Musibah dapat menggugurkan dosa
Sangat banyak dalil yang menunjukkan bahwa musibah yang menimpa seseorang bisa menggugurkan dosa-dosa. Di antaranya firman Allah Subahanahu wa ta’ala,
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS. Asy-Syura : 30)
Ayat ini menunjukkan bahwa di setiap musibah Allah juga akan memaafkan dosa-dosa. Jika sekiranya Allah memberikan musibah atas setiap dosa, maka tentu kita akan binasa. Akan tetapi Allah memberikan musibah atas sebagian dosa, dan Allah mengampuni sebagian dosa yang lain.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahankesalahannya.” (HR. Bukhari 7/ 114 no. 5641)
Oleh karenanya segala perkara yang tidak kita senangi, selama kita menghadapinya dengan baik dan bersabar, maka akan menggugurkan dosa-dosa kita. Bahkan terkadang Allah hanya memberikan musibah yang kecil berupa kegelisahan kepada seorang hamba, atau Allah memberikan memberikan musibah kecil seperti demam untuk menggugurkan dosa seorang hamba. Oleh karenanya dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan,
“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat.” (HR. Muslim 4/1993 no. 2575)
Bukankan ketika kita menjenguk orang sakit kita juga disunnahkan untuk mengatakan kepada mereka “Semoga sakit ini menggugurkan dosa-dosamu, insyaallah”? Ini membuktikan bahwa sakit yang kita anggapsebagai musibah bisa menggugurkam dosa, walaupun musibah yang menimpa kita hanya berupa kesedihan atau kekhawatiran dan hal kecil lainnya. Oleh karenanya ketika kita mendapatkan suatu musibah sekecil apapun, maka hendaknya kita mengahadapinya dengan baik dan sabar, karena dengan begitu dosa-dosa kita bisa berguguran.
Bahkan ketika seseorang senantiasa diberi musibah demi musibah, maka kelak dia akan berjalan di akhirat dengan tanpa dosa sama sekali. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hambaNya maka Allah menahan dosanya sehingga dia terima kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi 4/601 no. 2396)
Dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa ridha (menerima cobaan tersebut) maka baginya keridlaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah 2/1338 no. 4021)
Oleh karenanya ketika seseorang menghadapi suatu musibah sekecil apapun dengan bersabar, maka hal tersebut akan menghapuskan dosa-dosanya dan juga menaikkan derajtanya. Akan tetapi ketika seseorang mendapatkan musibah dan dia bersifat marah dan tidak senang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka musibah tersebut tidak akan menghapuskan dosa-dosa dan akan menurunkan derajat seseroang. Oleh karenanya hadapilah setiap musibah dengan baik dan sabar.
Namun perlu diingat bahwa bukan berarti boleh seseorang meminta musibah kepada Allah agar digugurkan dosa-dosanya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Wahai sekalian manusia, janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh, tapi mintalah kepada Allah keselamatan. Dan apabila kalian telah bertemu musuh, maka bersabarlah. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya surga itu terletak di bawah naungan pedang-pedang.” (HR. Bukhari 4/51 no. 2966)
Artinya adalah jangan seseorang meminta musibah kepada Allah. Akan tetapi jika musibah menimpaseseorang, maka hendaknya dia bersabar menghadapinya. Lebih baik Allah mengampuni dosa-dosa kita dengan istighfar daripada harus diberikan musibah. Akan tetapi terkadang ada dosa-dosa yang tidak Allah ampuni dengan istighfarkarena kekurang-kekurangan dari istighfar seseorang, sehingga Allah menghapusnya dengan musibah yang ditimpakan kepada seorang hamba.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah













































































