Biasakan menolak jika tidak mampu

Ketika ada seseorang yang meminta sesuatu kepada kita dan kita tidak mampu, maka katakan ketidakmampuan kita dalam memenuhinya. Jangan kemudian kita memberikan harapan kepadanya padahal kita sendiri tahu bahwa diri kita tidak mampu memenuhinya. Akhirnya yang ada adalah rasa sungkan dan permohonan maaf dikemudian hari tatkala tidak bisa memenuhinya. Maka jika tidak mampu memenuhi suatu permintaan seseorang, beranikan diri untuk mengatakan tidak jika memang betul-betul tidak mampu. Karena jika menggantungkan harapan orang lain kepada kita padahal kita tidak mampu hanya akan membuat kita semakin gelisah. Karena pasti orang yang kita sanggupi permintaannya akan sering menghubungi kita untuk menanyakan perihal permintaannya. Dan karena ketidaksanggupfan kita, akhirnya kita sering menghindar. Oleh karenanya, biasakan menolak permintaan seseorang jika tidak mampu. Latihlah diri untuk menolak sejak awal, daripada harus memohon maaf dikemudian hari.

Mudah memaafkan Allah Subhanahu wa ta’ala berfrman,

“Dan sesungguhnya hari (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr : 85)

Di dalam ayat ini Allah mengingatkan bahwa kehidupan ini hanya sebentar. Dan tidak akan lama lagi hari kiamat akan tiba. Baik kiamat berupa kematian, atau kiamat yang sesungguhnya. Allah mengingatkan bahwa dengan waktu hidup yang singkat tersebut, untuk apa dihiasi dengan dendam? Padahal dendam itu adalah penyakit. Dan terkadang sakit karena dendam tersebut lebih menyakitkan daripada perlakuan buruk seseorang kepada kita. Misalnya ada seseorang yang memukul kita, tentunya dari pukulannya ada rasa sakit. Akan tetapi rasa sakit pukulan yang kita terima tidak lebih sakit daripada dendam kita kepada orang yang memukul kita. Dan dendam adalah sakit yang berkepanjangan. Bisa jadi lebam akibat pukulan bisa pulih dalam waktu sepekan, akan tetapi sakit dendam bisa bertahun-tahun kalau kita tidak segera memaafkan.

Oleh karena itu jangan jadi orang yang pendendam. Orang yang pendendam dan sering marah biasanya adalah orang yang angkuh karena susah untuk memaafkan. Orang yang pendendam biasanya akan merasa harga dirinya jatuh total ketika disakiti, sehingga dia merasa bahwa dia tidak mau memaafkan dan harus menunjukkan kehebatan dan harga dirinya. Saya pernah punya teman waktu di bangku kuliah yang pendendam. Ketika ada orang lain yang punya masalah dengannya, maka dia kemudian langsung mendoakan keburukan untuk orang tersebut. Padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Tidak termasuk seorang mukmin yang mereka selalu mengungkap aib, melaknat, berperangai buruk dan suka menyakiti.” (HR. Tirmidzi no. 1977)

Maka jika hidup kita telah terbiasa memaafkan, maka hidup kita akan tenteram. Oleh karenanya, jika ada orang yang berbuat salah kepada kita, baik dia orang dekat maupun jauh, maka maafkan. Mudahkan segala permasalahan dan jangan dibesar-besarkan. Tatkala Anda bisa memaafkan seseorang, maka akan terlepas beban dari hati Anda. Terlebih jika kita memiliki permasalahan dengan kerabat kita, baik itu orang tua, saudara, istri maupun anak, kemudian kita tidak memaafkannya, maka akan terjadi penderitaan yang panjang. Begitu pula tatkala kita memiliki permasalahan dengan rekan kerja kita, kemudian kita tidak maafkan, maka kita akan menderita sendiri tatkala berangkat ke tempat kerja dan bertemu dengan rekan kerja kita. Akan tetapi jika kita memaafkan permasalahan orang lain dengan kita, maka tentunya kita akan lebih bahagia. Latihlah diri kita untuk mudah memaafkan. Hal ini tentunya adalah perkara yang berat, akan tetapi faedahnya akan kembali kepada diri kita. Selain kita akan mendapatkan pahala dan diampuni dosa-dosa oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dari sifat memaafkan, kita juga akan menjadi semakin bahagia.

Jangan mencari musuh

Ketika kita tidak bisa berteman dengan seseorang, maka tidak perlu kita menjadikannya sebagai musuh. Dan ini adalah suatu kaidah yang penting. Jika Anda tidak cocok dalam berteman dengan seseorang, maka tidak perlu menjadikannya musuh, cukupkan dengan tidak berteman lagi dengannya. Terkadang seseorang ketika dia merasa tidak cocok dengan seseorang, dia akan mencaci-maki dan mencari masalah dengan orang tersebut. Ketahuilah bahwa sikap itu adalah sikap yang menjadikan orang tersebut sebagai musuh. Dan ketika orang tersebut telah jadi musuh, maka hal tersebut hanya akan menambah beban hidup seseorang.

Jika kita merasa tidak cocok dengan seseorang, maka cukup diam dan tinggalkan pertemanan dengannya. Yang terpenting adalah bahwa seseorang yang tidak merasa cocok berpisah bukan sebagai musuh. Karena dalam kehidupan nyata banyak orang-orang yang seperti ini. Ketika ada dua orang atau lebih tidak merasa cocok, akhirnya mereka saling menjadikan yang lain sebagai musuh. Jangankan dalam kehidupan sehari-hari, dalam dakwah pun demikian. Ingatlah bahwa ketidakcocokan kita dengan orang lain tidak mengharuskan kita menjadikannya sebagai musuh. Dengan sikap seseorang yang tidak mau mencari musuh, maka akan menjadikan hidupnya jauh lebih bahagia.

Jangan suka marah

Sering kita dapati bahwa tatkala seseorang marah, suatu perkara yang dia bina selama bertahun-tahun hancur seketika. Betapa banyak seseorang yang membangun rumah tangga selama puluhan tahun, akan tetapi tatkala dia emosi akhirnya gugatan cerai melayang. Jika seperti ini maka akan hilang dengan seketika kebahagiaan yang dia bangun selama ini. Oleh karenanya sebelum Anda marah, hendaknya Anda memikirkan dampak dari kemarahan Anda. Jika ternyata Anda merasa bahwa dengan marah hanya akan menghancurkan kebahagiaan yang telah Anda bina selama ini, maka jangan lakukan. Oleh karena itu hendaknya seseorang berhati-hati dalam perkara ini. Karena betapa banyak kemarahan yang sesaat menghacurkan suatu perjuangan yang sudah diusahakan selama bertahun-tahun.

Maka tatkala seseorang ingin marah, hendaknya dia diam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Dan jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah dia diam.” (HR. Ahmad no. 2136)

Ketika seseorang marah, hendaknya dia menenangkan dirinya terlebih dahulu dengan diam. Jangan seseorang tatkala marah langsung bertindak dan berkata-kata. Usahakan untuk menenangkan diri terlebih dahulu.

Bahkan jika dia bisa pergi dari tempat tersebut, itu lebih baik. Karena betapa banyak kemarahan akhirnya menghancurkan segalanya. Sebagaimana perkataan salaf,

اول الغضب جنون واخره ندم

“Awal dari kemarahan adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan.”

18.Jangan sering mengeluh kepada orang lain

Ketahuilah bahwa kebanyakan keluh kesah seseorang tidak akan dapat mengubah apapun. Keluh kesah hanya akan menghinakan dan merendahkan seseorang. Kalaupun seseorang hendak berkeluh kesah, mengeluhlah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kalaupun harus mengeluhkan suatu hal kepada orang lain, maka pilihlah orang tepat, yang benar-benar bisa memberikan masukan dan membangkit￾kan semangat.

Tidak semua orang kemudian kita jadikan tempat untuk berkeluh kesah. Karena keluh kesah kita kepada orang lain kebanyakan tidak akan memberikan jalan keluar, melainkan hanya akan membuat kita tampak hina di hadapan manusia.

Maka jika Anda ingin bahagia, jangan suka berkeluh kesah. Yakinlah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala bahwa masalah yang kita hadapi bisa dengan mudah Allah hilangkan. Dekatkan diri kepada Allah dan keluhkan permasalahan kita hanya kepada-Nya.

*************

Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah