Tantangan hadir bukan untuk melemahkan langkah kaki kita. Walakin untuk menggugah keinginan batin guna menjadi pribadi yang lebih baik. Kaya inspirasi dan semangat dalam kebaikan. Tentu saja, setiap orang memikul beban dan tantangan berbeda. Setiap orang ada tantangannya. Dan, setiap tantangan ada orangnya. Mungkin seperti itu, ya.
Hal itu menandakan bahwa boleh jadi inilah beban yang setiap orang hadapi. Tetapi dari tantangan itu kita bisa memiliki tolak ukur perihal daya tahan mental. Apakah tantangan yang kita hadapi bisa menjadikan jiwa kita kuat karenanya. Atau sebaliknya, kita justru melemah. Pilihan itu sepenuhnya ada di tangan setiap orang.
Melawan Rasa Malas
Salah satu tantangan terbesar ada dalam jiwa setiap orang, yaitu kemalasan. Kondisi itu menjadikan orang sulit untuk menjadi konsisten dalam kebaikan. Padahal, konsistensi adalah kunci ketenangan hati. Orang yang konsisten berbuat baik tidak akan mudah kecewa pada dirinya sendiri. Namun, meniti jalan ini bukan perkara mudah.
Kita sering kali tergiur pada hal-hal yang menarik perhatian mata. Padahal, belum tentu hal itu baik dan bermanfaat. Inilah jebakan persepsi yang sering melenakan.
Jadi, tantangan terbesar sesungguhnya adalah rasa malas. Kalau seseorang gagal mengatasi kemalasan dalam hidupnya, maka dia akan gagal. Terutama sekali akan mudah gagal mengendalikan waktu. Rasa lelah semu kerap menguasai jiwa. Kita pun jadi enggan tekun dalam ibadah maupun belajar.
Jangan Seperti Ikan Mati
Ketidakdisiplinan, terutama dalam ibadah, berdampak sangat fatal. Jiwa kita akan mudah goyah. Keyakinan di dada perlahan menjadi rapuh.
Akhirnya, hidup kita seperti ikan mati di tengah lautan. Tubuh ikan itu menjadi asin dan asam mengikuti rasa air laut. Kita terbawa arus lingkungan tanpa memiliki prinsip hidup yang kokoh.
Artinya hidupkan jiwa kita, jangan hanya hidung yang bernapas. Sebab itu artinya kita akan hidup tanpa prinsip. Dan, itu awal dari segala bahaya dan kerugian.
Strategi Menjemput Makna
Oleh karena itu, kita memerlukan strategi jitu. Secara internal, bangunlah motivasi dan kedisiplinan yang ketat. Kelola waktu kita sebaik mungkin.
Mari kita belajar dari karakter bangsa Jepang. Mereka menjadikan disiplin sebagai napas kehidupan dan kekuatan kolektif. Mereka sangat menghargai waktu, etos kerja, serta menjaga tradisi luhur.
Selain itu, carilah dukungan eksternal. Temukan komunitas yang mampu menyuburkan benih kebaikan dalam diri. Perkuat niat, tingkatkan fokus, dan teguhkan iman kita sekarang juga. Prinsipnya jangan malas, tapi harus sadar dan tegas untuk terus berusaha keras menjalani hari dengan penuh arti.
Jika strategi ini berhasil kita sinergikan, makna kehidupan akan segera terbit. Kekuatan kita akan tumbuh subur dalam kebaikan secara bersama-sama. Seseorang pernah berkata kepadaku, umat Islam akan maju kalau mereka komitmen dengan nilai-nilai mulia dalam ajaran Islam.
************
Penulis: Ustadz Imam Nawawi, M.Pd.I
(Kepala Humas BMH Pusat, Eks Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh masimamnawawi.com)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)















































































