MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA – Upaya memperkuat literasi zakat tidak hanya dilakukan melalui program lapangan, tetapi juga melalui penguatan kapasitas intelektual generasi muda. Hal inilah yang dihadirkan Laznas BMH melalui keterlibatan dalam agenda Kampus Zakat, Sekolah Amil, dan Forum Zakat Batch 10 yang digelar secara virtual, dimulai pukul 13.00 WIB (2/4/26).
Dalam forum tersebut, Public Relations BMH, Imam Nawawi, hadir sebagai narasumber yang membahas pentingnya menulis ilmiah dalam pengembangan ekosistem zakat. Bagi BMH, penguatan literasi ini menjadi bagian penting untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang mampu menjawab persoalan umat secara lebih sistematis dan terukur.
Imam Nawawi menekankan bahwa menulis ilmiah tidak bisa dilepaskan dari proses berpikir yang matang. Ia menyampaikan tiga fondasi utama dalam membangun tradisi menulis.
“Pertama, tekun membaca hingga mampu menghasilkan pemikiran sendiri, bukan sekadar mengutip pendapat orang lain. Kedua, menulis dengan gagasan yang lahir dari proses membaca tersebut. Ketiga, menjadikan menulis sebagai keterpanggilan, yaitu bentuk kepekaan terhadap persoalan umat, bangsa, dan dunia,” jelasnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa bagi BMH, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi bagian dari kontribusi nyata dalam membangun solusi berbasis ilmu.
Dalam pemaparannya, Imam juga memberikan contoh konkret bentuk tulisan ilmiah yang relevan dengan dunia zakat. Mulai dari tulisan ilmiah populer hingga jurnal yang meneliti peran lembaga amil zakat dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk di wilayah pesisir.
Ia juga menegaskan bahwa aspek teknis penulisan bukanlah hambatan utama. Menurutnya, mahasiswa dapat dengan mudah mempelajari teknik penulisan melalui berbagai platform digital seperti YouTube, Google Scholar, hingga teknologi berbasis AI.
“Yang lebih penting adalah keberanian berpikir dan kemampuan merumuskan masalah,” tegasnya.
Diskusi menjadi semakin menarik ketika peserta dari Universitas Brawijaya, Dewi Masita, mengangkat pertanyaan tentang kecenderungan riset zakat yang lebih banyak berfokus pada mustahik. Ia mempertanyakan peluang penelitian yang menjadikan muzakki sebagai subjek kajian.
Menanggapi hal tersebut, Imam menjelaskan bahwa fokus pada mustahik selama ini merupakan bagian dari upaya membuktikan bahwa zakat mampu menjadi solusi sosial, termasuk mendorong transformasi mustahik menjadi muzakki. Namun, ia juga membuka ruang yang luas untuk penelitian tentang muzakki, termasuk dalam konteks zakat perusahaan.
“Kedepan riset dapat diarahkan untuk melihat dampak zakat terhadap efektivitas kepemimpinan, manajemen, dan budaya spiritual di lingkungan perusahaan. Hal ini menjadi peluang besar untuk memperluas perspektif dalam kajian zakat, utamanya zakat perusahaan,” ulasnya.
Imam menegaskan bahwa kunci utama dalam menulis ilmiah adalah memastikan topik yang diangkat bersifat problemable, yaitu benar-benar merupakan persoalan yang dapat diteliti dan dijawab secara ilmiah.
Melalui forum ini, BMH menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi lembaga penyalur zakat, tetapi juga bagian dari penggerak pemikiran dan literasi zakat di kalangan akademisi.
“Langkah ini menjadi penting, karena pengelolaan zakat ke depan membutuhkan dukungan riset yang kuat,” tegas Imam.
Dengan demikian, zakat tidak hanya hadir sebagai praktik ibadah. Secara berkelanjutan zakat bisa hadir sebagai sistem sosial yang terus berkembang, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Laporan: Humas BMH

















































































