Duduk di Tempat Dia Sampai di Suatu Majelis

Di antara adab sopan santun wanita Muslimah yang mendapatkan pancaran sinar petunjuk Islam adalah duduk di tempat di mana dia sampaidi suatu majelis yang telah banyak dihadiri oleh anggotamajelis lainnya. Hal itu merupakan adab sosial yang sangat luhur yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, baik melalui ucapan maupun perkataan. Beliau menjadikan setiap orang yang menghiasi dirinya dengan adab ini sebagai lambang kelembutan dan kemajuan sosial serta kehalusan akhlak.

Wanita Muslimah yang telah dipoles oleh adab yang luhur ini tidakakan melangkahi orang-orang yang duduk, tidakjuga mendesak-desakkan diri agar mendapat tempat. Dengan demikian itu dia telah mengikuti sunah sosial yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya ketika mereka mendatangi majelisnya.

Dari Jabir bin Samurah , dia menceritakan, “Setiap kali kami menghadiri majelis Nabi, masing-masing dari kami duduk di tempat kami sampai.” (HR. Tirmidzi)

Wanita Muslimah yang memahami ajaran agamanya tidak akan memisahkan dua orang yang sedang duduk berdampingan, kecuali keadaan sangat memaksa dan dengan seizin keduanya. Yang demikian itu karena memisahkan dua orang yang duduk berdampingan itu merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah , seperti yang disabdakannya,

Tidak dibolehkan seseorang memisahkan dua orang yang duduk berdampingan melainkan dengan seizin keduanya,”(HR. Tirmidzi)

Pemisahan dua orang yangduduk berdampingan oleh seorang wanita, baik itu dalam pertemuan maupun bukan merupakan pertbuatan yang dibenci di mana Islam memandangnya buruk dan mengingatkan supaya menjauhinya. Hadits yang membahas masalah ini cukup banyak, yang dikeluarkan dalam bentuk peringatan untuk memperingatkan orang-orang akan adab yang telah ditetapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Peringatan itu tidak hanya ditujukan kepada laki-laki tetapijuga kepada kaum wanita, karena semuanya berkewajiban untuk menjalankan perintahnya dan mengindahkan petunjuknya.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Said Al-Maqbari, dia menceritakan,

Aku pernah berjalan melewati lbnu Umar yang sedang berbincang- bincang dengan seseorang, lalu aku mendatangi keduanya, maka Umar memukul dadaku seraya berkata, Jika engkau melihat dua orang yang sedang berbincang-bincang janganlah engkau berdiri ataujuga duduk bersama keduanya, kecuali setelah mendapatkan izin dari keduanya. Maka aku katakan kepada keduanya, ‘Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu, wahai hamba Allah, sesungguhnya maku berharap bisa mendengar kebaikan dari kalian berdua‘.” (HR. Bukhari)

Ada juga wanita yang berdiri guna memberikan tempat duduk bagi wanita yang baru datang. Yang lebih utama dan baik dia (wanita yang baru datang) itu tidak duduk di tempat tersebut, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat.

Dari lbnu Umar Radhiallahu Anhu, dia menceritakan, Rasulullah pernah bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian membangunkan seseorang dari tempat duduknya, kemudian dia mendudukinya, tetapi hendaklah mereka memperluas dan melapangkan tempat duduk.” Dan lbnu Umar sendiri, apabila ada orang yang berdiri untuk mempersilahkan tempat duduknya itu, dia selalu menolak. (Muttafaq Alaih).

Dalam hal-hal semacam ini, wanita Muslimah senantiasa berpegang teguh padapetunjuk lslam dan juga pada apa yang telah dilakukan oleh parasahabat sehingga dia bersenang-senang dengan adab sosial yang luhuryang sangat disukai oleh banyak orang, dan dengan mengikuti sunah Rasulullah yang jujur dia akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Tidak Berbisik-bisik dengan Dua Orang Saja Apabila Dia Bertiga

Ajaran Islam datang ke muka bumi ini untuk membentuk manusia yang luhur dan yang berperasaan lembut, yang mempunyai kejelian dan kepekaan perasaan terhadap orang lain. Allah Subhanahu Wata’ala, Pembuat hukum yang sangat bijaksana telah membuat kaidah-kaidah akhlak dan tata cara sosial untuk merealisasikan hal itu, dan menjadikannya sebagai pengokoh dan benteng bagi agama serta memerintahkan kepada seluruh umat manusia untuk berhiaskan diri dengannya dan menerapkan-nya dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara kaidah-kaidah dan tata cara tersebut adalah apa yang digambarkan Rasulullah , yang memperingatkan agar tidak berbisik-bisik dengan dua orang saja dalam berbisik-bisik ddengan dua orang saja dalam keadaan bertiga:

Apabila kalian bertiga, maka janganlah kalian berbisik-bisik dengan dua orang saja dan mengabaikan yang lain sehingga ada orang banyak, karena yang demikian itu akan menyakitinya.” (Muttafaq Alaih)

Oleh karena itu, wanita Muslimah yang perasaannya telah dilembut kan oleh Islam dan ditanamkan ke dalamnya perasaan sosial yang luhur, tidak hanya berbisik-bisik berduaan sedang pada saat itu dia bertiga, dantemannya yang satu lagi dibiarkan sendiri dan terpojok, tetapi sebaliknya dia akan senantiasa memperhatikan perasaan temannya itu dan melibatkan dalam perbincangan bersama, bagaimanapunkeadaannya. Apabila terpaksa harus berbincang berduaan, maka dia harus meminta izin terlebih dahulu kepada teman ketiga itu, dan sedapat mungkin berbicara singkat.

Demikian itulah akhlak wanita Muslimah yang telah mendapatkan polesan petunjuk Islam, agama yang lurus. Dia membekali dirinya dengan pemikiran yang baik, kecerdasan dan kelembutan. Itulah cara bersosial yang luhur yang digunakannya dalam bergaul dengan wanita lain, yang diperolehnya dari petunjuk agamanya, dari sirah Nabi dan kisah para sahabat yang jiwanya telah diwarnai dengan ajaran Islam dan darahnya telah dicampuri dengan akhlak Islam sehingga mereka tidak pernah mengabaikan semua hal itu dalam bergaul dan memperlakukan orang lain. Hal itu telah diperkuat dengan hadits yang sangat banyakyang menggam-barkan tingkah laku sosial mereka yang luhur serta pemeliharaan mereka terhadap perasaan orang lain. Di antaranya adalah hadits yang diriwayat-kan oleh Imam Malik dalam bulkunya A-Muwatha’, dari Abdullah bin Dinar, dia menceritakan,

“Aku dan Ibnu Umar sedang berada di rumah Khalid bin Uqbah yang berada di tengah pasar Lalu datanglah seorang laki-laki yang hendak membisiki Ibnu Umar, pada saat itu tidak seorang pun selain diriku bersama Ibnu Umar. Kemudian lbnu Umar memanggil seseorang sehingga jumlah kami berempat. Maka Umar pun berkata kepadaku dan kepada orang yang dipanggilnya itu, “Tunggu sebentar, karena aku pernah mendengarRasulullah bersabda, “Tidak diperbolehkan dua orang berbisik-bisik dengan mengabaikan salah satu dari ketiganya. “Wanita Muslimah yang mengikutipetunjuk agamanya dan menerapkan ajarannya dengan baik akan mencontoh apa yang telah dilakukan oleh lbnu Umar , di mana dia (Ibnu Umar) tidak ridha mendengarkan bisikan orang yang datang kepadanya karena pada saat itu dia sedang bertiga, karena dia beranggapan bisikan itu akan menyakiti hati temannya. Ibnu Umar juga tidak ridha mendengar pertanyaan orang yang mendatanginya itu sehingga dia memanggil orang keempat. Akhirnya dia memberikanpemahaman kepada semuanya bahwa hal itu merupakan sunah Rasulullah dengan berkali-kali menyampaikan hadits tersebut di atas, dengan menegaskan bahwa sikap demikian itulah yang harus dilakukan pada kondisi seperti itu, sebagai usaha menjaga perasaan orang lain dan dalam rangka mengikuti sunah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Saudariku, Betapa mulianya adab sosial yang diajarkan Islam ini, betapa besar pemuliaan Islam terhadap manusia dan betapa mendalam penghormatannya pada perasaan mereka

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 405-409)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan