Ada pepatah yang cukup populer di abad ke-21 ini: siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia. Logikanya sederhana, siapa yang memiliki banyak informasi akan dianugrahi banyak keuntungan. Memiliki banyak informasi berarti banyak pengetahuan. Apalagi di era digital ini, informasi sudah menjadi komoditas yang menguntungkan secara ekonomi. Oleh karena itu, raihlah informasi sebanyak-banyaknya.

Pandangan ini menemukan momentumnya seiring dengan kedatangan era informasi dengan internet sebagai tulang punggungnya. Di era ini, nyaris semua urusan bergantung pada informasi digital. Ekonomi, keuangan, pemerintahan, pendidikan, transportasi, kesehatan, keamanan, hingga hiburan bisa lumpuh bila tak didukung informasi. Akibatnya, memiliki dan memperhatikan informasi bukan lagi sekedar pilihan, tapi sudah menjadi kebutuhan. Informasi tak pelak merupakan bahan bakar kehidupan abad ini.

Pepatah di atas mengesankan bahwa keberadaan informasi selalu bernilai positif. Namun, jika melihat pertumbuhan informasi digital yang begitu pesat saat ini—ada 2.5 quintillion (2.5×1018) bytes data digital baru dihasilkan setiap harinya pada 2017 (https://www.domo.com/learn/infographic/data-never-sleeps-5)—melimpahnya informasi tidak selalu bermanfaat. Namun, dibalik keuntungan yang tak terkira, informasi juga menciptakan persoalan baru.

Para ilmuwan menyebutnya sebagai masalah luapan informasi (information overload). Luapan informasi adalah suatu keadaan yang berlaku ketika suatu sistem (atau orang) terpapar terlalu banyak informasi sehingga menimbulkan kerugian baginya. Bagi manusia, kerugian itu bisa berupa stres, kelelahan, ketidakmampuan berpikir jernih, kesulitan mengambil keputusan, serta ketidaknyamanan lainnya.

Namun, masalah utama luapan informasi sebenarnya bukan di situ. Masalah besar yang muncul akibat luapan informasi ini adalah masalah pengetahuan. Dalam konteks epistemologi, luapan informasi digital telah menjadi penghambat bagi upaya manusia memperoleh ilmu pengetahuan. Ini agaknya bertentangan dengan pepatah yang disebutkan di awal.

Kebenaran dan Kegunaan Informasi

Perlu disadari, ketika manusia menyerap informasi, informasi itu tidak serta merta menjadi pengetahuan. Informasi baru menjadi pengetahuan bila telah terserap dalam pikiran atau jiwa manusia. Al-‘ilmu fish shudhuur, ilmu itu di dalam dada. Demikian kata ulama.

Maka, ada dua isu penting di sini. Pertama, mengenai kebenaran informasi (reliability). Informasi tidaklah selalu benar, sebagian ada yang salah. Pengetahuan yang terbentuk dari informasi yang salah tidak dapat disebut pengetahuan. Masalahnya, keberadaan teknologi informasi (komputer, laptop, handphone) yang semakin memasyarakat ini turut membantu meningkatnya informasi salah, baik yang tidak disengaja (misinformasi) atau disengaja (disinformasi).

Dengan perangkat teknologi informasi, semua orang dapat dengan mudah mengirimkan informasi ke seantero dunia. Beberapa ketukan jari di layar handphone seringkali sudah lebih dari cukup. Berkat internet, citizen jurnalism tumbuh subur tanpa ada seleksi oleh dewan redaksi, dan tanpa pembetulan kesalahan oleh penyunting (editor). Tidak ada juga pembatasan atau oleh sekat-sekat kepakaran atau kewenangan (otoritas). Seorang ibu rumah tangga, youtuber spesialis prank, dan dokter peneliti dari Universitas Airlangga memiliki peluang yang sama untuk menyuarakan pendapat mereka tentang vaksin Covid-19 di media sosial.

Merebaknya disinformasi (informasi keliru yang disebarkan untuk menyesatkan) juga ikut memperparah korupsi informasi ini. Pertikaian politik, perbedaan mazhab, perebutan lahan dagang, hingga perilaku iseng merupakan beberapa pemicu maraknya disinformasi ini. Keadaan ini diperkuat lagi oleh adanya budaya anonimitas (penyamaran/penyembunyian identitas) yang lazim di dunia maya. Budaya ini membuat orang mudah berlepas tangan terhadap informasi yang disebarkannya.

Sementara itu, di sisi lain, masyarakat kerapkali mengabaikan akal sehat dalam menyikapi informasi. Dinobatkannya post truth dinobatkan sebagai word of the year tahun 2018 oleh Kamus Inggris Oxford menunjukkan kecenderungan masyarakat dunia yang semakin mudah dikelabui. Kebenaran yang gamblang kerapkali ditolak hanya karena bertentangan dengan perasaan dan emosi mereka. Ini adalah masalah epistemologi yang serius yang perlu mendapat perhatian.

Kedua, mengenai kebergunaan informasi (relevance). Ketika seseorang mengakses gudang informasi di internet, dia dihadapkan dengan tantangan untuk memilih mana informasi yang diperlukannya. Tidak mungkin ia menelaah setiap potong informasi yang ditayangkan layar komputer atau handphone-nya itu. Meskipun ia bisa meminta saran dari Google, yahoo!, Bing, atau mesin pencari (search engine) lainnya, namun tetap saja pengguna harus memilih mana informasi yang paling relevan baginya.

Barry Schwartz dalam The Paradox of Choices mengatakan menawarkan terlalu banyak pilihan kepada seseorang akan akan kesulitan membuat keputusan. Dalam bisnis, menawarkan barang yang terlalu beragam justru akan melemahkan penjualan. Alih-alih melakukan transaksi, kebingungan dalam membuat keputusan malah membuat para pembeli mengurungkan niatnya.

Hal demikian juga terjadi dalam pengetahuan. Meski Schwartz berbicara dalam konteks perniagaan, hal yang sama juga berlaku di dalam proses manusia menyerap pengetahuan. Kebingungan berhadapan dengan begitu beragamnya informasi di internet bisa membuat seseorang malah batal membaca atau menyimak informasi. Para mahasiswa, termasuk akademisi, berjam-jam mencari sumber bacaan di internet pada akhirnya hanya memenuhi harddrive komputernya. Kalaupun dibaca, biasanya hanya yang di permukaan saja, tidak tuntas atau mendalam.

Keadaan ini diperparah oleh sistem internet yang memang dirancang untuk terus-menerus memberikan rangsangan yang mengalihkan perhatian (distraction) penggunanya. Itulah yang dikatakan Carr dalam The Shallows (2011), “internet adalah…sebuah sistem interupsi, sebuah mesin yang diarahkan untuk membelah/mengalihkan perhatian.”

Pangkal penyebab semua ini adalah apa yang disebut dengan hyperlink. Dengan hyperlink, pengguna internet dapat melompat dari satu halaman ke halaman lain seketika dengan hanya satu dua ketukan. Hyperlink ini dimanfaatkan oleh beraneka iklan (ads) dan pemberitahuan (notification) yang menggoda pengguna internet. Ini berlangsung sepanjang waktu. Saat ini, kerja-kerja intelektual secara tekun di kantor atau kampus menghadapi tantangan berat karena menuntut seseorang harus terus tersambung ke internet, sementara teknologi itu tiap sebentar mengacaukan fokus perhatiannya.

Agenda ke Depan

Kehadiran teknologi informasi memang telah mengubah banyak hal. Transformasi sosial yang diciptakannya juga sangat signifikan hasilnya. Akan tetapi, masalah kemanusiaan yang paling penting tetaplah sama, tidak jauh-jauh dari bagaimana agar manusia bisa hidup aman dan makmur, kehidupan rumah tangganya sejahtera dan bahagia, keadilan di negerinya dapat ditegakkan, serta permusuhan dan kezaliman yang mengancamnya dapat dihapuskan.

Bagi seorang Muslim, semua hal di atas tidak akan sempurna jika tidak dikaitkan dengan keyakinannya kepada Allah dan kehidupan akhirat. Karena itu, setiap orang seyogyanya mengerahkan kemampuan dan usianya yang terbatas untuk mengurusi hal-hal yang selaras dengan pencapaian tujuan hidupnya. Era informasi tidak semestinya membuat hidup kita disetir oleh informasi tidak bermutu sehingga menyimpang dari tujuan hidup yang hakiki.

Semua ini membutuhkan pengetahuan yang benar. Pengetahuan akan benar jika semua realitas kehidupan ini dipahami juga secara benar, termasuk realitas yang ditayangkan oleh teknologi informasi. Kita membutuhkan adab yang benar dalam memandang dan menyikapi informasi berikut teknologi yang menopangnya. Meminjam pengertian dari Prof. Naquib al-Attas, adab adalah tindakan yang benar yang bersumber pada ilmu dan hikmah, yang dalam ini berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi.

Namun, hal ini tidak bisa dicapai bila perhatian kita terhadap teknologi ini hanya berkutat pada pembuatan produk-produk teknologi informasi, baik dalam bentuk perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Kita juga perlu mendalami hakikatnya, sifat-sifatnya, serta dampak-dampak yang ditimbulkannya, serta strategi pemanfaatannya berdasarkan pandangan hidup (worldview) yang telah diilhamkan oleh Islam. Semua ini perlu diagendakan dan diupayakan agar kita tidak menjadi korban dari apa yang diperbuat oleh tangan kita sendiri.

***********

Penulis: Dr. Wendi Zarman, M.SI
(Penulis Buku dan Dosen UKI)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan