MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR – Guru memiliki peran sentral dalam membangun generasi yang mencintai Masjid Al-Aqsa dan Baitul Maqdis. Karena itu, para pendidik diharapkan menjadi penggerak utama dalam menanamkan nilai-nilai perjuangan Islam kepada peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal DPP Wahdah Islamiyah sekaligus Ketua Komite Solidaritas (KITA) Palestina, Ustaz H. Syaibani Mujiono, S.Sy., M.Si., Ph.D., saat menjadi keynote speaker pada Seminar Baitul Maqdis bertema “Menyiapkan Generasi Pembebas Masjid Al-Aqsa dan Baitul Maqdis dari Rumah dan Sekolah” di Gedung Pusat Dakwah Muslimah Wahdah Islamiyah, Makassar, Sabtu, (11/7/26).
Dalam sambutannya, Ustaz Syaibani mengibaratkan profesi guru sebagai jantung dalam tubuh. Menurutnya, sebagaimana jantung memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh, guru memiliki tugas menghidupkan semangat perjuangan, ilmu, dan kecintaan terhadap Al-Aqsa di tengah generasi muda.
“Fungsi jantung memompa dan memberi oksigen ke seluruh tubuh sehingga tubuh menjadi sehat. Demikian pula guru, ia adalah jantung dalam perjuangan Islam yang bertugas menanamkan kecintaan kepada Masjid Al-Aqsa dan Baitul Maqdis kepada generasi di sekolah-sekolah kita,” ungkap Ustaz Syaibani.
Ia menjelaskan, setidaknya terdapat dua karakter utama yang harus dimiliki seorang guru sebagai “jantung perjuangan”. Pertama, mampu terus memompa semangat dan nilai-nilai perjuangan kepada peserta didik. Kedua, bergerak secara konsisten tanpa harus menunggu dorongan dari pihak lain.
“Jantung bekerja tanpa henti dan tanpa diperintah. Begitu pula guru, ia harus terus bergerak mengedukasi, menanamkan nilai, dan membangun kesadaran tentang Baitul Maqdis kepada generasi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Syaibani juga mengingatkan bahwa seorang pendidik harus terlebih dahulu memiliki semangat perjuangan sebelum menularkannya kepada orang lain. Ia mengutip sebuah pepatah Arab yang bermakna bahwa seseorang tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya.
“Pompa yang tidak kuat tidak akan mampu memberi kehidupan. Ada pepatah Arab yang mengatakan, ‘Man lam yamlik syai’an lam yu’tihi’ siapa yang tidak memiliki sesuatu, ia tidak akan mampu memberikannya. Karena itu, guru harus terlebih dahulu menguatkan dirinya sebelum menguatkan generasi,” tegasnya.
Ia turut menyinggung kisah Sultan Muhammad Al-Fatih sebagai teladan kesungguhan dalam mempersiapkan kemenangan. Menurutnya, keberhasilan besar selalu diawali dengan proses pembinaan yang panjang, termasuk melalui pendidikan.
Menutup sambutannya, Ketua KITA Palestina itu berharap para guru di lingkungan Wahdah Islamiyah menjadi motor penggerak yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsa melalui jalur pendidikan.
“Saya berharap guru-guru Wahdah Islamiyah menjadi jantung yang terus memompa semangat peserta didiknya agar tumbuh sebagai generasi yang mencintai Al-Aqsa dan siap mengambil bagian dalam perjuangan umat sesuai bidangnya masing-masing,” pungkasnya.
Laporan: Media KITA Palestina














































































