Di antara ulama besar yang lahir di Indonesia lalu menjadi ulama handal yang menjadi Khatib, Imam sekaligus Ulama Pengajar di Masjidilharam sekitar satu setengah abad lalu adalah Syekh ‘Allamah Ahmad Khatib bin Abdullathif bin Abdullah Al-Minkabawiy rahimahullah. Nah, untuk lebih mudah mengenali beliau, maka penulis akan meringkas biografi beliau dalam sepuluh poin berikut.

1. Kakek beliau yang bernama Abdullah adalah seorang syekh yang berasal dari Mekah atau Hijaz. Beliau hijrah ke Sumatera sekitar tahun 1220-an demi menyebarkan Dakwah Salafiyah yang diusung oleh Syekh Muhammad bin Abdulwahhab dan Kerajaan Arab Saudi saat itu. Beliau pun menetap di Koto Tuo Sumatera Barat, lalu menjadi imam dan khatib di daerah itu, sehingga ia pun dijuluki Khatib, dan julukan ini terus melekat hingga ke cucu-cucunya.

2. Syekh Ahmad Khatib lahir di Koto Tuo tahun 1276 H, dan mulai belajar islam di kota itu, lalu Sang Kakek mengantar beliau ke Mekah untuk lebih mendalami ilmu agama sekaligus menempatkan sebagian keturunannya di daerah asalnya, Mekah. Tinggalah Syekh Ahmad Khatib di Mekah untuk lebih fokus belajar kepada para ulama. Di antara gurunya adalah tiga ulama yang bersaudara, yaitu Syekh Umar Syatha, Syekh Usman Syatha, dan Syekh Bakri Syatha rahimahumullah.

3. Beliau pun rajin menuntut ilmu, serta memperbanyak muzakarah dan mutalaah kitab, sehingga ilmu-ilmu keduniaan pun beliau mengetahuinya seperti matematika, dan menguasai Bahasa Inggris. Kecerdasan beliau dalam memahami berbagai ilmu membuat beliau mengetahui banyak hal, yang turut membantunya memahami berbagai persoalan agama, dan menjauhi berbagai bidah yang saat itu tersebar, bahkan dianut oleh sebagian ulama, rahimahumullah.

4. Ketika Syekh Muhammad Shalih Al-Kuridy, salah seorang tajir kaya dan figur terpandang di Kota Mekah, melihat kecerdasan Syekh Ahmad Khathib, beliau langsung menawarkan padanya agar menikahi putrinya. Lalu menikahlah Syekh Ahmad Khatib, di mana semua biaya pernikahan, bahkan rumah dan biaya hidup mereka ditanggung oleh Sang Mertua, karena beliau menginginkan agar Syekh Ahmad Khatib fokus saja belajar dan menuntut ilmu. Mertua beliau sangat mencintainya, sampai-sampai ketika istrinya wafat, maka mertua beliau langsung menikahkan Syekh Ahmad Khathib kembali dengan saudara istrinya tersebut.

5. Ketika ilmu Syekh Ahmad Khathib sudah luar biasa, mertua beliau lalu mengusulkan pada Penguasa Mekah saat itu untuk menjadikan Syekh Ahmad sebagai imam, khatib dan pengajar di Masjidilharam. Karena memang beliau pantas untuk jabatan ini, maka diangkatlah beliau dengan 3 jabatan yang luar biasa itu, yang jarang dimiliki oleh para ulama saat itu. Beliau lalu menjadi orang besar di tanah haram, dan sangat dihormati.

6. Selain sebagai ulama yang sangat kharismatik di tanah suci, beliau juga terkenal sebagai figur yang baik hati, berakhlak mulia, lapang dada, bahkan terkenal suka berdialog dengan murid-muridnya di dalam kajian atau di luarnya. Beliau sangat menghormati murid-muridnya sendiri, memberikan pada mereka kesempatan berbicara bahkan dalam proses belajar mengajar. Tujuannya, agar beliau lebih mudah untuk memahamkan mereka kajian ilmu dan membuat mereka lebih fresh dalam menyampaikan yang mereka ketahui.

7. Dahulu Halaqah kajian beliau di Masjidilharam dihadiri oleh ratusan penuntut ilmu, banyak dari mereka berasal dari negeri asalnya, Indonesia. Para penuntut ilmu dari Indonesia biasanya dimotivasi oleh Syekh Ahmad agar ketika kembali ke tanah air mereka harus fokus berdakwah dan menyampaikan ilmu ke masyarakat, serta menjauhkan mereka dari TBC (Takhayul, Bidah dan Khurafat). Di antara murid-muridnya yang populer di tanah air adalah pengusung Gerakan Reformis Islam, seperti KH Abdulkarim Amrullah (ayah HAMKA) di Sumatra, dan KH Ahmad Dahlan di Jawa.

8. Dahulu rahimhullah sangat perhatian dengan Akidah Salaf dan keharusan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Beliau senantiasa mengajari anak-anak dan murid-muridnya agar hanya memohon dan meminta istigasah dari Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala di atas langit, dan menjauhi bidah-bidah kesufian yang guluw atau ekstrim, bahkan beliau memiliki satu buku untuk mengkritik Tarekat Naqsyabandiyah yang diberi judul “Tanbih Al-Gafil bi Suluk Thariqah Al-Awaail.”

9. Beliau wafat tahun 1334 H di Kota Mekah, dalam usia 58 tahun. Beliau meninggalkan tiga putra, Syekh Abdulkarim, Abdulmalik, dan Abdulhamid. Namun, yang menjadi ulama besar di antara mereka adalah Syekh Abdulhamid. Beliau menjadi ulama pengajar di Masjidilharam serta menjadi salah satu ulama yang sangat dihormati dan diberikan jabatan tinggi dalam Kerajaan Arab Saudi era Malik Suud.

10. Terakhir, beliau meninggalkan sekitar 46 karya tulis yang luar biasa. Di antara 46 ini, ada 21 karya tulis yang berbahasa Melayu. Sedangkan 25 yang tersisa tertulis dalam Bahasa Arab, rahimahullah. Di akhir hayatnya, beliau menulis khusus biografi beliau agar dibaca khusus oleh putra-putri serta cucu-cucu beliau di kemudian hari kelak. Rahimahullah rahmatan wasi’ah.

***********

Penulis: Maulana La Eda, Lc, M.A
Sumber: Sumber: Siyar wa Tarajum-Syekh Umar Abduljabbar (38-43), A’laam Al-Makkiyyiin (1/407-408) dan Natsr Ad-Durar (20)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan