Situasi kemanusiaan di Gaza yang telah porak-poranda akibat serangan Israel juga tak kunjung menunjukkan perubahan positif. Pembukaan sebagian blokade Israel di Palestina tak terbukti bermanfaat bagi penderitaan rakyat Gaza.
Laporan Otoritas Penyeberangan dan Perbatasan Gaza pada Jumat menyebut bahwa sebanyak 50 warga Palestina melakukan perjalanan ke luar Gaza pada hari itu. Sebanyak 50 warga itu terdiri dari 13 pasien dan 37 pendamping. Sementara itu, ada 41 warga yang kembali ke Gaza.
Kendati perjalanan dari dan ke Gaza telah dimungkinkan, namun rendahnya arus penyeberangan yang diperbolehkan tak banyak membantu. Ribuan pasien Palestina dilaporkan masih tak bisa keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan medis, padahal fasilitas kesehatan di sana bekerja pada taraf yang memprihatinkan.
Tak hanya rendahnya arus penyeberangan manusia, arus penyeberangan logistik bantuan juga masih dibuka pada taraf yang minimal. Pada Kamis, otoritas penyeberangan melaporkan adanya 286 truk pembawa logistik memasuki Gaza, namun Gaza kini membutuhkan setidaknya 600 truk logistik setiap hari untuk memenuhi kebutuhan penduduk.
Di tengah situasi tersebut, sebanyak 37 kelompok pembawa bantuan internasional telah dihentikan Israel. Mereka dilarang melewati perbatasan kecuali menyerahkan detail pribadi para staf.
Organisasi-organisasi itu menolak melakukan perintah Israel itu karena dinilai dapat membahayakan karyawan, mengikis netralitas kemanusiaan, dan melanggar peraturan perlindungan data Eropa.
Oxfam International, salah satu organisasi bantuan yang tak boleh mengirimkan bantuan oleh Israel, menyebut bahwa permintaan Israel itu akan berdampak buruk pada krisis kemanusiaan di Gaza.
“Di Gaza, keluarga-keluarga tetap bergantung pada bantuan eksternal di tengah pembatasan masuknya bantuan yang terus berlanjut,” tulis Oxfam International dalam pernyataannya.
Oxfam International juga menyebut bahwa pembatasan arus pengiriman bantuan masih diperparah oleh serangan demi serangan Israel yang masih terus berlangsung di Gaza.
“Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, serangan militer, penghancuran, pengungsian, perluasan pemukiman, dan kekerasan pemukim mendorong meningkatnya kebutuhan kemanusiaan,” tulis mereka.
Sumber: Palinfo












































































