitab Dar’u Ta’arudh al-Aql Wa an-Naql, karya Ibnu Taimiyah rahimahullah, hal 270, juz 1, Tahqiq Muhammad Rasysyad Salim, Jami’atu al-Imam Muhammad Bin Su’ud Al-Islamiyah, Cet II, Thn 1411 H, Pdf.
***********
Penulis: Muhammad Ode Wahyu al-Munawy, SH.
(Pembina Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’am an-Nail, Alumni Jurusan Syariah Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum Islam STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































