Kebesaran Allah dan Kehidupan
Saya memulai tulisan ini dengan mengajak kita semua menundukkan wajah kita yang mulia, merendahkan jiwa kita yang hanif, merenungkan āazhomatullahā (keagungan Allah) seraya mensyukuri segala nikmatNya yang tiada batas yang dikarunikan kepada kita semua.
Kebesaran Ilahi yang kita kumandangkan dengan alunan ātakbir, tahmid, dan tahlilā adalah ekspresi iman, sekaligus bentuk komitmen kita untuk menjadikan Allah āJalla Jalaaluhā sebagai ārujukan kehidupanā kita.
Bahwa dalam hidup ini semuanya bermuara dari SATU sumber, Allahus Shomad. Kita ada, kita berada atau tidak berada, kita kuat atau lemah, menguasai atau di kuasai, bahkan kita hidup dan pasti suatu saat nanti kita mati, semuanya karena Allah SWT.
Esensi falsafah hidup yang seperti inilah yang tersimpulkan dalam pengakuan iman kita: āŁŲ§ Ų§ŁŁ Ų§ŁŲ§ Ų§ŁŁŁā. Bahwa tiada yang punya hak kekuasaan, keagungan, penyembahan dan pujian kecuali Allah, Tuhan Pemilik langit dan bumi.
Inilah ikrar awal jamaah haji ketika memulai niat manasiknya:
ŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŁŲØŁŁ ŁŲ§ Ų“Ų±ŁŁ ŁŁ Ų§Ł Ų§ŁŲŁ ŲÆ ŁŲ§ŁŁŲ¹Ł Ų© ŁŁ ŁŲ§ŁŁ ŁŁ ŁŲ„Ų“Ų±Ų§Ł ŁŁ
āKami datang ya Tuhan memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu. Sesungguhnya seluruh pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milikMu. Tiada sekutu bagiMuā.
Ini pulalah yang menjadi falsafah hidup sejati seorang Mukmin:
Ų§ŁŲ§ ŁŁŁ ŁŲ§ŁŲ§Ų§ŁŁŁ Ų±Ų§Ų¬Ų¹ŁŁ
Bahwasanya kita, dan segala yang ada pada kita; anak isteri, harta benda, kekuasaan dan kehormatan duniawi kita, semuanya adalah milik Allah yang menjadi titipan sementara kepada kita dan pada akhirnya juga akan kembali kepadaNya.
Hadirnya Allah dalam hidup kita, baik pada tataran individu maupun kolektif, melahirkan kekuatan dan energi kehidupan yang maha dahsyat. Manusia lemah dengan dirinya. Tapi menjadi kuat dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Dunia dengan segala tantangan dan godaannya menjadi ringan, bahkan kecil ketika āazhomatullahā (keagungan Allah) telah hadir dalam hidup manusia.
Sungguh āmaāiyatullahā (kebersamaan dengan Allah) adalah sebuah pegangan yang tak akan goyah. Pegangan yang dalam istilah Al-Quran disebut āŲ§ŁŲ¹Ų±ŁŲ© Ų§ŁŁŲ«ŁŁā (pegangan yang kokoh).
Pegangan inilah yang menjadikan manusia stabil dalam hidupnya. Apapun warna dan bagaimanapun pergerakan hidup yang terjadi tidak akan menjadikannya goyah dan rapuh.
āŁŁ Ł ŁŁŁŲ± ŲØŲ§ŁŲ·Ų§ŲŗŁŲŖ ŁŁŁŁ Ł ŲØŲ§ŁŁŁ ŁŁŲÆŲ§Ų³ŲŖŁ Ų³Ł ŲØŲ§ŁŲ¹Ų±ŁŲ© Ų§ŁŁŲ«ŁŁ ŁŲ§Ų§ŁŁŲµŲ§Ł ŁŁŲ§ā
Kebesaran Allah dalam dada RasulNya inilah yang menjadikannya tenang menghadapi tantangan, bahkan di saat-saat upaya asasinasi oleh musuh-musuh sekalipun. Peristiwa menegangkan itu tergoreskan dan menjadi bagian dari Kalam Allah:
Ų§Ų° ŁŁ Ų§ ŁŁ Ų§ŁŲŗŲ§Ų± Ų§Ų° ŁŁŁŁ ŁŲµŲ§ŲŲØŁ ŁŲ§ŲŖŲŲ²Ł Ų§Ł Ų§ŁŁŁ Ł Ų¹ŁŲ§ ŁŲ§ŁŲ²Ł Ų§ŁŁŁ Ų³ŁŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ§ŁŲÆŁ ŲØŲ¬ŁŁŲÆ ŁŁ ŲŖŲ±ŁŁŲ§
āIngatlah, ketika keduanya berada dalam gua itu, ketika dia berkata kepada sahabatnya: jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan kedamaian kepadanya dan menguatkannya dengan bala tentara yang belum pernah kalian saksikanā.
