بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم
Sahabatku Fillah yang berbahagia, alhamdulilah gerakan Sejuta Karya Untuk Ummat telah hadir bersama kita dan akan berbagi tulisan, nasehat, tazkiyah dan motivasi, dengan tujuan berkontribusi dalam bidang literisasi untuk ummat. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi Sahabat-sahabat.
Selama manusia masih mengarungi kehidupan nya dibumi, maka seluruh manusia masih berpotensi mendapatkan bencana dan musibah dalam hidupnya. Yakinlah, bahwa musibah pasti pernah datang kepada semua orang.
Dimasa lalu mungkin mereka telah melalui dengan berbagai peristiwa, bencana dan musibah yang menimpa dirinya atau kita tidak mengetahui dimasa yang akan datang kita pun akan ditimpa oleh bencana dan musibah. Yang terpenting adalah bagaimana sikap dan tanggapan kita ketika musibah ini ketika datang kepada diri kita. Apakah kita bersabar dan bersyukur? atau putus asa dan menyerah?
Saudaraku yang berbahagia, hari ini tetesan air mata, duka yang mendalam dalam hati setiap insan dan tetesan darah bahkan ratusan nyawa telah pergi dengan peristiwa gempa dan tsunami palu, donggala sulawesi tengah.
Tercatat lebih dari 800 jiwa telah meninggal dan rutasan korban luka-luka dan hilang belum ditemukan sampai sekarang. Seluruh fasilitas dan perkantoran rusak parah dan tidak bisa digunakan lagi. Masjid yang roboh, bangunan sekolah yang retak, rumah masyarakat yang hancur terkena gempa dan tsunami dll.
Saudaraku seiman, sungguh naif diri kita ini jika tak mengambil ibrah dan pelajaran terhadap setiap peristiwa yang terjadi disekitar kita. Ketahuilah, bahwa setiap musibah dan bencana itu terjadi dikarenakan ulah dari tangan manusia sendiri. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [الشورى:30].
”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuraa: 30).
Setiap perbuatan yang dilakukan oleh kedua tangan manusia, Allah subhanahu wata’ala menimpakan musibah kepada mereka, baik yang dirasakan di dunia maupun di akhirat kelak. Mari tanyakan kepada setiap manusia.
Apakah mereka melakukan kesyirikan?
Apakah mereka menghalalkan perzinaan?
Membiarkan kaum LGBT berkembang dan menjalar dimana-mana?
Apakah disibukkan dengan dunia sehingga lupa beribadah kepada Allah?
Tanya pemimpin nya, apakah dia tidak mendzolimi rakyatnya? Tidak mengkriminalisasi ulama dan para habaib?
Tanyakan juga pada ulama, dosa apa yang anda biarkan, tidak anda cegah sehingga Allah murka dan mengirim bencana kepada ummat?
Yakinlah, setiap musibah dan bencana pasti ada “sabab dan musababnya” Allah timpahkan gempa kepada negeri kita yang tercinta ini pasti ada penyebabnya. Musibah yang datang silih berganti, gempa yang baru saja menghancurkan kota lombok dan sekarang gempa, tsunami dan tanah lumpur kembali meluluhlantahkan kota palu.
Ya Rabb, apa yang terjadi dengan negeri ini.
Wahai saudaraku yang seiman, ketahuilah bahwa setiap musibah dan bencana datang kepada negeri kita adalah karena dosa, kesyirikan, kemaksiatan, kekufuran dan kemungkaran yang masih merajalela dinegeri yang kita cintai ini.
Di kota palu, dikenal sebagai salah kota yang memegang erat adat leluhur mereka salah satunya “Palu Nomoni” seribuan warga sedang asyik mengikuti festival sore itu dipinggir pantai anjungan Nusantara, Kota Palu (Jum’at, 29/9/18) Yang tak lama beberapa menit kemudian terjadi gempa dan tsunami.
Palu Nomoni adalah ritual untuk meminta kesembuhan bagi penderita penyakit dengan membawa sesaji dan dilarung kelaut. Isi dari sesajian itu (pinang, gambir, tembakau, koin, kue tradisional, seekor kambing, ayam dll). Setelah itu pelepasan sesaji ke semudera atau laut dan sekaligus memandikan orang yang sakit. Proses ini memiliki makna, jika dimandikan disungai maka penyakit akan hilang mengikuti aliran sungai yang bermuara kesamudera luar dan tidak akan kembali lagi.
Secara singkat inilah acara atau ritual yang dilakukan pada hari Jum’at itu dan bahkan dihadiri oleh ribuan orang. Dan kita yakini bahwa ritual Palu Nomoni adalah ritual kesyirikan. Dimana dalam ritual tersebut mereka meminta kesembuhan selain kepada Allah subhanahu wata’ala. Padahal yang memberikan penyakit dan menyembuhkan adalah Allah subhanahu wata’ala semata.
‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Para ulama salaf pun mengatakan bahwa dosa adalah merupakan salah satu penyebab turunnya musibah kepada suatu kaum.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75).
Olehnya itu, semakin banyak para pelaku kesyirikan, kemungkaran dan kemaksiatan dinegeri ini, maka pada dasarnya mereka telah mengundang bencana dan musibah untuk menimpa negeri ini. Memberikan luka dan duka untuk negeri ini. Jikalau anda cinta dengan negeri ini maka jauhilah segala parktek-praktek kesyirikan.
Semoga Allah senantiasa menjaga diri-diri kita dari segala bentuk praktek kesyirikan dan kemungkaran, dan semoga Allah senantiasa menjaga saudara-saudara kita di Palu dan sekitarnya dan Allah kuatkan kesabaran dan keimanan mereka serta memberikan jalan keluar dari setiap musibah dan bencana yang menimpa mereka.
Mari kita senantiasa memperbanyak Istighfar, karena bisa jadi gempa dan musibah diturunkan oleh Allah karena dosa dan maksiat yang kita kerjakan. Sedangkan dosa akan dihapuskan takkala kita memperbanyak istighfar, taubat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Jadikan musibah dan bencana sebagai ibrah dan pelajaran akan besarnya kekuasaan Allah subhanahu wata’ala, tanpa ada musibah, mungkin kita telah lupa mensyukuri segala nikmat dan anugerah-Nya. Kita akan lebih mengetahui bahwa kehidupan didunia ini adalah kehidupan yang sesaat.
Terkadang hati kita harus dihempaskan seluas samudera, Ikhlas dengan setiap musibah yang menimpa dan bersyukur dengannya. Karena ini adalah merupakan rencana Allah subhanahu wata’ala. Dan kita yakin, bahwa rencana Allah adalah rencana yang terbaik, tidak pernah buruk.
Rasanya kita harus bersyukur dan berlapang dada, adakalanya nikmat yang besar itu datang setelah musibah dan bencana menghadang. Ibarat pelangi yang indah, muncul setelah melewati hujan deras dan awan tebal. Semuanya akan indah pada waktunya. Mari doakan saudara-saudara kita…
Wallahu ‘alam bishowab…
#prayforpalu #savepalu #gempabumi #tolakkesyirikan #tolaklgbt #muhajiddakwahcom #mujahidislam #foundermujahiddakwah #menebardakwahdenganalqurandansunnah #kokohikhwahcollection
Ahukum,
✍ Pena An-Nawawi “Akh Muhammad Akbar, S.Pd”
(Penulis, Teacher, Ceo Mujahid Dakwah Media dan Founder Mujahid Dakwah.Com)
♻ Sukseskan Gerakan :
✒ Pemuda Muslim Menulis
📚 Sejuta Karya Untuk Ummat












































































