Tidak Menyumpahi Anak

Wanita Muslimah yang mengerti ajaran agamanya tidak akan menyumpahi anak-anaknya, sebagai pengamalan atas perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang melarang para ibu untuk menyumpahi anak-anaknya karena dikhawatirkan sumpahnya itu terkabul pada saat pengijabahan sumpah itu. Hal itu disampaikan melalui sebuah hadits Jabir yang panjang yang di dalamnya Rasulullah bersabda,

Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (doa) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu.”(HR. Muslim)

Yang demikian itu karena menyumpahi anak merupakan kebiasaan buruk dan akhlak tercela. Seorang ibu melakukan tindakan emosi pada saat marah akan menyesali apa yang telah dilakukannya setelah kemarahannya reda. Saya tidak mengira seorang ibu yang mendapatkan pancaran sinar hidayah agamanya akan kehilangan kesadaran dan keseimbangannya sehingga menyumpahi anak-anaknya, karena dia tidak ingin dirinya tergelincir seperti yang dialami oleh banyak wanita yang gelisah, slebor, dan sembrona.

Mewaspadai Segala Hal yang Mempengaruhi Pembentukan dan Pembinaan Anak

Muslimah yang benar-benar sadar dan penuh perhatian kepada anak-anakngya akan senantiasa memantau tingkah laku, aktivitas, dan hobinya, mengetahui apa yang mereka baca dan tulis, juga teman-teman mereka dan kemana mereka pergi. Semua itu diketahuinya dengan tidak menjadikan anak merasa diawasi. Apabila dia mendapatkan mereka melakukan penyimpangan, baik dalam hal pendapat, pandangan maupun hobi, atau ketergantungan pada teman yang berperangai buruk, suka pergi ke tempat-tempat maksiat, mempunyai kebiasaan berbahaya seperti, merokok dan lain-lainnya, bermain-mainan yang dilarang karena bertentangan dengan akhlak seorang Muslim, membuang-buang waktu dan tenaga, maka dia segera meluruskan penyimpangan tersebut dan mengarahkan ke jalan yang benar dengan cara lemah lembut, bijak dan penuh kasih sayang. Sesungguhnya dia mampu untuk melakukan semuanya itu daripada suaminya karena kedekatannya dan banyaknya waktu kebersamaan dengan mereka. Selain itu, mereka lebih terbuka kepada ibu daripada bapak mereka. Dari sini terlihat tanggung jawab besar seorang ibu dalam membina anak-anak menjadi generasi shaleh serta membentuk mereka sebaik-baiknya dan mencetak kepribadian mereka yang sesuai dengan dasar dasar dan nilai-nilai Islam.

Yang demikian itu karena setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi, seperti yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Tidak diragukan lagi bahwa orang tua mempunyai pengaruh besar dalam mengasah otak, membentuk kepribadian dan mendidik mentalnya dengan memperhatikan unsur-unsur pendidikan yang berpengaruh terhadap kepribadiannya sejak masa kanak-kanak sampai menginjak usia dewasa.

Buku bacaan anak-anak harus buku yang dapat mengasah otaknya, membentuk akhlak karimah pada jiwanya, dan membekali kepribadiannya dengan nilai-nilai luhur, bukan buku yang dapat mempengaruhi otak mereka dan. merusak fitrah mereka serta mematikan unsur-unsur kebaikan pada diri mereka.

Hobi dan kegemarannya harus mendatangkan pada kebaikan pada diri mereka, bukan hal-hal yang mendatangkan keburukan, yang dapat menyalakan api kebenaran dan bukan api kebatilan, dengan menanamkan insting yang sehat dan bukan insting yang menyimpang.

Yang menjadi teman mereka pun harus orang yang dapat membawanya ke jalan menuju surga dan bukan neraka, menuju kebenaran dan bukan kebatilan. Berapa banyak teman yang menyeret kepada kejahatan dan perbuatan-perbuatan hina, sedang bapak dan ibu mereka tidak mau peduli terhadap mereka.

