MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR – Peran madrasah dan para guru dinilai menjadi salah satu kunci dalam menyiapkan generasi yang kelak berkontribusi bagi pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Baitul Maqdis.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Dewan Syuro Wahdah Islamiyah, Ust. Ikhwan Jalil, Lc., M.H.I., M.Pd., saat menjadi narasumber dalam Seminar Baitul Maqdis bertajuk “Menyiapkan Generasi Pembebas Masjid Al-Aqsa dan Baitul Maqdis dari Rumah dan Sekolah” yang digelar secara hybrid di Gedung Pusat Dakwah Muslimah Wahdah Islamiyah, Sabtu, (11/7/26).
Dalam pemaparannya, Ustaz Ikhwan mengulas perjalanan sejarah pembebasan Baitul Maqdis. Ia menjelaskan bahwa pembebasan pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Al-Khattab pada tahun 16 Hijriah/637 Masehi, disusul pembebasan kedua oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 583 Hijriah/1187 Masehi.
Adapun pembebasan berikutnya, menurutnya, merupakan amanah yang harus dipersiapkan oleh umat Islam pada masa kini.
“Pembebasan pertama dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab, pembebasan kedua oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, sedangkan pembebasan ketiga menjadi pekerjaan rumah bersama kaum muslimin. Karena itu, kita harus menyiapkan generasi yang mampu memikul amanah tersebut,” ujarnya.

Ia kemudian mengisahkan perjuangan Ahmad Imaduddin Zanki yang dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki. Menurutnya, keberhasilan Nuruddin membangun fondasi pembebasan tidak diawali dari peperangan, melainkan melalui gerakan pembaruan (ishlah) di bidang pendidikan, dakwah, dan persatuan umat.
“Nuruddin Zanki memulai perjuangan dengan memperkuat peran madrasah dan ulama, membangun kolaborasi antara lembaga pendidikan dan kepemimpinan, kemudian mewujudkan persatuan umat. Dari fondasi inilah lahir generasi seperti Shalahuddin Al-Ayyubi,” jelasnya.
Ustaz Ikhwan menjelaskan bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi, yang semasa kecil bernama Yusuf, tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan pembinaan yang dibangun oleh Nuruddin Zanki.
Hal itu, menurutnya, menunjukkan bahwa kemenangan besar lahir dari proses pendidikan yang panjang dan berkesinambungan.

Menutup materinya, Ustaz Ikhwan mengajak Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah beserta seluruh guru untuk mengambil peran strategis dalam menyiapkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, dan kepedulian terhadap Al-Aqsa melalui penguatan madrasah dan sinergi dengan para ulama.
“Saya mengajak Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah bersama seluruh guru untuk berjihad melalui pendidikan, memperkuat peran madrasah, serta membangun kolaborasi dengan para ulama. Dari sinilah akan lahir generasi yang siap melanjutkan estafet perjuangan umat,” pungkasnya.
Seminar tersebut diikuti para guru dan tenaga pendidik di lingkungan Wahdah Islamiyah sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman sejarah Baitul Maqdis sekaligus meneguhkan peran pendidikan dalam membentuk generasi yang mencintai Masjid Al-Aqsa dan Palestina.
Tim Kita Palestina juga memaparkan kerangka silabus Kurikulum Baitul Maqdis dan Muqaddasaat al-Islamiyah (Tanah Suci Kaum Muslimin) kepada para guru sebagai langkah awal pengembangan materi pembelajaran tentang tanah suci umat Islam.
Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan rencana pembentukan Tim Pengembang Kurikulum Baitul Maqdis dan Muqaddasaat al-Islamiyah yang akan dipimpin dan dibina langsung oleh Ustaz Muhammad Ikhwan Jalil, Lc., M.H.I., M.Pd., selaku Pembina YPWI dan Pembina Kita Palestina. Kurikulum ini diharapkan menjadi pedoman pembelajaran yang sistematis dalam menumbuhkan pemahaman dan kecintaan generasi Muslim terhadap Baitul Maqdis dan tanah suci kaum muslimin.
Laporan: Media KITA Palestina













































































