Kedatangan Islam tidak saja mengubah masyarakat Arab jahiliyah dari kegelapan menjadi cahaya. Tapi Islam juga mengubah terma-terma penting dalam masyarakat Arab menjadi Islami. Menurut Prof. Al-Attas, Al-Quran telah mengislamkan Bahasa Arab jahiliyah (pra-Islam) yang pada waktu itu masih mencerminkan pandangan hidup (worldview) jahiliyah dengan memberi arti yang berbeda, khususnya pada istilah-istilah kunci.
Contohnya kata Muruwwah (marwah, kehormatan) dan Karim (kemuliaan). Dalam masyarakat jahiliyah waktu itu kata tersebut menjadi istilah penting yang mencerminkan kondisi kekayaan, banyak anak, dan karakter tertentu yang mencerminkan kejantanan. Al-Quran mengubahnya bahwa kata mulia tidak seperti itu. Tapi yang dikatakan mulia adalah orang yang bertakwa. Inna akramakum indallahu atqakum. Yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa (QS al-Hujurat: 13).
Kata “karim” dalam masyarakat jahiliyah tidak pernah mengkaitkan kemuliaan dengan buku (kitab), kata-kata atau ucapan. Sedangkan Al-Quran mengubahnya dengan mengasosiasikan kata karim dengan al-Quran, yaitu al-Quranul karim. Demikian pula dengan ucapan, ada kata qaulul karim (ucapan yang baik kepada orang tua). Juga dengan istilah persaudaraan/persatuan (ukhuwah) yang pada waktu itu berdasarkan ikatan suku, kelangsungan hidup dan kebanggaannya. Al-Quran mengubahnya dengan memperkenalkan ide persaudaraan (ukhuwah) berdasarkan iman (QS Al-Hujurat: 10), yang lebih tinggi daripada hubungan berdasarkan pertalian darah (Wan Daud, 2003, 342).
Bahasa Al-Quran dan Islam juga masuk ke dalam kosa kata di Nusantara, lebih-lebih bahasa Melayu. Bahkan dalam Pancasila pun Islam menyumbang banyak kata di situ, seperti adil, adab, rakyat, hikmah, musyawarah, wakil. Beberapa kata, menurut penelitian Dr. Adian Husaini, seperti kata adil tidak didapatkan dalam bahasa daerah sebelum kedatangan Islam di tanah air.
Namun, sangat disayangkan. Di jaman modern yang penuh fitnah ini, bukan kata-kata yang kurang baik di-Islamisasi, tapi perbuatan yang Islami disemati kata-kata yang kurang baik. Sebagai contoh kata radikal yang berasal dari kata radix alias akar (ada kopi radiks yang dicampur dengan akar-akaran herbal).
Orang yang radikal awalnya bermakna orang yang teguh memang prinsip agama (ada sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari Hudzaifah bin Yaman yang menyebutkan keburukan-keburukan akhir jaman dan Nabi saw memerintahkan kita memegang teguh agama walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai ajal kematian menjemput). Namun kita tahu sendiri sekarang apa makna kata muslim radikal. Senada dengan itu adalah kata fundamental.
Kata lain adalah intoleran. Artinya tidak toleran. Tidak toleran (intoleran) sekarang ini dimaknai memegang teguh ajaran agama (Islam), tidak menerima kebenaran agama lain (pluralisme agama), menolak sinkretisme (pencampuran ibadah antar agama). Artinya, toleran adalah mengakui kebenaran agama lain, jangan terlalu teguh memegang ajaran agama dan ibadah bersama (adzan atau ngaji quran di gereja misalnya). Ini jelas keliru dan perlu diluruskan.
Sebab, sudah banyak korban seperti para ustadz lurus yang dicoret dari daftar khotib masjid-masjid di pemerintahan/bumn, adik-adik rohis di sma yang tekun mengaji dan mengajak kawan-kawannya agar tidak terjerat narkoba atau kehidupan bebas dan sebagainya. Terakhir, sangat disayangkan labeling kepada kartun anak-anak Nussa dan Rara yang dicap sebagai radika l dan intoleran. Ini yang saya tidak habis pikir. Stigmatisasi negatif bagi umat Islam harus segera diakhiri.
Mungkin kita perlu merenungkan hadits lengkap di atas untuk menjaga diri dan keluarga. Karena tugas kita sebagai orang tua adalah membawa anak dan istri bersama-sama di dunia sampai ke surga.
Dari Hudzaifah bin al-Yaman berkata, “Orang-orang (para shahabat) bertanya kepada Rasûlullâh saw tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan (keburukan), khawatir kejelekan tersebut menghampiriku. Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya dahulu kami berada dalam kejahiliyyahan dan kejelekan (keburukan), kemudian Allâh mendatangkan kebaikan kepada kami, lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Rasûlullâh saw menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya, ‘Apakah setelah keburukan tersebut ada kebaikan?’ Beliau saw menjawab, ‘Ya, tapi di dalamnya ada asap (kekeruhan).’ Aku bertanya, ‘Apa yang kekeruhannya itu?’ Beliau menjawab, ‘Suatu kaum yang mengerjakan sunnah tidak sesuai dengan sunnahku, dan memberi petunjuk bukan dengan petunjukku. Engkau mengetahui mereka dan engkau mengingkarinya.’ Lalu aku bertanya, ‘Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, para da’i (penyeru) yang berada di pintu-pintu neraka Jahannam, siapa yang menjawab seruannya maka mereka akan melemparkan orang itu ke dalamnya.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh, terangkan ciri-ciri (sifat-sifat) mereka kepada kami.’ Beliau saw menjawab, ‘Ya, (mereka adalah) suatu kaum yang kulit mereka sama dengan kulit kita (kaum kita) dan mereka berbicara dengan bahasa kita.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai hal itu?’ Beliau saw menjawab, ‘Engkau harus tetap komitmen terhadap jama’ah kaum Muslimin dan imam mereka.’ Lalu aku berkata lagi, ‘Bagaimana jika tidak ada jama’ah dan imam?’ Beliau saw bersabda, ‘Maka jauhilah/berlepaslah dari semua golongan-golongan tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai ajal kematian menjemputmu, dan engkau tetap dalam keadaan seperti itu.’” (HR Imam al-Bukhâri no. 3606, 3607, 7084 dan Imam Muslim no. 1847).
************
Editor: Dr. Budi Handrianto, M.Pd.I
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

















































