Betapa bijaknya ungkapan penyair, Adi bin Zaid Al-lbadi mengenai masalah teman,
Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum,
bertemanlah dengan orang yang baik di antara mereka
Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang jahat
sehingga engkau akan berbuat jahat bersamanya
Janganlah engkau menanyakan seseorang kepada
orangnya, tetapi tanyakanlah kepada temannya,
Karena setiap orang akan mengikuti temannya.”

Demikian itulah seharusnya perhatian ibu kepada anak-anaknya diwujudkan, senantiasa mengawasi pendidikan mereka dan mengarahkan dalam memilih buku bacaan, majalah, teman, kegemaran, sekolah, guru, dan saran informasi serta segala sesuatu yang mempunyai pengaruh dalam membentuk kepribadian anak, mendidik mental, jiwa, dan akidah mereka, dengan meminta bantuan suami jika hal itu dibutuhkan. Di samping harus juga memilih cara yang baik dan tepat yang menjamin keselamtan praktek pendidikan bagi mereka.

Berapa banyak keluarga yang berhasil dalam pendidikan anak karena adanya ibu yang cerdas, luwes, dan lembut yang mengetahui tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya, sehingga dia senantiasa menunaikan tanggungjawabnya itu dengan sebaik-baiknya, hingga akhirmya dia berhasil menelurkan anak-anak yang baik dan kebaikannya kembali kepada orang tua dan masyarakat mereka.

Dan, berapa banyak keluarga yang gagal dalam mendidik anak anaknya, karena sang ibu tidak mengetahui tanggungjawab yang dipikulnya terhadap mereka, sehingga mengabaikan mereka, hingga akhirnya mereka menjadi jahat dan durhaka kepada orang tua dan masyarakat mereka.

Mereka tidak akan menjadi jahat kalau seandainya orang tua mereka mengetahui tanggung jawabnya, terutama ibu, dan menunaikan tanggung jawab itu dengan sebaik-baiknya.

Menanamkan Akhlakul Karimah pada Anak

Wanita Muslimah yang benar-benar sadar akan senantiasa menanamkan akhlakul karimah (akhlak terpuji) ke dalam diri anak-anaknya, berupa cinta kasih kepada oranglain, menyambung silaturahmi, membantu orang-orang lemah, menghormati orang tua, menyayangi anak kecil, jujur dalam ucapan dan perbuatan, menepati janji, adil dalam mengambil keputusan, dan lain sebagainya yang termasuk ahlak terpuji.

Wanita Muslimah yang cerdas mengetahui bagaimana menyusup ke dalam jiwa anak yang paling tersembunyi lalu menanamkan sifat-sifat mulia dan akhlak terpuji tersebut, dengan menggunakan cara yang baik dan tepat dan dengan memberikan suri teladan yang baik, bergaul dan memperlakukannya dengan baik, penuh kelembutan, persamaan, keadilan serta memberinya nasihat dan bimbingan, lemah lembut tetapi tidak terlihat lemah, tegas tetapi tidak terlihat sadis. Selain itu, juga mengajak berdiskusi dan tukar pikiran dengan cara yang tidak menjemukan. Dengan demikian itu anak-anak akan tumbuh secara normal dengan menunjukkan kedewasaan, wawasan yang luas, pemikir an matang, shaleh, berbakti, dan mampu memberikan sumbangan yang dibutuhkan, dan siap membangun di berbagai lini kehidupan. Sehingga pendidikan yang diberikan ibu Muslimah itu akan menghasilkan buah yang segar dan manis.

Seorang ibu adalah madrasah (sekolah) pertama dalam pendidikan bangsa, dan dia adalah guru pertama bagi generasi-generasi cerdas, pencipta peradaban, sebagaimana yang diungkapkan oleh penyair, Hafidz lbrahim berikut ini,

Seorang ibu adalah madrasah, apabila engkau mempersiapkannya,
berarti telah menyiapkan generasi muda yang baik dan gagah berani.
Seorang ibu adalah guru pertama dari semua guru pertama,
yang pengaruhnya menyentuh seluruh jagat raya.”

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 210-213)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan