Wanita Muslimah yang bertakwa dan sadar dianjurkan agar melaksanakan shalat secara baik, dengan melibatkan kekhusu’an hati dan ketundukan seluruh anggota badan. Saat shalat itu dia bisa menyimak makna ayat-ayat Al-Qur’ an yang dibacanya, menghayati sepenuhnya makna makna tasbih dan doa yang diucapkannya sehingga seluruh relung-relung jiwanya ditaburi ketundukan kepada Allah, hatinya penuh hidayah, rasa syukur dan ubudiyah kepada-Nya. Jika shalatnya tidak dipagari sedemikian rupa maka bisikan setan akan mengalihkan jiwanya dari kekhusyu’an hati dan kejernihan pikiran sehingga dia tidak lagi bisa menghayati Kalam Allah yang dibacanya, pujian, tasbih, dan tahmid yang diucapkannya.

Tidak seharusnya wanita Muslimah meninggalkan tempat shalatnya seketika itu pula seusai shalat untui menyibukkan diri dalam berbagai perkerjaan rumah tangga atau berbagai kesibukkan lainnya dalam hidup. Tetapi sebaiknya dia memohon ampunan kepada Allah tiga kali seperti yang biasa dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam , mengucapkan seperti yang biasa beliau ucapkan, yaitu

“Ya Allah Engkau adalah keselamatan dan dari-Mu keselamatan. Keberkahan untuk-Mu dan kehormatan wahai pemilik kemuliaan.”

Dia juga membaca berulang-ulang tasbih dan dzikir-dzikir yang disebutkan di dalam sunnah yang suci seperti yang biasa dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seusai shalat, yang macamnya banyak sekali. Yang paling penting adalah bertasbih kepada Allah tigapuluh tiga kali, bertahmid dan bertakbir dengan jumlah yang sama, lalu sekali bacaan agar genap seratus: La ilaha illallahu wahdahu la syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai’in qadir. Diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam , beliau bersabda,

“Barangsiapa bertasbih kepada Allah setiap kali selesai shalat sebanyak tigapuluh tiga kali, bertahmid kepada Allah sebanyak tigapuluh tiga kali, bertakbir kepada Alah sebanyak tiga puluh tiga kali, yang jumlah semuanya ada sembilan puluh sembilan kali, dan mengucapkan kelengkapan seratusnya, “Tiada Ilah selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan- Nya kerajaan dan kepunyaan-Nya pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu maka kesalahan-kesalahannya diampuni, sekalipun seperti buih di lautan.” (HR. Muslim)

Kemudian dia bisa menghadap kepada Allah dengan berdoa secara khusyu’ agar semua urusannya dilancarkan dan dibaguskan, urusan dunia dan urusan akhirat, agar dilimpahi nikmat-Nya, nikmat lahir dan nikmat batin, agar diberi petunjuk jalan yang lurus dalam urusannya.

Dengan cara begitu dia bisa keluar dari shalat dalam keadaan bersih jiwanya, tenang hatinya, suci ruhnya, semua keadaan dirinya terisi kekuatan spiritual, yang bisa membantunya dalam menghadapi beban kehidupan, tugas rumahtangga dan sebagai ibu, berjalan dalam rengkuhan Rabb-nya secara aman, tidak terguncang apabila dia ditimpa sesuatu yang kurang menyenangkan dan tidak kikir apabila mendapat limpahan kebaikan. Inilah keadaan orang-orang yang senantiasa shalat, lurus dan khusyu, sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang vang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa apa (yang tidak mau meminta). “ (Al-Ma’arij: 19-25)

Wanita Muslimah harus mengeluarkan zakat mal (harta kekayaan) jika dia mempunyai harta yang banyak. Setiap tahun dia harus menghitung kekayaannya dengan batas-batas waktu yang jelas dan jumlah yang detil, lalu mengeluarkan apa yang harus dia keluarkan dari harta itu, dengan tetap memegang amanat dan penuh tanggung jawab. Sebab zakat termasuk salah satu rukun Islam, yang tidak boleh dianggap remeh dan tidak ada keringanan untuk jumlah yang harus dikeluarkannya setiap tahun, sekalipun jumlahnya mencapai ribuan atau jutaan. Dia tidak boleh berpikir untuk lari dari kewajiban mengeluarkan zakat.

Sebab mengeluarkan zakat merupakan kewajiban yang berkaitan dengan harta dan termasuk lingkup ibadah yang mempunyai batasan-batasan tersendiri. Allah mewajibkannya kepada setiap orang Muslim yang memiliki harta dan hartanya telah mencapai nishab, baik laki-laki maupun perempuan. Siapa yang berusaha menyembunyikan atau mengingkari penetapan pembayaran zalkat ini maka dia dianggap murtad, mungkar dan kafir secara nyata. Dia boleh diperangi dan darahnya boleh ditumpahkan hingga dia mau melaksanakannya sesuai dengan hukum Islam. Sikap Abu Bakar terhadap orang-orang yang murtad karena tidak mau membayar zakat serta perkataannya yang abadi tentang mereka, senantiasa mengiang sepanjang zaman, “Demi Allah, aku benar-benar akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat.”

Ini merupakan ucapan yang abadi, mencerminkan keagungan agama ini karena Abu Bakar mengaitkan antara agama dan dunia, mengungkap seberapa jauh kedalaman pemahamannya terhadap tabiat agama yang sempurna dan saling melengkapi serta bagaimana kebijaksanannya menghubungkan keyakinan dan praktik. Cukup banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyertakan antara shalat dan zakat dalam membangun istana iman di dalam jiwa orang-orang Mukmin, di antaranya,

Orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat. ” (Al-Ma’idah: 55)

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat. ” (Al-Baqarah: 43)

Dan mereka mendirikan shalat dan menunaikan.” (Al-Baqarah: 277)

Wanita Muslimah yang bertakwa dan sadar tentunya tahu bahwa hanya Islamlah yang memberinya hak kemerdekaan untuk menggunakan hartanya, tanpa membebaninya kewajiban nafkah sedikit pun bagi keluarga. Karena nafkah keluarga ini sudah dibebankan kepada kaum laki-laki. Tapi Islam pula yang mewajibkan pembayaran zakat dan menjadikan zakat itu menjadi hak bagi orang-orang miskin. Wanita Muslimah tidak boleh mencari-cari alasan untuk menafkahkan hartanya sesuai dengan ketentuan syariat, karena dia merasa dirinya sebagai wanita yang tidak dibebani nafkah sama sekali. Kecuali jika memang ada yang tidak beres dalam pemahaman agamanya atau ada yang rusak dalam akidahnya atau ada celah yang terbuka dalam kepribadiannya atau dia termasuk pemeluk agama yang hanya tampak di luarnya saja. Apapun alasannya, jika dia menolak mengeluarkan zakat mal, berarti dia adalah orang yang lalai atau orang yang gila harta sehingga sedikit pun tidak terlintas di dalam benaknya untuk mengeluarkan zakat, sekalipun dia aktif shalat, berpuasa atau bahkan sudah menunaikan haji. Atau boleh jadi sesekali dia bersedekah. Gambaran wanita seperti ini bukan seperti yang diinginkan Allah sama sekali.

Namun Saudariku, gambaran wanita yang diinginkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala adalah wanita muslimah yang bertakwa dan sadar, yang istana iman berada di dalam jiwanya. Mereka senantiasa membaguskan pelaksanaan shalatnya, dengan melibatkan kekhusu’an hati dan ketundukan seluruh anggota badannya. Mereka juga senantiasa patuh atas kewajiban yang telah Allah berikan kepada hamba-hambahnya. Salah satunya yaitu mengeluarkan zakat bagi umat muslim yang memiliki harta dan hartanya telah mencapai nishab, baik laki-laki maupun perempuan yaitu menafkahkannya sesuai dengan ketentuan syariat tanpa mencari-cari alasan agar terlepas darinya. Mereka senantiasa patuh serta taat kepada perintah Allah dan Rasulnya.

**********

Sumber: Jati Diri Wanita Muslimah, Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi, hal 29-31

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan