5. Tawakal: Yaitu sikap hati yang berserah dan bergantung pada Allah untuk mendapatkan segala yang diinginkan serta menolak apa yang tidak diinginkan disertai dengan sikap bergantung pada Allah dan melakukan sebab-sebab yang disyareatkan. Hati yang hampa dari kebergantungan (pada Allah) adalah merupakan celaan terhadap tauhid. Sebaliknya, tidak melakukan usaha menunjukkan kelemahan dan kurang akal. Tawakkal waktunya adalah sebelum melakukan perbuatan. Tawakal adalah buah dari keyakinan. Jenis tawakal ada tiga:
A) Wajib: Yaitu tawakal pada Allah dalam hal yang tidak mampu kecuali Alah. Seperti kesembuhan orang yang sakit.
B) Haram: Ada dua, (a) Syirik besar, yaitu bergantung penuh pada sebab/usaha. Dengan anggapan usaha itulah yang mendatangkan kemanfaatan atau menolak kemudharatan (b) Syirik kecil, seperti bergantung pada seseorang dalam masalah rizki, tanpa ada keyakinan bahwa ia dapat memberikan pengaruh, akan tetapi bergantung padanya melebihi keyakinan bahwa ia hanya sekedar sebab.
C) Diperbotehkan. yaitu jika ia mewakilkan pada seseorang lalu ia bergantung padanya dalam perkara yaitu seperti jual beli. Akan tetapi tidak dibenarkan jika ia mengatakan “aku bertawakkal kepada Allah lalu kepadamu, tapi hendaknya ia mengatakan : ” Aku mewakilkan padamu”Syukur : Tampaknya bekas kenikmatan Ilahi pada seorang hamba dalam hati, diiringi dengan pujian lisan dan ibadah anggota badan. Syukur adałah tujuan sedangkan sabar adalah jalan yang mengatarkan pada (amalan) lainnya.
6. Syukur dilakukan dengan hati, lisan dan anggota badan. Makna syukur adalah mempergunakan kenikmatan sebagai sarana ketaatan pada Allah.
7. Sabar: Artinya tidak mengadukan apa yang diderita pada selain Allah dan hanya menyerahkannya pada-Nya .Allah berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S Az-Zumar: 10) .
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan memberikan kesabaran padanya. Tidaklah seseorang itu diberi anugrah yang lebih baik dan lebih luas darikesabaran.” (Muttafaq ‘Alaihi).
Umar Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Tidaklah aku mendapatkan cobaan, melainkan padanya terdapat empat nikmat Allah. Yaitu musibah itu tidak berkaitan dengan agamaku. Cobaan itu tidak lebih besar. Aku tidak terhalangi untuk ridhadengannya dan aku mengharapkan pahala atasnya.”
Sabar ada beberapa derajat: Yang paling rendah: Tidak mengeluh tapi diringi dengan kebencian. Tingkatan pertengahan: Yaitu tidak mengeluh diringi sikap ridha. Tingkatan paling tinggi adalah : Memuji Allah atas musibah yang menimpa. Barangsiapa yang didzalimi, lalu ia mendoakan (keburukan) atas orang yang mendzaliminya, maka berarti ia telah membela dirinya dan telah mengambil haknya dan ia tidak bersabar. Sabar ada dua:
A) Jasmani, bukanlah ini yang kamibicarakan
B) Jiwa :(yaitu sabar) atas hawa nafsu.
Segala yang dialami hamba di dunia ini tidak keluar dari dua hal :
1) Apa yang cocok dengan hawa nafsu, maka membutuhkan kesabaran dalam menunaikan hak Allah yaitu syukur dan tidak menggunakan sedikitpun untuk bermaksiat pada Allah.
2) Menyelisihi hawa nafsu, ini ada tiga :
a) Sabar dalam ketaatan pada Allah. Yang wajib dalam hal ini adalah melakukan apa yang diwajibkan dan yang disunahkan adalah melakukan apa yang disunahkan.
b) Sabar dari bermaksiat pada Allah. Yang wajib dalam hal ini adalah meninggalkan apa yang diharamkan dan yang disunahkan adalah meninggalkan apa yang dimakruhkan.
c) Sabar dalam menghadapi musibah. Yang wajib adalah menahan lisan dari keluh kesah, menahan hati dari tidak setuju dan kemarahan dengan takdir Allah serta menahan badan dari mempergunakannnya pada selain apa yang mendatangkan keridhaan Allah seperti ratapan, menyobek pakaian, menampar pipi dll. Yang disunahkan adalah keridhaan hati terhadap apa yang ditakdirkan Allah.
Mana yang lebih utama, orang kaya yang bersyukur atau orang yang miskin yag sabar? Jika orang yang kaya menggunakan hartanya dalam ketaatan menyimpannya untuk itu, maka ia lebih utama dari orang yang miskin. Jika ia lebih banyak menggunakan hartanya dalam hal yang mubah, maka orang yang fakir lebih utama. Nabi bersabda : “Orang-orang yang memberi makan dan bersyukur adalah seperti orang yang berpuasa den bersabar.” ( HR. Ahmad).Ridha : Yaitu merasa cukup dengan sesuatu. Waktunya adalah setelah terjadinya suatu perkara/perbuatan.
8. Ridha dengan qadha/ketentuan Allah adalah termasuk derajat tertinggi orang-orang yang didekatkan (pada Allah). Ridha adalah buah dari rasa cinta dan tawakal. Berdoa pada Allah agar dihindarkan dari sesuatu yang tidak disukai adalah tidak bertentangan dengan ridha dengan hai itu.
9. KhuSyu’ : Yaitu pengagungan, hancur luluhnya hati dan kehinaan. Berkata Hudzaifah Radhiallahu ‘Anhu: “Berhati-hatilah kalian dari khusyu’ yang nifak. Lalu beliau ditanya Apa itu khusyu’ yang nifak ?” Beliau menjawab: “EngKau dapatkan pada lahirnya la tampak khusyu’, padahal hatinya tidak demikian. Beliau berpesan juga: ” Yang pertama kali akan sirna dari urusan agama kalian adakan Kekhusyu’an. Segala ibadah yang disyari’atkan padanya khusyu, maka pahalanya bergantung sejauh mana kekhusyu’annya.
Seperti shalat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda perihal Orang yang shalat bahwa tidak didapatkan dari shalatnya melainkan setengahnya, seperempatnya, seperlima, ..sepersepuluhnya. Bahkan bisa Jadi ia tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya karena ia sama sekali tidak khusyu’.
10. Raja’: Yaitu memandang luasnya rahmat Allah. Kebalikannya adalah putus asa. Beramal dengan disertai harapan adalah lebih tinggi derajatnya dibandingkan bila disertai dengan rasa takut (semata), karena raja’ akan membuahkan husnudzan (baik sangka) pada Allah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Aku bergantung pada persangkaan hamba-Ku pada-Ku.” (HR Muslim).
Raja ada dua tingkatan: Derajat vang lebih tinggi adalah orang yang melakukan ketaatan dan mengharap pahala dari Allah, Berkata Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Wahai RaRasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: ” Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang kuat.” (Qs. Al-Mukminun :60). Apakah ia adalah orang yang mencuri, berzina, meminum minuman keras dan dia takut pada Allah? Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab : ” Tidak wahai putri ash-Shiddiq, tetapi mereka adalah orang-orang yang shalat, berpuasa, bersedekah, dan mereka takut jika amalan mereka tidak diterima” (HR. Tirmidzi). “
Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun:61).
Derajat yang lebih rendah adalah Orang yang berdosa, bertaubat dan mengharap ampunan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Adapun orang yang terus bermaksiat dan tidak mau bertaubat serta mengharapkan rahmat Allah, maka ini adalah angan-angan dan bukan sikap raja’. Jenis ini adalan tercela. Adapun jenis pertama adalah terpuji. Seorang mukmin menggabungkan antara ihsan (Ketaatan) dan khasyah (rasa takut). Adapun orang munafik menggabungkan antara perbutan buruk dan rasa aman.
