Memahami Silaturahmi dalam Pengertian yang Luas
Menurut wanita Muslimah, bentuk silaturahmi itu sangat beraneka ragam, sangat luas ruang lingkupnya serta sangat beragam pula pola dan caranya. Suatu saat berbentuk pemberian materi kepada kerabat yang miskin, atau menghindarkan permasalahan, atau mengnibur dan menghilangkan kesedihan, dan terkadang berbentuk kunjungan kepada kerabat yang disertai kasih sayang yang dapat mempererat tali kekerabatan dan mengalirkan sumber cinta dan kasih sayang. Pada saat yang lain berbentuk ungkapan kata-kata yang baik, senyuman yang menyejukkan dan sambutan yang menyenangkan, dan terkadang berbentuk nasihat dan kelembutan. Dan, cara-cara lain yang termasuk perbuatan baik dan kasih sayang yang dapat menghidupkan rasa kemanusiaan, menyuburkan rasa cinta, kasih sayang dan rasa tolong-menolong antara kaum kerabat.
Oleh karena itu datang petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang memerintahkan untuk senantiasa menyambung tali kekerabatan ini meski dalam bentuk yang sangat sederhana, seperti yang disabdakan beliau berikut ini,
“Basahilah kerabat-kerabat kalian meski hanya dengan ucapan Salam.” (HR. Ibnu Abbas)
Menyambung Tali Kekerabatan Meski Mereka Tidak Menyambungnya
Wanita Muslimah yang berpegang teguh pada petunjuk agamanya yang haq akan senantiasa menyambung tali kekeluargaan dengan kerabat-kerabatnya meski mereka memutuskannya. Dia tidak becermin pada perlakuan mereka, di mana dia akan menyambung tali kekeluargaan apabila mereka menyambung, dan memutuskan apabila memutuskannya. Yang demikian itu dilakukannya dengan tujuan mencari keridhaan Allah. Bukan bertujuan supaya kerabat-kerabatnya juga menyambung tali kekeluargaan tersebut atau supaya mendapatkan imbalan atasnya. Dengan tindakan dan akhlaknya itu dia telah memberikan contoh yang baik bagi akhlak kemanusiaan yang tinggi yang oleh Islam senantiasa ditanamkan dalam diri kaum Muslimin dan Muslimat. Sesungguhnya anak tangga yang sulit dicapai kecuali oleh orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah dan yang jiwanya senantiasa tertuju pada keridhaan-Nya. Wanita Muslimah yang selalu mendapatkan pancaran cahaya petunjuk agamanya termasuk golongan wanita-wanita agung yang senantiasa mempergauli kaum kerabatnya secara baik sebagai wujud pengamalan sabda Rasulullah ,
“Bukanlah orang yang menyambung tali kekeluargaan itu yang memberi imbalan, tetapi yang apabila diputuskan hubungan oleh kerabatnya dia menyambungnya. ” (HR. Bukhari).
Itulah akhlak kemanusiaan yang mempunyai nilai tinggi yang dikehendaki Islam supaya seluruh kaum Muslimin mengenakannya dalam bergaul dengan kaum kerabat dekat maupun jauh. Oleh karena itu, datanglah petunjuk Nabi yang menanamkan pada diri mereka beberapa akhlak mulia berupa santun, sabar, pemaaf, dan toleran, khususnya pada diri orang yang menyambung tali kekeluargaan dengan kaum kerabatnya yang memutuskan, meretakkan dan menjauhkan hubungan serta bersikap kurang baik dengannya, dengan penuh keyakinan bahwa Allah senantiasa bersama orang yang menyambung tali kekeluargaan. Petunjuk Rasulullah itu melukiskan sebuah gambaran yang menakutkan tentang siksaan yang akan diberikan kepada orang-orang yang sombong dan angkuh terhadap kaum kerabat dan yang memutuskan hubungan kekeluargaan. Dikisahkan, ada seseorang yang pernah datang kepada Rasulullah seraya bertutur, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa kerabat yang senantiasa aku sambung tali kekeluargaannya, tetapi mereka memutuskan hubungan kekeluargaan denganku, aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku, aku berbuat santun kepada mereka, tetapi mereka malah bersikap bodoh kepadaku.” Maka Rasulullah menjawab, “Apabila kamu benar berbuat seperti yang engkau katakan, maka mereka seakan-akan menelan bara api yang sangat panas. Dan, Allah akan senantiasa bersamamu mengalahkan mereka selama engkau tetap berbuat seperti itu.” (HR. Muslim).
Begitu besar ibadah silaturahmi dalam timbangan amal orang Mukmin. Betapa celakanya orang-orang yang mengabaikan dan menolaknya, orang yang memutuskan talinya baik laki-laki maupun perempuan. Dan, begitu besar pahala wanita yang menyambung tali kekeluargaan, yang senantiasa bersabar atas perlakuan kerabat-kerabatnya yang selalu memutuskan hubungan dengannya, hingga Allah akan membantunya menghadapi mereka, dan mengisi hatinya dengan kesabáran atas perlakuan yang menyakitkan dari mereka, serta membantunya untuk berteguh hati mempertahankan akhlak kemanusiaan yang mulia itu. Dan, betapa besar doa orang yang memutuskan hubungan silaturahmi. Di mana hal itu telah dipermisalkan oleh Rasulullah seperti pemakan bara api yang sangat panas, sebagai balasan terhadap perbuatannya memutuskan hubungan Kekeluargaan yang dilakukan oleh orang yang menyambungnya.
Bertolak dari hal di atas, wanita Muslimah yang jujur senantiasa menyambung tali kekeluargaan kapan dan di mana saja, tidak pernah akan memutuskannya meskipun kerabat-kerabatnya memutuskannya, dengan tujuan mencari keridhaan Allah s, dan meninggalkan tindakan bodoh dan perbuatan buruk yang seringkali dilakukan oleh sebagian kerabatnya. Dia juga menghindari segala bentuk perbuatan hina yang sering dilakukan oleh banyak orang dan menjadikan hati mereka tidak tenang. Hal itu diiringi dengan keyakinan bahwa dirinya tidak akan melakukan perbuatan hina dan bodoh seperti itu yang hanya akan merusak amal shaleh dan mencemari hubungan kekeluargaan. Dia tidak akan pernah menuruni tingkatan terendah itu, dan senantiasa mengingat sabda Rasulullah
“Ar-Rahim (kekerabatan) itu bergantung di atas Arsy, dia berkata, ‘Siapa yang menyambungku, niscaya Allah akan menyambungnya, dan barangsiapa memutuskanku, maka Allah akan memutuskan- nya’.” (Muttafaq Alaih)
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 227-229)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