Keagungan karunia Ilahi
Kemaha besaran sang Pencipta itulah yang terefleksi dalam keagungan ragam nikmatNya pada kita. Allah SWT mengaruniakan kepada kita nikmat yang luar biasa, lahir maupun batin: ŲøŲ§ŁŲ±Ų© ŁŲØŲ§Ų·ŁŲ©
Sedemikian besarnya nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita, menjadikan sangat sedikit di antara hamba-hambaNya yang mampu bersyukur:
ŁŁŁŁŁ Ł Ł Ų¹ŲØŲ§ŲÆŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŲ±
āSangat sedikit dari hamba-hambaKu yang mampu bersyukurā.
Penciptaan kita sebagai manusia (insan, basyar atau Bani Adam) itu sendiri Sungguh sebuah kenikmatan dan kemuliaan yang luar biasa:
ŁŁŁŲÆ ŁŲ±Ł ŁŲ§ ŲØŁŁ Ų§ŲÆŁ
āSesunggguhnya Kami telah muliakan anak cucu Adam (manusia)ā.
Penciptaan kita sebagai ciptaan terbaik, āthe best designā (ahsanu taqwiim) merupakan bentuk kenikmatan yang luar biasa. Keindahan, kenyamanan dan kesempurnaan penciptaan kita sebagai manusia, sungguh kenikmatan yang menuntut kesadaran rasa syukur dari kita semua.
Dijadikannya manusia sebagai makhluk yang memiliki kapasitas akal atau fikir, menjadikan makhluk lain irihati. Dengan kemampuan inilah manusia mampu berinovasi dalam rangka mengemban amanah ākekhilafahannyaā di atas bumi ini:
ŁŲ¹ŁŁ Ų¢ŲÆŁ Ų§ŁŲ£Ų³Ł Ų§Ų” ŁŁŁŲ§ Ų«Ł Ų¹Ų±Ų¶ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ§Ų¦ŁŲ© ŁŁŲ§Ł Ų£ŁŲØŲ¦ŁŁŁ بأس٠اؔ ŁŲ¤ŁŲ§Ų” Ų§Ł ŁŁŁŲŖŁŁ ŲµŲ§ŲÆŁŁŁ.
āDan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya. Kemudian Dia (Allah) menanyakan kepada para malaikat (tentang nama-nama itu). Maka Allah berkata: sebutkan kepadaKu nama-nama semuanya jika kalian mengaku benarā.
Nikmat Iman dan Islam
Tapi perlu kita kembali menyadari bahwa dari semua nikmat yang Allah karuniakan itu, nikmat iman dan Islamlah yang menjadi fondasi dan penentu. Karunia apapun akan menjadi nikmat jika dibangun di atas fondasi iman. Sebaliknya, karunia apapun jika tidak dibarengi iman justeru bisa menjadi āniqmah atau musibah kehidupan.
Dunia Barat dengan segala kemajuan material, perkembangan sains dan teknolog, khususnya dalam dunia informasi saat ini terbukti gagal memberikan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Sebuah realita bahwa hidup tanpa iman dan Islam adalah kehidupan yang gagal, walau bergelimang dengan kemajuan materi.
Realita ini harus menyadarkan kita untuk mensyukuri dan selalu meninggikan āvalueā atau nilai iman dan Islam kita.
ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲŲØŲØ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ„ŁŁ Ų§Ł ŁŲ²ŁŁŁ ŁŁ ŁŁŁŲØŁŁ ŁŁŲ²Ł Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ± ŁŲ§ŁŁŲ³ŁŁ ŁŲ§ŁŲ¹ŲµŁŲ§Ł Ų£ŁŁŲ§Ų¦Ł ŁŁ Ų§ŁŲ±Ų§Ų“ŲÆŁŁ. ŁŲ¶ŁŲ§ Ł ŁŲ§ŁŁŁ ŁŁŲ¹Ł Ų© ŁŲ§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŲŁŁŁ
āAkan tetapi Allah menjadikan engkau mencintai keimanan, membenci kekufuran, kefasikan dan dosa-dosa. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Itulah keutamaan dan kenikmatan dari Allah. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksanaā.
Idul Adha dan Ketauladanan Ibrahim
Perayaan Idul Adha yang Umat Islam rayakan di seantero dunia sarat dengan makna dan nilai-nilai kehidupan yang sangat luar biasa. Ada makna hidup dan ujian, makna ketaatan dan pengorbanan, makna soliditas mental dan kekokohan iman, sekaligus mengajarkan nilai-nilai kehidupan kolektif dan kepemimpinan.
Dan yang teristimewa dari semua itu adalah kenyataan bahwa semua ini sangat erat dengan sejarah hidup Ibrahim AS. Maka sangat wajar, jika perayaan Idul Adha itu adalah bentuk kenangan sekaligus ketauladanan kita kepada nabiyullah, Ibrahim AS.
Umat ini memang diperintah untuk menauladani Ibrahim AS:
ŁŲ§ŲŖŲØŲ¹ŁŲ§ Ł ŁŲ© Ų§ŲØŲ±Ų§ŁŁŁ
āDan teladanilah millah Ibrahimā
Haji, Ibrahim dan korban memang menjadi tema utama dari Idul Adha yang yang dirayakan. Karena memang Ibrahim menjadi simbol kesempurnaan dalam pengabdian dan kemuliaan akhlak. Sementara haji adalah ibadah yang menjadi miniatur kehidupan manusia. Dan semua itu hanya dapat diwujudkan dengan semangat pengorbanan.
Ibrahimlah yang pertama kali diperintah untuk mengumandangkan kewajiban haji kepada umat manusia:
ŁŲ§Ų°Ų°Ł ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų³ ŲØŲ§ŁŲŲ¬ ŁŲ£ŲŖŁŁ Ų±Ų¬Ų§ŁŲ§ ŁŲ¹ŁŁ ŁŁ Ų¶Ų§Ł Ų± ŁŲ£ŲŖŁŁ Ł Ł ŁŁ ŁŲ¬ Ų¹Ł ŁŁ
āDan kumandangkan kepada manusia (kewajiban) haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kali dan mengendarai onta, datang dari berbagai penjuru yang jauhā.
ketauladanan dalam proses hidayah
Ketauladanan pertama dari sejarah perjalanan hidup Ibrahim AS adalah bahwa dalam proses menemukan āmutiara imanā diperlukan pencarian yang sungguh-sungguh. Tapi dengan kesungguhan dua instrumen yang Allah berikan kepada manusia: akal dan hati.
Kesungguhan hati itulah yang diekspresikan dalam Al-Quran:
ŁŲ§ŁŲ°ŁŁ Ų¬Ų§ŁŲÆŁŲ§ ŁŁŁŲ§ ŁŁŁŲÆŁŁŁŁ Ų³ŲØŁŁŲ§ ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ų¹ Ų§ŁŁ ŲŲ³ŁŁŁ.
āDan mereka yang bersungguh-sungguh pada Kami akan Kami tunjuki jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang muhsininā.
Tapi manusia juga diciptakan dengan daya nalar. Karenanya pada diri manusia ada ākuriositasā (keingin tahuan) yang tinggi. Karenanya proses menemukan hakikat iman memerlukan rasionalitas yang tajam pula. Kisah pencarian Tuhan oleh Ibrahim di tengah rimba kuriositasnya (keingin tahuan) itu dikisahkan secara cantik dalam Al-Quran, Surah al-Anāam: 76-79.
Dari proses analisa dan pengamatan panjang melalui metode āat-tafkiir fil-khalqā, dari bintang-bintang, bulan, hingga matahari, pada akhirnya mengantar Ibrahim AS sampai kepada kesimpulan:
Ų§ŁŁ ŁŲ¬ŁŲŖ ŁŲ¬ŁŁ ŁŁŲ°Ł ŁŲ·Ų± Ų§ŁŲ³Ł ŁŲ§ŲŖ ŁŲ§ŁŲ§Ų±Ų¶ ŲŁŁŁŲ§ Ł Ų³ŁŁ Ų§ ŁŁ Ų§ Ų§ŁŲ§ Ł Ł Ų§ŁŁ Ų“Ų±ŁŁŁ
āSesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Rabb yang mencipatakan langit dan bumi, menerima agama yang lurus. Dan aku tidaklah Aku termasuk orang-orang yang mempersekutukanNyaā.
Maka keyakinan bukanlah perasaan atau bentuk emosi semata. Tapi sebuah kemantapan jiwa melalui cerna rasionalitas yang kokoh. Keimanan yang dilandasi oleh rasa emosi semata akan melahirkan karakter keagamaan yang sempit, dan kerap kali melahirkan prilaku emosional, bahkan irrational yang destruktif.
Di sinilah rahasianya kenapa ayat-ayat pertama Al-Quran yang diwahyukan kepada baginda Rasul adalah perintah untuk memaksimalkan daya nalar. Perintah membaca: Ų§ŁŲ±Ų£.
Rasionalitas sesungguhnya memang menjadi salah satu karakter ajaran Islam, sekaligus kunci kekuatannya. Dengan pemikiran dan rasionalitas yang luas akan tumbuh āal-yaqiinā atau keyakinan hati yang solid.
Suasana hati dengan keyakinan seperti inilah yang digambarkan oleh Al-Quran:
āŁŲ“Ų¬Ų±Ų©Ų·ŁŲØŲ© Ų§ŲµŁŁŲ§ Ų«Ų§ŲØŲŖ ŁŁŲ±Ų¹ŁŲ§ ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł Ų§Ų” ŲŖŲ¤ŲŖŁ Ų£ŁŁŁŲ§ ŁŁ ŲŁŁ ŲØŲ§Ų°Ł Ų±ŲØŁŲ§
(bagaikan pohon yang bagus, akarnya menghunjam ke dalam tanah, memberikan buah-buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya).
Sungguh di zaman sekarang ini umat dituntut untuk membangun keseimbangan āimanā dan ārasionalitasā. Berbagai prilaku destruktif yang terjadi akhir-akhir ini seringkali disebabkan oleh emosi yang terimbangi oleh pemikiran yang rasional.
Keimanan yang solid melahirkan kekuatan dan kematangan hidup. Rasionalitas berpikir yang sehat melahirkan kedewasaan dan kebijaksanaan (hikmah) dalam berpikir dan bersikap. Saya sangat yakin, bangsa dan dunia kita saat ini memerlukan manusia-manusia seperti ini.
Mereka itulah manusia-manusia āUlul al-baabā. Solid dan mapan hatinya, tajam daya nalarnya. Mereka ini yang digambarkan dalam Al-Qurāan:
Ų§ŁŲ°ŁŁ ŁŲ°ŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁŲ§Ł Ų§ ŁŁŲ¹ŁŲÆŲ§ ŁŲ¹ŁŁ Ų¬ŁŁŲØŁŁ ŁŁŲŖŁŁŲ±ŁŁ ŁŁ Ų®ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł ŁŲ§ŲŖ ŁŲ§ŁŲ§Ų±Ų¶.
āMereka yang mengingat Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Dan mereka yang memikirkan ciptaan Allah, baik yang di langit maupun yang dibumiā.
Ujian dan kematangan hidup
Ketauldanan kedua dari Ibrahim AS adalah bahwa hidup ini merupakan perjalanan dari satu titik ke titik yang sama. Bagaikan tawaf, berputar berkeliling dengan irama dan tujuan yang sama. Namun perlu diingat, Kaābah harus selalu menjadi sentra perputaran itu.
Allah harus menjadi pusat perputaran hidup manusia. Kaya atau miskin Allah menjadi pusat kehidupan. Kuat atau lemah Allah menjadi pusat kehidupan. Merasakan kemudahan atau kesulitan hidup Allah tetap menjadi pusat kehidupan.
Ibrahim AS sendiri menegaskan bahwa dirinya terus bergerak menuju kepada Allah:
Ų§ŁŁ Ų°Ų§ŁŲØ Ų§ŁŁ Ų±ŲØŁ
Sesungguhnya aku berjalan menuju Tuhankuā
Realita hidup yang demikian menuntut kematangan atau kedewasaan dalam menjalaninya. Tanpa kedewasaan manusia akan menjadi ācengengā dan lemah.
Untuk menumbuhkan kematangan dan kedewasaan hidup itulah manusia akan ditempa dengan berbagai ujian.
