MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR – Dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke 75 tahun Lembaga Kajian Al-Qur’an Mahasiswa Pencinta Masjid UIN Alauddin Makassar (LKA MPM UINAM) mengadakan kegiatan Bedah Buku Spesial Proklamasi. (17/08).
Dalam kegiatan Bedah Buku Spesial Proklamasi tersebut LKA MPM UINAM menghadirkan pemateri Ustadz Maulana La Eda, Lc., M.A yang ketika membawakan materi sedang berada di madinah. Buku berjudul “100 Ulama Nusantara di Tanah Suci” yang ditulis langsung oleh beliau di rasa pengurus LKA MPM UINAM sangat mewakili untuk mengupas jejak perjuangan dalam memerdekakan tanah pertiwi Indonesia.
Ahmad Dzulkiram selaku ketua umum LKA MPM UINAM mengatakan dalam sambutannya bahwasanya alasan mengadakan ini untuk menambah khazanah keilmuan dalam bidang sejarah.
“Kegiatan ini bertujuan memerdekakan khazanah pengetahuan para pemuda pemudi zaman kini yang tentunya sempat atau sementara terbutahkan akan fakta sejarah dari lahir dan hadirnya kemerdekaan Indonesia tercinta yang tentunya hadir berkat dorongan semangat dan perjuangan dari para aktor sejati yakni para ulama yang menjadi pemain di balik layar kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam tersebut mengatakan bahwasanya kontribusi ulama sangatlah sentral dan begitu besar sehingga perlu untuk kemudian kita kaji sebagai bahan tambahan edukasi bagi kita semua para generasi pelanjut estafet perjuangan.
“Merah Putih yang kini berkibar dan lantunan lagu Indonesia Raya yang senantiasa berkumandang tidak lepas dari gema takbir yang senantiasa menggema memacu semangat dari para pahlawan untuk menghadirkan kemerdekaan walau harus berujung syuhada dengan kucuran darah,” tambahnya.
Dari sudut kota madinah Ustadz Maulana La Eda, Lc., MA selaku penulis buku “100 Ulama Nusantara di Tanah Suci” berusaha untuk berbagi khazanah dari tiap-tiap lembar buku yang sementara di bedah tersebut.
“Tentang ulama maka berbicara tentang figur dalam sebuah umat dan bangsa adalah sebuah keniscayaan. Dalam sebuah pepatah arab dikatakan bahwasanya. Sebuah umat yang tidak menghargai dan mengenang para pahlawan figur-figur pahlawan (ulama) adalah umat yang tidak pantas untuk mendapatkan kejayaan.
Karena dari tangan para inisiator (ulama) lah kejayaan dan kemerdekaan dapat kemudian hadir sehingga generasi setelahnya harus senantiasa mengingat dan mengenang bahwasanya pernah ada sosok atau figur yang berjuang menghadirkan kejayaan. Sehingga mereka perlu untuk kemudian kita teladani,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia memaparkan bahwasanya figur paling sentral dalam umat Islam dalam bangsa indonesia adalah para ulama. Sehingga fakta sejarah ini perlu untuk kemudian disampaikan kepada para pemuda masa kini dan perlu untuk diketahui bahwasanya figur yang menjadi batu sandungan dalam menyongsong kemerdekaan dari zaman dahulu sampai sekarang ialah dari pada sosok munafiqin.
“Para ulama rabbani tidak hanya duduk di majelis ilmu, tidak hanya menulis buku, tidak hanya hadir dalam kegiatan keislama namun ulama rabbani ialah mereka yang turut serta larut dalam perjuangan rakyat yang dimana mereka sengsara dengan kesengsaraan mereka dan mereka berbahagia dengan kebahahagiaan mereka,” tegasnya.
Mengapa kita perlu membahas ulama, karena para ulama lah yang menjadi peletak batu-batu peradaban. Mereka yang menjadi pagar antara penguasa dengan rakyat, dimana ketika penguasa memberikan sebuah keputusan yang dapat mendzolimi rakyat maka disini peran ulama hadir guna mengingatkan atau menasehati penguasa dan begitupun sebaliknya ketika rakyat yang melakukan kedzoliman kepada penguasa maka ulama hadir guna menasehati para penguasa. Ulama tidak boleh berat sebelah dan inilah tugas yang kini terkaburkan atau sengaja dikaburkan oleh para oknum.
Ulama ada pewaris dari para Anbiya, mengambil ibrah dan meneladani mereka adalah suatu hal yang penting terutama dari para ulama nusantara yang berada di tanah suci. Para ulama tersebut perlu untuk kemudian kita perkenalkan seperti Syaikh Nawawi Banten, Syaik Ahmad Khatib Minagkabau, Syaikh Zakariyah Bilah, Syaikh Abdul Fattah Rawo, Syaikh Abdus Samad Palembang, Syaikh Musawa Palembang, Syekh Tariq Bogor dan lainnya karena mereka merupakan peletak batu peradaban bagi umat Islam di Indonesia.
Buku yang kita bedah ini yang referensi sejatinya berbahasa arab yang di dalam berisikan 100 ulama nusantara dan beberapa manuskrip-manuskrip serta litertur yang sangat langkah berbahasa arab di perpusatakan terbesar di Arab Saudi dimana 82 di antaranya biografinya telah kita ketahui dan yang lainnya sementara dalam pengkajian.
Lebih rinci, Ia menyampaikan bahwa sumbangsi ulama nusantara yang berada di tanah suci pada masa-masa perjuangan kemerdekaan perlu untuk kemudian di gali dan perlu menjadi perhatian khusus dari pada masyarakat Indonesia. Di antara ulama yang mempunyai sumbangsi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang paling menonjol ada dua ulama.
Ulama tersebut ialah Syekh Nawawi banten dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, mereka menonjol karena beberapa faktor di antara nya karena keduanya ialah karena mereka merupakan mahaguru dari para ulama di tanah suci dan keduanya merupakan figur paling berpengaruh ditimur tengah serta mereka berdua merupakan ulama yang memiliki karya tulis paling berkualitas dan terbanyak.
Kedua sosok ulama tersebut di ibaratkan dua sosok yang juga menjadi aktor sentral di balik penaklukan palestina oleh shalahuddin al-ayyubi dan nuruddin yakni al-ghazali dan abdul qadir al-jaelani. Karena kedua ulama tersebut memiliki murid-murid ulama dan juga murid-murid pahlawan.
Kedua sosok ulama tersebut merupakan dua ulama yang paling aktif berfatwa ketika itu untuk tidak taat kepada para penjajah dan mengharamkan kepada rakyat untuk tunduk dan taat menjadi pegawai bagi pemerintah hindia belanda ketika itu.
Kedua sosok ulama tersebut tidak jemuh dan surut semangat untuk memotivasi dan membakar semangat jemaah haji untuk merebut kemerdekaan dari para penjajah. Maka tidak heran jika beberapa murid beliau seperti K.H Hasyim Asyhari menjadi slaah satu sosok figur dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Ahmad Sanusi Halim ajalengkah serta Agus Salim yang menjadi panitian BPUPKI merupakan alumni madrasah masjidil haram.
Kedua ulama tersebut juga memiliki perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan politik di Indoensia. Sedikit membahas Agus Salim beliau merupakan murid terakhir dari Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau yang merupakan anggota BPUPKI dan juga merupakan pimpinan sarekat Islam dan juga menjadi pantia sembilan. Ahmad dahlan, ayah buya hamka, jampek, mereka merupakan murid dari ahmad khatib minangkabau.
Hadirnya ulama yang juga menjadi barisan para pahlawan tentu tidak terlepas dari tarbiyah yang diberikan oleh kedua sosok figur kedua Ulama besar tersebut. Begitu juga dengan ketua MUI pertama yakni buya hamka lahir dari madrasah Syaikh Ahmad Khatib Minagkabau. Sehingga pada diri beliau lahir ulama yang memiliki rasa nasionalisme dan modernisme.
Dalam sesi terakhir materi bedah buku tersebut Ustadz Maulana La Eda mengatakan bahwasanya di antara figur yang menjadi sosok pahlawan kemerdekaan Indonesia ialah para alumni halaqah-halaqan masjidil haram.
Reporter: Nurizal Manarul H
Editor: Muhammad Akbar











































































