Kita telah mengetahui bahwa ridha Allah terletak pada ridhanya orang tua. Apabila orangtua merasa ridha terhadap kita, maka Allah pun ridha terhadap kita. Demikian pula sebaliknya apabila orangtua murka terhadap kita, maka Allah pun murka terhadap kita. Dalam Islam, orangtua menempati kedudukan yang sangat istimewa. Bukan berarti kita harus tunduk dan taat terhadap perintah orangtua, namun selagi semua perintahnya tidak bertentangan dengan aturan Allah , kita wajib menaati. Karena kasih dan sayang orangtua kitalah, kita bisa menjadi seperti sekarang. Kalau tanpa kasih keduanya, niscaya kita tidak akan bertahan hidup didunia ini.
Coba bayangkan sewaktu kita lahir. Kita begitu kecil, lemah dan tidak berdaya. Kedua orangtua kita telah melindungi serta merawat sehingga kita bisa mandiri. Pengorbanan kedua orangtua yang begitu besar terhadap anaknya, menyebabkan agama Islam menempatkan keduanya menjadi sosok yang istimewa.
Ridha Allah terletak pada ridhanya orangtua. Apabila kita berbakti terhadap keduanya, bersikap sopan santun dan bersikap lemah lembut, maka keduanya akan merasa sayang dan ridha terhadap kita. Orangtua yang ridha terhadap anaknya, akan selalu memanjatkan doa atas perlindungan dan keselamatan sang anak. Padahal Allah akan mengabulkan doa orangtua atas anaknya. Demikian pula sebaliknya, orangtua yang merasa diperlakukan tidak baik terhadap anaknya, selain pihak orangtua merasa teraniaya karena jerih payahnya tidak berbalas oleh sang anak, mereka akan enggan mendoakan keselamatan sang anak. Sangat menyedihkan hidup kita di dunia tanpa diiringi doa dari kedua orangtua.
Diriwayatkan oleh Abu Bakar , bahwa Rasulullah pernah bersabda; “Allah berkenan mengundurkan dosa-dosa sesuai kehendak-Nya sampai hari kiamat, kecuali dosa anak durhaka kepada ibu-bapaknya, Allah akan mempercepatnya dalam kehidupan ini sebelum ia meninggal dunia.”
Begitu banyak kisah tentang bagaimana pentingnya kita berbakti kepada kedua orangtua kita. Pada suatu hari Rasulullah mendatangi seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Beliau membimbingnya agar membaca kalimat tauhid, Lâilâha illallâh, tapi pemuda itu lisannya terkunci. Rasulullah bertanya kepada seorang ibu yang berada di dekat kepala sang pemuda sedang menghadapi sakratul maut:
Apakah pemuda ini masih punya ibu?
Sang ibu menjawab: Ya, saya ibunya, ya Rasulullah.
Rasulullah saw bertanya lagi: Apakah Anda murka padanya?
Sang ibu menjawab: Ya, saya tidak berbicara dengannya selama 6 tahun.
Rasulullah saw bersabda: Ridhai dia!
Sang ibu berkata: Saya ridha padanya karena ridhamu padanya.
Kemudian Rasulullah saw membimbing kembali kalimat tauhid, yaitu Lâilâha illallâh. Kini sang pemuda dapat mengucapkan kalimat Lâilâha illallâh.
Rasulullah saw bertanya pemuda itu: Apa yang kamu lihat tadi? Sang pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang berwajah hitam, pandangannya menakutkan, pakaiannya kotor, baunya busuk, ia mendekatiku sehingga membuatku marah padanya. Lalu Rasulullah Muhammad membimbinnya untuk mengucapkan doa:
“Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan Mengampuni dosa yang banyak, terimalah amalku yang sedikit, dan ampuni dosaku yang banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
Sang pemuda kini dapat mengucapkannya. Nabi bertanya lagi: Sekarang lihatlah, apa yang kamu lihat? Sang pemuda menjawab: sekarang aku melihat seorang laki-laki yang berwajah putih, indah wajahnya, harum dan bagus pakaiannya, ia mendekatiku, dan aku melihat orang yang berwajah hitam itu telah berpaling dariku. Nabi bersabda: Perhatikan lagi. Sang pemuda pun memperhatikannya. Kemudian beliau bertanya: sekarang apa yang kamu lihat? Sang pemuda menjawab: Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, aku melihat orang yang berwajah putih, dan cahayanya meliputi keadaanku. (Bihârul Anwâr 75: 456).
Durhaka kepada kedua orang tua merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu”. (Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sahabat Mughirah bin Syu’bah dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahihul Jami’,no. 1749).
Bahkan Rasulullah Muhammad menyebut durhaka kepada kedua orang tua sebagai dosa besar. Beliau menempatkannya pada urutan kedua setelah syirik. “Maukah kalian kukabari tentang dosa yang paling besar?”, tanya Nabi kepada para Sahabat sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Bakrah . Petanyaan tersebut diulangi oleh Rasul hingga tiga kali. “Tentu wahai Rasulullah”, jawab para Sahabat. Beliau bersabda, “al-isyraku billah (menyekutukan Allah) dan uququl walidain (durhaka kepada kedua orang tua)”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain beliau juga mengabarkan bahwa Allah tidak akan memandang dengan pandangan rahmat kepada orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. “Ada tiga orang yang tidak akan dipandang oleh Allah pada hari kiamat”, kata Nabi dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Nasai, al Bazzar, dan al-Hakim serta dishahihkan oleh Syekh al-Bani. Ketiga orang tersebut adalah, “pendurhaka kepada kedua orangtuanya, pecandu khamr, dan pengungkit pemberian (al-mannan)”. (HR. Nasai, al-Bazzar, dan Al-Hakim).
Bahkan saking buruknya sifat durhaka kepada kedua orang tua, ia termasuk salah satu dosa yang siksaannya didahulukan di dunia. Artinya orang yang durhaka kepada kedua orang tua akan menerima siksa di dunia sebelum siksa di akhirat. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah :
Artinya: “Tidak ada satu dosa yang lebih pantas didahulukan siksaannya kepada pelakunya di dunia sebelum merasakan siksa yang disiapkan untuknya diakhirat selain durhaka dan memutuskan silaturrahim”. (HR. Ahmad).
Hadits-hadits di atas menunjukkan betapa bahayanya sikap durhaka kepada kedua orang tua. Sebab ia merupakan perbuatan dosa besar yang diharamkan oleh Allah , pelakunya tidak akan dipandang dengan pandangan rahmat oleh Allah , bahkan siksanya kadang didahulukan di dunia sebelum siksa di akhirat kelak. Mari hindari sikap buruk ini. Mari jadi anak yang berbakti, semoga Allah merahmati kita dan orang tua kita. Dan bisa jadi selama ini kita selalu mengalami kegagalan dalam hidup kita, maka intropeksilah diri kita apakah selama ini kita telah berbakti kepada kedua orangtua kita atau bahkan kita selalu berbuat kasar kepada-Nya. Bahagiakanlah orangtua anda selama mereka masih hidup, berikanlah mereka perhatian dan kasih sayang yang lebih sebagaimana mereka menyangi kita waktu kecil dahulu.
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pendiri Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































