Hidup dan mati kita, sehat dan sakit kita, hakikatnya atas kehendak Allah Swt. Namun demikian, seringkali kita “tidak terima” ketika suatu musibah terjadi. Oleh karena itu, patut kita menyimak firman Allah di dalam Al Quran:
“(yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, yang dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).” (QS Asy-Syu’ara [26]: 78-81)
“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am [6]: 17-18)
“Dialah Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al Mulk [67]: 2)
Dengan menyadari bahwa semua itu hakikatnya dari Allah, maka hati kita akan mudah untuk pasrah. Kita bisa menerima suatu keadaan yang tidak diinginkan karena kita sudah mengetahui Allah mempunyai maksud tertentu dengan keadaan ini. Mungkin Allah ingin menguji kita, Allah ingin menaikkan derajat kita, Allah ingin menggugurkan dosa-dosa kita, dan sebagainya. Dengan demikian, sangat penting bagi seorang muslim mengetahui bahwa hidup, mati, sehat, dan sakit hakikatnya dari Allah Swt.
Sakit, Salah Satu Ujian Keimanan Agar Kita Sabar dan Ikhlas
Allah menguji manusia dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan memberikan kepadanya penyakit. Seperti sudah disampaikan tadi, Allah memberikan ujian tersebut mengandung maksud bagi penderitanya. Sakit boleh dibilang adalah ujian keimanan dari Allah Swt., karena di dalam sakit kita dituntut untuk pasrah, tawakal, sabar, dan ikhlas. Allah berfirman :
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah [2]: 155-157)
Seorang mukmin ketika tertimpa musibah maka ia bersabar, sembari mengucapkan, Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Ucapan ini disebut istirja’ atau pernyataan kembali kepada Allah. Apabila seseorang tertimpa musibah, besar maupun kecil, disunahkan untuk mengucapkan kalimat ini. Jika sabar dan ikhlas menerima penyakit atau ujian tersebut maka ia telah lulus dalam ujian keimanan. Allah akan memberikan keberkahan dan rahmat bagi orang tersebut. Allah berfirman:
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud [11]: 115)
Musibah, Termasuk Sakit, Salah Satu Bukti Cinta Allah pada Hamba-Nya
Salah satu bukti Allah mencintai hamba-Nya tidak selalu diberikan anugrah, tapi juga diujinya dengan musibah. Sakit adalah satu satu bentuk ujian tersebut.
Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila Allah mencintai (mengasihi) hamba-Nya, maka Ia akan mengujinya/menurunkan cobaan (musibah) padanya untuk mendengar rintihannya/permohonannya.” (HR Baihaqy dari Abu Hurairah)
Dengan sakit maka seseorang dengan khusyuk berdoa. Ia merintih berdoa dengan penuh pengharapan kepada Rabnya. Allah senang mendengar permohonan hamba-Nya itu. Perasaan seperti ini pun saya alami, yaitu berdoa dengan kekhusyukan yang berbeda daripada doa-doa sebagaimana biasanya. Allah SWT terasa sangat dekat.
Ketika Sakit, Kita Diperintahkan Berobat
Rasulullah Saw. memberikan tuntunan, apabila kita sakit maka kita diperintahkan berobat dengan hal-hal yang dihalalkan. Apabila kita menjalani hal ini, yaitu berobat dengan ikhlas dan sabar maka upaya ini termasuk ibadah yang bernilai pahala di mata Allah. Rasulullah Saw. bersabda :
Rasulullah Saw. bersabda, “Ingatlah, setiap penyakit pasti ada obatnya. Karena itu (jika kalian sakit) berobatlah kalian. Tetapi janganlah kalian berobat dengan barang yang haram.” (HR. Nasa’i)
Jadi kalau kita sakit, kemudian pergi ke dokter, dan oleh dokter kita diberikan obat serta nasihat yang harus dilakukan (atau dipantangkan), dan kita pun melakukannya, maka ini sudah tergolong ibadah. Namun demikian Rasulullah Saw. mendorong kita untuk berobat dengan hal-hal yang halal, sekaligus melarang berobat dengan barang yang haram. Termasuk di antaranya adalah pergi mendatangi dukun-dukun yang menggunakan cara-cara syirik. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi paranormal atau dukun (kahin), maka sungguh dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad (Al Qur’an).” (HR. Ahmad dan Hakim)
Karena berobat itu ibadah, maka ibadah tidak diperkenankan dengan sesuatu yang haram. Rasulullah Saw. menyebutkan jika ingin menjadi ahli ibadah maka ia harus menjauhi barang-barang haram. Sabda beliau Saw, “Tunaikanlah apa yang telah difardhukan Allah atas dirimu, niscaya kamu termasuk orang yang dianggap paling giat beribadah. Jauhilah apa yang telah diharamkan Allah atas dirimu, niscaya kamu termasuk orang yang dianggap paling wara’ (berhati-hati). Dan terimalah dengan hati rela terhadap apa yang telah Allah bagikan kepadamu, niscaya kamu dianggap menjadi orang yang paling kaya.” (HR. Ibnu Adi dari Ibnu Mas’ud)
Dengan demikian, ketika sakit datang maka berobatlah sesuai dengan yang dianjurkan Rasulullah. Insya Allah sembuh dan dapat pahala. Disamping berobat, juga terus berdo’a kepada Allah, agar Ia menyembuhkan penyakit tersebut.
Rasulullah Saw. bersabda, “Yaa Allah Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah (sembuhkanlah) penyakit (ini). Engkau adalah Dzat yang dapat memberikan kesembuhan. Tidak ada Dzat yang dapat menyembuhkan kecuali Engkau, yakni berupa kesembuhan yang tidak mengakibatkan kesakitan.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
Ketika Sehat Harus Bersyukur, Ketika Sakit Harus Bersabar
Sungguh nikmat menjadi seorang muslim. Ketika ia sehat atau mendapatkan anugrah ia bersyukur. Maka Allah akan menambahkan nikmatnya. Namun kadangkala nikmat sehat itu jarang disadari kalau belum merasakan sakit. Sehingga sedikit sekali orang yang bersyukur karena nikmat sehat ini. Dianggapnya biasa-biasa saja. Allah memang sudah memberitahu kita bahwa orang yang bersyukur itu tidak banyak. Firman-Nya :
“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS Saba’ [34]: 13)
Tatkala sakit, ia bersabar dan dengan kesabarannya itu akan menghasilkan ibadah. Sehingga apapun yang terjadi pada diri seorang muslim, ujung-ujungnya adalah pahala. Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh sangat mengagumkan urusan orang yang beriman; sesungguhnya setiap urusannya itu akan bernilai kebaikan, dan semuanya itu tidak (diperuntukkan) kecuali hanya bagi orang mukmin saja. Jika kesenangan itu menimpa kepadanya, maka dia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan buatnya; dan jika kesengsaraan itu menimpanya, maka dia bersabar, dan hal itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari Suhaib)
Oleh karena itu, jika seorang muslim tertimpa musibah ia bisa dapat dua keuntungan, tapi juga bisa dapat dua kerugian. Keduanya tergantung sikapnya terhadap musibah tersebut. Dapat dua keuntungan apabila ia tawakal, sabar, ikhlas dan berobat sesuai tuntunan Nabi Saw. Dengan demikian ia mendapatkan ketenangan hati sekaligus mendapatkan pahala atas kesabarannya itu. Bahkan dalam keterangan (hadits) lain, dosa-dosanya pun berguguran. Syukur-syukur penyakitnya segera sembuh. Dua kali keuntungan. Ibarat, nasi menjadi bubur, tapi bubur ayam yang enak dan sedap.
Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang diuji lalu ia bersabar, diberi (nikmat) lalu ia bersyukur, dianiaya lalu ia mengampuni (memaafkan), menganiaya lalu ia meminta ampun (maaf), maka bagi mereka (mendapatkan) keamanan dan mereka termasuk orang yang mendapatkan petunjuk.” (HR. Baihaqy)
Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak seorang muslimpun yang tertimpa suatu musabah, penyakit ataupun yang lainnya, melainkan Allah SWT mengugurkan (menghapuskan) dengan sebab sakit tersebut, dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang ditimpa musibah pada dirinya, melainkan Allah SWT memerintahkan (malaikat-malaikat-Nya) untuk memelihara orang itu. Tuliskanlah olehmu wahai Malaikat untuk hamba-Ku itu pada tiap hari dan malam, berupa kebaikan yang biasa dia kerjakan, selama dia dalam tali pengikat-Ku.” (HR. Hakim)
Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang menderita kelelahan, sakit, kesusahan dan kesedihan, bahkan terkena duri (sekalipun), melainkan semua kejadian itu, merupakan penebus bagi dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun jika ia marah, tidak menerima keadaan, su’udzan kepada Allah, berputus asa, maka selain sakitnya bertambah parah, Allah pun akan menghukumnya. Dua kali ia merugi. Ibarat, sudah jatuh tertimpa tangga. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah menyukai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaannya, dan barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan.” (HR Tirmidzi)
Nikmat Doa dan Ibadah serta Nikmat Ukhuwah Islamiyah
Ternyata dalam sakit, atau musibah pada umumnya, terdapat kenikmatan-kenikmatan yang bisa kita alami. Di antaranya adalah nikmat doa dan ibadah, juga nikmat ukhuwah di antara sesama muslim. Nikmat doa dan ibadah akan lebih terasa berbeda dibanding hari-hari biasa. Doa dan ibadah terasa lebih khusyuk sehingga kita bisa menemukan kenikmatan di sana. Kita akan merasa sangat dekat dengan Allah ketika kita berdoa dan beribadah seperti itu. Kita bahkan akan merindukan masa-masa kenikmatan ibadah tersebut ketika ibadah dijalani seperti biasa.
Rasulullah saw bersabda, “Aku merasa heran (takjub) terhadap orang mukmin yang mengeluh di dalam sakitnya. Andaikata ia mengetahui pahala sakitnya itu, niscaya ia senang jika ia tetap dalam keadaan sakit sampai bertemu dengan Allah Azza Wajalla (meninggal dunia).” (HR. Thabrani dari Ibn Mas’ud)
Sementara itu, sakit yang kita derita melahirkan kenikmatan ukhuwah Islamiyah. Karena Islam mengajarkan bahwa menjenguk orang sakit merupakan kewajiban bagi setiap muslim pada muslim lainnya maka hal ini akan menumbuhkan ikatan hati yang kuat di antara orang yang sakit dan saudaranya yang menengoknya.
Rasulullah Saw. bersabda, “Kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lainnya ada enam: Jika dia bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya; jika ia mengundangmu, maka kabulkanlah; jika dia minta nasihat, maka berilah dia nasihat; apabila dia bersin lalu memuji Allah, maka bertasymit (mendo’akan)lah kepadanya; jika ia sakit, maka jenguklah; dan jika dia meninggal dunia, maka iringkanlah jenazahnya (sampai ke kuburan).” (HR. Bukhari dan Abi Hurairah)
Di sana akan terasa bahwa masing-masing ikut merasakan kepedihan penyakit yang diderita saudaranya. Sehingga beban menjadi terasa ringan.
Di kali lain Rasulullah Saw. bersabda, “Engkau akan melihat orang-orang yang beriman dalam kasih sayang mereka, dalam kecintaan mereka dan dalam keakraban mereka antar sesamanya adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasakan sakit, maka sakitnya itu akan merembet ke seluruh tubuhnya, sehingga (semua anggota tubuhnya) merasa sakit, dan merasakan demam (karenanya).” (HR. Bukhari)
Akhirnya, setelah kita mengalami sendiri, kita dapat menyimpulkan bahwa menjaga kesehatan dan mencegah sakit, lebih baik daripada mengobatinya. Islam pun telah memberikan tuntunan seperti itu. Allah dan Rasul-Nya telah mewanti-wanti hal ini.
Begitulah, berbagai ujian, cobaan, musibah, termasuk di dalamnya penyakit yang kita derita mengandung banyak hikmah yang bisa kita renungkan. Dengan demikian kita akan mendapatkan banyak manfaat dari renungan dan hikmah tersebut, tidak saja bagi yang sakit, tapi bagi siapa saja yang dapat memetik hikmah atas kejadian tersebut.
************
Disarikan dari buku Sakit Membawa Nikmat karangan KH Didin Hafidhuddin
Editor: Dr. Budi Handrianto, M.Pd.I
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)


















































































