Sejak siang, suasana di Desa Raja Cinta, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, tampak berbeda pada Rabu (17/12). Warga mulai berdatangan dan berkumpul dengan tertib. Bapak-bapak, ibu-ibu, hingga pemuda berbaris rapi menunggu giliran mereka.
Di tengah suhu dingin pascabanjir bandang, kehadiran santapan hangat menjadi penyejuk yang dinanti. Baitul Maal Hidayatullah (BMH) hadir membawa solusi. Melalui Stasiun Pelayanan Penyintas Bencana (SPPB), mereka menyalurkan 500 porsi makanan siap santap.
Antusiasme warga memuncak saat nasi dikeluarkan dari termos besar. Asap tipis mengepul dengan aroma lauk yang menggugah selera. Hal ini sontak mengundang warga untuk segera mendekat.
Program kali ini terasa istimewa dan berbeda dari bantuan biasanya. BMH menghadirkan konsep dapur keliling, bukan sekadar nasi bungkus.
Semua hidangan disajikan dalam kondisi panas. Warga bebas memilih lauk, layaknya sedang bersantap di warung sederhana.
“Ini masih panas, enak sekali. Rasanya seperti makan di rumah makan,” ungkap Ibu Hamidah.
Ia mengaku kesulitan memasak karena peralatan dapurnya rusak terendam banjir. Selama ini, keluarganya hanya mampu menyantap makanan seadanya.
Pak Aan, warga lainnya, turut merasakan manfaat serupa. Baginya, makanan hangat sangat membantu tubuh di tengah cuaca hujan.
“Cuaca sedang dingin. Makan panas begini membuat badan terasa lebih kuat,” tuturnya.
Dhiyaudin, pelaksana program BMH, menjelaskan tujuan utama aksi ini. Mereka ingin memberikan kenyamanan sederhana bagi para korban.
“Kami ingin warga merasakan perhatian, bukan sekadar menerima bantuan,” jelasnya.
Menariknya, BMH juga menggandeng rumah makan lokal. Langkah ini diambil untuk menjaga kualitas rasa sekaligus menggerakkan ekonomi warga sekitar.
Program SPPB ini akan terus berlanjut menyasar titik-titik terdampak lainnya selama masa pemulihan.
Laporan: Humas BMH













































































