“Saya tidak menjadikan itu (tahfizh) yang utama, karena itu hukumnya fardhu kifayah. Tapi yang paling penting adalah adab, kelakukan anak, sopan santun anak, ibadahnya, akhlaknya, sikap dia. Nah itu yang penting.” (Dr. Adian Husaini)
Berpijak pada konsep pendidikan Islam yang dirumuskan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Ustadz Adian menyimpulkan bahwa tujuan dari pendidikan adalah untuk mencetak insan adabi atau manusia yang baik serta bermanfaat. Artinya, pendidikan mesti berkutat pada aspek penanaman adab (tanpa menafikan aspek keilmuan sama sekali). Bahkan tujuan ini sejalan dengan amanat konstitusi pasal 31 ayat 3; “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”
Setelah selesai menetapkan tujuan, langkah selanjutnya adalah merancang kurikulum yang tentunya sesuai dengan tujuan tersebut. Terkait hal ini, Ustadz Adian dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045”, mengatakan, “Kurikulum secara harfiah adalah ‘lintasan’; berasal dari bahasa Latin curriculum, yang maknanya adalah jalan atau lintasan (jamak: curricula). Dalam pengertian umum, kurikulum pendidikan bisa dimaknai sebagai seluruh aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri” (Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045, 2018: 35).
Maka, kurikulum yang tepat, untuk sampai kepada tujuan insan adabi, ialah kurikulum yang menekankan aspek adab kemudian ilmu. Inilah yang Ustadz Adian sebut sebagai model baku dalam pendidikan Islam dan sudah teruji melahirkan empat generasi gemilang: generasi sahabat, generasi Shalahuddin Al-Ayyubi, generasi Muhammad Al-Fatih, dan generasi santri 10 November 1945.
Terkait tingkat Sekolah Dasar (SD), perlu ada penyesuaian kurikulum dengan usia anak pada tahap tersebut (kurang lebih 6-12 tahun). Kemudian mulailah dibuat program-program berdasarkan kurikulum tersebut. Maka, hal yang paling utama bagi anak setingkat SD, ialah penanaman adab atau pembentukan sikap. Sebab, sejak SD, setiap anak setidaknya harus sudah mengenal adab-adab yang sifatnya prinsip (tidak bisa tidak); mulai dari adab kepada Allah, Nabi, orang tua, ulama, guru, teman, saudara, sampai kepada perabotan dan lingkungan sekitar (termasuk cinta kebersihan).
Dalam penanaman adab itulah nilai-nilai berupa kejujuran, amanah, tanggung jawab, rajin, tekun, sungguh-sungguh, dll, akan tertanam, meskipun tidak secara menyeluruh. Sebab, yang terpenting, ia sudah mengenal dan mulai mengaplikasikannya sedikit demi sedikit, secara bertahap (sehingga pada tingkat selanjutnya, penanaman adab tidak mulai dari awal).
Sebagaimana penuturan Prof. Dr. Nanang Fattah (Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung)—sebagai seseorang yang punya pengalaman di Jepang, terutama untuk memperhatikan pendidikan di sana, khususnya setingkat Sekolah Dasar—beliau mengatakan bahwa di Jepang, yang paling ditekankan sejak usia setingkat SD adalah penanaman sikap atau karakter. Mulai dari karakter cinta kebersihan, tepat waktu, mengantri, kesabaran, sampai kejujuran.
Namun, yang paling penting dan sangat membekas dalam diri murid di sana, ialah karakter solidaritas (bahkan ini ditekankan sejak kelas 4 SD). Beliau menceritakan, jika ada satu kelompok yang berjumlah 10 orang, 9 orang tepat waktu namun 1 orang terlambat, 9 orang tersebut justru datang kepada gurunya dan minta dihukum. Mereka sama sekali tidak menyalahkan 1 orang yang terlambat itu. Bagi mereka, itu bukan salahnya, melainkan salah mereka yang tidak bisa menjaga solidaritas atau “team work”.
Prof. Sumantri Brojonegoro mengemukakan data yang cukup meresahkan dalam makalahnya, “Mempertanyakan Cetak Biru Pendidikan Indonesia.” Berdasarkan penelitian yang termuat dalam makalah tersebut, karyawan Indonesia 92% sangat lemah dalam membaca, 90% lemah dalam menulis, 84% lemah dalam etos kerja, 83% lemah dalam kemampuan komunikasi, dan 82% lemah dalam kemampuan bekerja dalam tim.
Artinya, mereka hanya dilatih bersaing, bukan bagaimana bekerja sama dalam tim. Sepintar atau sebanyak apapun hard skill yang dikuasai, kalau semua soft skill tersebut lemah, hasilnya tidak akan maksimal. Sebab, soft skill atau yang sering disebut sebagai karakter, menjadi asas untuk mengembangkan hard skill. Itulah mengapa penanaman sikap perlu dilakukan sejak SD. Lebih lebih-lebih ketika hard skill akan banyak diajarkan di jenjang pendidikan selanjutnya.
Dengan fokus pada penanaman adab atau sikap, salah satu nilai terpenting lainnya yang sebisa mungkin tertanam sejak SD, ialah sikap semangat belajar dan cinta ilmu. Sikap itulah yang akan menumbuhkan budaya ilmu yang menjadi bekal hidup yang sangat penting, lebih-lebih di era disrupsi ini. Dan yang menjadi tujuan utamanya, ialah pada budaya membaca dan menulis.
Belajar kepada Pak Taufik Ismail, sejak kecil beliau sudah sangat cinta buku dan menulis. Sebagaimana yang beliau ceritakan kepada Ustadz Adian dan para mahasiswa At-Taqwa College (ketika berkunjung ke rumahnya pada Kamis, 12 Desember 2019), dalam 1 bulan hanya 2 jatah buku yang diberikan oleh ayahnya kepada Pak Taufiq untuk dibeli di salah satu toko buku.
Namun, karena sulit membendung kecintaannya akan buku, setiap kali sampai di toko buku bersama ayahnya, beliau mengambil 2 buku. Sembari menunggu ayahnya, 2 buku itu disimpan, kemudian sastrawan besar Indonesia itu pun mulai berkeliling buku dan membaca sebanyak-banyaknya buku di sana, sampai ayahnya mengajaknya pulang. Tidak hanya itu, sejak SD, beliau pun sudah mulai menulis. Bahkan 1 bait Gurindam (2 baris) yang beliau tulis saat duduk di bangku SD kelas 2, sudah dimuat di salah satu koran yang dipimpin oleh ayahnya.
Maka, tidak aneh jika sejak tahun 50-an, beliau sudah resah dengan dunia sastra (terutama pelajaran mengarang) yang mulai ditenggelamkan oleh pemerintah dengan mulai digaungkannya ilmu-ilmu eksakta. Ia pun menggalakkan kembali hal itu dengan 6 gerakan sastra selama 6 tahun lewat Horison (Majalah yang khusus memuat karya sastra di Indonesia. Majalah ini pertama kali terbit bulan Juli 1966 di Jakarta. Dan majalah ini didirikan oleh Mochtar Lubis, P. K. Ojong, Arief Budiman, dan Taufiq Ismail).
Jika mempertimbangkan terjamnya arus disrupsi—yang menurut Prof. Muhammad Gufron (Dirjen Pembinaan SDM Kemenristek Dikti) membutuhkan 4C: critical thinking, creativity, communication, dan collaboration—maka menjadi satu kebutuhan dan ketepatan manakala penanaman sikap (sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas) didahulukan, terutama sejak tingkat Sekolah Dasar. Artinya, penanaman adab merupakan kewajiban guru dan orang tua serta tuntutan zaman. Maka, mau tidak mau harus diaplikasikan dan tidak bisa tidak dikerjakan sesegera mungkin. Mungkin sikap-sikap tadi tidak langsung muncul atau tertanam secara menyeluruh dalam diri anak.
Tapi, kalau penanaman terus berjalan, insyaallah akan menampakkan hasilnya, entah ketika SMP, SMA, perguruan tinggi, ataupun setelahnya. Sebab, ia akan terus-menerus dituntut oleh zaman dan kebutuhannya untuk memperbaiki sikapnya. Meskipun tidak muncul sejak awal, setidaknya ia sudah kenal dan pasti sudah ada yang membekas dalam dirinya, sehingga mempermudah langkah penanaman adab untuknya pada jenjang berikutnya. Diantara kitab-kitab adab yang cocok untuk menjadi pegangan murid SD, seperti “Adabul Insan” (karya Sayyid Utsman), Risalah Dua Ilmu (karya Sayyid Utsman), dan buku-buku lainnya yang dirasa sesuai.
Langkah selanjutnya, adalah penanaman dan pengajaran ilmu-ilmu fardhu ain yang sesuai dengan usia SD. Berpegang pada hadits Nabi SAW yang memerintahkan anak untuk mesti shalat pada usia 7 tahun dan dibolehkannya orang tua memukul (dengan pukulan mendidik) anaknya yang tidak mau shalat pada usia 10 tahun, setidaknya hadits tersebut menjadi tolak ukur keberhasilan penanaman dan pengajaran ilmu-ilmu fardhu ain. Artinya, pada usia SD, anak harus sudah mengerti mengerti thaharah (mengerti seputar najis, hadats, haid, sebab dan rukun mandi junub, rukun, syarat dan segala yang membatalkan wudhu) dan minimal bisa mengamalkan wudhu dan mandi junub secara benar (sesuai syariat).
Kedua, shalatnya benar (mengerti syarat dan rukunnya dan bisa mengaplikasikannya). Ketiga, bisa membaca Qur’an secara benar, meskipun belum sempurna (setidaknya mampu membaca sesuai dengan standar ilmu tahsin yang sifatnya dasar). Disamping itu, ilmu akidah dasar (yang fokus pada penanaman keyakinan, kecintaan, dan ketakutan akan Allah serta kecintaan dan ketaatan kepada Nabi dan sunnah-sunnahnya) juga mesti diajarkan. Kalaupun dirasa mampu, ilmu beladiri pun juga semestinya diajarkan, karena itu termasuk tuntutan zaman.
Dua hal itulah yang menjadi pendidikan pokok bagi anak SD dan merupakan standar kompensasi yang paling utama. Namun, kalau memang ada murid-murid “istimewa” yang diberikan kelebihan oleh Allah pada akalnya, silahkan saja diajarkan ilmu-ilmu fardhu kifayah, salah satunya tahfizh. Yang penting, tidak ada pemaksaan di dalamnya. Dan yang paling penting juga, jangan sampai orang tua mendahulukan dan menyibukkan anaknya dengan ilmu-ilmu fardhu kifayah, namun melupakan aspek yang paling prinsip, yakni adab dan ilmu-ilmu fardhu ain.
Di sinilah pentingnya orang tua dan guru mempunyai hikmah, sehingga bisa mendidik setiap anak (dalam konteks ini anak SD) yang beragam potensi pada porsi yang tepat. Yang mempunyai kelebihan diajarkan ilmu-ilmu fardhu kifayah tanpa melupakan adab dan ilmu-ilmu fardhu ain. Sementara yang dirasa “kurang”, dimaksimalkan adab dan ilmu-ilmu fardhu ain serta diajarkan ilmu-ilmu fardhu kifayah sesuai potensi dan kegemarannya. Sehingga mereka (baik yang berpotensi layaknya emas ataupun batu bata) lahir sebagai manusia yang baik dan bermanfaat, sebagaimana tujuan pendidikan dalam Islam.
Sebagai penutup, ada baiknya merenungkan bait-bait puisi dasar tentang adab dan ilmu yang cocok untuk anak setingkat SD dari Dr. Adian Husaini:
Raihlah Ilmu
Kawan….
Nabi kita sampaikan pesan
Cari ilmu, itu kewajiban
Yuk kita orang Islam, yuk kita tunaikan
Kawan….
Pujangga kita berseru
Diantara orang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Yuk kita berguru tak kenal waktu
Kawan….
Ingatlah syair sang Imam
Tanpa yang 6, ilmu takkan ditemukan
Kecerdasan, kehausan, dan kesabaran
Juga biaya, guru, dan panjang zaman
Kawan….
Ingatlah kata Az-Zarnuji
Ilmu takkan diraih sama sekali
Karena salah niat dalam mencari
Juga adab belajar tak dipatuhi.
***********
Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa STID Mohammad Natsir, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)












































