Di sinilah Ibrahim AS tampil sebagai sosok tauladan yang sangat luar biasa. Ibrahim AS mengalami tempaan itu dari awal perjalanan hidupnya hingga mencapai puncak kematangannya.
Ragam bentuk ujian yang Allah SWT berikan kepada Ibrahim AS itu bukan karena ketidak sukaan. Tapi karena kecintaanNya kepadanya. Ibrahim AS sendiri adalah sosok hambaNya yang ākhalilullahā (kekasih Allah).
Dari ujian keluarga, ke sahabat, hingga ujian publik dan kekuasaan. Ujian yang bersifat emosional, spiritual keimanan, hingga kepada yang bersifat fisikal dan material.
Cobaan besar pertama yang Ibrahim harus lalui adalah ketika menyampaikan kebenaran kepada masyarakatnya. Dengan caranya Ibrahim berjuang menegakkan āKalimah Tauhidā, beliau ditangkap bahkan dieksekusi dengan hukuman mati.
Tapi kematangan mentalitas dalam keimanan yang solid itu tidak menjadikannya gentar sedikitpun. Di saat tawaran bantuan para malaikat silih berganti, semuanya ditampik dengan keyakinan penuh bahwa hanya Allah yang punya kuasa sejati.
Dengan keyakinan inilah Allah memerintahkan api yang menggunung itu menjadi dingin bahkan menyenangkan bagi Ibrahim:
āŁŲ§ ŁŲ§Ų± ŁŁŁŁ ŲØŲ±ŲÆŲ§ Ł Ų³ŁŲ§Ł Ų§ Ų¹ŁŁ Ų§ŲØŲ±Ų§ŁŁŁ
(Wahai api, dinginlah dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim).
Kuasa Allah berlaku. Api yang panas menjadi dingin bahkan menyenangkan Ibrahim dengan kuasaNya. Sebuah peristiwa yang melampaui daya nalar manusia yang kerap dibatasi oleh segala keterbatasaannya.
Logika dan skill komunikasi dalam dakwah
Ada sebuah catatan menarik yang terjadi ketika terjadi dialog antara sang raja dan Ibrahim sebelum eksekusi itu terjadi: āKamukah yang merusak tuhan-tuhan kami Wahai Ibrahim?ā Ibrahim menjawab: āTapi patung besar itulah sendiri yang melakukannya. Tanyakan kepadanya jika mereka mampu berbicaraā.
Sang raja menjawab: āEngkau tahu kalau mereka itu tidak berbicaraā.
Yang segera direspon oleh Ibrahim dengan kecerdikan dan logika: ālalu wajarkah kalian menyembah mereka selain Allah? Sedangkan mereka tidak memberi manfaat apa-apa?ā.
Pelajaran terpenting dari petikan dialog antara Ibrahim dan raja itu adalah bahwa seorang Muslim, apalagi para ulama dan daāi harus memiliki ketajaman logika, sekaligus kapabilitas dalam mengkomunikasikan kebenaran.
Kelemahan logika dan ketidak mampuan mengkomunikasikan kebeneran melahirkan daāi-daāi yang kerap bermain dogma, mudah menyalahkan, bahkan mengkafirkan. Yang lebih berbahaya lagi ketika para daāi melakukan dakwah dengan metode ābolduzerā. Menghancurkan segala harapan hidayah atas nama dakwah. Bahkan lebih berbahaya meruntuhkan keindahan wajah Islam itu sendiri.
Ujian terbesar kehidupan: pengorbanan
Setelah settle atau menetap di negeri yang penuh barokah, Jerusalem, dan dengan proses panjang, datanglah ujian besar lainnya.
Setelah sekian lama Ibrahim dan isterinya Sarah menikah, mereka tak kunjung juga dikaruniai anak. Bahkan keduanya telah mencapai umur uzur. Ibrahim pun semakin khawatir akan kesinambungan dakwahnya. Hal ini disadari oleh isterinya, Sarah, maka Ibrahimpun diminta olehnya untuk menikahi hamba sahaya mereka, Hajar.
Melalui Hajar Allah mengaruniakan seorang putra yang diberi nama Ismail AS. Alangkah bahagianya Ibrahim dengan karunia anak yang telah lama ditunggu-tunggu itu.
