Sampai hari ini kita masih mendengar nama Imam al-Syafi’i, Imam al-Asy’ari, Imam al-Ghazali atau ulama lainnya. Padahal, ada jarak yang sangat jauh antara kita dan ulama itu. Kita tidak pernah jumpa dengan mereka, belum pernah duduk di majlisnya, bahkan melihat mereka dalam mimpi pun tidak.
Jasad para ulama itu memang telah dimakamkan, namun nama besarnya belum berhenti diceritakan. Sejak dulu sampai hari ini, secara lisan maupun tulisan.
Mengapa orang-orang hari ini masih mengenal para imam itu? Apa yang membuat para ulama itu seperti tak pernah mati? Sependek yang saya ketahui, setidaknya ada dua faktor penyebabnya. Pertama, karya hebat yang bermanfaat. Kedua, murid setia yang bersahabat. Tulisan ini akan coba mengurainya secara singkat.
Tentang karya, memang sudah selayaknya ulama menyebarkan ilmunya _bil kalam_ (lisan) dan _bil qalam_ (tulisan). Ini adalah satu tradisi ilmu yang perlu dijaga. Dengan kapasitas dan otoritas keilmuan yang dimiliki, para ulama itu menulis karya yang dibutuhkan umat.
Karya ilmiah yang menjadi panduan memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara benar. Selain itu, karya ilmiah mereka juga ditulis untuk menjaga keyakinan umat dari berbagai tantangan pemikiran yang tersebar.
Dari tangan Imam al-Syafi’i lahir _al-Risalah._ Kitab pertama dalam bidang ushul al-fiqh yang menjadi panduan utama memahami dalil-dalil agama. Dari Imam al-Asy’ari lahir kitab _Maqalat al-Islamiyyin_ dan _al-Luma’_ yang menjadi benteng aqidah dari pemikiran kelompok yang menyimpang. Dari imam al-Ghazali lahir _Ihya’ ‘Ulumiddin_ yang menjadi rujukan utama penyucian jiwa dan rekonstruksi peradaban.
Semua karya ilmiah ditulis dengan penuh kesungguhan sehingga menjadi karya monumental. Selain itu, keikhlasan para ulama ini membuat karyanya itu memiliki ruh untuk terus hidup sampai hari ini.
Selanjutnya, murid setia yang bersahabat. Merekalah motor penggerak yang membuat karya para ulama itu menjadi tersebar ke penjuru dunia. Murid-murid ini bukan hanya mempelajari karya ilmiah gurunya, tapi melanjutkannya dengan kerja ilmiah berikutnya. Ada yang mencatatnya, mengajarkan, mensyarahkan, meringkas, dan tentu saja menyebarkannya. Estafet ini dilanjutkan oleh para murid dari generasi ke generasi sampai kepada kita hari ini.
Secara fisik, para ulama itu memang sudah wafat dan jasadnya pun sudah dikebumikan. Namun pemikiran, sumbangan dan jasanya terhadap peradaban Islam membuat mereka tetap hidup sampai hari ini. Setiap kali membaca karya mereka, kita bisa merasakan seperti sedang menyimak penjelasan dari para guru besar. Kajian yang muncul hari ini juga membuktikan bahwa sosok para ulama dan pemikirannya tidak mengenal kadaluarsa apalagi basi. Relevansi pemikirannya tetap terasa bagi mereka yang memandangnya dengan jeli, teliti dan disertai kebersihan hati.
Kini, tongkat estafet itu ada di hadapan kita. Bagi yang mampu, tentu bisa melanjutkan kerja ilmiah para ulama terdahulu. Bisa mengajarkan kitabnya, menulis pemikirannya, atau menerjemahkan karyanya. Jika itu berat dilakukan, maka carilah guru yang ahli agar kita bisa belajar kepadanya.
Bagi yang punya kelebihan harta, sangat baik jika mau membeli karya ulama itu untuk dihadiahkan kepada ahli ilmu, atau dibagikan kepada para penuntut ilmu. _‘Ala kulli hal,_ setiap kontribusi kita yang berkaitan dengan kerja-kerja ilmiah, maka akan bernilai kebaikan.
Para ulama itu adalah orang-orang mulia yang akan terus hidup di hati umat. Seperti kata Sang Gerbang Ilmu, Sayyidina Ali ra,
“Berbahagialah dengan ilmu, kamu akan hidup abadi bersamanya. Manusia boleh saja mati, sedangkan ahli ilmu akan tetap hidup selamanya.”
**********
Kalimulya, 27 Juni 2021
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)















































































