Berbakti kepada Orangtua Meski Keduanya Bukan Muslim

Dengan bimbingan dan arahannya, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menanjak ke puncak kemanusiaan, di mana beliau berpesan supaya umatnya selalu berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, meskipun keduanya bukan beragama Islam, seperti yang dikisahkan dalam hadits berikut ini;

Asma’ binti Abi Bakar Radhiallahu Anha berkata, “Ibuku pernah mendatangiku, sedang dia seorang musyrik pada masa Rasulullah . Lalu ku meminta petunjuk kepada Rasulullah seraya berucap, ‘Ibuku telah datang kepadaku dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku itu?”
Beliau menjawab, “Benar, sambunglah hubungan dengan ibumu!
(Muttafaq Alaih).

Wanita Muslimah yang menyadari petunjuk dan bimbingan Al-Qur an dan juga pesan-pesan Nabi yang mulia, akan menjadi orang yang paling berbakti kepada kedua orangtuanya serta mempergaulinya dengan baik dalam kondisi bagaimana pun dan kapan saja. Itulah yang dilakukan oleh para sahabat dan para tabi in. Ada seseorang yang pernah bertanya kepada Sa’id bin Musayyab , “Aku telah memahami ayat tentang birrul-walidain secara keseluruhan kecuali firman-Nya yang berbunyi, “Dan, Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, “lalu bagaimana perkataan yang mulia itu? Maka Sa’id bin Musayyab menjawab, “Yaitu hendaklah engkau berbicara kepadanya seperti seorang budak kepada majikannya.” Sedangkan Ibnu Sirin Radhiallahu Anhu berbicara dengan orangtuanya dengan suara rendah seperti suara orang sakit sebagai penghormatan dan pengagungan bagi keduanya.”

Sangat Takut Berbuat Durhaka kepada Orangtua

Wanita Muslimah akan segera berbakti dan berbuat baik kepada orangtuanya karena takut durhaka kepada keduanya. Yang demikian itu karena dia mengetahui besarnya kejahatan tersebut yang dikategorikan sebagai dosa besar. Selain dia juga mengetahui gambaran menakutkan yang dilukiskan oleh nash-nash shahih tentang orang-orang yang berbuat durhaka kepada kedua orangtuanya, yang dapat mengetuk hatinya yang beku dan menyentuh nuraninya yang tertutup serta menghidupkan perasaannya yang telah membatu.

Itulah gambaran setiap orang yang durhaka kepada orangtuanya yang dthubungkan dengan perbuatan syirik kepada Allah, sebagaimana birrul-walidain dihubungkan dengan iman kepada Allah. Durhaka kepada orangtua merupakan kejahatan yang paling buruk, yang dapat menggoncang jiwa wanita Muslimah yang jujur dan menghilangkan rasa kebenaran dan dalam dirinya. Dan kedurhakaan ini termasuk perbuatan dosa besar.

Dan Abu Bakrah Nufai’ bin Harits, dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda,

Maukah kalian aku beritahu tentang perbuatan dosa besar? Kami menjawab, Tentu Ya Rasulullah?’ Beliau pun menerangkan, Syirik kepada Allah, dan durhaka kepada orang tua.” (Muttafaq Alaih).

Saudariku, begitu besar kedudukan orangtua yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala. Bahkan dalam kondsi Bagaimana pun dan kapanpun kita harus berbakti kepada kedua orangtua. Sehingga perbuatan durhaka kepada orangtua digolongkan dalam dosa besar bahkan dihubungkan dengan perbuatan syirik. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang durhaka kepada kedua orangtua, akan tetapi kita termasuk orang yang senantiasa berbakti kepada kedua. Aamiiin…

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 128-129)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan