“Seseorang tidak termasuk dalam golongan orang-orang bertakwa sampai ia mengintrospeksi díirinya lebih dari introspekrinya terhadap kawannya. Dengan begitu, ia mengetahui dari mana makannya, dari mana minumnya, dan dari mana pakaiannya? Apakah dari yang halal atau haram?” _Maimun bin Mihran
Hasan Al-Basri berkata, “Sesungguhnya orang mukmin itu pemimpin atas dirinya, yang mengintrospeksi dirinya karena Allah. Sebab, perhitungan di hari kiamat akan ringan bagi mereka yang selalu mengintrospeksi dirinya ketika di dunia. Sebaliknya, perhitungan akan menjadi berat bagi mereka yang membiarkan dirinya tanpa ada introspeksi.” Beliau juga mengatakan, “Engkau tidak menjumpai seorang mukmin kecuali dia selalu mengoreksi dirinya; apa tujuanmu beramal? Apa tujuanmu makan? Dan apa tujuanmu minum? Sedang orang yang ahli maksiat terus melangkah tanpa ada koreksi diri.”
Introspeksi diri adalah hal agung yang harus dikerjakan oleh setiap Muslim dan setiap mukmin agar bisa memegang kendali nafsunya serta mengendalikan perjalanannya, selalu mengarahkannya kepada ketaatan, menghalaunya dari kemaksiatan sehingga dia mengetahui untung ruginya, dan itu tidak bisa didapat kecuali dengan selalu bermuhasabah.
Maimun bin Mihran berkata, “Seseorang tidak termasuk dalam golongan orang-orang bertakwa sampai dia mengintrospeksi dirinya lebih dari introspeksinya terhadap kawannya. Dengan begitu, ia mengetahui dari mana makannya, dari mana minumnya, dan dari mana pakaiannya? Apakah dari yanghalalatauharam?”1Olehkarenaitu, adayang mengatakan, “Nafsu bagaikan kawan yang pengkhianat. Apabila Anda tidak mengawasinya maka dia akan lari membawa hartamu.”
Apabila para pengusaha dan konglomerat menjadikan pembukuan yang jelas dan detail serta pengauditan sebagai tahapan penting dalam administrasi perusahaan, karena tanpanya perusahaan akan bangkrut, maka bagaimana dengan manusia yang lemah dan miskin ini yang sedang menapaki perjalanan hidupnya untuk menghadap Pencipta-nya; apakah sukses dan selamat ataukah kerugian dan siksa yang didapat. “Maka, lebih detail dalam memeriksa diri adalah jauh lebih penting daripada detail dalam menghitung keuntungan dunia. Karena dunia itu kecil dibanding kenikmatan akhirat.”
Introspeksi diri adalah tuntutan keimanan pada firman Allah Ta’ala:
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya). Begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Ali Imrân: 30)
Muhasabah adalah buah dari iman kepada hari akhir karerna pada hari itu Allah meng-hisab perbuatan semua makhluk-Nya, dan Allah telah mengingatkan kita akan datangnya hari tersebut dalam firman-Nya:
“Dan peliharalah dirinmu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). “(Al-Baqarah: 281).
Begitu juga firman Allah Ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada dan hendaklah setiap diri menmperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maa Mengetahui apa yang kamu kerjakan “(A1-Hasyr: 18).
Pengarang tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan, “Lafal ayat ini mempunyai makna yang mendalam serta isyarat yang lebih luas dari lafalnya… dan dengan membayangkannya di hati seakan-akan terbuka di hadapannya lembaran amalnya bahkan lembaran kehidupannya. Kemudian pandangannya tertuju pada setiap barisnya, membayangkannya, dan melihat saldo terakhir dari rincian catatannya. Hal tersebut mendorong dirinya agar melihat apa yang akan diperbuat untuk mengisi lembarannya hari esok (akhirat). Perenungan ini cukup untuk menyadarkannya agar tidak berada pada posisi lemah, posisi kekurangan, dan posisi minim, meskipun dia telah mengerjakan kebajikan dan mencurahkan segala kesungguhan. Khawatir bagaimana kalau ternyata saldo kebaikannya tinggal sedikit, atau saldo kebajikannya ternyata kecil! Sentuhan semacam ini akan membuat hati tidak bisa tidur, tidak lalai dari melihat dan berbolak-baliknya.”
Muhasabah ialah seseorang pada waktu malam merenungi apa yang telah ia kerjakan pada waktu siang. Apabila terdapat perbuatan terpuji maka dia meneruskannya dan mengikutinya dengan amalan yang sejenis dan serupa. Namun, apabila terdapat perbuatan tercela maka dia akan segera mengakhirinya dan berpaling darinya dan dari yang semisalnya di kemudian hari.
Pertama kali, seseorang hendaknya mengoreksi dirinya, tentang amalan-amalan wajib. Apabila dia ingat bahwa ada kekurangan maka dia segera melengkapinya, baik dengan mengganti atau memperbaiki. Kemudian mengoreksi dirinya perihal amalan-amalan yang dilarang. Apabila dia mengetahui bahwa dirinya telah melanggar salah satu darinya maka dia segera bertobat dan beristigtar, serta mengikutinya dengan amalan-amalan kebajikan yang bisa menghapusnya. Kemudian mengoreksi kelalaian dirinya. Apabila telah lalai dari apa yang menjadi tujuan penciptaan dirinya maka dia segera sadar dan mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian mengoreksi apa yang telah ia ucapkan, atau ke mana kakinya telah melangkah, atau apa yang telah dijamah tangannya, apa yang telah didengar telinganya; apa maksud darinya? Untuk siapa dikerjakan? Dan bagaimana mengerjakannya?
Para tabi’in sangat sensitif dan keras dalam mengoreksi diri sebelum mengerjakan sebuah amalan, juga ketika mengerjakan dan setelahnya.
Sebelum mengerjakan sesuatu mereka berhenti sejenak untuk mengoreksi niat mereka dalam mengerjakannya. Hasan berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti untuk mengoreksi niatnya; apabila karena Allah maka dia mengerjakannya, namun apabila untuk selain-Nya maka dia meninggalkannya.”
Seorang mukmin harus melihat keinginan dan niatnya sejak awal. Apabila sejak terlintas keinginan tersebut sudah dibasmi, yaitu sebelum menguat di dalam hati maka akan mudah baginya untuk mengusirnya. Bisikan jiwa dan keinginan hati terkadang kemudian menguat dan berubah menjadi bisikan yang serius, kemudian berubah menjadi kemauan, dan kemauan yang kuat menuntut adanya perbuatan. Hasan berkata, “Salah seorang dari mereka apabila, hendak bersedekah merenung sejenak; apabila mengerjakannya karena Allah maka dia lanjutkan, namun apabila karena selain-Nya maka dia berhenti dari mengerjakannya.”
Nafi’ bin Habib pernah ditanya, “Tidakkah engkau ikut mengiringi jenazah?” Beliau menjawab, “Seperti juga engkau, sampai aku memasang niat dulu.” Beliau berpikir sejenak kemudian berkata, “Mari kita berangkat.”
Begitu pula seorang tabiin besar yang bernama Muhammad bin Fadhl Al-Balkhi, ia berkata, “Aku tidak melangkah satu langkah pun selama 40 tahun untuk selain Allah, dan aku selama 40 tahun tidak pernah mempertimbangkan sesuatu yang diriku memand angnya baik (namun tidak ada dalil) karena malu kepada Allah, dan selama 30 tahun aku tidak pernah mendikte kedua malaikat yang mengiringiku sesuatu yang aku benci, yang kalau aku mengerjakannya, sungguh aku malu pada diriku.
Apabila seseorang yang keadaannya sedemikian itu dalam bermuamalah dengan dirinya, mengoreksinya pada setiap gerakan dan langkah, sungguh dia telah mengetahui apa yang seharusnya dikerjakan untuk Allah serta apa yang tidak layak dikerjakan untuk-Nya.
Abdullah bin Qais mengatakan, “Ketika kita berada dalam sebuah peperangan, tiba-tiba musuh mendekat, maka diserukan kepada semua untuk bersiaga. Semua pasukan bergegas menuju barisan masing-masing, padahal saat itu angin berhembus sangat kencang. Aku mendapati seseorang di depanku berkata kepada dirinya sendiri, ‘Wahai diriku, bukankah dulu aku menyaksikan kondisi seperti ini kemudian engkau berkata kepadaku, Jangan mencelakakan dirimu dan keluargamu’, maka aku menaatimu dan kembali pulang. Maka, demi Allah, hari ini sungguh aku akan mempersembahkanmu kepada Allah, apakah Dia akan mengambilmu atau membiarkanmu.’ Aku berkata, ‘Aku akan terus mengamatimu hari ini.’ Maka aku mengamatinya.
Ketika orang-orang maju menyerang musuh ternyata dia berada di barisan paling depan, kemudian musuh balik menyerang dan pasukan pun mundur, namun aku melihat dia tetap berperang di tempatnya. Beberapa kali pasukan kaum muslimin mundur, namun aku melihatnya tetap berperang tidak mundur sedikit pun. Demi Allah, aku tetap mendapatinya seperti itu hingga aku melihatnya terkapar. Setelah perang selesai aku menghitung luka yang ada di tubuhnya dan kudanya. Ada 60 atau lebih dari 60 tikaman.”
Taubah bin Ash-Shimmah menghitung-hitung dirinya, dia dapati bahwa umurnya telah mencapai 60 tahun. Kemudian dia menghitung jumlah hari yang telah dia lalui ternyata sudah 21. 500 hari. la pun menjerit dan berkata, “Celaka aku! Apakah aku akan berjumpa Allah dengan membawa 21.500 dosa? Bagaimana pula kalau dalam setiap harinya ada 10.000 dosa!” Kemudian dia jatuh pingsan. Tak disangka-sangka, ternyata meninggal. Maka orang-orang yang berada di sekelilingnya mendengar sebuah suara, “Bersegeralah menuju surga Firdaus yang tinggi.”
rengarang kitab Ihyâ’ Ulîm Ad-Dîn berkomentar, “Begitulah, wajib mengoreksi diri pada setiap nafas, dan atas Segala kemaksiatan yang diperbuat oleh hati dan anggota badan pada setiap waktu. Kalau seorang hamba pada setiap dosa yang dia perbuat melemparkan batu ke dalam rumahnya, maka rumahnya pasti penuh dengan batu, padahal baru beberapa saat dari umurnya. Akan tetapi, hamba sering lupa akan kemaksiatan-kemaksiatan yang telah diperbuat, sedangkan kedua malaikat selalu mencatatnya. Allah berfirman:
“Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka melupakannya’.”(AI-Mujâdalah: 6)
Barang siapa tidak mengoreksi dirinya dalanm segala urusan Dia akan berada dalam permasalahan yang menyusahkan Setiap mukmin harus bersungguh-sungguh dalam mengawasi nafsunya sehingga jelas baginya apa yang diperbuat. Orang yang membiarkan nafsunya akan diperdaya olehnya dan nafsunya tidak akan membiarkannya lurus sedikit pun. Secara terselubung, natsu akan menjeratnya sehingga dia tertipu; tertipu dari arah lisannya, amalannya, makanan, dan pakaiannya. Karena itu, waspadalah terhadap kawan pengkhianat yang selalu ada bersamamu.
Oleh sebab itu, generasiyarng unik ini selalu mengintrospeksi diri dan mengawasinya karena takut tertipu dan terpedaya oleh nafsunya. Hasan Al-Basri mempunyai cerita tersendiri dalam mengoreksi dirinya. Beliau menangis sepanjang malam sehingga para tetangganya ikut menangis. Keesokan harinya salah seorang dari mereka bertanya kepadanya, “Engkau telah membuat keluarga kami menangis semalam.” Beliau menjawab, Sesungguhnya aku berkata kepada diriku, ‘Wahai Hasan, barangkali Allah melihat sebagian kejelekanmu kemudian berfirman, Berbuatlah semaumu karena Aku tidak menerima amalanmu sedikit pun’.”
Umarbin Majasyi’ mengisahkan, “Suatu hari Umar bin Abdul Aziz pergi ke masjid dan mengayunkan tangan ketika berjalan, kemudian beliau berhenti dan menangis. Orang-orang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin? Beliau menjawab, Aku mengayunkan tanganku ketika berjalan dan aku khawatir, Allah membelenggunya nanti di akhirat’.”
Tatkala hati generasi ini terikat dengan Allah maka jasad mereka Berada di bumi sedang hati mereka di langit.
Saudaraku, mulai sekarang, mari kita menghisab diri kita lebih dulu di dunia ini, sebelum nanti dihari akhirat dimana Allah yang akan menghisab semua makhluk-Nya. Sebagaimana para Tabi’in yang benar-benar sangat teliti dalam mengoreksi diri mereka. Mulai dari awal, pertengahan dan bahkan diakhir dari amalan yang mereka lakukan sangat diperhatikan. Dengan begitu, kita bisa tahu apa yang seharusnya kita kerjakan untuk Allah serta apa yang tidak layak kita kerjakan untuk-Nya
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 62-69
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































