Dunia mendatangi mereka, tetapi mereka lari darinya; dan dunia lari dari kalian, namun kalian mengejarnya.” _Ibrahim At-Taimi

Apabila pada suatu hari engkau menduduki suatu jabatan lalu sebagian keluarga dan saudara-saudaramu datang kepadamu berusaha mendapatkan bagian dari pengaruh jabatanmu, maka apakah engkau akan hanyut dengan perasaanmu sehingga engkau secara otoriter mengangkat mereka dengan tidak benar atau mereka mendapatkan apa yang tidak didapatkan orang lain karena kedekatan mereka denganmu?

Penyakit yang nampak pada zaman ini adalah adanya kebiasaan kolusi dan nepotisme. Penyakit ini telah menjadi sesuatu yang umum dan merata. Akan lebih besar bahayanya kalau hal ini menjalar kepada komunitas para dai. Oleh karena itu, kami sengaja mengetengahkan beberapa sikap dari para tabi’in berkenaan dengan hal ini agar kita bisa menjadikannya sebagai manhaj tarbiyah yang tidak mengenal nepotisnme, kekerabatan, dan belas kasihan.

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia berkata, “Tatkala Haram bin Hayyan diangkat menjadi wali kota, dan dia yakin bahwa kaumnya akan datang kepadanya. Maka dia memerintahkan untuk dinyalakan api yang besar antara dia dan orang yang datang kepadanya dari kaumnya. Kemudian datanglah kaumnya memberikan salam dari jauh. la berkata, Selamat datang, wahai kaumku, mendekatlah!’ Mereka pun menjawab, ‘Demi Allah, kami tidak bisa mendekat kepadamu karena ada api antara kami dan engkau’. la berkata, ‘Apakah kalian mau berjumpa denganku dalam api yang lebih besar darinya, yaitu api neraka Jahannam! Maka kemudian mereka pulang.”

Mereka mengajarkan kepada kita sistem tarbiyah ini agar kita bisa menapaki jalan dan tidak tergelincir, bisa berjalan di atas manhaj dan tidak menjauh darinya, mengambil petunjuk dari mereka dan tidak tersesat. Karena sangat merugilah orang yang memasukkan dirijya ke dalam golongan orang-orang saleh padahal dia tidak termasuk dari mereka.

Diriwayatkan bahwa salah seorang anak Syuraih bin Harits Al-Qadhi berkata kepada ayahnya, “Aku bersengketa dengan suatu kaum maka lihatlah kalau kebenaran di pihakku, aku akan mengangkat masalah ini ke persidangan, dan kalau kebenaran tidak di pihakku maka aku tidak akan menggugat mereka, lalu dia menceritakan kisahnya. Beliau berkata, ‘Pergi dan gugatlah mereka!’ Maka sang anak pergi menemui mereka dan mengangkat masalah ini ke ayahnya untuk diputusi. Tak disangka, ayahnya memutuskan bahwa anaknya bersalah. Kemudian anaknya berkata kepadanya ketika pulang ke rumah, Demi Allah, kalau aku tidak maju kepadamu maka aku tidak menyusahkanmu, engkau telah membuka kejelekanku’. Maka sang ayah berkata, “Demi Allah, anakku, sungguh engkau lebih aku cintai daripada seisi bumi seperti mereka, tetapi Allah lebih berhak untuk dimuliakan. Aku khawatir kalau dari pertama aku memberitahumu bahwasanya hukuman akan menimpamu maka engkau akan menutupinya sehingga engkau mengambil sebagian dari hak mereka’.”

Alangkah uniknya generasi ini! Berapakah jarak pemisah antara kita dan mereka. Salah seorang dari mereka, Ibrahim At-Taimi mengatakan, “Berapa jarak antara kita dan mereka. Dunia mendatangi mereka, tetapi mereka lari darinya; dan dunia lari dari kalian, namun kalian mengejarnya.”

Kalau dari generasi mereka saja ada yang berkata seperti itu maka apa yang patut untuk kita katakan?

Berapa jauh perbedaan antara kita dan mereka yang disifati: seperti orang-orang yang tidak dikenal dengan mereka yang terkenal. Kita lebih mementingkan dunia sedang mereka lebih mementingkan agama. Lihatlah berapa jauh perbedaannya?

“Engkau, wahai yang berwajah tampan, yang akan ditanya oleh Allah atas semua makhluk nanti pada hari kiamat, ” kata Raja’ bi Haiwah kepada Harun Ar-Rasyid.

Abdullah bin Abdul Aziz Al-Umari berkata kepada Harun Ar-Rasyid yang sedang sai antara Shafa dan Marwa pada musim haji, “Hai Harun!”
Harun menoleh, menjawab, “Ya paman.”
Naiklah ke bukit Shofa.”

Ketika Harun sudah naik maka beliau melanjutkan ucapannya, “Lihatlah ke arah ka’bah!
“Ya, saya sudah lihat,” jawab Harun.
“Berapakah jumlah mereka?”
“Siapa yang bisa menghitungnya, paman?
“Berapa banyak orang seperti mereka?”
Tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah.”
Ketahuilah, pesan beliau, “sesungguhnya masing-masing dari mereka akan ditanya tentang diri mereka masing-masing, sedang engkau sendiri akan ditanya tentang mereka semua, maka lihatlah apa yang terjadi denganmu?”
Harun Ar-Rasyid pun menangis.

Pangkat dan jabatan adalah beban bukan kemuliaan. Oleh karena itu, para tabi’in selalu mengingatkan perkara ini bahkan perasaan akan beratnya tanggung jawab telah merubah raut muka mereka. Hasan bin Abi Amrathah mengatakan, “Aku melihat Umar bin Abdul Aziz sebelum menjadi khalifah maka nampak kebahagiaan tersirat di wajahnya. Akan tetapi, setelah diangkat menjadi khalifah aku melihat wajahnya seakan-akan kematian berada di antara kedua matanya.”

Itu adalah akibat dari besarnya rasa tanggung jawab. Lebih dari itu, seperti dikatakan istri Umar bin Abdul Aziz, “Aku tidak mengetahui Umar mandi karena jenabat atau karena mimpi sejak Allah mengangkatnya menjadi khalifah hingga beliau meninggal.”

Fatimah binti Abdul Malik, istri beliau sangat khawatir terhadap beliau, lalu mengadu kepada Raja’ bin Haiwah, ujarnya, Aku sangat khawatir kalau Amirul Mukminin tidak berhak melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” Raja’ bertanya, “Apa itu?” Dia menjawab, “Sejak menjadi khalifah dia tidak ada waktu untuk istrinya.” Maka Raja’ menemui Umar dan berkata, “Aku khawatir engkau tidak punya hak melakukannya.” Beliau bertanya, “Apa itu?” Raja’ berkata, “Sesungguhnya istrimu mempunyai hak atas dirimu.” Maka Umar berkata, “Bagaimana seseorang bisa melakukannya sedang urusan umat Muhammad akan ditanyakan Allah kepadanya nanti pada hari kiamat.”

Wahai kalian yang sedang memangku jabatan tanpa sadar akan bahayanya dan bahaya apa yang kalian panggul di pundak kalian, mereka generasi tabi’in mendidik kalian untuk sadar diri ketika memangku jabatan. Boleh jadi jabatan tersebut adalah pintu fitnah yang besar bagi diri, dan barangkali, karenanya engkau melepas pakaian ketundukan, kerendahan dan ubudiyah kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, ada sebuah nasihat dari Nabi kepada seorang shahabat, Abdurrahman bin Samurah:

“Jangan meminta menjadi pemimpin. Sebab, kalau engkau mendapatkannya karena meminta maka semua akan dibebankan pada dirimu, sedangkan apabila engkau mendapatkannya bukan karena meminta maka engkau akan ditolong untuk mengurusinya” (Muttafaq alaih)

Apabila seseorang menjabat sebagai pemimpin hendaklah berhati-hati terhadap perasaan bangga pada pendapat sendiri. Selain itu, ia harus menyadari akan bahaya yang sedang dipikulnya, serta memikirkan konsekuensi dan tanggungjawab kepemimpinannya.

Para tabi’in mengetuk hati dengan keras untuk mentarbiyah para pemimpin agar sadar akan beratnya tanggung jawab. Raja’ bin Haiwah berkata kepada Harun Ar-Rasyid, “Engkau, wahai yang berwajah tampan, yang akan ditanya oleh Allah perihal semua makhluk nanti pada hari kiamat.” Maka Harun Ar Rasyid menangis.

Dan kita semua nanti juga ditanya oleh Allah Subhanahu Wata’ala tentang tanggung jawab yang kita pikul, seperti menunjukkan manusia pada jalan yang benar, menyampaikan agama dan mempersiapkan orang yang bisa memikul amanah Islam di pundaknya. Karena itu, perhatikanlah perkara ini!

Abu Muslim Al-Khaulani pernah mengunjungi Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan berkata, ‘Assalamu’alaika, wahai buruh.” Maka orang-orang berkata, “Dia itu pemimpin, wahai Abu Muslim.” Kemudian Abu Muslim berkata, “Assalamu’alaika wahai buruh” Maka orang-orang berkata, “Dia itu pemimpin.” Maka Mu’awiyah berkata, “Biarkan Abu Muslim, dia lebih tahu apa yang dia ucapkan.” Abu Muslim berkata, “Sesungguhnya perumpamaanmu adalan seperti seseorang yang menyewa seorang buruh untuk mengurusi binatang ternaknya dan memberinya upah agar dia bagus dalam menggembala dan tidak lalai terhadap waktu mencukur bulu domba dan memeran susu. Apabila dia bagus dalam menggembala, dan tidak lalai dengan waktu mencukur bulu domba hingga yang kecil serta menggemukkan yang kurus maka dia akan membayar upahnya dan memberikan tambahan kepadanya. Namun, apabila dia tidak bagus dalam menggembala dan menelantarkannya sehingga binatang yang kurus menjadi binasa, yang gemuk menjadi kurus, lalai terhadap waktu mencukur bulu domba dan memerah susu maka pemilik ternak pasti murka kepadanya. Juga memberinya hukuman serta tidak memberinya upah.” Maka Muawiyah berkata, “Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi.”

Di antara musibah besar yang menimpa aktivis harakah islamiyah hari ini adalah adanya anak muda yang tidak ahli menempati posisi-posisi kepemimpinan tanpa merasa akan beratnya tanggung jawab. “Apabila pemegang tampu kepemimpinan adalah anak muda yang tidak ahli maka banyak kebaikan yang hilang.” Sebagainmana dikatakan Imam As-Syafi’ i, Lubang tidak akan ditutup oleh orang yang memiliki lubang tersebut, apabila tetap demikian maka akan menyebabkan terhambatnya kemenangan. Wahai anda yang memikul amanah kepemimpinan, namun tidak merasaakan beratnya tanggung jawab, Andalah yang menyebabkan terhambatnya kemenangan umat ini.

Ini bukanlah seruan untuk lari dari tanggung jawab kepemimpinan atau untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mendidik para aktivis harakah agar selalu sadar akan besarnya tanggung jawab kepemimpinan, baik kecil atau besar.

Saya tutup pembahasan ini dengan sebuah nasihat dari Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi ketika berkata kepada Harun Ar-Rasyid, “Apabila engkau ingin terbebas dari azab Allah kelak, maka perlakukan orang-orang tua dari kaum muslimin sebagai ayahmu, yang sebaya sebagai saudaramu, dan yang kecil sebagai anakmu. Maka, bersikap sopanlah kepada ayahmu dan muliakan saudaramu serta sayangilah anakmu.”

Saudaraku, inilah manhaj generasi tabiin terhadap orang yang memangku amanah kepemimpinan. Maka, jangan sampai lupa dengan wasiat ini. Betapa banyak orang di zaman ini yang berlomba-lomba dalam mendapatkan suatu jabatan dengan lakukan suatu nepotisme yang mementingkan dunia, sedang agama mereka hiraukan. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari bahaya ini dan segera kembali pada alur yang telah dilalui oleh para generasi tabi’in. Amin.

**********

Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 197-204

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)