• Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
Jumat, Oktober 2, 2026
Advertisement
  • HOME
  • ARTIKEL
    • All
    • Adab & Ibadah
    • Al-Qur'an & Hadits
    • Aqidah & Manhaj
    • Fiqih Islam
    • Sirah Nawabiyah
    Hikmah di Balik Bencana Nepal, Panggilan untuk Bermuhasabah

    Hikmah di Balik Bencana Nepal, Panggilan untuk Bermuhasabah

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    Cara Menjadi Manusia Terbaik Menurut Ibnu Qayyim

    Cara Menjadi Manusia Terbaik Menurut Ibnu Qayyim

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Fatwa MUI: Mengapa Memanfaatkan Dana Hasil Investasi Setoran Awal untuk Jamaah Lain Haram?

  • KHAZANAH
    • All
    • Biografi
    • Islam & Indonesia
    • Pendidikan & Ilmu
    • Sejarah Islam
    • Tazkiyatun Nafs
    Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

    Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

    Nasehat yang Menggugah, Dialah Kematian

    Putra Abu Jahal Menjadi Mujahid Handal

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 10): Hijrah Ustadz Umar Soleh ke Kota Makassar

    Sejarah Ulama Nusantara (Bag 5): Jelajah Dakwah Syaikh Yusuf al-Maqassari

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 9): Semangat Menuntut Ilmu Ustadz Umar Soleh Mulai Dari Sekolah Dasar

  • NASIONAL
    • All
    • Berita Nasional
    • Feature
    • Info Kegiatan
    • Kabar Kampus
    • Kabar Ummat
    • Sekolah & Universitas
    Pengamat Geopolitik Pizaro Gozali Peringatkan Ancaman Eskalasi Global dan Urgensi Solidaritas Dunia

    Pengamat Geopolitik Pizaro Gozali Peringatkan Ancaman Eskalasi Global dan Urgensi Solidaritas Dunia

    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Penjajah Israel Manfaatkan Hari Raya Yahudi untuk Rampok Al-Aqsa dari Umat Islam

    Penjajah Israel Manfaatkan Hari Raya Yahudi untuk Rampok Al-Aqsa dari Umat Islam

    Dari Scrolling Menuju Growing, Muslimah Rise Up 2026 FMDKI Pangkep Ajak Muslimah Bertumbuh dan Berkarya

    Dari Scrolling Menuju Growing, Muslimah Rise Up 2026 FMDKI Pangkep Ajak Muslimah Bertumbuh dan Berkarya

    MUSDA I PD LIDMI Kota Ambon Sukses Digelar, Teguhkan Komitmen Kaderisasi dan Membangun Dakwah Inklusif

    MUSDA I PD LIDMI Kota Ambon Sukses Digelar, Teguhkan Komitmen Kaderisasi dan Membangun Dakwah Inklusif

    Jejak Alumni Gontor: Dari Pahlawan Nasional hingga Pimpinan PBNU dan Muhammadiyah

    Jejak Alumni Gontor: Dari Pahlawan Nasional hingga Pimpinan PBNU dan Muhammadiyah

  • KALAM
    • All
    • Akhir Zaman
    • Ghazwul Fikr
    • Jihad Fisabilillah
    • Khutbah Jum'at
    • Siyasah Syar'iyyah
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

  • LIFESTYLE
    • All
    • Cinta Dunia
    • Gender & Feminisme
    • Jendela Hati
    • Parenting
    • Ramadhan
    • Tips Bahagia
    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Ayat Al Quran yang Patut Direnungi, Sebelum Berpisah dengan Ramadhan (Menutup Kebaikan dengan Istigfar)

    Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan

    Kuliah Ramadhan 01: Taqwa dan Adab

    Rambu-Rambu Berbakti Kepada Orangtua (Bag 1)

    Catatan Pendidikan (Bag 7): Tua Sebagai Pendidik Pertama dan Utama dalam Keluarga

    Catatan Pendidikan (Bag 6): Covid 19 dan Masa Depan Pendidikan Kita

    Cadar Dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (Bag 1)

  • DUNIA ISLAM
    • All
    • Info Haji & Umrah
    • Internasional
    • Kabar Turki
    • Palestina
    • Timur Tengah
    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Makin Provokatif, Ben-Gvir dan Ribuan Pemukim Yahudi Gelar Ritual di Komplek Masjidil Aqsa

    Makin Provokatif, Ben-Gvir dan Ribuan Pemukim Yahudi Gelar Ritual di Komplek Masjidil Aqsa

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

  • TSAQOFAH
    • All
    • Ekonomi Islam
    • Jejak Hidayah
    • Kolom
    • Opini Anda
    • Resensi Buku
    Ketua Umum LIDMI Ajak Mahasiswa STIBA Makassar Berkontribusi dalam Politik di Indonesia

    Hikmah Maulid dari Aspek Sosial Kemasyarakatan, Politik dan Keteladanan Pemimpin

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

  • PAHAM SESAT
    • All
    • Ahmadiyah
    • Feminisme
    • Lainnya
    • Sepilis
    • Syi'ah
    Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Setara dengan Terorisme

    Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Setara dengan Terorisme

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Pandangan Hindu Terhadap Pluralisme Agama

    Melanjutkan Tongkat Estafet Perjuangan M. Natsir Membendung Arus Deras Sekularisme Dalam Pendidikan

    Pandangan Protestan Terhadap Pluralisme Agama

    Pandangan Katolik Terhadap Pluralisme Agama

    Upaya Meliberalkan Guru Agama

    Kebebasan Konsep Penting Worldview Sekular

    Promosi Lesbi, Hina Nabi dan Lecehkan Al-Quran

No Result
View All Result
  • HOME
  • ARTIKEL
    • All
    • Adab & Ibadah
    • Al-Qur'an & Hadits
    • Aqidah & Manhaj
    • Fiqih Islam
    • Sirah Nawabiyah
    Hikmah di Balik Bencana Nepal, Panggilan untuk Bermuhasabah

    Hikmah di Balik Bencana Nepal, Panggilan untuk Bermuhasabah

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    Cara Menjadi Manusia Terbaik Menurut Ibnu Qayyim

    Cara Menjadi Manusia Terbaik Menurut Ibnu Qayyim

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Fatwa MUI: Mengapa Memanfaatkan Dana Hasil Investasi Setoran Awal untuk Jamaah Lain Haram?

  • KHAZANAH
    • All
    • Biografi
    • Islam & Indonesia
    • Pendidikan & Ilmu
    • Sejarah Islam
    • Tazkiyatun Nafs
    Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

    Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

    Nasehat yang Menggugah, Dialah Kematian

    Putra Abu Jahal Menjadi Mujahid Handal

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 10): Hijrah Ustadz Umar Soleh ke Kota Makassar

    Sejarah Ulama Nusantara (Bag 5): Jelajah Dakwah Syaikh Yusuf al-Maqassari

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 9): Semangat Menuntut Ilmu Ustadz Umar Soleh Mulai Dari Sekolah Dasar

  • NASIONAL
    • All
    • Berita Nasional
    • Feature
    • Info Kegiatan
    • Kabar Kampus
    • Kabar Ummat
    • Sekolah & Universitas
    Pengamat Geopolitik Pizaro Gozali Peringatkan Ancaman Eskalasi Global dan Urgensi Solidaritas Dunia

    Pengamat Geopolitik Pizaro Gozali Peringatkan Ancaman Eskalasi Global dan Urgensi Solidaritas Dunia

    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Penjajah Israel Manfaatkan Hari Raya Yahudi untuk Rampok Al-Aqsa dari Umat Islam

    Penjajah Israel Manfaatkan Hari Raya Yahudi untuk Rampok Al-Aqsa dari Umat Islam

    Dari Scrolling Menuju Growing, Muslimah Rise Up 2026 FMDKI Pangkep Ajak Muslimah Bertumbuh dan Berkarya

    Dari Scrolling Menuju Growing, Muslimah Rise Up 2026 FMDKI Pangkep Ajak Muslimah Bertumbuh dan Berkarya

    MUSDA I PD LIDMI Kota Ambon Sukses Digelar, Teguhkan Komitmen Kaderisasi dan Membangun Dakwah Inklusif

    MUSDA I PD LIDMI Kota Ambon Sukses Digelar, Teguhkan Komitmen Kaderisasi dan Membangun Dakwah Inklusif

    Jejak Alumni Gontor: Dari Pahlawan Nasional hingga Pimpinan PBNU dan Muhammadiyah

    Jejak Alumni Gontor: Dari Pahlawan Nasional hingga Pimpinan PBNU dan Muhammadiyah

  • KALAM
    • All
    • Akhir Zaman
    • Ghazwul Fikr
    • Jihad Fisabilillah
    • Khutbah Jum'at
    • Siyasah Syar'iyyah
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

  • LIFESTYLE
    • All
    • Cinta Dunia
    • Gender & Feminisme
    • Jendela Hati
    • Parenting
    • Ramadhan
    • Tips Bahagia
    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Ayat Al Quran yang Patut Direnungi, Sebelum Berpisah dengan Ramadhan (Menutup Kebaikan dengan Istigfar)

    Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan

    Kuliah Ramadhan 01: Taqwa dan Adab

    Rambu-Rambu Berbakti Kepada Orangtua (Bag 1)

    Catatan Pendidikan (Bag 7): Tua Sebagai Pendidik Pertama dan Utama dalam Keluarga

    Catatan Pendidikan (Bag 6): Covid 19 dan Masa Depan Pendidikan Kita

    Cadar Dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (Bag 1)

  • DUNIA ISLAM
    • All
    • Info Haji & Umrah
    • Internasional
    • Kabar Turki
    • Palestina
    • Timur Tengah
    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Makin Provokatif, Ben-Gvir dan Ribuan Pemukim Yahudi Gelar Ritual di Komplek Masjidil Aqsa

    Makin Provokatif, Ben-Gvir dan Ribuan Pemukim Yahudi Gelar Ritual di Komplek Masjidil Aqsa

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

  • TSAQOFAH
    • All
    • Ekonomi Islam
    • Jejak Hidayah
    • Kolom
    • Opini Anda
    • Resensi Buku
    Ketua Umum LIDMI Ajak Mahasiswa STIBA Makassar Berkontribusi dalam Politik di Indonesia

    Hikmah Maulid dari Aspek Sosial Kemasyarakatan, Politik dan Keteladanan Pemimpin

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

  • PAHAM SESAT
    • All
    • Ahmadiyah
    • Feminisme
    • Lainnya
    • Sepilis
    • Syi'ah
    Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Setara dengan Terorisme

    Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Setara dengan Terorisme

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Pandangan Hindu Terhadap Pluralisme Agama

    Melanjutkan Tongkat Estafet Perjuangan M. Natsir Membendung Arus Deras Sekularisme Dalam Pendidikan

    Pandangan Protestan Terhadap Pluralisme Agama

    Pandangan Katolik Terhadap Pluralisme Agama

    Upaya Meliberalkan Guru Agama

    Kebebasan Konsep Penting Worldview Sekular

    Promosi Lesbi, Hina Nabi dan Lecehkan Al-Quran

No Result
View All Result
Mujahid Dakwah
No Result
View All Result
in Islam & Indonesia, KHAZANAH

Sejarah Antara Islam dan Kebudayaan Candi

Muh Akbarby Muh Akbar
Reading Time: 14 mins read
Juni 16, 2026
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on WhatsApp

Salah satu upaya yang dilakukan oleh orientalis dalam menyingkirkan pengaruh dan peranan Islam dalam suatu masyarakat adalah melalui nativisasi. Nativisasi ini secara sederhana dapat didefinisikan sebagai usaha yang sistematis maupun tidak yang dijalankan untuk menghilangkan peran kesejarahan Islam dan umatnya dari suatu negeri dengan cara mengangkat budaya lokal setempat. Keberadaan “budaya lokal” setempat yang diangkat itu sendiri, dalam arus nativisasi, bukan merupakan  hal yang telah final, melainkan melalui proses rancang ulang yang tidak jarang merupakan hasil rekayasa belaka. Tujuan utama dari program ini adalah memarginalkan peran Islam, lantas menempatkannya sebagai “pengaruh asing” yang diposisikan berseberangan dengan “agama asli” pribumi. Bukan dalam rangka mengangkat budaya pribumi itu sendiri, melainkan lebih banyak dilakukan untuk kepentingan lain yang bersifat hegemonik, termasuk kristenisasi.

Salah satu contoh yang jelas dari proses nativisasi misalnya adalah identifikasi Mesir dengan peradaban Piramida. Dalam diskursus ini direkayasa bahwa Mesir menjadi besar karena budaya Piramid dan bukannya karena kedatangan Islam. Peranan Islam di masa lalu coba digantikan dengan peranan semu yang dilakukan oleh para Fir’aun dari masa yang jauh lebih kuno. Dalam pada ini, Islam hanya diposisikan telah meninggalkan peradaban yang tidak signifikan bagi kemajuan. Mesir menjadi maju karena mewarisi kebesaran dan semangat dari Fir’aun yang berhasil membina sejumlah bangunan monumental.

Di Indonesia, proses nativisasi ini juga dijalankan oleh para orientalis dan misionaris. Mulai dari pengaburan sejarah terkait peran ulama dan pahlawan Islam hingga pemunculan sejumlah aliran kebatinan yang tidak sepenuhnya “original”. Pada beberapa kasus bahkan bersifat mekanistis karena terbentuk melalui melalui proses rekayasa. Sejajar dengan bangunan Piramida di Mesir, di Indonesia kaum orientalis berusaha mengangkat kebudayaan candi sebagai kebudayaan asli Indonesia yang dianggap jauh lebih bermakna daripada warisan tradisi Islam.

You might also like

Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

September 4, 2026

Nasehat yang Menggugah, Dialah Kematian

Juni 16, 2026

Putra Abu Jahal Menjadi Mujahid Handal

Juni 16, 2026

Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 10): Hijrah Ustadz Umar Soleh ke Kota Makassar

Juni 16, 2026

Diskursus tentang kebudayaan candi dan upaya marginalisasi Islam dengan memanfaatkan isu ini rasanya menarik untuk dikaji. Tulisan ini disajikan untuk menjembatani wujud pewacanaan yang dimaksud. Pada giliran selanjutnya, besar harapan penulis akan menjadi pemantik bagi proses pengembangan kajian selanjutnya.

KEBUDAYAAN YANG DILUPAKAN

Kebudayaan candi sebenarnya merupakan kebudayaan yang pernah mati dan hilang dari ingatan publik masyarakat di nusantara. Usaha mengangkat kembali, candi sebagai peninggalan leluhur yang adi luhung seringkali tidak sepi dari motif dan kepentingan tertentu. Diantaranya berusaha memarginalkan peran Islam di nusantara sebagai pijakan untuk melaksanakan misi kristenisasi melalui pendekatannya untuk menemukan titik temu antara kejawen dan Kristen. Tulisan Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria, merupakan salah satu wujud dari karya yang bersifat demikian. Dalam bukunya Noorsena membuat klaim sebagai berikut:

“ …. Serat Wedhatama mengistilahkan sembah raga yang masih harus ditingkatkan pada tahapan yang lebih halus: sembah cipta, sembah kalbu, dan sembah rasa. Suatu penjawaan dari jalan-jalan pendakian tasawuf syari’ah, Tariqah, Haqiqah, dan Ma’rifah, yang terlebih dahulu sudah dirasuki mistik Hindhu-Budha.

Penggambaran tahap-tahap pendakian mistik ini, mudah dilacak dari berbagai peninggalan bersejarah di tanah air kita. Hal ini membuktikan betapa kuat meresapnya jejak-jejak mistik Hindu, Buddha, dan Islam, yang berpadu dengan unsur agama asli. Monumen stupa Borobudur dan Masjid Demak merupakan contoh pengabadian bangunan punden berundak dari masa megalitikum. Bangunan stupa Borobudur disebut dari bawah: Kamadatu (alam keinginan), rupadatu (alam rupa), dan arupadatu (alam tanpa rupa) sejajar dengan masjid Demak bersusun tiga yang melambangkan Syari’ah, tariqah, dan haqiqah. Sedangkan tujuan tertinggi dari perjalanan mistik digambarkan dengan makuta di ujung atas masjid yang semotif dengan stupa teratas Borobudur yang dulu kosong karena menggambarkan keabadian alam Buddha (sunya).”[1]

Dalam kutipan di atas, nampaknya Bambang Noorsena menggambarkan bahwa sejumlah tradisi Islam telah mengalami penjawaan sedemikian rupa dengan masuknya unsur-unsur agama Jawa asli setelah sebelumnya dirasuki mistik Hindhu dan Buddha. Dengan demikian Islam dalam sejumlah karya sastra Jawa tersebut oleh Bambang Noorsena ditempatkan sebagai entitas yang sepenuhnya tunduk terhadap agama asli Jawa. Noorsena kemudian berusaha membuktikan bahwa jejak-jejak perpaduan agama itu dapat dilacak pada sejumlah peninggalan sejarah di tanah air termasuk Candi Borobudur dan Masjid Demak.

Argumentasi Bambang Noorsena bahwa keempat jalan pendakian tasawuf Islam telah direduksi oleh pengaruh mistik Hindu dan Buddha dengan mengambil bukti pendukung berupa Candi Borobudur dan Masjid Demak, jelas merupakan rasionalisasi yang kurang tepat. Tentang Borobudur, misalnya, candi yang dianggap sebagai warisan bangsa Indonesia ini memang seringkali ditempatkan sebagai bukti bahwa Budhisme pernah sedemikian kuat pengaruhnya bagi sebagian masyarakat Jawa. Sampai pada titik ini tidak terlalu ada masalah. Namun kemudian justru kenyataan ini dimanfaatkan sebagai justifikasi bahwa Budhisme masih memainkan peran hingga pada masa kini dengan bukti Borobudur ini. Termasuk memposisikan ajaran Islam di Jawa yang dianggap telah tereduksi oleh semangat Budhisme karena masih mengadopsi ciri-ciri arsitektural yang sama. Jelas ini adalah proses untuk menempatkan posisi generasi mendatang dengan “ingatan” yang dibentuk dengan sebuah “kelupaan sejarah”.

Borobudur sendiri sebenarnya telah pernah lenyap dari ingatan kolektif penduduk nusantara. Soediman, seorang Pengajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada serta pernah menjabat sebagai Pimpinan Harian Kantor Pelaksana Proyek Pemugaran Candi Borobudur, mengungkapkan bahwa Borobudur baru diketemukan kembali pada tahun 1814 setelah kira-kira delapan abad dilupakan orang dan terpendam di dalam tanah. Pada waktu diketemukan candi ini berada dalam keadaan menyedihkan.[2] Candi ini telah berujud menjadi sebuah gunung kecil atau bukit yang ditutupi oleh semak belukar. Di gunung tersebut banyak ditemukan potongan-potongan arca oleh penduduk setempat yang pemberani. Sedangkan umumnya penduduk saat itu justru takut untuk datang ke gunung yang kemudian diketahui sebagai Borobudur. Penyebabnya, masyarakat era itu menganggap bahwa gunung tersebut sebagai tempat angker dan berbahaya. Hingga tahun1814, Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, mendengar berita penemuan sejumlah potongan arca di gunung tersebut.

Pada tahun 1900 M di bawah pemerintah Hindia Belanda maka dilakukan perawatan terhadap “bukit” yang ditemukan. Semak belukar dan tanah yang mengurugnya mulai dibersihkan dan ditemukanlah struktur bangunan candi. Sebagian besar ditemukan dalam kondisi yang sudah rusak parah. Baru pada yahun 1907 dilakukan pemugaran yang dipimpin oleh Theodore Van Erp, seorang perwira Zeni Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Perbaikan di bawah pimpinan Van Erp ini berlangsung antara 1907 sampai 1911. Pemugaran ini pun hanya sampai memasang beberapa buah gapura, sementara dinding lorong pertama dan kedua tetap dibiarkan miring, serta pagar langkannya masih banyak yang menganga.[3] Pada era ini Candi Borobudur pun belum bisa diperkenalkan kepada publik secara luas dengan alasan keamanan bangunan.

Dengan mencermati sejarah “penemuan kembali” Candi Borobudur ini, maka muncul pertanyaan baru, Apakah layak mendasarkan sebuah teori bahwa ajaran Buddha sedemikian kuatnya berpengaruh dengan menggunakan contoh Candi Borobudur yang disejajarkan dengan bangunan Masjid Demak? Sementara diketahui bahwa Candi Borobudur telah “hilang” selama 8 (delapan) abad sebelumnya. Boleh dikatakan bahwa “kelupaan sejarah” terhadap Candi Borobudur ini bahkan telah berlangsung melewati masa Majapahit dan Kesultanan Demak. Belum lagi jika kita harus memperhitungkan lagi proses pemugaran pasca ditemukan kembali hingga layak diperkenalkan kepada publik yang memakan waktu lebih dari satu abad sendiri.

Jadi, Borobudur sendiri sebenarnya telah “pernah mati” dalam alam pikiran orang Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa ingatan publik masyarakat Jawa terhadap simbol kebesaran masa lalu berupa ajaran Budha ini tidak terlalu mendalam atau bahkan tidak ada. Hanya merupakan sapuan cat yang mudah terkelupas dari sepotong kayu. Kebesaran masa lalu yang terlalu diagung-agungkan dengan melupakan kenyataan sejarah yang lebih besar. Sebuah bukti bahwa “keagungan” masa lalu bisa dibangkitkan kembali dengan menjajah ruang kesadaran kita. Oleh karena itu menghubungkan antara tingkatan yang ada dalam Candi Borobudur dengan tingkatan pada masjid Demak, sebagaimana pengutipan yang dilakukan oleh Bambang Noorsena, rasanya merupakan tindakan yang ahistoris dan mengada-ada.

Buku “Sejarah Nasional Indonesia” yang menjadi rujukan standar dalam penulisan sejarah tentang Indonesia juga mengungkapkan fenomena yang sama. Dikatakan bahwa beberapa masjid kuno memiliki pola lengkung  miripkalamakara dalam mihrabnya. Beberapa bangunannya mengingatkan pada seni bangunan candi, yaitu menyerupaimeru pada jaman Hindhu. Juga beberapa detail lainnya. Namun buku tersebut sama sekali tidak membuat konklusi gegabah bahwa proses adopsi maupun adaptasi bangunan fisik akan selalu diikuti dengan proses yang sama terhadap nilai “bathin” yang dimilikinya. Menariknya, kesimpulan buku tersebut justru mengungkapkan bahwa Islamisasi yang dilakukan melalui seni bangunan dan seni ukir pada sejumlah bangunan Islam justru menunjukkan bahwa proses pengislaman tersebut dilakukan dengan damai. Kecuali itu dari segi ilmu jiwa dan taktik, menurut buku tersebut, penerusan tradisi bangunan dan seni ukir pra Islam merupakan alat Islamisasi yang sangat bijaksana yang mudah menarik orang-orang bukan Islam secara perlahan memeluk Islam sebagai pedoman hidup barunya.[4] Dengan istilah lain, inilah salah satu bukti titik temu yang sulit dibantah antara Islam dan Jawa.

Untuk lebih mendalami persoalan ini, akan semakin menarik jika mencermati analogi yang dikemukakan Prof. Dr. Syed Muhammad Naguib Al Attas, pakar kebudayaan Melayu, sebagai berikut:

Sebagaimana si Ali berpakaian chara Barat memang nampak pengaruh Barat pada zahir dirinya, dengan tiada semestinya bererti bahwa batin dirinya itupun terpengaruh oleh kebudayaan Barat, begitulah juga fakta-fakta sejarah yang zahir pada sesuatu masharakat dan kebudayaannya tiada semestinya membayangkan sifat batin masharakat dan kebudayaan itu.[5]

Jadi, sejumlah bangunan Islam di Jawa yang menampilkan sebagian corak dari masa lalu tidak berarti mewarisi pola “batin” yang sama. Kesamaan pada sejumlah detail pola bangunan Hindhu dan Budha, tidak lantas menjadi bukti bahwa Islam telah mewarisi ajaran mistik kedua agama tersebut. Kesimpulan Noorsena tersebut seperti halnya bangunan gereja-gereja kuno, baik di Timur dan di Barat, seringkali memiliki detail bangunan dan menggunakan simbol-simbol yang sama yang sama dengan bangunan penganut paganisme yang ada disekitar pertumbuhan umat Kristen. Salib adalah simbol yang sama pernah dipakai oleh sejumlah ajaran pagan sebelum masa Kristen. Bukan hanya terbatas pada simbolnya, bahkan cerita-cerita seputar salib dari agama penyembah berhala tersebut hampir sama dengan detail dan ajaran dalam kekristenan. Jika didasarkan dengan hal tersebut kemudian disimpulkan bahwa “Kristen telah mewarisi tradisi mistik kaum pagan”, dimanakah posisi keberterimaan Bambang Noorsena ? Tetap konsistenkah ia dengan analogi yang diyakininya?

Jika Borobudur merupakan candi Agama Budha, maka Candi Prambanan sebagai candi bercorak Hindhu juga mengalami nasib yang kurang lebih sama. Candi Hindhu ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1797, ketika penguasa Belanda membangun markas di Klaten. Sebelumnya tidak ada gambaran bahwa disekitar tempat pembangunan markas tersebut terdapat kompleks bangunan kuno tersebut. Hal ini terjadi karena sebagian besar bangunan telah tertutupi dengan tanaman-tanaman keras. Penduduk sekitar juga menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan sampah. Sehingga kesulitan utama yang dihadapi oleh Belanda ketika hendak membangun kembali peninggalan Hindhu tersebut adalah menyingkirkan tanaman dan sampah yang terlanjur menutupi badan bangunan batu tersebut. Sejumlah bangunan batu yang lain yang lebih utuh memang ada yang digunakan oleh penduduk sekitar sebagai tempat pemujaan. Pemujaan yang dilakukan tentu saja bukan berasal dari tradisi Hindhu, melainkan lebih mirip ritual penyembahan terhadap batu dan pepohonan yang berasal dari kebudayaan punden berundak-undak. Sejumlah arca yang sempat ditemukan dilokasi tersebut selalu menjadi barang dagangan yang diminati oleh orang-orang asing. Sementara penduduk sekitar kompleks candi tersebut – terutama yang berprofesi sebagai pedagang – cenderung mengabaikan dengan menjadikannya sebagai “peluang” mendapatkan uang.[6]

Reruntuhan Candi Prambanan. Sumber foto: KITLV Digital Media Library (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/16?q_searchfield=Prambanan)
Reruntuhan Candi Prambanan. Sumber foto: KITLV Digital Media Library (http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/16?q_searchfield=Prambanan)

Candi-candi lainnya secara umum memiliki nasib yang hampir serupa. Ditemukan sebagai reruntuhan yang diabaikan, tertutup oleh sejumlah pepohonan dengan tanpa perawatan, terkubur dalam tanah, atau terbengkelai memuing sehingga sukar direkonstruksi ulang hingga hari ini. Sebagian besar candi itu umumnya ditemukan kembali setelah melalui proses penggalian. Untuk selanjutnya dipopulerkan oleh kalangan akademisi orientalis maupun misionaris. Bukan dengan tujuan untuk bersimpati secara penuh terhadap wujud kebudayaan ini, melainkan untuk kepentingan lain yang akan dijelaskan selanjutnya.

ELIT YANG BERJARAK DARI RAKYAT

Saat ini kita hidup dalam era dimana kebudayaan candi merupakan salah satu khazanah warisan masa lalu yang dalam sejumlah aspek dianggap sebagai bagian dari kebesaran masa lalu. Pertanyaan yang menggelitik untuk diajukan adalah “mengapa  kebudayaan candi ini kemudian pernah ditinggalkan oleh masyarakat?”. Pada tingkatan yang lebih ekstrim bahkan budaya tutur tentang warisan kuno ini ternyata juga tidak menjadi bagian dari budaya lesan yang berkembang di antara masyarakat Jawa pada masa lalu. Kenyataan ini, tentu mengherankan bagi kita. Bagaimana mungkin, jika benar kebudayaan Candi merupakan warisan budaya yang tidak terpisah dari masyarakat, justru pada saat yang sama dilupakan oleh masyarakat tanpa berbekas sama sekali sampai wujud bangunannya direkonstruksi ulang dan diperkenalkan kembali kepada khalayak.

Realitas bahwa pernah terjadi proses “kelupaan” terhadap budaya candi ini menimbulkan sejumlah spekulasi dalam merunut peyebabnya. Dr. I. Groneman, seorang orientalis, membangun teorinya bahwa kerusakan candi ini terjadi murni akibat kejadian alamiah seperti gempa bumi, erupsi vulkanik, tanaman parasit yang merusak pondasi, dan sejumlah peristiwa lainnya. Groneman juga menyalahkan kebodohan rakyat sebagai penyebab mereka kurang menghargai produk agung warisan dari masa lampau.[7] Wacana yang dihasung Groneman ini hanya sampai pada tataran menjelaskan bagaimana hilangnya candi akibat proses alamiah yang berjalan, namun kurang menyentuh aspek kemanusiaan yang lebih konkret. Sebab jika penyebabnya adalah kebodohan manusia, justru hal ini bisa menjadi lahan subur dan sekaligus pemantik untuk pemujaan terhadap bangunan kuno. Dengan demikian tidak mampu menjelaskan mengapa kebudayaan candi ditinggalkan oleh masyarakat atau rakyat kerajaan Budha atau Hindhu.

Sejumlah cerita babad di Jawa yang vulgar mendapat pengaruh pemikiran Belanda berusaha menggambarkan bahwa terjadinya “kelupaan” sejarah terhadap kebudayaan candi ini adalah akibat pengaruh kedatangan Islam. Islam juga dianggap turut memberikan kerusakan terhadap sejumlah bangunan monumental di tanah Jawa. Prof. Dr. Denys Lombard, seorang akademisi dan pakar simbologi Perancis, mengakui kenyataan bahwa terdapat sejumlah tuduhan orientalis terhadap Islam sebagai penyebab kehancuran sejumlah candi. Lombard  sendiri membantah dengan menyatakan bahwa hampir tidak pernah ada monumen yang dihancurkan atas prakarsa pihak Islam. Candi-candi di Jawa secara umum telah menjadi reruntuhan sementara Hindhuisme masih menjadi agama mayoritas. Kedatangan Islam di Indonesia memang bersamaan waktu dengan terputusnya secara radikal tradisi-tradisi arsitektural yang telah berkembang di Jawa selama lebih delapan abad. Beberapa sejarawan Eropa berusaha menggarisbawahi bahwa Islam merupakan agama yang bersifat “mematikan” bagi kebudayaan lokal ini. Namun mereka lupa bahwa di Semenanjung Indochina, tempat dimana Islam tidak berhasil berkembang, pembangunan candi-candi besar juga telah berhenti sebagaimana yang terjadi di Jawa.[8]

Denys Lombard menggarisbawahi bahwa keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindhu di Jawa dan penghentian pembangunan gedung-gedung batu berskala besar lebih banyak disebabkan karena kerajaan Budha dan Hindhu mengalami kemunduran karena mulai ditinggalkan oleh rakyatnya sendiri. Hal ini terjadi karena penduduk lebih memilih untuk tinggal di kota-kota pelabuhan atau wilayah sekitarnya.[9] Pola masyarakat agraris juga mulai bergeser menjadi masyarakat bisnis sehingga daerah pedalaman yang menjadi pusat kerajaan Hindhu atau Budha dinilai kurang kondusif lagi bagi gaya hidup mereka yang baru. Dengan demikian proses “kelupaan” terhadap pembangunan dan pemeliharaan candi di Jawa penyebab utamanya adalah kerajaan sebagai inisiator utama telah ditinggalkan oleh sebagian besar rakyatnya.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa kerajaan Budha dan Hindhu itu ditinggalkan oleh masyarakatnya? Drs. R. Moh. Ali, Kepala Arsip Nasional dan Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (UNPAD), yang dikutip oleh Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, senada dengan Denys Lombard, menyatakan bahwa kebudayaan candi justru merupakan salah satu penyebab terjadinya eksodus penduduk kerajaan Budha atau Hindhu dari dari pusat kekuasaan menuju daerah pesisir atau pelabuhan. Pembangunan sejumlah candi dan patung-patung besar biasanya merupakan proyek yang melibatkan masyarakat sekitar dalam prosesnya. Masyarakat tersebut terdiri dari kalangan petani yang mata pencahariannya lebih banyak berkutat pada bercocok tanam dan memelihara ternak. Sedangkan proyek pembuatan candi dan  patung biasanya melibatkan rakyat yang digolongkan dalam kasta Sudra dan Pariatersebut dalam kerja bakti. Akibatnya kerja bakti tersebut menjadikan rakyat kecil menderita dan mata pencariannya terbengkelai. Dampaknya, mereka berusaha menyingkir dan meninggalkan wilayah pembangunan candi karena tidak ingin waktu dan tenaganya habis untuk memenuhi kewajiban kerja bakti kepada raja. Ketika Islam mulai masuk ke tanah Jawa, mereka bukan hanya meninggalkan keyakinan lamanya namun juga masuk Islam. Status sosialnya sebagai rakyat dengan kasta terendah (Sudra dan Paria) dengan sendirinya hilang setelah menganut agama Islam.[10]Sebab dalam Islam tidak dikenal adanya pembagian strata sosial yang diskriminatif sebagaimana terjadi dalam konsep kasta.

Jadi tanpa bermaksud meremehkan peran candi pada masa kini sebagai bagian dari khazanah warisan masa lalu, kebudayaan candi itu sendiri pada awalnya bukan merupakan kebudayaan yang murni milik “jiwa” masyarakat nusantara. Candi hanya berhenti sebagai milik kalangan elit kekuasaan yang terdiri dari kasta Brahmana dan Ksatriyasaja. Sementara bagi kalangan rakyat jelata yang umumnya terdiri dari kasta Sudra dan Paria, candi merupakan simbol monumental sebuah proses penindasan oleh kalangan elit politis. Oleh karenanya, maka kebudayaan candi ini pada masa pembangunannya tidak menjadi bagian dari jiwa dan hati rakyat jelata. Apalagi diharapkan menjadi bagian dari kerohaniannya. Sehingga pada masa selanjutnya proses “kelupaan” terhadap tradisi ini menjadi hal yang sangat alamiah dan wajar. Realitas tentang penghargaan terhadap budaya candi pada era kini, sama halnya dengan bangunan monumental Tembok Besar di Cina yang menjadi kebanggaan negara tersebut tetapi sejarah masa lalunya –yang secara umum dilupakan orang – dibangun dengan pertaruhan jiwa rakyat yang terlibat dalam suatu proyek kerja paksa dengan korban yang tidak berbilang.

Sungguh tepat ungkapan Syed Muhammad Naguib Al-Attas, seorang pakar peradaban Melayu, bahwa peninggalan kesenian berupa tugu-tugu maupun candi-candi serta pahatan-pahatan batu yang menunjukkan kehalusan cita rasa seni tidak selalu menjadi ciri suatu peradaban yang bermutu tinggi. Kesenian memang merupakan salah satu ciri yang mensifatkan peradaban, namun pandangan hidup yang berdasarkan kesenian itu adalah semata-mata merupakan kebudayaan estetik, kebudayaan klasik, yang dalam penelitian konsep perabadan sejarah bukan menandakan suatu masyarakat yang memiliki sifat keluhuran budi dan akal serta pengetahuan ilmiah. Bahkan Sejarah telah memberikan pelajaran bahwa semakin indah dan rumit gaya senirupa, maka semakin menandakan kemerosotan aspek budi dan akal. Selanjutnya Al-Attas menunjukkan contoh Acropolis di Yunani, Persepolis di Iran, dan Piramid-piramid di Mesir yang sama sekali tidak menunjukkan peradaban dalam wujud ketinggian moralitas dan kemajuan pemikiran dari sebuah peradaban. Sebaliknya, Al-Attas menegaskan bahwa dalam menilai peranan dan kesan terhadap Islam, karakteristik yang harus dicari oleh mereka bukan pada peninggalan yang bersifat material seperti tugu dan candi melainkan pada bahasa dan tulisan yang sebenarnya lebih bersifat daya budi dan akal yang merangkum kemajuan pemikiran.[11]

Akhirnya, pengakuan seorang orientalis bernama T. Ceyler Young terkait tentang “kebudayaan asli” di negeri-negeri berpenduduk Islam patut dicermati bersama : “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”.[12] Praktik mendekati budaya asli dengan kepentingan yang jauh berbeda dari sikap yang dipertunjukkan sebagaimana diakui Ceyler Young ini bukan merupakan strategi marginalisasi Islam yang aneh. Dapat dicatat bahwa Misionaris dan orientalis seperti Hendrik Kraemer (1888-1965) misalnya, ia berusaha mendekati dan mengkaji serta mengembangkan kebudayaan kejawen, namun bukan dilandasi simpati terhadap kebudayaan kejawen itu sendiri melainkan didorong oleh “keputus asaan” pasca terantuk kesulitan untuk menundukkan Islam di Jawa agar tersentuh oleh kegiatan misi penginjilan.[13] Hal yang sama juga berlaku pada sejumlah kajian orientalisme yang berusaha untuk mengembangkan diskursus “pribumi” untuk menyingkirkan peranan dan pengaruh Islam. “Pribumi” yang dimaksud tentu bukan dalam makna yang senyatanya, sebab kebudayaan Budha dan Hindhu pada dasarnya merupakan bagian dari proses yang oleh sejarawan disebut sebagai Indianisasi.

PENUTUP

Eksistensi kebudayaan candi – tanpa mengabaikan peran kekiniannya- merupakan salah satu kekayaan perbendaharaan budaya masa lalu nusantara. Akan tetapi mengangkat kebudayaan monumental ini sebagai warisan budaya adi luhung memang seharusnya dipaparkan kembali secara seimbang. Masyarakat seharusnya diberikan informasi yang sebenarnya bahwa mereka selama ini telah dikondisikan dalam bahasa-bahasa yang lebih bersifat jargon daripada menyentuh realitas. Sudah saatnya masyarakat insyaf bahwa kekayaan budaya yang berwujud demikian tidak selalu mewariskan cerminan kebudayaan yang menjunjung ketinggian moralitas dan kemajuan akal pemikiran yang menjadi ciri utama peradaban mulia.

Jadi pengembangan kebudayaan ini hendaknya diimbangi dengan informasi yang benar, bukannya terjebak dalam bahasa-bahasa slogan yang mengedepankan sikap manipulatif dan persuasif.  Informasi yang seimbang akan membentuk masyarakat yang kritis dalam menilai dan tegas dalam memposisikan titik tolak pemikirannya. Termasuk dalam diskursus budaya candi yang sebenarnya merupakan wujud jauhnya keberpihakan elit politis dengan masyarakat kelas bawah yang menjadi tanggung jawabnya. Publikasi tentang kekayaan budaya hendaknya tidak dibarengi dengan pengorbanan yang terlampau besar dengan menurunnya intelijensi masyarakat akibat proses pembodohan yang berjalan sistematis tersebut. Jika proses mengingat kembali kebudayaan lama ini dianggap menjadi bagian dari pemahaman terhadap khazanah kekayaan budaya. Maka proses kelupaan terhadap “masa lalu” yang pernah berjalan secara alamiah mestinya juga merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri. Sehingga perlu juga dibuka secara jujur dan tidak ditutup-tutupi.

Catatan Kaki:

[1] Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Cetakan II. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007). Hal. 14-15

[2] Soediman. Melihat Pelaksanaan Restorasi Candi Borobudur. Dalam Majalah Analisis Kebudayaan Tahun I No. 1. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1980). Hal. 103

[3] Soediman. Melihat … Ibid. Hal. 103

[4] Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugraha Natasusanto. Sejarah Nasional Indonesia III. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Balai Pustaka, Jakarta, 1993). Hal. 192-194

[5] Syed Muhammad Naguib Al-Attas. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. (Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972). Hal. 23

[6] Lihat Thomas Stamford Raffles. The History of Java. Volume II. (Printed for Black, Parbury, and Allen, Booksellers to The Hon. East-India Company, and John Murray- London, 1817 ). Hal. 6-7

[7] Dr. I. Groneman. Ruins of Buddhistic Temples in Praga Valley: Tyandis Barabudur, Mendut, and Pawon. Diterjemahkan dari Bahasa Belanda ke Bahasa Inggris oleh J. H. (Druk Van H. A. Benjamins, Semarang, 1912). Hal. 11-12

[8] Denys Lombard. Nusa Jawa Silang Budaya 2 : Jaringan Asia. Diterjemah dari Le Carrefour Javanais: Essai d’histoire globale II. (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008). Hal. 189

[9] Denys Lombard. Nusa Jawa … Ibid. Hal. 189

[10] Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara. Api Sejarah : Buku yang Akan Mengubah Drastis Pandangan Anda Tentang Sejarah Indonesia. (Salamadani Pustaka Semesta, Bandung, 2009). Hal. 155

[11] Syed Muhammad Naguib Al-Attas. Islam dalam … Opcit. Hal. 18-19

[12] Muhammad Quthb. Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam. Judul asli : Kaifa Naktubu Attarikhal Islami?. (Darul Wathan lil Nasyri, 1412). (Gema Insani Press, Jakarta,1995).Hal. 38

[13] Karel Steenbrink. Dutch Colonialism and Islam in Indonesia: Conflict and Contact 1596-1950. Edisi Indonesia:Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942).  Penterjemah oleh Drs. Suryan A. Jamrah, MA. (Penerbit Mizan, Bandung, 1995). Hal 164

************

Penulis: Susiyanto
(Dosen IAIN Surakarta)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tags: Islam dan Indonesia
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on WhatsApp
Previous Post

10 Alasan Kenapa Jazirah Arab yang Dipilih Sebagai Tempat Kelahiran Islam

Next Post

Catatan Pena An-Nawawi (Bag 35): Mengapa Selalu Gagal?

Muh Akbar

Muh Akbar

Muhammad Akbar adalah Jurnalis Mujahid Dakwah, Founder Daar Al-Qalam, Member of Ummah International & Khadim Saladin Community, Pengurus Komite Solidaritas Palestina, dan Anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI).

    LIBERATION OF AL AQSA

    Sekitar 1.500 Pemukim Yahudi Serbu Kompleks Masjidil Aqsa pada Hari Kedua Sukkot
    BAITUL MAQDIS

    Sekitar 1.500 Pemukim Yahudi Serbu Kompleks Masjidil Aqsa pada Hari Kedua Sukkot

    September 30, 2026
    Penjajah Israel Tutup Masjid Ibrahimi Selama Tiga Hari, Perketat Pengamanan di Hebron
    BAITUL MAQDIS

    Penjajah Israel Tutup Masjid Ibrahimi Selama Tiga Hari, Perketat Pengamanan di Hebron

    September 29, 2026
    Makin Provokatif, Ben-Gvir dan Ribuan Pemukim Yahudi Gelar Ritual di Komplek Masjidil Aqsa
    BAITUL MAQDIS

    Makin Provokatif, Ben-Gvir dan Ribuan Pemukim Yahudi Gelar Ritual di Komplek Masjidil Aqsa

    September 23, 2026
    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa
    BAITUL MAQDIS

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    September 15, 2026

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    PILIHAN EDITOR

    Hadirkan Spirit Kiai Imam Zarkasyi di 100 Tahun Gontor, Membangun Peradaban Melalui Pendidikan
    PILIHAN EDITOR

    Hadirkan Spirit Kiai Imam Zarkasyi di 100 Tahun Gontor, Membangun Peradaban Melalui Pendidikan

    by Muh Akbar
    September 28, 2026
    Ketua Umum LIDMI Ajak Mahasiswa STIBA Makassar Berkontribusi dalam Politik di Indonesia
    Kolom

    Hikmah Maulid dari Aspek Sosial Kemasyarakatan, Politik dan Keteladanan Pemimpin

    by Asrullah
    Agustus 26, 2026
    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?
    Adab & Ibadah

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    by Wahyuni
    Agustus 18, 2026
    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945
    Kolom

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    by Asrullah
    Agustus 26, 2026
    Perkuat Keamanan Kolektif: Turki, Saudi dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan di Tengah Ketegangan Timteng
    KABAR DUNIA

    Perkuat Keamanan Kolektif: Turki, Saudi dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan di Tengah Ketegangan Timteng

    by Muh Akbar
    Agustus 8, 2026
    Imam Shamsi Ali: Kemenangan Abdul El-Sayed Menandai Transformasi Politik Amerika Serikat
    PILIHAN EDITOR

    Imam Shamsi Ali: Kemenangan Abdul El-Sayed Menandai Transformasi Politik Amerika Serikat

    by Imam Shamsi Ali
    Agustus 7, 2026

    MATERI KHUTBAH JUMAT

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Juni 16, 2026
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita
    Khutbah Jum'at

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Juni 16, 2026
    Load More
    ADVERTISEMENT


    POPULAR POST

    • Biografi Sejarawan Islam Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi

      Biografi Sejarawan Islam Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi

      1646 shares
      Share 658 Tweet 412
    • Waspada! Gerakan LGBT di Lingkup Kampus Berkedok Jumat Berbagi di Makassar

      1075 shares
      Share 430 Tweet 269
    • Perbedaan Antara Al-Quran, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi

      906 shares
      Share 362 Tweet 227
    • Innalillah, Pemimpin Hamas Ismail Haniyah Syahid Akibat Serangan Teroris Israel di Teheran

      871 shares
      Share 348 Tweet 218
    • Santri Asal Bantaeng Jadi Wisudawan Terbaik di Madrasah Tahfidz Qur’an Markaz Imam Malik Angkatan ke V

      812 shares
      Share 325 Tweet 203

    UPDATE DUNIA ISLAM

    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    Wahdah Islamiyah Dorong Penguatan Diplomasi Bebas-Aktif Indonesia untuk Palestina

    September 28, 2026
    Makin Provokatif, Ben-Gvir dan Ribuan Pemukim Yahudi Gelar Ritual di Komplek Masjidil Aqsa

    Makin Provokatif, Ben-Gvir dan Ribuan Pemukim Yahudi Gelar Ritual di Komplek Masjidil Aqsa

    September 23, 2026
    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    September 15, 2026
    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    September 9, 2026
    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    September 7, 2026
    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    September 4, 2026
    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    September 2, 2026
    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    September 1, 2026
    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    Agustus 27, 2026
    260 Jurnalis di Gaza Gugur Sejak Genosida yang Dilakukan Zionis Israel

    260 Jurnalis di Gaza Gugur Sejak Genosida yang Dilakukan Zionis Israel

    Agustus 11, 2026

    Follow Instagram Mujahid Dakwah

    • Gontor, di negeri ini, adalah salah satu lembaga pendidikan yang terbaik. Berdiri pada 1926 dan “disegarkan” pada 1936, pesantren ini telah melahirkan banyak lulusan yang bermanfaat.  Tentu akan sangat banyak pelajaran jika kita mengikuti, setidaknya sebagian, alam pikiran dari pendirinya, yaitu dari KH Imam Zarkasyi (1910–1985). Beliau salah satu dari tiga bersaudara pendiri Gontor dan yang termuda. Adapun dua kakaknya adalah KH Ahmad Sahal (1901–1977) dan KH Zainuddin Fanani (1908–1967).  Karya, dalam pandangan Pak Zar (sapaan akrab dari KH Imam Zarkasyi), dihubungkan dengan prinsip amal jariyah yang membawa manfaat kepada orang lain.  Bahwa, semakin besar manfaat karya seseorang bagi sekitarnya, maka semakin besar nilai amal jariyah dari karya itu. Pada saat yang sama, karya yang bermanfaat itu merupakan salah satu bentuk ibadah dan realisasi ketakwaan serta menjadi ukuran kebesaran seseorang.  Seperti yang selalu menjadi tekad Pak Zar ketika mulai merintis sistem pesantren modern, dia mengatakan, “Apabila saya tidak berhasil mengajar melalui pesantren, maka saya akan mengajar dengan pena.”  Kembali ke soal karya. Bahwa, karya dalam pandangan Pak Zar merupakan amal yang bermanfaat bagi orang lain. Bentuknya, antara lain, bisa berupa karya tulis.  Pak Zar telah mendirikan Pesantren Gontor, itu karya. Pak Zar sudah mengajar banyak murid, itu juga karya. Tak ketinggalan, ada belasan karya tulis Pak Zar yang berupa buku.  Kini, ketika kita memperingati 100 tahun Gontor dengan sepenuh rasa syukur, maka sangat relevan untuk menghidup-hidupkan temanya. Tema itu, sekali lagi, yaitu: Gontor Menghadirkan Nilai-Nilai Islam, Membangun Peradaban Utama.  Sungguh, adapun di antara cara menghidup-hidupkannya adalah dengan terus menghadirkan pesan-pesan dari KH Imam Zarkasyi, terutama: Perbanyak karya yang membawa manfaat kepada orang lain dan hubungkan dengan prinsip amal jariyah. Semoga Allah mudahkan kita, aamiin!...  Baca Selengkapnya di: www.mujahiddakwah.com  #gontor #pesantren #islam #100tahungontor
    • Para pemukim kini secara sistematis menunggangi momentum hari raya keagamaan untuk mengukuhkan kedaulatan atas tanah situs suci umat Islam Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis.  Saksi mata mencatat Netanyahu memboyong istrinya, Sara, ke terowongan di bawah Tembok Buraq saat umat Yahudi melantunkan doa Selichot. Di hadapan kamera, Netanyahu melontarkan klaimnya:  “Kami berada di terowongan Tembok Ratapan. Begitu menyentuh hati saat memegang batu yang menjadi fondasi keberadaan kami. Kami berada sangat dekat dengan tempat mahakudus. Kami ada di sini dan akan bertahan selamanya.”  bahaya utama dari aksi-aksi ini terletak pada upaya kelompok ekstremis “Temple Mount” dan arus Zionisme Religius untuk memaksakan fakta baru di Al-Aqsa.  Ambisi mereka adalah menjadikan kompleks masjid tersebut sebagai pusat utama seluruh perayaan keagamaan sekaligus “jantung kehidupan beragama di negara Israel.”  Data resmi Pemerintah Daerah Al-Quds mencatat sedikitnya 1.678 pemukim Israel telah menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Mereka menggelar ritual dan doa Taurat secara terbuka dan berombongan, sembari membawa masuk perlengkapan ibadah, buku-buku agama, hingga mengenakan pakaian keagamaan khusus.  Bagi Marouf, seluruh rincian aksi tersebut bukanlah ritual ibadah biasa, melainkan strategi terencana untuk melegitimasi fakta-fakta baru di atas tanah Al-Aqsa.  Baca Selengkapnya di: www.mujahiddakwah.com  #masjidalaqsa #baitulmaqdis #freepalestine🇵🇸 #islam #gazaunderattack
    • KE MANA UMAT ISLAM YANG LEBIH DARI DUA MILIAR? Adegan yang dahulu sulit dibayangkan, kini kembali menjadi kenyataan yang menyedihkan. Puluhan ribu penduduk Israel dilaporkan mendatangi Dinding Barat (Dinding al-Burāq) di kawasan Masjid al-Aqsā dan melakukan ritual Talmudik. Di antara yang hadir disebut terdapat Benjamin Netanyahu, Itamar Ben-Gvir, dan sejumlah menteri Israel lainnya. Usai ritual, Netanyahu memasuki terowongan di kawasan Dinding al-Burāq. Ia menggambarkan batu-batu di lokasi tersebut sebagai “batu keberadaan kita” dan menyatakan, “Kami kembali, kami ada di sini, dan kami akan selalu ada di sini.” Pagi harinya, penduduk Israel kembali memasuki halaman-halaman al-Masjid al-Aqsā. Lantas, ke mana umat Islam yang jumlahnya lebih dari dua miliar? Jangan biarkan hati kita menjadi mati rasa terhadap apa yang terjadi. 🤲 Ya Allah, lindungilah Masjidil Aqsā yang diberkahi. Jagalah kesucian dan kemuliaannya. Dan bebaskanlah Masjidil Aqsā dari pendudukan dan penindasan. #masjidalaqsa #baitulmaqdis #palestina #gazaunderattack #islam
    • Kiprah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren. Sejumlah alumni tercatat mengambil peran dalam pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan.  Peran tersebut menjadi bagian dari perjalanan Gontor dalam mengawal umat dan peradaban. Keterlibatan alumni Gontor dalam perjalanan bangsa telah berlangsung sejak masa sebelum kemerdekaan. Mereka mengambil peran dalam berbagai bidang sesuai dengan pengabdian masing-masing.  Ada yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, pemerintahan, hingga dakwah. Kiprah tersebut menunjukkan luasnya kontribusi alumni Gontor di tengah masyarakat.  Salah satu tokoh yang disebut adalah Jenderal Hasan Basry. Alumni tersebut dikenal memiliki peran dalam perjuangan memerdekakan Kalimantan. Atas kiprahnya, Jenderal Hasan Basry kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.  “Pra-kemerdekaan, alumni banyak sekali berperan, salah satunya tentu yang sangat kita kenal adalah Jenderal Hasan Basry. Beliau menjadi Pahlawan Nasional karena memerdekakan Kalimantan,” kata Khoirul Umam, ditulis Rabu (20/9/2026).  Di bumi Kabupaten Ponorogo itulah, mentalitas, intelektualitas dan keahlian diplomasi Kiai Idham Chalid digembleng hingga kelak mengantarkannya menjadi salah satu pilar utama perjalanan politik serta keagamaan di Indonesia.  Kedekatannya dengan Trimurti berkembang bukan sekadar relasi antara kyai dan santri, melainkan hubungan bimbingan spiritual dan kepemimpinan yang mendalam. Trimurti melihat potensi kepemimpinan besar pada diri Kiai Idham Chalid hingga dipercaya memimpin di usia 34 tahun PBNU 1956 hingga dekade 1980-an. Puncak khidmatnya pada bangsa semakin kokoh kala beliau dilantik menjadi Ketua MPR RI merangkap Ketua DPR RI periode 1971–1977.  Kiprah alumni Gontor juga terlihat dalam organisasi kemasyarakatan. Seperti K.H. Hasyim Muzadi yang pernah memimpin Nahdlatul Ulama selama 2 periode dan juga K.H. Din Syamsuddin yang pernah memimpin Muhammadiyah. Selain itu, alumni Gontor turut berperan di Jam’iyat Al-Irsyad, dan Mathla’ul Anwar.  Melalui kiprah para alumni, nilai pendidikan dan pengabdian Gontor terus dibawa ke tengah masyarakat.  Baca Selengkapnya di: www.mujahiddakwah.com
    • Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal berbicara dengan lugas dan tegas saat Peringatan 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Sabtu (19/9) di hadapan Presiden Prabowo Subianto. "Bapak Presiden, saya ngomong agak tak enak ya, Pak. Sorry ye," ujar Hasan Abdullah Sahal. Menurut Kiai Hasan, Gontor tetap memilih pendidikan sebagai jalan utama dalam membangun generasi. la juga mengajak untuk tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi menjadikannya pijakan untuk menciptakan perubahan dan membangun peradaban. "Dulu Bapak Presiden Soekarno, (bilang) Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya membaca buku, bergurulah pada sejarah Gontor. Cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah," kata Kiai Hasan. #gontor #prabowo #nasional #indonesia
    Next Post

    Hikmah Nabi Muhammad Lahir dalam Keadaan Yatim

    Mujahid Dakwah adalah Portal Media Islam Indonesia (8 Tahun menyuarakan kebenaran, menghadirkan inspirasi dan menggerakkan kebaikan). Memuat artikel Islam, opini, sejarah, lifestyle muslimah, berita dunia Islam, news Indonesian, dan menjadi pusat literasi dan persiapan keilmuan dalam pembebasan Masjidil Aqsa & Baitul Maqdis

    © 2018–2026 / All Rights Reserved / Web Design by Mubarak Group Indonesia

    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber
    • Kirim Tulisan

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In

    Add New Playlist

    No Result
    View All Result
    • ARTIKEL
    • BAITUL MAQDIS
    • INDONESIA
    • KABAR DUNIA
    • KALAM
    • KHAZANAH
    • MUSLIMAH
    • PILIHAN EDITOR
    • UMMAH INTERNASIONAL

    © Copyright 2026 - Mujahid Dakwah Media