Sifat Telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Bentuk dan luas telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Di antara sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang menjekaskan tentang sifat telaga beliau adalah sabda beliau yang mengatakan tentang bentuk telaganya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Luas telagaku sejauh sebulan perjalanan. Setiap sisinya sama panjangnya.” (HR. Muslim 4/1793 no. 2292)

Dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,

“Lebarnya sama dengan panjangnya.” (HR. Muslim 4/1798 no. 2300)

Dari sini mayoritas ulama sepakat bahwa bentuk telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah persegi. Adapun Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah berpendapat bahwa maksud dari setiap sisinya sama panjang adalah bentuknya bulat. Beliau memahami maksud panjang dan lebar sama adalah panjang jari-jarinya yang sama. Intinya tidak masalah bagaimana bentuk telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yang terpenting adalah bagaimana agar kita bisa sampai ke sana. Terkadang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan luasnya telaga beliau dengan ukuran waktu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Luas telagaku sejauh sebulan perjalanan.” (HR. Bukhari 8/199 no. 6579)

Maksudnya adalah permisalan luas telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah seperti seseorang yang melakukan perjalanan dengan kuda selama sebulan.

Dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan luas telaganya dengan jarak suatu tempat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Lebarnya sama dengan panjangnya, yaitu seukuran antara Amman dan Ailah.” (HR. Muslim 4/1798 no. 2300)

Dalam hadit di atas, permisalannya adalah jarak antara Yordania dan Syam. Dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,

“Luas telagaku bagaikan antara Ailah dan Shan’a di Yaman.” (HR. Muslim 4/1800 no. 2303)

Tentunya perbandingan ini menunjukkan bahwa jaraknya sangat jauh. Karena Ailah adalah daerah bagian utara Madinah, sedangkan Shan’a adalah negeri bagian selatan Jazirah. Dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,

“Jaraknya sebagaimana jarak antara Madinah dan Shan’a.” (HR. Bukhari no. 8/121)

Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan,

“Aku mendahului kalian ke telagaku. Lebar telaga itu sejauh antara Ailah ke Juhfah. (HR. Muslim 4/1796 no. 2296

Dari penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang jarak telaganya yang berbeda, timbul perbedaan persepsi di antara para ulama tentang jarak sebenarnya. Pendapat pertama mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan dengan berbagai ukuran hanya sekedar untuk pendekatan kepada masing-masing orang. Terkadang tatkala Nabi bertemu dengan orang Yaman, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan jaraknya antara Yaman dan Ailah. Adapun ketika Nabi mengabarkan kepada orang Syam, maka Nabi memberikan perumpamaan antara Ailah ke Shan’a. Intinya, perbedaan ukuran yang dikabarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ditentukan dari mana orang itu berasal, untuk memudahkan penggambaran telaganya. Sedangkan aslinya telaga Rasulullah.Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangatlah luas.

Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa jarak-jarak yang disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah jarak yang sesungguhnya. Akan tetapi kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan jarak yang berbeda karena mendapat kabar bahwa telaganya di perluas oleh Allah جل جلاله beberapa kali hingga jarak yang paling jauh yaitu dari Ailah hingga ke Shan’a. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

“Seperti jarak antara Aden ke Omman dan lebih luas lagi dan lebih luas lagi.” (HR. Ahmad 5/250 no. 22210)

Hadits ini menggambarkan bahwa telaga Nabi di perluas, sehingga terkadang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan luas telaganya dengan perumpamaan yang berbeda-beda.

Cangkir-cangkir di telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dari sisi cangkir, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan bahwa jumlahnya sangat banyak. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Dan cangkir-cangkirnya sebanyak bilangan-bintang di langit.” (HR. Bukhari 6/178 no. 4965))

Allah menyediakan cangkir yang begitu banyak agar manusia kelak tidak berdesak-desakan. Karena pada waktu itu manusia pasti akan berbondong-bongdong untuk minum dari telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam karena kehausan.

