Memberikan Perhatian terhadap Urusan Kaum Muslimin

Perhatian wanita Muslimah yang menyadari hukum-hukum agamanya tidak hanya tertuju pada rumah, suami dan anak-anaknya saja, tetapi dia juga memberikan perhatian terhadap urusan kaum Muslimin. Selalu mengikuti berita mengenai keadaan mereka, sebagai pengamalan dari petunjuk agamanya yang agung yang menganggap kaum Muslimin secara keseluruhan sebagai saudara dan menyerupakan cinta kasilh dan kelembutan antarmereka seperti tubuh yang apabila terkena sesuatu yang menyakitkan maka seluruh tubuh akan merasakan sakit pula. lajuga mengumpamakan kesatuan mereka seperti bangunan yang saling memperkuat satu dengan yang lain.

Beranjak dari hal itu, perhatian wanita Muslimah modern yang menyadari urusan individu Muslim, keluarga dan masyarakat Muslim serta umat Islam bersumber dari kepribadian yang telah dijiwai oleh ruh Islam dan yang berada di atas rel-rel petunjuk dan hukumnya. Selain itu, perhatiannya kepada semua hal di atas pandangannya terhadap manusia, kehidupan dan alam, juga pada rasa tanggung jawabnya yang telah diberikan Islam kepada setiap Muslim dan Muslimah dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam dan hukum-hukumnya kepada umat manunsia.

Dalam sejarah wanita Muslimah terdapat banyak contoh dari wanita- wanita mulia yang dikenal dengan perhatian besarnya terhadap urusan kaum Muslimin dan Muslimah, baik individu maupun sosial. Di antara contoh tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Salim budak Syaddad, dia menceritakan,

“Aku pernah masuk menemuiAisyah, istri Nabi pada hari wafatnya Sa ‘ad bin Abu Waqqas, lalu masuk pula Abdurrahman bin Abu Bakar dan berwudhu di sampingnya. Maka Aisyah pun berujar, ‘Wahai Abdurrahman, sempurnakanlah wudhumu’, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Neraka Wail bagi orang-orang yang melupakan cuci tumit saat berwudhu’.”

Pandangan Aisyah sempat tertuju pada saudaranya Abdurrahman yang belum sempurna dalam membasahi kedua tumitnya pada saat berwudhu’, dan dia tidak tinggal diam melihat hal itu, tetapi sebaliknya mengingatkannya untuk menyempurnakan wudhu’nya tersebut, seperti yang pernah didengarnya dari Rasulullah langsung. Ini termasuk perhatian yang sangat terpuji, bahkan merupakan suatu yang wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah dalam rangka beramar ma’ruf nahi munkar.

Pada saat Umar bin Khaththab d ditikam dan dia merasa ajalnya sudah dekat, dia berkata kepada putranya, Abdullah, “Pergilah, temui Aisyah, ucapkan salam padanya dan mintakan izin agar aku dikebumikan di rumahnya bersama Rasulullah dan Abu Baka.” Maka Abdullah bin Umar pun pergi menemui Aisyah dan menyampaikan hal itu kepadanya. Aisyah menjawab, “Aku izinkan dengan penuh hormat.” Selanjutnya bertutur, “Wahai Abdullah, sampaikan salamku kepada Umar, katakan padanya agar tidak meninggalkan umat Muhammad dalam keadaan tidak memiliki pemimpin, dan hendaklah dia mengangkat khalifah bagi mereka, jangan biarkan mereka berjalan sendiri-sendiri, karena aku khawatir akan timbul fitnah di tengah-tengah mereka.”(Tahabqat Ibnu Sa’ad, III/363)

Demikian itu merupakan pandangan mendalam dan cukup jauh terhadap urusan umat dan kekhawatirannya akan tidak adanya pemimpin yang mengurus urusan mereka dan menjaga kesatuan dan keamanan mereka.

Wanita Muslimah masa kini mendapatkan sinar petunjuk dari be. berapa ucapan Aisyah dalam memahami subtansi Islam, juga puncak ketinggian yang dijadikan petunjuk untuk memahami tanggung jawab terhadap agama dan umatnya. Dia mengetahui pentingnya perhatian terhadap urusan kaum Muslimin dan Muslimat serta mengajak mereka kembali kepada keadaan seperti yang dikehendaki Rabb mereka sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia.

Mendahulukan Orang Lain

Wanita Muslimah yang telah mendapatkan petunjuk Islam menda- hulukan orang lain daripada dirinya sendiri meskipun dia tidak memilikki banyak harta. Yang demikian itu karena mendahulukan orang lain merupakan akhlak mulia yang dicintai, yang telah dijunjung tinggi oleh Islam supaya menjadi ciri istimewa yang membedakan orang Muslim yangjujur dari orang yang lain.

Kaum Anshar merupakan pelopor utama dalam hal sikap mendahulukan orang lain ini setelah Rasulullah . Di mana ada ayat Al-Qur an yang turun membahas tentang mereka yang mendukung sikapnya mendahulukan orang lain yang menjadikan mereka sebagai puncak menara abadi bagi generasi kemanusiaan. Yang mengajarkan bagaimana kemurahan itu dapat diraih, dan bagaimana pula sikap mendahulukan orang lain ini dapat direalisasikan. Hal itu terlihat pada saat mereka menyambut saucara-saudara mereka dari kaum Muhajirin yang tidak memiliki apa-apa, lalu mereka memberikan segala sesuatunya kepada mereka:

“Dan, orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan, mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin). Dan, mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan, siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Kehidupan Nabi telah dipenuhi dengan sikap mendahulukan orang lain, dan dengan demikian itu beliau telah menanamkannya ke dalam jiwa orang-orang lslam yang hidup pada zamannya serta memoleskannya pada karakter dan kebiasaan mereka. Mengenai hal itu dapat kita telaah hadits dari Sahal bin Saad Radhiallahu Anhu:

Bahwasanya ada seorang wanita yang datang kepada Nabi dengaan membawa kain tenunan. Lalu wanita itu berkata, ‘Kain ini aku tenun dengan tanganku sendiri untuk engkau kenakan.’ Maka Rasulullah mengambilnya karena memang beliau sangat membutuhkannya. Setelah itu beliau keluar menemui kami dengan mengenakan kain tersebut. Kemudian si Fulan berkata, Kainmu ini bagus sekali, wahai Rasululah.’Beliau menjawab, ‘Benar ‘Selanjutnya Nabi menghadiri sebuah majelis, setelah kembali ke rumah beliau melipat kain itu dan mengirimkan kain itu kepada si Fulan tadi. Maka orang-orang berkata, Kamu ini pintar sekali, kain itu dikenakan Nabi karena memang beliau membutuhkannnya, dan kamu memin-tanya karena kamu tahu bahwa beliau tidak pernah menolak orang yang meminta. Orang itu menjawab, ‘DemiAllah, sesungguhnya aku memintanya bukan untuk aku kenakan, tetapi untuk kain kafanku nanti.’ Sahal bin Saad berkata, Dan akhirnya kain itu menjadi kain kafannya’.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merasa senang dan gembira pada saat menyaksikan buah hasil dari sikap mendahulukan orang lain yang ditanamkan dalam diri kaum Muslimin diterapkan dalam kehidupan mereka, pada saat di mana tidak seorang pun menyerukan hal itu. Mengenai hal itu beliau mengungkapkan,

Sesungguhnya kaum Asy’ariyin apabila kehabisan bekal dalam perang atau makanan keluarga mereka di Madinah sudah di ambang kehabisan, mereka mengumpulkan apa yang ada pada mereka di selembar kain kemudian membagi-bagikannya di antara mereka dalam satu bejana secara merata. Mereka ini termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka.” (Muttafaq Alaih)

Demikian bagusnya sikap mendahulukan orang lain yang dikenal manusia dari kaum Anshar dan kaum Asy’ariyyin serta generasi-generasi Islam lainnya. Begitu agungnya kemuliaan Rasulullah yang telah menanamkan benih-benih sikap tersebut ke dalam jiwa generasi lslam pertama, laki-laki maupun perempuan, dan diwarisi oleh generasi-generasi Islam selanjutnya sehingga menjadi salah satu akhlak yang mengakar di masyarakat Islam.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 378-380 & 383-385)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan