Angka penggunaan media sosial diIndonesia sangat tinggi. Dari data yang dilansir dari website Kompas.com, laporan dari agensi marketing We Are Social dan platform manajemen media sosial Hootsuite mengungkap bahwa lebih dari separuh penduduk di Indonesia aktif menggunakan media sosial pada Januari 2021.
Dalam laporan berjudul Digital 2021: The Latest Insights Into The State of Digital itu, disebutkan bahwa dari total 274,9 juta penduduk di Indonesia, 170 juta di antaranya telah menggunakan media sosial. Dengan demikian, angka penetrasinya sekitar 61,8 persen.
Selain itu, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari laporan We Are Social dan Hootsuite, Rabu (24/2/2021), rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial. Penggunaan aplikasi WhatsApp rata-rata menghabiskan 30,8 jam per bulan, kemudian Facebook dengan 17 jam per bulan, dan Instagram dengan 17 jam per bulan. TikTok menyusul di urutan keempat dengan rata-rata waktu penggunaan 13,8 jam per bulan, kemudian Twitter di posisi kelima dengan 8,1 jam per bulan.
Banyak dampak yang terjadi dari penggunaan sosial media ini. Salah satu dampaknya yaitu adanya gambar atau video yang unfaedah jika mengakses sosial media, salah satunya Facebook. Tetapi mau tidak mau kita memang membutuhkan media sosial sebagai tempat kita untuk mendapatkan informasi baik itu informasi tentang dunia, agama, pendidikan dan lain sebagainya. Apalagi sekarang masih dalam masa pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita menggunakan sosial media untuk bisa berkomunikasi dan menjadikannya sebagai media untuk belajar.
Berdakwah merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Berdakwah bukan hanya untuk mereka yang paling paham agama, tetapi juga bagi mereka yang minimal sudah mengetahui dan memahami satu ilmu. Contohnya tentang sedekah, jika kita sudah memahami tentang hal tersebut maka kita mesti menampaikannya, sampaikan dalilnya, apa keutamaannya dan manfaatnya, serta kepada siapa saja kita bersedekah dan sebagainya.
Jika menunggu untuk memahami semua ilmu lalu kemudian ingin berdakwah maka hari ini pun akan banyak orang yang minim pengetahuan akan agama Islam ini, karena mereka harus mencari ulama yang paham akan segala hal dalam urusan agama, sedangkan ulama tidak terdapat disetiap pelosok-pelosok desa.
Tanpa adanya orang yang berdakwah, maka bagaimana jadinya umat muslim yang ada didunia ini terkhususnya di Indonesia. Begitu mirisnya ketika kemungkaran merajalela dimana-mana. Tidak ada lagi hal-hal ang membatasi seorang muslim dengan kemungkaran jika tidak ada yang menampaikan dakwah. Baik itu dakwah lisan, perbuatan, maupun tulisan, itu semua merupakan hal yang sangat penting.
Melihat sekarang tekhnologi sudah semakin canggih dan penyebaran informasi dan konten-konten yang merujuk kepada kemungkaran sudah hal yang tidak asing lagi dan adanya hal-hal ang tidak sepatutnya dicontoh, itu sudah cukup untuk menggerakkan hati kita bagaimana menyadarkan saudara-saudari kita dan memberikan pemahaman mengenai kemungkaran-kemungkaran yang akan membawa mereka dalam tebing kehancuran, yakni rusaknya aqidah, akhlak, rasa malu dan sebagainya.
Melihat tekhnologi sudah semakin canggih, orang-orang sudah lebih banyak menghabiskan waktunya disosial media, maka dari itu sudah semestinya kita mengobarkan semangat untuk berdakwah disosial media. Siapa lagi yang akan mengingatkan saudara-saudari kita untuk melakukan hal-hal kebaikan dan dan mencegah mereka dalam melakukan hal kemungkaran jika bukan kita sebagai saudaranya.
Kita bisa melihat sendiri bagaimana orang-orang kafir ingin merusak umat Islam saat ini dengan aplikasi-aplikasi sosial media yang mereka buat, Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya. Itu semua mereka buat untuk menyebarkan hal-hal kemungkaran yang bisa membuat keimanan seorang muslim bisa terguncang bahkan sampai membuat mereka murtad. Karena itulah yang merupakan tujuan utama mereka yakni menginginkan agar kita semua umat muslim keluar dari agama kita dan mengikuti agama mereka.
Jika dulunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah melalui lisan dan perbuatan, maka dizaman ini selain semua itu kita juga harus berdakwah melalui sosial media. Mengapa harus berdakwah disosial media? Agar konten-konten, poster, tulisan-tulisan yang kita sebar disosial media bisa jadi pengingat bagi saudara-saudari kita, agar postingan-postingan orang-orang kafir yang merujuk kepada kemungkaran bisa diminimalisir bahkan kita berharap agar postingan kemungkaran yang mereka share akan tenggelam karena banyaknya dakwah-dakwah yang kita sebar disosial media, tidak ada lagi ruang untuk postingan-postingan yang membawa kita dalam hal kemungkaran.
Adapun rujukan kita dalam berdakwah yakni dalam firman-Nya yang berbunyi:
Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran : 104).
Pada ayat ini Allah memerintahkan orang mukmin agar mengajak manusia kepada kebaikan, menyuruh berbuat makruf, dan mencegah perbuatan mungkar. Dan hendaklah di antara kamu, orang mukmin, ada segolongan orang yang secara terus-menerus menyeru kepada kebajikan yaitu petunjuk-petunjuk Allah, menyuruh (berbuat) yang makruf yaitu akhlak, perilaku dan nilai-nilai luhur dan adat istiadat yang berkembang di masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, dan mencegah dari yang mungkar, yaitu sesuatu yang dipandang buruk dan diingkari oleh akal sehat. Sungguh mereka yang menjalankan ketiga hal tersebut mempunyai kedudukan tinggi di hadapan Allah dan mereka itulah orang-orang yang beruntung karena mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat (Tafsir Wajiz Qur’an Kemenag).
Perlu kita ingat bahwa ketika kita mengupload suatu dakwah disosial media baik itu berupa renungan atau ilmu kemudian ada saudara kita yang tersentuh hatinya atau mengamalkan ilmu yang dia lihat dipostingan kita, maka in syaa Allah kita akan mendapat balasan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala terlebih lagi ketika orang tersebut istiqamah dalam mengamalkannya. Dan jikalaupun kita sudah meninggal dunia, maka pahala akan terus mengalir kepada kita.
Intinya ketika kita ingin melakukan sesuatu maka niatkan karena Allah agar tidak ada rasa kecewa yang akan kita rasakan ketika hasil tak sesuai ekspektasi. Ketika mengupload sebuah dakwah disosmed kemudian tidak ada yang menyukai atau melike postingan kita, maka jangan bersedih, karena kita kembalikan keniat awal kita bahwa kita melakukan semua itu untuk meraih ridho Allah dan menginginkan agar dakwah bisa tersebar disosial media.
Kita lakukan semuanya untuk menekan dan menenggelamkan postingan-postingan yang unfaedah. Dan semua itu tidak bisa kita raih tanpa keyakinan. Jika kita ragu, maka keragu-raguan itu akan membuat kita kurang bersemangat untuk menjalankan dakwah dimedia sosial ini. Tapi ketika kita yakin, maka keyakinan itu akan membawa kita pada tujuan mulia kita. Ingatlah kata Muhammad Al-Fatih ketika pasukannya tidak yakin dengan salah satu strategi yang dibuatnya untuk menaklukkan Konstantinopel yaitu membawa kapalnya mendarat digalata kemudian diangkat dengan melewati bukit yang tingginya 60 meter, ia berkata:
“Jangan bilang pada saya tidak mungkin, sebelum kamu mati dalam mencobanya.”
Jadi jika kita ingin mencapai suatu hal maka harus dibarengi dengan keyakinan. Jika ada 100 pemuda yang ingin berjuang menyebarkan dakwah disosial media dan menginginkan agar postingan-postingan kemungkaran bisa ditenggelamkan oleh dakwah-dakwah yang membanjiri sosial media, maka pastikan salah satu diantaranya adalah kita. Jika ada 10 pemuda yang mau memperjuangkan hal tersebut, maka pastikan salah satu diantaranya adalah kita. Dan jika hanya ada 1 pemuda yang memperjuangkan tujuan mulia tersebut, maka pastikan pemuda itu adalah kita.
Mari berjuang bersama dalam jalan dakwah ini, karena ikut atau tidak ikutnya kita memperjuangkan dakwah salah satunya dimedia sosial, maka Islam nantinya akan tetap jaya. Tergantung dari kita, apakah kita mau menjadi salah satu yang menjayakan Islam dengan berdakwah atau tidak sama sekali, menjadi pemain atau hanya jadi penonton, semua tergantung dari pilihan kita. Maka sekarang tentukanlah pilihanmu!.
***********
Penulis: Winda Yuliana
(TIM FMDKI News dan Alumni Kelas Jurnalistik dan Media Daar Al-Qalam)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