Sifat air di telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Adapun warna air dari telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam , beliau mensifatinya sebagaimana dalam sabdanya,

“Dan airnya lebih putih dari perak. (HR. Muslim 4/1793 no. 2292)

Dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,

“Airnya lebih putih dari pada susu.” (HR. Muslim 4/ 1799 no. 2301)

“Sesungguhnya telagaku lebih jauh daripada jarak Ailah ke Adan. Sungguh airnya lebih putih daripada es (salju).” (HR. Muslim 1/217 no. 247)

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menjelaskan tentang rasa dan bau air dari telaganya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Dan (airnya) lebih manis daripada madu yang dicampur susu.” (HR. Muslim 1/217 no. 247)

“Dan baunya lebih wangi daripada minyak misk (kasturi).” (HR. Bukhari 8/119 no. 6579)

Ini menunjukkan bahwa airnya warnanya sangat putih dan rasanyapun sangat lezat. Kemudian sifat air dari telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangatlah deras karena bersumber dari air sungai di surga.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa sungai di surga tersebut bernama sungai Al-Kautsar. Oleh karenanya terkadang telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam disebut dengan telaga Al-Kautsar karena bersumber dari sungai Al￾Kautsar. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,

“Di telaga tersebut ada dua saluran air yang tersambung ke Surga.”(HR. Muslim 4/1798 no. 2300)

Dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,

“Di dalamnya ada dua saluran yang memancarkan air dari surga. Satu saluran terbuat dari emas dan yang satu lagi terbuat dari perak.” (HR. Muslim 4/1799 no. 2301)

Setelah kita menyebutkan di antara sifat-sifat telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka timbul pertanyaan, siapakah yang akan singgah pada telaga tersebut? Maka tentu jawabannya adalah umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .

Adapun orang-orang kafir dan orang-orang yang murtad tidak akan menghampiri telaga tersebut. Kemudian juga para pelaku bid’ah tidak akan bisa minum dari telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menyebutkan tentang siapa yang pertama kali mendatangi telaga beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhubahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Orang yang pertama kali akan mengunjunginya (telagaku) adalah orang orang fakir dari sahabat Muhajirin, yang rambut kepalanya acak acakan, pakaiannya kumal dan mereka mereka yang tidak menikahi wanita wanita yang hidup dalam kemewahan, dan orang yang tidakdibukakan pintu (apabila bertamu atau mengetuk pintu rumah orang).” (HR. Tirmidzi 4/629 no. 2444)

Sebagaimana kita ketahui bahwa orang-orang miskin lebih dahulu mendapatkan kenikmatan di akhirat berupa masuk surga lebih dahulu daripada orang kaya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

“Orang-orang fakir dari kalangan muhajirin mereka lima ratus tahun lebih dahulu masuk syurga sebelum orang orang kaya mereka.” (HR. Tirmidzi 4/577 no. 2351)

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa penyebab orang-orangmiskin lebih dahulu masuk surga adalah karena hisab yang dilalui bagi orang kaya sangatlah panjang. Akan tetapi kondisi tersebut tidak serta merta menjadikan orang-orang kaya hina. Karena dalam Islam betapa banyak ayat dan perintah untuk bersedekah, berinfaq dan bahkan berjihad dengan harta yang kebanyakan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya.

Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala lebih mendahulukan berjihad dengan harta daripada jiwa. Hal ini dikarenakan karena seseorang akan lebih mudah untuk berjihad dengan harta daripada berjihad dengan jiwa. Dan juga tidak semua orang berkesempatan untuk berjihad dengan jiwa. Sedangkan berjihad dengan harta terkadang seseorang memiliki banyak kesempatan.

Oleh karenanya tidak boleh seseorang merendahkan orang kaya, karena terkadang dakwah tidak dapat berjalan kecuali dengan dua orang yaitu orang berilmu dan orang kaya.Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menikahi seorang janda kaya yaitu Khadijah, lalu kemudian harta yang dimiliki Khadijah diserahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk digunakan berdakwah. Kemudian juga sebagaimana Allah mentakdirkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersahabat dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, seorang saudagar kaya raya.

Beliaulah yang banyak membeli budak untuk dibebaskan seperti Bilal radhiallahu ‘anhu yang sering disiksa, yang pada saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mampu untuk membebaskannya. Oleh karenanya tidak boleh kita menghina orang kaya, melainkan kita memberikan semangat kepada mereka agar mereka bisa istiqamah dalam berjihad di jalan Allah dengan harta mereka. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari 1/25 no. 73)

“Sesungguhnya dunia itu untuk empat orang; Pertama, seorang hamba yang dikarunia Allah harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik.” (HR. Tirmidzi 4/562 no. 2325)

“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang salih.” (HR. Ahmad 4197 no. 17798)

Maka kita memerlukan orang berilmu dan orang yang memiliki harta agar dapat menggerakkan dakwah. Ini semua membuktikan bahwa orang kaya terlambat masuk surga bukan karena derajat mereka rendah, akan tetapi karena hisab bagi mereka sangatlah panjang. Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa bisa jadi derajat orang kaya setelah dihisab menjadi lebih tinggi daripada orang miskin, meskipun terlambat masuk surga.

Adapun orang miskin lebih dahulu masuk surga karena di dunia mereka kurang mendapatkan kenikmatan. Oleh karena itu orang yang pertama minum dari telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang￾orang miskin dari kalangan Muhajirin.

Adapula Hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Umatku menemuiku di telaga, dan aku menghalau mereka darinya sebagaimana seseorang menghalau unta orang lain dari untanya.” Mereka bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apakah engkau mengenal kami?’ Beliau menjawab: ‘Ya. Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat yang lain. Kalian menemuiku dalam keadaan putih bersinar karena bekas air wudhu. Dan sungguh sekelompok dari kalian akan dihalau dariku, sehingga kalian tidak sampai kepadaku. Lalu aku berkata: ‘Wahai Rabbku, mereka adalah para sahabatku’. Allah menjawab; ‘Apakah kamu tahu apa yang terjadi setelah kepergianmu?’.” (Muslim 247)

Dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya telagaku sejauh jarak antara Ailah dengan Adan. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku menghalau beberapa orang darinya sebagaimana seseorang menghalau unta lain dari telaganya.” Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenal kami?’ Beliau menjawab: ‘Ya. Kalian menemuiku dalam keadaan putih bersinar disebabkan bekas air wudhu yang tidak dimiliki umat lainnya selain kalian.” (Muslim 248)

Dari sini maksud Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendahului umatnya di telaganya agar menjaga telaga tersebut dari orang-orang yang tidak dibolehkan minum dari telaga tersebut. Akan tetapi perlu untuk diketahui bahwa orang-orang syiah menjadikan hadits di atas sebagai dalil untuk mengkafirkan para sahabat. Namun bantahan untuk mereka pun sangat mudah. Pertama, hadits tentang telaga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh para sahabat. Maka kalau mereka mengkafirkan para sahabat, mengapa mereka mengambil hadits dari orang yang mereka kafirkan? Kedua, lafal dari hadits tentang telaga berbeda-beda. Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyebutkan bahwa yang terhalangin hanya sebagian orang. Dan dalam riwayat yang lain menyebutkan sebagian kecil orang. Dan memang benar bahwa ada sebagian sahabat dari orang￾orang badui yang murtad setelah sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di zaman. Abu Bakar yang memang dikenal dan pernah bertemu denganNabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Tentunya mereka dikenal sebagai sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam karena bertemu dengan Nabi.

Akan tetapi mereka bukan dari kalangan kaum muhajirin ataupun kaum Anshar. Sedangkan orang-orang syiah ingin membawa hadits ini seolah-seolah yang dimaksud adalah kaum Muhajirin dan Anshar, dan hanya sedikit yang tidak dikafirkan oleh mereka.

*************

Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah