Ada banyak sebab yang dapat membuat kita terpengaruh oleh al-Qur an sehingga dari situ kita bisa mengamalkan al-Qur an, dan sebab-sebab tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian: Pertama, sebab-sebab sebelum membaca al-Qur’ an. Kedua, sebab-sebab saat membaca. al-Qur’ an. Ketiga, sebab-sebab sesudah membaca al-Qur’an.
Pertama: Sebab-sebab Terpengaruh Oleh al-Qur’an Sebelum Membacanya
-Mengisi hati secara penuh dengan sikap mengagungkan Allah Subhanahu Wata’ala dan iman yang benar kepadaNya, karena pengambilan manfaat dari al-Qur an dan terpengaruhnya kita olehnya kembali kepada kadar pengagungan ini.
-Mengisi hati secara penuh dengan sikap mengagungkan al-Qur an dan kecintaan kepadanya, dan hal itu termasuk bukti paling kuat atas kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala , sebagaimana Sahl bin Abdullah berkata, “Cinta kepada Allah adalah cinta kepada al-Qur’a an”
-Keinginan kuat dan benar untuk mengambil manfaat dari al-Qur’ an.
-Menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan dan menjalankan ketaatan-ketaatan.
-Merasakan makna-makna al-Qur an melalui telaah terhadap kitab-kitab tafsir rujukan yang disusun oleh para ulama.
Kedua: Sebab-sebab Terpengaruh Oleh al-Qur’an Saat Membacanya
-Hendaknya tujuan membaca al-Qur an hanyalah mencari Wajah Allah Subhanahu Wata’ala , mempelajari hukum-hukum KitabNya, dan melaksanakan perintah Allah dengan membaca al-Qur’an al-Karim.
-Hendaknya membacanya dalam keadaan suci, berwudhu, bersih badan dan pakaian.
-Hendaknya membacanya dengan tadabur, tafakur, khusyu, tenang, dan wibawa, berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wata’ala, “Maka tidakkah mereka menghayati al-Qur an ataukah di hati (mereka) ada penutup-penu- tupnya (terkunci)?” (Qs. Muhammad: 24).
-Hendaknya membacanya dengan pelan dan tenang. Abu ad-Darda’ berkata, “Jauhilah orang-orang yang membaca al-Qur’an dengan cepat,” menggumamkannya dan mereka membacanya dengan cepat, sesungguhnya perumpamaan hal itu adalah seperti bukit pasir yang tidak menahan air dan tidak menumbuhkan padang rumput.
-Hendaknya membaca ayat berulang kali agar bisa merenungkannya dan menimba kandungan makna-maknanya. Al-Qasim bin Ayub berkata, “Aku mendengar Sa’id bin Jubair mengulang-ulang ayat, ” Dan takutlah pada hari (ketika) kalian semua dikembalikan kepada Allah. (Qs. Al-Baqarah: 281), di dalam shalat sebanyak dua puluh kali lebih.”
-Hendaknya memfokuskan hati dan pendengarannya terhadap apa yang dibaca, berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wata’ala, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan (dengan kehadiran hati dan indranya)” (Qs. Qaf: 37).
-Hendaknya menyadari bahwa al-Qur’ an adalah pembicaraan Allah kepadanya, dan bahwa dialah orang pertama yang dimaksudkan oleh pembicaraan tersebut. Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya kalian membagi bacaan al-Qur an menjadi tahapan-tahapan, kalian menjadikan malam sebagai unta, lalu kalian mengendarainya untuk melalui tahapan-tahapannya, sedangkan orang-orang sebelum kalian melihat al-Qur an sebagai pesan Tuhan mereka, maka mereka merenungkannya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari.”
-Hendaknya menjauhi segala hal yang dapat merusak kekhusyu’an dan tadabur saat membaca al-Qur an seperti tertawa, menguap, iseng memainkan pakaian atau bagian tubuh, dan berbicara tanpa keperluan.
-Hendaknya menjaga kebenaran tilawah di samping membaguskan suara saat membaca al-Qur’an, berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wata’ala “Dan bacalah al-Qur an itu dengan tartil (perlahan-lahan).” (Al-Muzzammil: 4)
Dan sabda Nabi , “Hiasilah al-Qur an dengan suara kalian, karena sesungguhnya suara yang bagus menambalh keindahan al-Qur an.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani.
-Hendaknya memperbanyak membacanya siang dan malam, karena siapa yang tekun mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibuka untuknya.
Ketiga: Sebab-sebab Terpengaruh Oleh. al- Qur’an Sesudah Membacanya
-Muhasabah diri laiknya seorang partner yang gigih menuntut haknya dari partnernya, dan ini termasuk bukti terpengaruh oleh al-Qur’ an.
-Taubat dengan benar, karena jika seseorang berdiri di depan cermin al-Qur an, dia akan melihat kelalaiannya, maka dia mem- butuhkan muhasabah dan taubat.
-Memperbaiki diri dan meluruskannya sesuai dengan tuntutan ayat-ayat al-Qur an.
-Mengamalkan al-Qur’an dan mem- praktikkannya di dalam kehidupan nyata.
-Malu kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
-Takut ditolak dan tidak diterima. As-Salaf ash-Shalih, dengan kebaikan mereka
dan kesungguhan mereka dalam beribadah, mereka tetap khawatir bila amal ibadah mereka ditolak dan tidak diterima, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Siapa yang menjamin untukku bahwa Allah tidak akan berfirman kepadaku karena sebagian kemaksiatan yang aku lakukan, Pergilah, Aku tidak menganmpunimu’.”
Muhammad bin al-Munkadir bersedih saat ajal kematian. Dia ditanya, “Mengapa kamu bersedih?” Dia menjawab, “Aku takut kepada satu ayat di dalam Kitab Allah Subhanahu Wata’ala, Allah Ta’ala berfirman, “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang dahulu tidak pernah mereka perkirakan.’ (Az-Zumar: 47).
Sesungguhnya aku khawatir akan nampak untukku dari Allah sesuatu yang tidak aku duga.” (Al-Hilyah).
*************
📚 Sumber : Agar Al-Qur’an Membekas Dalam Dirimu, Prof. Dr. Ahmad al-Masyad dan Prof. Dr. Adil asy-syady, hal 47, cetakan Darul Haq
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah











































