Ternyata ujian besar dari Allah kembali diterimanya. Ibrahim diperintah untuk membawa anaknya yang baru lahir, Ismail, bersama ibunya, Hajar, ke sebuah lembah yang tiada tumbuhan:
ŲØŁŲ§ŲÆ ŲŗŁŲ± Ų°Ł Ų²Ų±Ų¹ Ų¹ŁŲÆ ŲØŁŲŖŁ Ų§ŁŁ Ųر٠Ł.
āDi sebuah lembah yang tiada tumbuhan di samping RumahMu yang tersucikanā.
Lembah yang tiada tumbuhan bermakna sebuah tempat yang secara manusiawi tidak memiliki sumber kehidupan.
Tiada tumbuhan berarti tiada air. Tanpa air berarti tiada kehidupan. Tapi Ibrahim yang semakin matang dalam keyakinan dan hidup itu kembali tidak mempertanyakan perintah Allah SWT. Ibrahim meninggalkan mereka berdua tanpa siapapun dan dengan perbekalan sekadarnya.
Keyakinan Ibrahim akan penjagaan Allah pastinya lebih hebat dan pasti ketimbang penjagaan dirinya sendiri. Hajar yang sebelum menikah itu hanya seorang hamba sahaya, ternyata juga memiliki iman yang sangat kuat. Di saat dia tanya ke suaminya apakah meninggalkan dirinya dan anaknya di tempat itu adalah perintah Allah? Ibrahim yang hanya mampu menjawab dengan gerakan kepala itu, direspon oleh Ibu Hajar: āberangkatlah, tinggalkanlah kami, karena saya lebih yakin dengan penjagaan Allah SWTā.
Bertahun-tahun Ibrahim meninggalkan anak dan isteri tercinta. Hingga suatu ketika datanglah ujian terbesar dalam hidupnya. Anak satu-satunya, yang telah lama ditunggu-tunggu, dan sangat disayangi itu, diperintahkan oleh Allah untuk disembelih.
Dalam Al-Quran disebutkan:
ŁŁŁ Ų§ ŲØŁŲŗ ٠ع٠اŁŲ³Ų¹Ł ŁŲ§Ł ŁŲ§ ŲØŁŁ Ų§ŁŁ Ų§Ų±Ł ŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ§Ł Ų£ŁŁ Ų£Ų°ŲØŲŁ ŁŲ§ŁŲøŲ± Ł Ų§Ų°Ų§ ŲŖŲ±Ų§Ų ŁŲ§Ł ŁŲ§ Ų£ŲØŲŖŁ Ų§ŁŲ¹Ł Ł Ų§ ŲŖŲ¤Ł Ų±Ų³ŲŖŲ¬ŲÆŁŁ Ų§Ł Ų“Ų§Ų” Ų§ŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲµŲ§ŲØŲ±ŁŁ.
āMaka ketika anaknya mencapai umur balig dia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi jika aku menyembelihmu. Lalu bagaimana pendapatmu? Dia (sang anak) berkata: Wahai ayahku lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang bersabarā.
Tapi Allah Maha bijaksana dan Maha Kasih Sayang. Sembelihan itu diganti dengan seekor domba. Itulah tradisi yang kita rayakan melalui syariatnya Rasulullah Muhammad SAW dengan korban atau adha.
Ujian demi ujian Allah berikan Ibrahim. Dan Ibrahim lalui semuanya dengan penuh iman dan tawakkal. Ternyata ujian itu menjadi tangga untuk kekasih Allah, ākhalilullahā, yang untuk selanjutnya menaiki tingkatan tertinggi dalam hidupnya.
ŁŲ§Ų°Ų§ŲØŲŖŁŁ Ų§ŲØŲ±Ų§ŁŁŁ Ų±ŲØŁ ŲØŁŁŁ Ų§ŲŖ ŁŲ§ŲŖŁ ŁŁ
āDan ingatlah ketika Allah menguji Ibrahim dengan Kalimaat (berbagai ujian) lalu dia menyempurnakannyaā.
*********
Penulis: Ustadz Dr. Imam Shamsi Ali, M.A
(Direktur Jamaica Muslim Center, Presiden Nusantara Foundaiton, Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA)
Demikian Semoga Bermamfaatā¦
@Wallahu āalam bishowabā¦
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurāan dan Sunnah)

















































































