Ketika kita membaca kisah-kisah para ulama terdahulu dalam meniti jalan ilmu, membuat detak kagum pada kita, seakan-akan ia adalah hal yang mustahil terjadi dizaman ini. Betapa tidak, dengan keterbatasan yang ada baik itu ekonomi, sarana transportasi yang sangat minim, keterbatsan referensi dan alat-alat tulis serta lainnya.

Semua keterbatasan itu tak sedikitpun menjadi penghambat bagi mereka untuk menyelami kedalaman samudra ilmu yang Allah Subahanahuwata’ala anugrahkan pada kita. Keinginan yang tinggi (Himmah ‘Aliah) itulah yang membuat para ulama kita mampu meneroobos batas dalam menghidupi aktifitas keilmuan dan yang paling utama ialah dalam hal membaca. Kisah-kisah para ulama dalam hal membaca tertuliskan dengan jelas dalam buku tersebut.

Membaca adalah aktivitas yang mulia. Ia adalah gerbang utama untuk membuka lautan ilmu yang luas tak bertepi. Dengannya ilmu akan diperoleh dan bertambah sebanyak referensi yang dibaca. Dengan demikian aktifitas membaca adalah aktifitas yang sangat penting dalam dunia keilmuan. Begitu pentingnya, aktifitas membaca menjadi perintah pertama kepada Rasulullah Sholallahu’alaihiwasallam melalui Firman-Nya QS. Al-Alaq: 1 “Iqro! Yang artinya “bacalah”!.

Aktifitas keilmuan menjadi yang diutamakan dalam agama ini. Bahkan Allah Ta’ala tidak memerintah kepada Nabi Muhammad Solallahu’alaihi wasallam untuk meminta tambahan kecuali dalam hal ilmu. Sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya. “Duhai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (Thaha[20]: 114).

Buku yang ditulis oleh Syeikh Ali bin Muhammad Al-‘Imran ini akan memotret kecintaan, semangat, dan dedikasi para ulama dalam menimba ilmu. Bagaimana kehidupan para ulama yang yang selalu rakus terhadapat ilmu dan tidak pernah merasa kenyang terhadap ilmu. Lebih khusus dalam menelaah dan membaca buku.

Para ulama sering memulai dan mengulang-ulang pembahasan tentang nilai buku-buku ilmiah beserta pengaruhnya yang besar dan kedudukannya yang agung. Mereka memiliki ungkapan-ungkapan terkenal dalam bentuk prosa maupun syair. Sepertihalnya syair yang diungkapkan Sulaiman bin Abdul Hamid berkata dalam syairnya,

“Dia berkata: Enkau telah membelanjakan hartamu
Untuk buku yang berada pada tangan kananmu.
Aku berkata: Biarkanlah Aku…
Semoga kutemukan satu buku yang memberi petunjuk kepadaku
Sehingga nanti kuambil catatan amalku, aman dengan tangan kananku.
Dan juga syair yang diungkapkan Ibnu Abi Thahit, menyandungkan syair:
Barangsiapa tamasyanya tertuju pada biduanita, piala, dan minuman
Maka tamasya dan istirahat kami adalah menelaah buku dan kitab Al-‘Uyuun.

Al-Jahizh dalam Alhayawaan mengatakan, “Barangsiapa yang ketika membeli buku tidak merasa nikmat melebihi nikmatnya membelanjakan harta untuk orang yang dicintai, atau untuk mendirikan bangunan, berarti dia belum mencintai ilmu. Tidak ada manfaatnya harta yang dibelanjakan hingga dia lebih mengutamakan untuk membeli buku, seperti orang Arab Badui yang lebih mengutamakan susu untuk kudanya daripada untuk keluarganya. Hingga dia juga sangat berharap untuk memperoleh ilmu seperti halnya orang Arab Badui yang sangat mengharap kudanya”.

Kecintaan membaca buku tak tertandingi dengan apapun, Yaqut al-Hamawi dalam bukunya Irsyad Al-Atib menyebutkan dalam biografi Al-Jahizh bahwa Abu Hiffan pernah menuturkan , “Aku tidak pernah melihat atau mendengar seorang pun yang paling mencintai buku maupun ilmu dari pada Al-Jahizh, tidak satupun buku yang beliau pegang kecuali beliau selesai membacanya walau bagaimanapun keadaan. Hingga beliau sempat menyewa beberapa toko buku dan kertas. Kemudian bermalam di sana untuk sekedar membaca …”

Seperti itulah gambaran para ulama-ulama kita terdahulu, mereka begitu bersemangat memburu ilmu dengan melahap buku-buku yang diwarisi para ulama-ulama sebelumnya. Dalam buku tersebut penulis juga mengenalkan pada kita beberapa metode-metode dalam membaca yang perlu diketahui oleh setiap penuntut ilmu. Diantaranya:

1.Hal yang perlu diperhatikan pertama kali adalah melihat jenis buku yang akan dibaca. Karena tidak semua jenis buku bisa dibaca dengan cepat. Misalnya buku-buku fikih, buku-buku Ushul, dan Musthalah, maka semuanya harus dibaca dengan lambat, agar pembaca dapat menguasai dan memahami isinya. Metode membaca seperti ini adalah metode membaca untuk mengkaji dan pemahaman.

2.Apabila seorang telah menguasai suatu bidang ilmu, dan dia telah mengertian semua persoalan dan istilah-istilahnya, maka ketika membaca buku-buku yang berkaitan dengan bidang ilmu tersebut tidak akan merasa kesulitan meskipun membacanya dengan cepat.

3.Buku-buku sejarah, sastra, kisah perjalanan, biografi, ensiklopedia serta buku-buku pengetahuan umum semua tergolong jenis buku yang memiliki materi simple dan bisa dibaca dengan cepat sambil mencatat manfaat dan tema pembahasan didalam lembaran kertas kusus.

Dalam metode pengambilan ilmu, membaca adalah salah satu hal yang terpenting, namun perlu diseimbangkan dengan belajar dari seorang guru. Setidaknya ada dua cara metode pengambilan ilmu yakni:

1.Metode Musyafahah, yaitu mengambil ilmu dari ahlinya. Inilah metode asli dalam pengambilan ilmu. Ini adalah metode pengambilan yang digunakan oleh para salaf.

2.Mengambil ilmu langsung dari buku ataupun karangan. Hal ini karena buku merupakan tempat penyimpanan ilmu. Metode ada beberapa anjuran; pertama, menyeimbangkan dan memadukan metode pengambilan ilmu dari buku dengan pengambilan dari ulama. Kedua, hendaknya memilih buku yang hendak dihafal dengan penuh ketelitian, agar minimal apa yang dipilih itu cocok dengan dirinya dari berbagai sisi. Ketiga, berantusias terhadap buku-buku ulama terdahulu beserta penelitiannya.

Pencapaian ulama-ulama terdahulu berupa buku-buku atau karyanya perlu diteladani. Berikut beberapa manusia pilihan tersebut : Ibnu Jarir (w.310 h), Al-Khatib Al-Baghdahi (w 463 H), Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), Al-Baghawi (w. 512 H), Ibnu Qudamah (w. 620 h), An-Nawawi (w. 676 H), Ibnu Daqiq Al-‘Iid (w.702 H), Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah (w 728 H), IbnuL Qayyim (w. 751 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu Rajab (w. 795 H), Al-‘Iraqi (w. 806 H), dan Al-Hafidz Ibnu Hajar (w. 802 H), dan lain sebagainya.

Membaca buku ini, akan memberikan gambaran bagaimana semangat dan kesungguhan ulama kita dalam menyelami samudra ilmu yang patut kita contohi. Walaupun demikian, dalam buku ini pastilah ada kekurangan-kekurangannya, sependek pengetahuan kami yang menjadi kekurangan dalam buku ini ialah pada beberapa pembahasan yang melampirkan tentang biografi ulama dan kiprahnya masih begitu singkat dalam pembahasannya dan beberapa kalimat yang sedikit sulit dipahami yang mungkin saja penerjemahan Bahasa dari buku asli ke Bahasa Indonesia.

Dengan begitu, buku ini sangat layak untuk kita baca terutama para pemuda yang sedang menggeluti lautan ilmu. Terlebih lagi penulis menuliskannya dengan referensi-referensi terpercaya (Tsiqah).

***********

Penulis: Masykur, Sos,.I
(Pengurus Pelajar Islam Indonesia, Seorang Penulis dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah

Tinggalkan Balasan