Biasanya, setiap tahun muncul daftar ranking sekolah atau universitas di Indonesia. Dengan kriteria tertentu, lalu dikatakan, bahwa pendidikan kita mutunya rendah atau pendidikan kita jeblok! Gambaran seperti ini tidaklah sepenuhnya benar.

Sebagai contoh, pada 4 Desember 2019, sejumlah media online menayangkan berita dengan judul yang hampir sama: “Ranking PISA Indonesia Turun”. Diberitakan jawapos.com, bahwa Ranking “Programme for International Student Assessment” (PISA) 2018 Indonesia kembali jeblok.

Nilai indikator kemampuan membaca (reading), matematika (mathematics), dan ilmu pengetahuan (science) siswa turun. Posisi Indonesia kini di urutan ke-72 dari 77 negara. Pemeringkatan PISA 2018 secara resmi diliris OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) Selasa (3/12/2019).

PISA menempatkan China di urutan teratas, menyusul Singapura, Macao, Hongkong, Estonia, Kanada, Finlandia, dan seterusnya.  Berdasarkan ranking PISA itu, ada yang menulis: “Indonesia berada di papan bawah peringkat pendidikan dunia 2018 yang disusun International Student Assessment (PISA). Posisi Indonesia “tertinggal” dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei.” (sumber)
Bagaimana menyikapi pengumuman PISA tersebut?           

Menurut pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, penurunan itu merupakan cerminan dari orientasi kebijakan politik pendidikan dan metodologi pendidikan yang salah. Orientasi kebijakan politik pendidikan kita masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi.

Seharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar, lalu membangun siswa sesuai dengan kodrat manusia secara optimal.
Penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya UN.

Tetapi, itu untuk mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. “Jadi ketika ada penurunan nilai PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan,” katanya, seperti dikutip jawapos.com.

Penilaian berbeda terhadap rangking PISA diberikan oleh Prof. Daniel M. Rasyid, pengamat pendidikan yang juga guru besar ITS Surabaya. Tahun 2018 lalu, Prof. Daniel sudah menanggapi berita tentang ‘rendahnya kualitas pendidikan Indonesia’.

Dalam artikelnya yang berjudul “Kualitas Pendidikan Indonesia?” (tautan di sini), Daniel mengkritik ungkapan Wapres Jusuf Kalla yang menyatakan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih berada di papan bawah. Ada sejumlah alasan.

Pertama,  yang dimaksud dengan “pendidikan” dalam komentar Jusuf Kalla adalah persekolahan (schooling). Padahal pendidikan bukan sekedar persekolahan.  Saat ini, sekolah dipandang sebagai instrumen teknokratik untuk menyiapkan tenaga trampil yang akan dipekerjakan di pabrik-pabrik.

Kedua, pemeringkatan semacam PISA ini hanya alat agar kita tetap lestari merasa rendah diri. Membandingkan  Indonesia (dengan bentang alam seluas Eropa) dengan Singapura atau Korea Selatan tentu tidak adil jika tidak menyesatkan. Lebih adil jika membandingkan Singapura dengan DKI Jakarta walaupun Singapura mungkin akan tetap unggul.

Di samping itu, obsesi mutu ini justru telah menjerumuskan sistem pendidikan nasional kita yang makin tidak relevan dengan kebutuhan bangsa ini. Kebutuhan Singapura atau Inggris jelas berbeda dengan kita. Jika pendidikan harus bermakna dan mencerdaskan, maka pendidikan sebenarnya bukan soal mutu tapi lebih soal relevansi.

Pendekatan industri telah membawa mantra mutu ke dalam Sisdiknas sehingga praktis menyingkirkan relevansi. Makin internasional standar yang dipakai, berarti makin mengasingkan warga belajar dari lingkungan terdekat mereka sendiri. Murid mungkin belajar banyak hal, kecuali menjadi diri mereka sendiri.

Jadi, prestasi PISA yang masih di papan bawah itu sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan kita terbukti lebih relevan dengan agenda perubahan iklim walaupun mungkin tidak bermutu. Demikian, pandangan Prof. Daniel Rasyid dari ITS Surabaya.

Jadi, bagaimana kita menyikapi pengumuman ranking PISA tersebut?

Analisis Nur Rizal dan Prof. Daniel Rasyid patut disimak dan direnungkan dengan serius. Kita merasakan, pendidikan semakin kehilangan ‘ruh’ kemanusiaannya, ketika diabdikan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan industri. Sistem dan standarisasi mutu pun hanya didasarkan pada nilai-nilai formalisme.

Terkait dengan ranking PISA, kita bisa menilai rendahnya budaya literasi dalam masyarakat. Secara kasat mata itu mudah dilihat. Ada yang menyebutkan definisi “literasi” sebagai berikut: “Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” (sumber).

Definisi “literasi”  ini semakna dengan definisi “Budaya Ilmu” yang digagas oleh pakar pendidikan Islam internasional, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud: “Dalam budaya ini, ilmu dianggap sebagai satu keutamaan tertinggi dalam sistem nilai pribadi dan masyarakat di setiap peringkat.” (Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu (Kuala Lumpur, Casis-UTM, 2019).

Padahal, sebagai negeri muslim terbesar di dunia, sepatutnya “ilmu” diletakkan di tempat terhormat, sebagaimana kedudukan ilmu dalam Islam. Pendidikan adalah aktivitas ibadah. Guru memandang dirinya, dan juga dipandang sebagai pejuang (mujahid) intelektual, bukan ditempatkan sebagai karyawan pabrik atau “tukang ngajar bayaran”.

Itu bisa terjadi jika kita menempatkan ilmu di tempat terhormat; sebagai sarana untuk mengenal dan menundukkan diri kepada Allah SWT; bukan sebagai komoditas ekonomi. Nabi SAW menyatakan: “Man kharaja fii thalabil ilmi, fa-huwa fii sabilillah hattaa yarji’a; siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu, maka ia sedang berjihad di jalan Allah.”

Kita renungkan kata-kata Daniel Rasyid, bahwa pendidikan bukan hanya sekolah. Kita punya puluhan ribu pesantren yang semuanya milik masyarakat. Dan di sana, masih banyak kita jumpai budaya literasi atau budaya ilmu yang tinggi!

Jadi, terlalu sederhana menilai kualitas pendidikan kita, hanya dengan indikator ranking PISA tersebut!

***********

Penulis: Dr. Adian Husaini
(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku, Pendiri Pesantren At-Takwa Depok dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan