Tidak Merasa Gembira Atas Penderitaan Orang lain
Wanita Muslimah yangjujur lagi bertakwa yangjiwanya telah disirami hidayah Islam dan menghiasi diri dengan akhlak Islam yang penuh toleransi tidak akan merasa gembira atas penderitaan orang lain, karena yang demikian itu merupakan sifat yang hina dan dapat menyakiti perasaan atau hati. Rasulullah sendiri telah melarang sekaligus memperingatkan agar tidak terjerumus ke dalamnya melalui sabdanya,
“Janganlah kalian menampakkan kegembiraan atas musibah saudaramu, sehingga Allah akan menyayangi dia dan memberikan cobaan kepadamu. “(HR. Tirmidzi)
Wanita Muslimah yang telah mendapat polesan dari Islam tidak akan memberikan tempat pada dirinya bagi syamatah (merasa gembira atas penderitaan orang lain). Tetapi sebaliknya, dia akan turut berduka dan menghibur wanita-wanita yang mendapatkan musibah serta meringankan beban mereka, dan ikut merasa sakit atas sakit yang mereka rasakan. Dengan demikian itu, syamatah tidak akan pernah terlihat pada diri orang-orang yang telah mendapat perunjuk Islam dan mendapatkan pancaran sinarnya, tetapi sifat itu akan terlihat pada jiwa yang gelap, keras, membatu dan penuh dengan sifat dengki, suka menipu, iri hati, senang menyakiti orang lain dan pendendam. Sedangkan wanita Muslimah yang benar-benar bertakwa jauh dan terhindar dari semuanya itu.
Menghindari Prasangka Buruk
Di antara akhlak wanita Muslimah yang jujur adalah dia tidak berprasangka buruk terhadap orang lain, yaitu prasangkaan yang tidak didasarkan pada bukti yang kuat, Sebaliknya, dia akan banyak menghindari prasangka buruk itu, seperti yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala melalui firman Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dart prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (Al-Hujurat: 12)
Yang demikian itu karena dia mengetahui bahwa berprasangka kepada orang lain itu tidak jarang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam pa dosa, apalagi kalau prasangka itu hanya didasarkan asumsi, tuduhan atau kecenderungan dalam dirinya, karena dia ingin memberikan aib kepada orang lain dan menuduh mereka, sesungguhnya mereka itu selamat dari apa yang dituduhkannya. Inilah prasangka buruk yang diharamkan dalam Islam.
Oleh karena itu, Rasulullah sangat keras dalam memperingatkan umatnya dari prasangka buruk ini dan melontarkan aib pada orang lain dengan tidak berdasar pada keyakinan dan kebenaran, di mana beliau bersabda,
“Jauhilah oleh kalian prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah perkataan yang paling dusta. ” (Muttafaq Alaih)
Nabi Muhammad telah mengkategorikan prasangka buruk sebagai perkataan yang paling dusta. Dan, wanita Muslimah senantiasa menjaga kejujuran dalam berbicara, sehingga dia tidak akan bicara dan berbuat dusta, jika demikian, bagaimana mungkin dia akan terjerumus ke dalam perkataan yang paling dusta.
Petunjuk Nabawi yang sangat luhur, yang memperingatkan akan prasangka buruk dan mengkategorikannya sebagai perkataan paling dusta itu, mengarahkan kaum Muslimin dan Muslimah untuk melihat lahiriyah dari perbuatan orang lain, serta tidak berprasangka buruk dan meragukan orang tersebut, karena bukan dari akhlak seorang Muslim untuk menying-kap rahasia orang lain dan nmenyelami urusan-urusan pribadinya, yang berhak mengetahui, menyingkap dan menghisab semua rahasia hanyalah Allah, Dia yang mengetahui segala sesuatu yang paling tersembunyi. Sedangkan manusia tidak berhak mengetahui sesuatu dari saudaranya melainkan apa yang tampak darinya. Demikian itulah yang dijalankan oleh para sahabat dan tabi’in yang telah menghirup angin petunjuk Islam yangjernih dan bersih yang jauh dari kekeruhan.
Diriwayatkan Abdurrazak dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, dia menceritakan, aku pernah mendengar Umar bin Khaththab berkata, Ada sekelompok orang yang mengambil wahyu pada zaman Rasulullah , Sedangkan wahyu telah terputus, dan sekarang kita mengambil apa yang tellihat dari amal perbuatan kalian. Barangsiapa yang memperlihatkan Kebaikan kepada kami, maka kami akan melindungi dan mendekatinya, dan kami tidak mencari tahu batinnya, karena Allah yang akan menghisab batinnya tersebut. Dan, barangsiapa memperlihatkan keburukan kepada kami, maka tidak akan menerima dan mempercayainya, meskipun dia mengatakan bahwa niatnya baik.”
Beranjak dari hal di atas, wanita Muslimah yang menyadari petunjuk agamanya yang senantiasa mencari jalan menuju ketakwaan dan amal shaleh, selalu berhati-hati setiap kali mengeluarkan kata-kata agar tidak menyakiti saudaranya, dengan tetap memberikan hak orang lain dan senantiasa mengingat firman Allah Subhanahu Wata’ala,
“Dan, janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnyapendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawab. ” (Al- Isra’: 36)
Dia akan selalu memperhatikan larangan yang sudah pasti tersebut, sehingga dia tidak berbicara melainkan apa yang diketahuinya serta tidak mengambil keputusa’n kecuali dengan keyakinan yang kuat.
Wanita Muslimah yang benar-benar bertakwa senantiasa merasa diawasi oleh malaikat Raqib dan Atid yang mencatat setiap kata yang keluar dari mulutnya, dan setiap keputusan yang diambilnya. Sehingga dengan perasaan tersebut dia akan merasa takut untuk melakukan per-buatan dosa dan berprasangka buruk kepada orang lain. Mengenai hal ini befirman,
“Tidak ada satu ucapan pun melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. “ (Qaf: 18)
Wanita Muslimah yang penuh kehati-hatian akan mempertimbangkan tanggung jawab setiap kata yang diucapkannya, karena dia mengetahui bahwa kata-kata yang diucapkannya bisa mengangkatnya ke tingkat ke ridhaan Allah , atau sebaliknya menjatuhkannya ke tingkat kemarahan dan kemurkaan-Nya. Seperti yang dijelaskan Rasulullah dalam sebuan haditsnya,
“Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah, sedang dia tidak menyangka bahwa kata-kata itu akan mendapat keridhaan-Nya, maka Allah akan menetapkan denga kata-kata baginya keridhaan-Nya sampai hari pertemuan dengu Nya. Dan, orang yang berbicara dengan kata-kata yang menyebabkuu kemurkaan Allah, sedang dia tidak menyangka bahwa kata-kata itu akan dimurka Allah, maka Allah akan menetapkan dengan kata-kata itu baginya kemurkaan-Nya sampai hari Kiamat kelak.”(Diriwayatkan oleh Malij dalam bukunya yang berjudul Al-Muwatha’)
Betapa besar tanggung jawab atas kata-kata yang diucapkan itu, dan begitu besar pengaruh tuduhan yang dilontarkan oleh mulut yang berbentuk ucapan dan perkataan.
“Cukuplah seseorang itu disebut berdusta, jika dia membicarakan semua yang pernah didengarnya.” (HR. Muslim)
Saudariku, sebagai Wanita Muslimah yang bertakwa dan cerdas tidak menghiraukan berita buruk, isu-isu dan prasangka yang beredar di berbagai pertemuan, terutama pertemuan-pertemuan para wanita yang tidak memiliki aktivitas. Dan juga tidak mau melibatkan diri dengan berbagai hal di atas, karena dia tahu bahwa semuanya itu tidak berdasarkan pada bukti-bukti yang menguatkan dan meyakinkan, bahkan dia mengkategorikan semua berita burung, isu dan prasangka yang tidak berdasar pada bukti itu sebagai kedustaan yang diharamkan, seperti yang telah ditetapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada hafits diatas.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h.308-311)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)














































































