Berpikir itu tidak sama dengan menyalahkan orang lain. Kadang kala orang lebih sering habis energinya karena terus menyoroti kesalahan orang lain daripada membangun ketajaman berpikir dalam hidupnya. Orang yang tahu cara berpikir akan tumbuh. Indikasinya kalau bercerita ke orang lain, ia menghindari kosa kata yang menyusun kalimat menyudutkan orang lain.
Untuk itu kita mesti waspada terhadap bahaya yang sering tak terasa ini, menyalahkan orang lain. Dalam psikologi sikap menyalahkan orang lain adalah buruk. Sikap itu memberikan dampak negatif bagi pribadi dan orang lain.
Kerugian yang paling tampak dari menyalahkan orang lain, seseorang gagal fokus dengan tanggung jawabnya sendiri. Cenderung melindungi ego, menghindar dari rasa bersalah, dan sulit menumbuhkan kemampuan berpikir.
Alhasil ia sulit melakukan evaluasi. Karena energinya terkuras mencari dan memastikan mana yang bisa ia jadikan kambing hitam.
Buruknya lagi, kata David Burn, seorang terapis kognitif, orang yang sering menyalahkan orang lain telah mengalami cara berpiki salah dan sering mengalami tekanan psikologis.
Menyalahkan Orang itu Seperti Virus
Lebih jauh, sering menyalahkan orang lain bisa jadi seperti virus. Tidak hanya merusak personnya, tetapi juga membuat buruk orang lain. Entah itu rekan kerja atau pun koleganya. Dalam konteks perusahaan, itu bisa berdampak pada kestabilan dan produktivitas perusahaan secara keseluruhan. (Baca buku “Ketakutan Hilang Penjualan Terbilang” karya Heru Susanto: 2013).
Sisi turunan dari semua itu, seseorang mudah bermental lemah. Gampang menyerah, senang hal yang instan, kurang bisa menghargai orang lain. Karena memori otaknya hanya berisi wajah orang-orang yang baginya sangat salah. Akibatnya ia tak mampu berpikir. Ucapan-ucapannya selalu tentang kesalahan orang lain.
Hal yang paling buruk, yang bukan urusannya pun ia bisa jabarkan panjang lebar. Bukan karena mengerti filosofi dan landasannya, tapi karena ia melihat ada yang bisa disalahkan.
Oleh karena itu kalau kita bertemu dengan orang seperti itu, pikiran kita tidak akan tajam. Sebab memang kita tidak diajak berpikir, tapi diberitahu kesalahan orang. Targetnya jelas, ia ingin dapat kesan positif sebagai orang yang layak dapat pengakuan. Padahal sebenarnya ia juga tidak bisa berpikir. Apalagi mendatangkan prestasi-prestasi baik.
Buang yang Merugikan
Pada akhirnya kita yang harus sadar. Jangan sampai lisan ini banyak berbicara yang tak bermanfaat, jauh dari ilmu dan tidak membuat maslahat terwujud.
Semakin sering orang menyalahkan orang lain, maka ia akan semakin lupa akan dirinya sendiri. Akibatnya seseorang akan sulit maju, berkembang dan tumbuh dalam hal yang justru sangat orang perlukan.
Kalau memang ada kesalahan orang, kita ambil pelajarannya. Mulai untuk membangun kekuatan jiwa dengan cara memulai langkah baru. Utamanya untuk memulai membangun keadaan yang kita inginkan dan membawa kebaikan.
Sebuah ungkapan penting pernah saya baca. “Menyalahkan orang lain membuat kita tak punya kekuatan atas hidup kita sendiri karena kebahagiaan kita bergantung pada tindakan dan tingkah laku orang lain, yang tak bisa kita kontrol.” (Baca buku “Jangan Lupakan Hal-Hal Kecil: Cara Sederhana untuk Tetap Tenang di Saat-Saat Stres” karya Eagle Oseven).
Rasulullah SAW itu pun kerap menemukan perilaku orang yang salah. Namun beliau tak punya fokus untuk membahasnya. Beliau langsung memberikan teguran lalu menjelaskan dan meneladankan. Dalam kata yang lain, lebih keren kita berusaha menjadi pribadi yang baik dan bisa menciptakan kebaikan terus hidup, kuat dan berpengaruh. Berkata yang baik atau diam.
Langkah ini seperti nasihat lawas, tapi itulah cara ampuh menjadi pribadi yang mampu berpikir dalam dan berkualitas. Kalau meluncur kalimat dari lisannya, itu tentang menyelesaikan masalah. Bukan menambah masalah dengan daftar nama-nama orang yang kita anggap sangat salah.
***********
Penulis: Ustadz Imam Nawawi, M.Pd.I
(Kepala Humas BMH Pusat, Eks Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh masimamnawawi.com)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)
















































































