1. Jihad Menuntut Ilmu
Setiap manusia dianugerahkan oleh Allah kelebihan, yakni akal pikiran. Maka sudah sepantasnya kita menggunakannya untuk hal yang bermanfaat seperti menuntut ilmu.
Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam. Dan untuk melaksanakan konsekuensi-konsekuensi dari pengakuan bahwa kita sudah berIslam, itu membutuhkan ilmu. Olehnya itu, menuntut ilmu adalah suatu kewajiban sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)
Tidak hanya kaum laki-laki saja yang diwajibkan untuk menuntut ilmu. Peran perempuan juga penting dalam menuntut ilmu karena kelak perempuan akan menjadi al-ummu madrasatul ula bagi anak-anak mereka. Maka perempuan juga perlu memiliki ilmu yang luas untuk dapat mendidik generasi yang cerdas dan berakhlakul kharimah.
Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-Nya disebarkan.
Dengan ilmu seseorang akan mampu mengenal penciptanya, dengannya pula seseorang mampu mengetahui cara beribadah kepada-Nya dengan benar tanpa mempersekutukannya, Ridha dengan semua ketetapan-Nya. Karena itu ia bisa membuktikan dan meraih cinta Rabb-Nya.
Salah satu keutamaan orang-orang yang menuntut ilmu ialah Allah Subhanahu Wata’ala akan memudahkan jalannya menuju syurga. Sebagaimana dijelaskan dari firmannya,
“Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena ridha terhadap orang yang mencari ilmu” (H.R.Muslim)
Masih banyak keutamaan-keutamaan lain yang Allah berikan bagi hamba-hambanya yang senantiasa bersemangat dan berjuang dalam menuntut ilmu.
Berjihad menuntut ilmu sebagian ulama berkata bahwa lebih utama daripada dengan senjata. Karena setiap jihad mesti pula didahului dengan ilmu.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
“Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah karena agama ini bisa terjaga dengan dua hal yaitu dengan ilmu dan berperang (berjihad) dengan senjata.
Sampai-sampai sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya menuntut ilmu lebih utama daripada jihad di jalan Allah dengan pedang.”
Karena menjaga syari’at adalah dengan ilmu. Jihad dengan senjata pun harus berbekal ilmu. Tidaklah bisa seseorang berjihad, mengangkat senjata, mengatur strategi, membagi ghonimah (harta rampasan perang), menawan tahanan melainkan harus dengan ilmu. Ilmu itulah dasar segalanya”. (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 108)
para ulama salaf, yang telah memberi contoh terbaik dan teladan yang agung tentang bagaimana mereka berjihad atau berusaha dalam menuntut ilmu agama, meraihnya serta rindu kepadanya. Berikut kisah beberapa ulama salaf yang bisa kita jadikan contoh karena semangatnya menghadiri majelis ilmu.
Pertama, Syaikh Abdullah bin Hamud Az Zubaidi, beliau merupakan murid dari Syaikh Abu Ali Al Qaali. Abu Ali memiliki kandang ternak di samping rumahnya. Beliau mengikat tunggangannya di sana. Suatu ketika, murid beliau, Abdullah bin Hamud Az Zubaidi, tidur di kandang ternaknya agar bisa mendahului murid-murid yang lain menjumpai sang guru sebelum mereka datang. Agar bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan. Allah mentakdirkan Abu Ali keluar dari rumahnya sebelum terbit fajar. Az Zubaidi mengetahui hal tersebut dan langsung berdiri mengikutinya di kegelapan malam. Merasa dirinya dibuntuti oleh seseorang dan khawatir kalau itu seorang pencuri yang ingin mencelakai dirinya, Abu Ali berteriak, “celaka, siapa anda?”. Az Zubaidi berkata, “aku muridmu, Az Zubaidi”. Abu Ali berkata, “sejak kapan anda membuntuti saya? Demi Allah tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih tahu tentang ilmu Nahwu selain anda, maka pergilah tinggalkan saya” (Inaabatur Ruwat ‘ala Anbain Nuhaat, Al Qifthi, 2/119).
Kedua, Ibnu Jandal Al Qurthubi berkata, beliau merupakan murid dari Ibnu Mujahid. Suatu hari saya mendatanginya sebelum fajar agar saya bisa duduk lebih dekat dengannya. Ketika saya sampai di gerbang pintu yang menghubungkan ke majelisnya, saya dapati pintu itu tertutup dan saya kesulitan membukanya. Saya berkata dalam hati, “Subhaanallah, saya sudah datang sepagi ini tapi tetap saja tidak bisa duduk di dekatnya?”. Kemudian saya melihat sebuah terowongan di samping rumahnya. Saya membuka dan masuk ke dalamnya. (Itu adalah sebuah terowongan di dalam tanah, saya masuk agar bisa sampai ke ujung terowongan hingga keluar darinya menuju ke majelis ilmu). Ketika sampai di pertengahan terowongan yang semakin menyempit, saya tidak bisa keluar ataupun kembali. Maka saya mencoba melebarkan terowongan selebar-lebarnya agar bisa keluar. Pakaian saya terkoyak, dinding terowongan membekas di tubuh saya, dan sebagian daging badan saya terkelupas. Allah menolong saya untuk bisa keluar darinya, mendapatkan majelis Syaikh dan menghadirinya. Sementara saya dalam keadaan yang sangat memalukan seperti itu (Inaabatur Ruwat ‘ala Anbain Nuhaat, Al Qifthi, 2/363 dengan saduran).
Contoh ketiga, seorang ulama besar yaitu Imam Asy Syafi’i. Beliau pernah berkata, “saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya mengajari saya. Saya mendengar hadits atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, saya menaruhnya di dalam botol yang sudah tua” (Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhilihi, Ibnu ‘Abdil Barr, 1/98).
Demikianlah potret atau gambaran semangat para ulama dalam menghadiri majelis ilmu dimana mereka dengan segala ujian yang datang tidak membuat mereka berhenti atau menyerah menuntut ilmu akan tetapi ujian itu malah membuat semangat dalam diri-diri mereka semakin besar. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kita dalam berusaha, berjihad menuntut ilmu dan bisa mengamalkan ilmu itu dalam kehidupun ini. Allahumma Aamiin…
***********
Bulukumba, 15 Oktober 2021
Penulis: Wahyuni Subhan
(Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Pengurus Mujahid Dakwah Media)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)















































































