Berwajah Ceria
Tidak pernah lepas dari ingatan wanita muslimah yang cerdas bahwa faktor kesuksesan terpenting dalam kehidupan berumah tangga dengan suaminya dan juga kehidupan sosialnya secara umum adalah dia senantiasa bermuka ceria, berpenampilan menyenangkan dan penuh senyuman. Semuanya itu yang menjadikannya dicintai dan disenangi oleh semua orang, dan termasuk akhlak yang terpuji dan kepribadian yang bagus, daya tarik tersendiri serta kebaikan yang diperintahkan Islam.
Dalam buku Shahih Muslim disebutkan, bahwa Nabi pernah bersabda,
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski hanya engkau temui saudaramu dengan wajah ceria. ” (HR. Muslim)
Di antara petunjuk Rasulullah adalah penegasan kepada umatnya supaya bermuka manis di hadapan saudaranya. Rasulullah senantiasa menemui para sahabatnya dengan wajah yang penuh senyum ceria, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits dari Jarir bin Abdillah, dia menceritakan,
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah sejak aku memeluk Islam melainkan beliau menampakkan senyum di wajahnya.”
Wanita yang selalu ceria dan berpenampilan menyenangkan akan terus-menerus memasukkan kegembiraan ke dalam hati suaminya setiap kali Suaminya itu melihatnya, pada saat yang sama semakin bertambah pula rasa cinta dan bangganya kepada istrinya. Demikian itulah seharusnya dia harus bersikap di tengah-tengah masyarakatnya, karena tidak ada yang dapat menaburkan cinta kasih, kelembutan dan kemesraan di masyarakat kecuali muka manis, wajah ceria, lapang dada dan akhlak yang luhur. Demikian itu merupakan ciri khusus dan sifat yang laik di miliki wanita Muslimah yang penuh kelembutan. karena dengan ciri khusus, keistimewaan dan sifat-sifat tersebut dia dapat mengambil hati orang lain dan menarik simpati mereka.
Periang dan Suka Bercanda
Wanita Muslimah yang mengerti ajaran agamanya selalu periang, murah senyum, senantiasa bertutur kata lembut, piawai dalam bercanda dengan saudara-saudara dan teman-temannya pada waktu-waktu yang tepat, lembut dalam bermain serta senang menghibur dirinya.
Canda wanita Muslimah itu diwarnai dengan nilai-nilai Islam yang penuh toleransi yang tidak menjurus kepada hal-hal yang jelek dan hina. Rasulullah juga bercanda dengan para sahabatnya, tetapi beliau tidak keluar dari garis kebenaran yang telah ditetapkan. Mengenai hal itu, para sahabat berkomentar, “Wahai Rasulullah, engkau mencandai kami.” Maka beliau pun berkata, “Sesungguhnya aku tidak berkata melainkan yang benar.” (HR. Bukhari).
Demikian halnya dengan para sahabat, dalam hal bercanda dan bermain mereka memiliki beberapa kisah lucu yang terjadi antara mereka dengan Rasulullah .
Di antara kisah tersebut adalah yang tercatat dalam buku-buku hadits dan sirah, yang menyebutkan bahwa Rasulullah mencandai anak kecil, putra seorang sahabat yang mendapat panggilan Abu Umair. Dia ini memiliki seekor burung yang bermain dengannya. Pada suatu hari, beliau melihat anak ini dalam kesedihan, maka beliau pun bertutur, “Aku tidak mengerti mengapa Abu Umair bersedih?” Para sahabat menjawab, “Burung yang menjadi teman mainnya telah mati, ya Rasulullah.” Maka Nabipun bertutur seraya mencandai anak itu, “Wahai Abu Umair, apa yang dikerjakan oleh burungmu itu?”(Hayaatu Ash-Shahabah,III,49.)
Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi yang minta diajak. Maka beliau berkata kepadanya sembari bercanda, “Kami akan menaikkan engkau di atas anak onta.” Orang itu pun berkata, “Wahai Rasulullah, mana mungkin aku naik anak onta. Rasulullah akhirnya bersabda, “Bukankah onta itu hanya melahirkan anak onta?” (HR. Imam Ahmad)
Masih diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas bin Malik bahwasanya ada seorang laki-laki yang termasuk penduduk pedalaman, yang bernama Zahir. Dia ini datang memberi hadiah kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam . Pada saat dia hendak keluar, Rasulullah mempersiapkan sesuatu, dan beliau berkata, “Sesungguhnya Zahir itu orang kampung dan kami orang kota.” Rasulullah begitu menyukai orang ini. Pada saat Zahir ini sedang berjualan, Rasulullah pernah mendatanginya secara diam-diam, lalu mendekapnya dari belakang dan tidak diketahui oleh seorang pun, maka Zahir pun berujar, “Lepaskan aku, siapa ini? Kemudian
dia menoleh dan melihat ternyata dia adalah Rasulullah , maka beliau pun semakin erat mendekapnya. Sembari bercanda beliau berkata,” Ayo siapa yang hendak membeli budak ini?” Maka Zahir pun berkomentar, Jadi, apakah engkau menganggapku tidak laku?” Maka Rasulullah menjawab, “Tetapi di sisi Allah engkau pasti laku.” Atau beliau berkata, “Tetapi di sisi Allah engkau sangat mahal.”
Ada seorang nenek yang mendatangi Nabi seraya bertutur, “Wahai Rasulullah, doakanlah aku supaya Allah memasukkan aku ke surga!” Dengan nada bercanda Rasulullah menjawab, “Wahai Ibu si Fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh nenek nenek.” Seketika itu juga nenek itu membalikkan badan seraya menangis. Selanjutnya Nabi berkata, “Beritahukan kepadanya, bahwa dia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua (nenek-nenek), sesungguhnya Allah telah befirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka (bidadari bidadari) dengan langsung. Dan, Kamijadikan mereka gadis-gadis perawan. “(surah Al-Waqi’ah, 35-36. HR. Tirmidzi)
Di antara hadits-hadits yang lain yang menunjukkan jiwa riang Rasulullah dan kesukaannya bermain dan bercanda adalah hadits yang diriwavatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah Radhiallahu Anha, dimana dia menceritakan,
“Aku penah menyertai Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam beberapa perjalanannya, sedang aku adalah seorang wanita kurus. Suatu ketika beliau berseru kepada beberapa orang sahabat, “Berjalanlah di depan!’ Mereka pun segera berjalan di bagian depan. Kemudian beliau berujar kepadaku, ‘Kemarilah, mari aku ajak engkau balapan lari. Dan akhirnya aku bisa mengalahkan beliau dalam balapan lari tersebut. Setelah itu beliau tidak pernah mengajak aku balapan lari lagi kecuali setelah aku gemuk. Selanjutnya pada beberapa perjalanannya aku juga sempat menyertainya, lalu beliau berseru kepada para sahabat, “Silahkan berjalan di bagian depan.” Mereka pun berjalan di bagian depan. Kemudian berujar kepadaku, “Mari kita lomba balap lari lagi.” Dan pada kesempatan ini aku dikalahkan oleh beliau. Maka beliau pun tertawa seraya berkata, “Inilah saatnya aku menang.” (HR. Ahmad)
Meskipun Rasulullah seorang Imam, pemimpin dan pengajar kaum Muslimin, namun beliau masih tetap mau bercanda pada saat-saat tertentu. Tugas seorang pemimpin yang besar untuk membentuk umat dan membangun negara Islam, juga kesibukannya memberikan bimbingan kepada para mujahid dan tugas-tugas lainnya tidak menghalanginya untuk menghibur diri dan bercanda yang menyenangkan para sahabat dan juga istri-istrinya.
Di antara kisah yang menjadi bukti atas hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiallahu Anha, di mana dia menceritakan, “Aku pernah membawakan Rasulullah kue yang aku masak sendiri, Lalu aku katakan kepada Saudah Radhiallahu Anha, sedang pada saat itu Nabi berada di antara kami berdua, ‘Makanlah. Tetapi Saudah menolaknya. Kemudian aku katakan kepadanya, ‘Makanlah atau harus kulabur wajahmu dengan kue ini. Tetapi Saudah tetap menolaknya. Setelah itu aku oleskan tanganku ke kue tersebut dan kulaburkan di muka Saudah. Maka Nabi tertawa, lalu beliau pun memegang Saudah seraya berkata, ‘Laburi juga mukanya.’ Sedangkan dalam suatu riwayat disebutkan, “Kemudian Rasulullah jongkok dan menyuruh Saudah untuk membalasku. Maka Saudah pun mengambil sedikit dari kue itu dan melumurkannya ke wajahku, sedang beliau tertawa melihat kami’. “ (HR. Abu Ya’la)
Demikian itulah, banyak bukti-bukti dan petunjuk yang menunjukkan toleransi Islam dan para pemeluknya, dan bukti keriangan dan keceriaan yang diinginkan Islam dari putra-putrinya. Semuanya itu merupakan sifat yang harus dimiliki oleh wanita Muslimah modern, yang menambah daya tarik, kecantikan dan pengaruh.
Saudariku, sifat periang dan ceria adalah sifat yang sudah pasti penting kita miliki sebagai wanita Muslimah. Wanita yang paham dengan petunjuk agamanya, yang senantiasa menjadikan Rasul-Nya sebagai sosok idola yang dijadikan contoh, sebagaimana jika idolanya melakukan suatu hal maka ia pun akan melakukan hal tersebut. Begitulah halnya dengan sifat periang, ceria dan suka bercanda yang dimiliki Rasulullah, semoga kita bisa meniru serta mencontoh beliau dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Allahumma Aamiiin…
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 364-367)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































