“Tujuan pendidikan tingkat SMP yang terpenting adalah menyiapkan anak menjadi orang dewasa, menjadi Aqil baligh.” (Dr. Adian Husaini)

Masih berpegang pada tujuan pendidikan Islam-sebagaimana amanah Nabi Muhammad, Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan konstitusi pasal 31 ayat 3 yaitu membentuk manusia baik dan bermanfaat dengan iman, taqwa dan akhlak mulia-dan kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut-yakni adab kemudian ilmu. Dari tujuan dan kurikulum itulah lahir 3 prinsip dalam pendidikan Islam (adab, ilmu fardhu ‘ain, kemudian, ilmu fardhu kifayah) yang mesti digenggam erat-erat. Maka, pendidikan anak tingkat SMP pun demikian, tidak bisa dilepas dari 3 prinsip tersebut.

Melanjutkan penanaman adab dasar (sebagai proses terpenting dalam pendidikan Islam) di tingkat SD, penanaman nilai terpenting di tingkat SMP ialah mempersiapkan kedewasaan setiap murid. Sebab, Islam memandang bahwa usia SMP (kurang lebih 12-15 tahun), adalah masa-masa awal memasuki kedewasaan. Artinya, dalam Islam, konsep remaja sebagai masa peralihan yang sangat menonjol sifat ketidakmampuan dalam menentukan sikap, sekali tidak diterima. Diantara hal-hal yang mendasari pandangan ini ialah:

Pertama, adanya hadits Nabi yang secara tidak langsung menetapkan bahwa batas akhir kedewasaan seseorang pada usia 15 tahun. Suatu ketika Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil saya agar hadir ke hadapannya menjelang Perang Uhud dan ketika itu saya berusia empat belas tahun, dan beliau tidak mengijinkan saya untuk ikut berperang. Kemudian beliau memanggil saya untuk hadir ke hadapannya menjelang Perang Khandaq ketika saya berusia lima belas tahun dan beliau mengijinkan saya untuk berperang.” Nafi’ berkata, “Saya datang kepada Umar bin Abdul Aziz yang merupakan Khalifah pada waktu itu dan menyampaikan riwayat tersebut kepadanya. Ia berkata, ‘Usia ini (lima belas tahun) adalah batas antara anak-anak dan orang dewasa.’ Dan ia memerintahkan kepada para gubernurnya untuk memberikan tunjangan kepada siapa saja yang telah mencapai usia lima belas tahun.” (HR Bukhari).

Kedua, berdasarkan konsep pendidikan yang dibentuk oleh Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa-nya. Insitutsi pendidikan tersebut ia bagi menjadi 4 jenjang: Taman Indriya (Kanak-Kanak), Taman Muda (SD), Taman Dewasa (usia 14-16 tahun), dan Taman Pamong (pendidikan guru. Usia 17-21 tahun).

Ketiga, sistem pendidikan di Nusantara dahulu, setelah lulus SMP 3 tahun, setiap orang bisa mengambil SPG (Sekolah Pendidikan Guru) selama 3 tahun dan setelah lulus pada usia kurang lebih 18 tahun, ia sudah bisa menjadi guru. Artinya, jika disetarakan dengan sistem pendidikan sekarang, lulusan-lulusan SMA dahulu sudah bisa dan layak menjadi guru. Begitu juga dengan beberapa ormas Islam (seperti al-Wasliyah, al-Irsyad, dll) dalam menentukan jenjang usia pendidikan.

Dimana mereka menganggap bahwa setelah lulus dari ‘aliyah (setingkat SMA), seseorang sudah harus dewasa dan sudah mandiri di tengah masyarakat. Itulah mengapa sebetulnya, kulliyatul mu’allimin (sebagaimana yang diaplikasikan di pesantren Gontor) atau apa yang KH. Ahmad Dahlan bangun dengan sebutan kweek school (jenjang pendidikan sesudah ‘aliyah) adalah pendidikan untuk guru, orang-orang yang seharusnya sudah dewasa dan mandiri. Artinya, usia SMA adalah usia dewasa yang siap berperan di tengah umat.

Keempat, berdasarkan fakta-fakta sejarah. Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, yakni (disamping Abdullah bin Umar yang ikut perang Khandaq usia 15 tahun), Usamah bin Zaid menjadi panglima perang usia 18 tahu. Muhammad al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel kurang lebih usia 20 tahun.

Buya Hamka sudah mampu merantau dari Sumatera ke Jawa usia 15 tahun. Jendral Soedirman menjadi kepala sekolah usia 20 tahun. D.N. Aidit mampu merehabilitasi PKI usia 27 tahun usai parati tersebut terpuruk mengenaskan. Imam Zarkasyi mampu mendirikan pesantren Gontor usia 16 tahun. H.Agus Salim sudah menjadi pegawai konsul di Jeddah usia 20 tahun. Pak Natsir mampu mendirikan lembaga Pendidikan Islam usia 24 tahun.

Maka, bisa disimpulkan, mereka di usia yang begitu muda sudah memegang peranan yang sangat penting, tidak akan mampu kecuali sejak awal pendidikannya sudah mengarahkan kepada kedewasaan. Dan membuktikan pula bahwa bukanlah suatu ketidakmungkinan meraih kedewasaan di usia-usia tersebut. Disamping itu, semua hal yang menjadi dasar tadi menunjukkan bahwa usia SMA adalah usia dewasa, sehingga mau tidak mau, pendidikan SMP harus mempersiapkan kedewasaan dengan baik. Maka, jangan sampai meng-kanak-kanakan anak di usia yang semestinya dia harus dewasa.

Sementara SMP sekarang seakan-akan hanya difungsikan sebagai persiapan masuk SMA yang sama sekali belum menganggap murid-muridnya sebagai orang yang siap dewasa. Kedua jenjang itu hanya dijadikan sebagai “Pendidikan Menengah” (rendah tidak, tinggi pun tidak), sebagaimana konsep remaja (anak-anak tidak, dewasa pun tidak).

Maka, menjadi suatu hal yang perlu dilakukan, adalah mereformasi usia pendidikan. Sebagaimana usulan Prof. Nanang Fattah, sebetulnya usia pendidkan yang normal adalah 5 tahun SD, 2 tahun SMP, dan 2 tahun SMA. Setidaknya, sistem tersebut akan menghemat 3 tahun dan menghemat anggaran pendidikan sampai ratusan milyar bahkan triliun.

Tentu ini tidak berlaku kepada semua murid. Tapi setidaknya dengan sistem tersebut, pendidikan akan lebih mengutamakan basisnya pada hasil atau target pendidikan (based on result), bukan lagi bertumpu pada waktu dan proses, sebagaimana yang juga dicetuskan Prof. Nanang Fattah. Namun, bukan berarti menafikan proses sama sekali, melainkan hanya memprioritaskan apa yang yang memang layak untuk diprioritaskan dan bagaimana proses diinovasi sedemikian rupa supaya anak mampu menyelesaikan target-targetnya dengan baik.

Jadi, pendidikan bukan soal berapa lama, tapi apa yang sudah ia bisa. Lagipula, masyarakat akan lebih butuh kemampuan dia, bukan dia lulus dari sekolah atau kampus mana. Maka, kalau memang bisa memenuhi target-target pendidikan hanya dalam waktu 1 tahun, kenapa harus menunggu 3 tahun? Bukankah itu sebuah pemborosan usia?

Tentu, disamping menekankan nilai-nilai kedewasaan, penanaman adab juga tetap harus dilakukan dan ditingkat dosisnya. Wawasan seputar adab pun juga harus lebih diperkaya. Sehingga betul-betul bisa tertanam dan teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah penanaman adab, barulah ilmu fardhu ain. Karena sudah aqil baligh dan mukallaf, yang mana periode itu ditetapkan sebagai batas akhir kedewasaan, maka, ilmu-ilmu fardhu ain pun juga harus lebih ditingkatkan lagi porsinya. Salah ilmu fardhu ain terpenting yang harus ditingkatkan adalah ilmu akidah. Sebab, ujian keimanan di zaman dan pada tingkat pendidikan ini, lebih berat. Berbagai macam pemikiran-pemikiran kontemporer yang sesat-menyesatkan sudah mulai bertebaran. Mulai dari pemikiran yang mengajak untuk melawan Allah, sampai ajakan untuk mengabaikan Al-Qur’an.

Maka, pada tingkat ini, orang tua dan guru betul-betul harus menanamkan kepribadian anaknya sebagai hamba Allah, yang pernah berjanji kepada Allah di alam arwan (azali) dengan kalam, “Alastu bi Rabbikum? Qaalu: bala syahidna” (QS 7: 172). Lalu ditanamkan hakikatnya sebagai manusia yang berasal dari Nabi Adam. Dan juga dikokohkan hal itu dengan menjelaskan bahwa ia merupakan kelanjutan para Nabi dan ulama.

Sehingga, keimanan kepada Allah semakin mantap dan ia semakin mengenal Allah lebih jauh, paham tujuan hidupnya, mengerti siapa manusia yang pantas ia teladani dan lanjutkan perjuangannya, dan tahu bagaimana harus memposisikan dirinya di dunia secara tepat. Maka, sebagai pendamping akidah, kajian sirah Nabi Muhammad dan sejarah para ulama pun juga menjadi ilmu yang fardhu ain sebagai pengokoh iman dan hakikatnya sebagai insan.

Juga, menjadi suatu hal yang mesti bagi para orang tua untuk mengenalkan tantangan-tantangan pemikiran kontemporer yang berpotensi besar merusak keimanan. Paling tidak, pemikiran-pemikiran itu disinggung sedikit-sedikit. Mulai dari sekularisme, pluralisme, relativisme, materialisme, hedonisme, feminisme, dan lain sebagainya. Lebih-lebih ketika anak seusia SMP sudah sangat akrab dengan handphone. Dan salah satu metode yang harus dipakai oleh setiap orang tua, adalah “komparasi”. Yaitu dengan menggunakan berbagai macam pemikiran sesat itu sebagai perbandingan dengan agama Islam. Sehingga, setidaknya pada tingkat SMP, setiap anak mampu membedakan antara tauhid dan syirik, halal dan haram, akhlak baik dan buruk, ibadah yang benar dan yang salah.

Salah satu kitab penting sebagai penanaman adab sekaligus akidah dalam memperteguh keimanannya kepada Allah, mengenal hakikat diri, dunia ataupun akhirat di tingkat SMP, adalah Gurindam 12 karya Raja Ali Haji. Salah satunya, ialah syair beliau di pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama #
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat #
Maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah #
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri #
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia #
Tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat #
Tahulah ia dunia mudarat.

Ilmu-ilmu fardhu ain seperti itulah yang juga membantu setiap anak SMP meraih kedewasaan sebagai bekal hidup terpenting di masa mendatang. Adapun ilmu-ilmu fardhu ain yang lainnya, seperti fiqih dan tahsin serta tajwid, bisa ditingkatkan dan disesuaikan dengan usia pada tingkat ini. Begitu pula dengan ilmu-ilmu fardhu kifayah. Memang pada usia inilah, ilmu-ilmu fardhu kifayah sudah harus ada dalam setiap anak.

Tentu dengan porsi yang lebih besar sebagai kelanjutan dari jenjang pendidikan SD (jika memang sudah diajarkan). Yang penting, ilmu-ilmu tersebut sesuai dengan potensi (manakala ia mempunyai potensi di bawah rata-rata atau biasa saja) dan sesuai dengan kebutuhan umat (manakala ia mempunyai potensi di atas rata-rata).

Disamping semua itu, inti dari pendidikan pada tingkat SMP adalah memperisiapkan anak menjadi orang dewasa. Pada usia SMP, 14 lebih setengah tahun (hitungan qamariah) atau 15 tahun (hitungan syamsiah), adalah batas akhir kedewasaan. Sebab pada usia itulah batas akhir akil-baligh setiap anak, sehingga mau tidak mau ia sudah menjadi seseorang yang mukallaf. Ia sudah harus bisa menjadi manusia yang menanggung segala perbuatannya secara mandiri.

***********

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa STID Mohammad Natsir, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan