Bangsa besar adalah bangsa yang masyarakatnya menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan yang merupakan jati diri bangsa, serta ditunjang oleh pelaksanaan pendidikan yang menyenangkan dalam lingkungan yang harmonis.
Pendidikan yang menyenangkan hakekatnya untuk menumbuhkan potensi agar orang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta terhadap kebaikan untuk bangsa cerdas dan bermartabat.
Dengan demikian pendidikan yang diselenggarakan bukan hanya untuk menghasilkan manusia yang intelek namun juga untuk menghasilkan manusia yang berkarakter sebagai wujud amanat dari Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku pendidikan untuk mencapai tujuan yang dimaksud dalam situasi Covid-19.
Situasi ini merambah segala aspek kehidupan termasuk pendidikan.
Berbagai upaya pemerintah telah lakukan mulai social distancing sampai diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar untuk mencegah penularan.
Situasi demikian bukanlah penghalang terlaksananya proses pembelajaran.
Belajar daring dan luring
Salah satu jalannya dengan mengganti pembelajaran tatap muka di luar jaringan (luring) menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring) dengan seperangkat fasilitas yang tersedia.
Pemanfaatan media daring bisa menjadi solusi alternatif agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung, sehingga perlu dirancang lebih fleksibel dengan waktu yang telah disepakati bersama oleh guru, orang tua, maupun siswa.
Pelaksanaan pembelajaran daring lebih fleksibel dan menyenangkan.
Pendidik dapat berinovasi dalam mendesain muatan materi ajarnya agar tetap mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Tujuannya agar terwujud generasi yang memiliki kacakapan sikap dan perilaku secara intelektual dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai moral.
Menurut Thomas Lickona, hal ini diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebaikan.
Pendidikan karakter bukan sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi bagaimana menumbuhkan kebiasaan baik agar anak mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya termasuk dalam tindakan ekonomi.
Kebiasaan baik ini dilakukan secara berkelanjutan dan diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga dapat menjadi model pendidikan karakter dimanapun mereka berada.
Misalnya, pribadi yang terbiasa dengan kebersihan akan terus berupaya menjaga dan menciptakan lingkungan yang bersih dengan penuh kesadaran, tak perlu menunggu momen (misalnya lomba lingkungan bersih).
Pribadi yang terbiasa jujur dalam berekonomi akan selalu berupaya mewujudkan tindakan ekonomi yang jujur, misalnya pedagang yang jujur akan selalu berusaha menjual barang dagangannya dengan prinsip kejujuran.
Barang yang bagus dikatakan bagus, barang yang jelek dikatakan jelek karena prinsip yang dibangun adalah kepuasan yang dilandasai kejujuran dan kemaslahatan bersama, bukan kepuasan individu yang profit oriented.
Agar lebih menarik
Metode pembelajaran daring yang digunakan dirancang untuk melatih siswa agar mempraktekkan secara nyata dalam kehidupannya.
Peran guru dalam merancang strategi pembelajarannya lebih banyak mengangkat materi yang dikaitkan dengan aktifitas-aktifitas ekonomi dalam kehidupan siswa secara nyata dengan pendekatan saintifik (scientific approach) berbasis TPACK (Technological Pedagogical and Content Knowledge).
Dengan pendekatan ini, pembelajaran daring lebih menarik dan menyenangkan karena dapat langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari.
Muatan pendidikan karakter tercermin dalam materi yang telah didesain oleh guru. Dalam konteks pembelajaran daring, karakter yang dikembangkan bersumber dari nilai agama, Pancasila dan budaya, misalnya religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, rasa ingin tahu, cinta tanah air, komunikatif, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan lainnya.
Hal ini sebagai implementasi dari capaian kompetensi inti (spritual dan sikap sosial).
Karakter tersebut dapat diwujudkan untuk mencapai kecakapan hidup (life skill) anak agar lebih mandiri dan bertanggungjawab.
Internalisasi karakter dalam pembelajaran dapat optimal jika ada contoh (model).
Selama pembelajaran daring, orang tua memiliki porsi yang lebih besar mendampingi siswa belajar di rumah, sehingga harus siap menjadi model/teladan bagi anaknya.
Mustahil karakter bisa terbangun dengan baik tanpa adanya keteladanan.
Setiap anak memiliki potensi untuk berkembang, sehingga dibutuhkan lingkungan yang dapat membantu proses tersebut.
Jika lingkungannya baik, maka anak dapat tumbuh dengan baik namun jika terbiasa dalam lingkungan yang buruk maka kemungkinan besar potensi yang tumbuh adalah buruk.
Penilaian pembelajaran daring juga dilakukan secara daring munggunakan jurnal penilaian karakter.
Agar lebih bermakna, karakter anak yang muncul dari sikap dan perilaku selama pembelajaran daring dituliskan dalam jurnal karakter.
Dalam waktu tertentu, orang tua menyampaikan jurnal karakter tersebut kepada guru untuk dijadikan dasar penilaian, sehingga kerja sama tercapaianya hasil belajar yang optimal terus dilakukan walaupun pelaksanaannya daring.
*************
Penulis: Dr. Rahmatullah
(Dosen Universitas Negeri Makassar)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)












































