11. Khauf: Yaitu kegundahan yang meliputi jiwa karena suatu hal yang dibenci. Jika apa yang dibenci itu diyakini (Keberadaanya) maka dinamakan khasyah. Kebalikannya adalah rasa aman. Ahay bukan lawan dari raja’, bahkan merupakan motifator dengan jalan rahbah (rasa takKut dari siksa Allah ). Adapun raja’, adalah motifator dengan jalan ragnban Umengnarap pahala dari Allah ). Sudah selayaknya menggabungkan antara mahabban, khauf dan raja’
Berkata Ibnul Qayyim : “Hati dalam perjalanannya menuju Allah adalah ibarat burung. Mahabbah adalah kepalanya, sedangkan raja’ dan khauf adalah kedua sayapnya. Jika khauf telah menetap dalam hati, akan dapat membakar gejolakbsyahwat dan mengusir (pengaruh negatif) dunia darinya. Khauf yang wajib adalah apa yang mendorong untuk menunaikan berbagai kewajiban dan meninggalkan apa yang diharamkan. Sedang khauf yang sunnah adalah apa yang membangkitkan untuk melakukan yang disunahkan dan meninggalkan apa yang dimakruhkan. Khauf ada beberapa macam:
A) Rasa takut yang tersembunyi dan ketergantungan, ini adalah wajib diperuntukkan hanya untuk Allah Subhanahu Wata’ala semata. Memberikannya pada selain Allah Subhanahu Wata’ala adalah syirik akbar/besar, seperti rasa takut pada sesembahan orang-orang musyrik karena akan memberikan kemudharatan atau menimpakan Ssesuatu yang tidak disukai.
B) Rasa takut yang diharamKan, yaitu meninggalkan apa yang wajib atau melakukan apa yang diharamkan karena takut dari manusia.
C) Ras takut yang diperbolehkan, seperti takut yang alami, dari srigala dll.
12. Zuhud : Yaitu berpindahnya keinginan dari suatu hal pada apa yang lebih baik darinya. Zuhud di dunia akan memberikan kenyamanan pada hati dan badan. Sebaliknya keinginan pada dunia akan mendatangkan kegundahan dan kesedihan. Cinta pada dunia adalah pokok segala kesalahan.
Sebaliknya kebencian padanya adalah sebab segala ketaatan. Zuhud di dunia yaitu dengan mengeluarkan dunia dari hati dan bukan berarti memisahkan dunia dari diri anda dengan disertai kebergantungan hati padanya. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang jahil, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik harta yang sholeh adalah jika dimiliki oleh orang yang sholeh.” (H.R Ahmad).
Keadaan orang fakir terhadap harta ada lima:
A) Ia berpaling dari harta karena kebencian dan kekhawatiran dari keburukan atau tersibukkan dengannya. Orang semacam ini dinamakan zahid/orang yang zuhud.
B) Tidak senang ketika mendapatkan harta dan tidak menjadikannya benci yang dapat menjadikannya terganggu olehnya. Ia adalah orang yang ridha.
C) Keberadaan harta lebih ia cintai dari ketiadaannya, karena keinginannya terhadap harta. Akan tetapi hal tersebut tidak sampai menjadikannya berusaha mencarinya, bahkan jika harta mendatanginya ia merasa gembira, dan jika ia harus bersusah payah dalam mencarinya, maka hal itu tidaklah sampai menyibukkannya. Ini adalah orang yang qana’ah.
D) Meninggalkan harta adalah karena ketidakmampuan dalam mencarinya. Sebenarnya ia ingin untuk mendapatkannya, meski dengan jalan bersusah payah. la dinamakan orang yang harish.
E) la terpaksa dalam mencari harta seperti orang yang lapar dan orang yang tidak berpakaian. Orang semacam ini dinamakan orang yang terpaksa.
*************
Sumbar : Tafsir Al-‘Usyr Al-Akhir dari al-Qur’an Al Karim, (hal. 100).
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah









































































